NovelToon NovelToon
Cinta Rahasia Bad Boy

Cinta Rahasia Bad Boy

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Bad Boy
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

Devan itu biang kerok kampus. Baju berantakan, muka dingin, dan selalu ditakuti orang-orang. Tapi tak ada yang tahu kalau si cowok urakan ini punya rahasia besar: dia jatuh cinta setengah mati sama Aura, cewek baik-baik yang hidupnya lurus banget.
​Devan sadar diri. Dia merasa terlalu "kotor" buat masuk ke dunia Aura yang terang. Makanya, Devan cuma berani memandangi Aura dari jauh—mengambil ribuan foto Aura secara diam-diam dan menjaganya dari balik layar.
​Sampai suatu hari, rahasia itu terbongkar. Semua orang di kampus akhirnya tahu siapa sosok di balik foto-foto itu. Sekarang Devan cuma punya dua pilihan: mundur dan pura-pura lupa, atau nekat ngejar Aura terang-terangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

aura kaget dengan pengetahuan devan

Angin sore berembus makin kencang di gazebo perpustakaan luar, membawa hawa dingin yang menusuk kulit.

Kata-kata Devan barusan menggantung di udara, meninggalkan rasa takut dan cemas yang luar biasa di dada Aura.

​"Menghancurkan aku?" bisik Aura lirih. Matanya menatap Devan dengan tatapan tak percaya.

"Maksud kamu... orang yang mencuri foto-foto itu berniat memakai foto aku untuk mempermalukan aku di depan umum?"

​Devan mengangguk pelan. Rahangnya mengetat keras, memperlihatkan betapa marahnya ia pada diri sendiri karena tidak bisa menjaga semua foto itu dengan baik.

"Ya. Itu satu-satunya alasan kenapa seseorang repot-repot membobol kamar gelap gue dan menguras semua arsip foto. Mereka tahu foto-foto itu adalah kelemahan gue... dan kelemahan kamu."

​Aura menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. Bayangan tentang Reno yang selalu mencari-cari celah untuk menjatuhkan mereka berdua mendadak melintas di kepalanya. Namun, sebelum Aura sempat menyuarakan kecurigaannya, Devan sudah berdiri dari kursinya.

​"Udah sore. Masuk yuk, anginnya makin dingin," ajak Devan singkat, mengubah topik pembicaraan sambil merapikan tas kainnya. Ia tidak mau Aura terus-terusan stres memikirkan hal buruk itu.

​Aura mengangguk patuh, lalu ikut berdiri.

"Terus... soal tugas kelompok kita gimana, Devan? Tugas bagian visual yang diminta Reno kan banyak banget, sementara rumah kamu baru saja dibobol. Kamu yakin bisa menyelesaikannya sendiri sebelum lusa pagi?"

​Devan tersenyum tipis—sebuah senyuman tenang yang selalu berhasil membuat debar jantung Aura berantakan. "Percaya sama gue. Urusan tugas itu kecil."

​Malam harinya, sekitar pukul delapan.

​Atas desakan Aura yang tidak tenang membiarkan Devan sendirian setelah musibah pembobolan itu, mereka akhirnya memutuskan untuk mengerjakan bagian visual tugas kelompok di salah satu meja sudut kafe kampus yang cukup tenang dan terang.

​Aura duduk di seberang Devan, menopang dagunya dengan kedua tangan sambil memperhatikan gerak-gerik cowok di depannya.

Di atas meja, laptop Devan terbuka lebar, menampilkan layar aplikasi pengeditan foto profesional yang dipenuhi oleh puluhan layer dan penyesuaian warna yang rumit.

​Aura mengira Devan hanya akan mengandalkan insting sebagai "pengambil foto jalanan" biasa. Tapi begitu Devan mulai bekerja, Aura dibuat kaget bukan kepalang.

​"Bagian pencahayaan untuk tata letak pameran seni nanti..." Devan mulai membuka suara, jarinya bergerak lincah memutar mouse dan menekan tombol pintas di keyboard.

"...kita nggak bisa pakai lampu sorot putih terang di sebelah utara galeri. Itu bakal bikin bayangan objek utama jadi pecah."

​Aura mengerjap, memandangi layar laptop dengan mata membelalak. "Eh? Kenapa harus dihindari, Devan? Bukannya makin terang makin bagus?"

​Devan menoleh sekilas, menatap Aura dengan sabar.

"Kalau terlalu terang, kontras warna antara latar belakang dinding galeri sama bingkai foto bakal mati, Ra. Estetika visual itu bukan tentang seberapa banyak cahaya yang masuk, tapi tentang bagaimana kita mengarahkan mata orang yang melihat agar fokus ke titik emosional gambar tersebut. Ibaratnya, cahaya itu kayak napas di dalam foto; kalau terlalu sesak, fotonya jadi kehilangan nyawa."

​Aura tertegun. Penjelasan Devan begitu mendalam, dan menggunakan istilah-istilah estetika visual yang tingkat tinggi.

​"Kamu..." Aura menatap Devan dengan pandangan takjub.

"Kamu belajar semua teori pencahayaan dan estetika ini dari mana, Dev? Kamu kan anak teknik mesin, bukan mahasiswa seni rupa atau desain grafis."

​Devan menghentikan pergerakannya sejenak. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kafe, lalu menatap cangkir kopi hitam di depannya sebelum kembali menatap Aura.

​"Kakek gue dulu seorang fotografer dokumenter senior," cerita Devan pelan, suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya.

"Sejak kecil, sebelum beliau meninggal, gue diajari cara melihat dunia bukan dari apa yang tampak di permukaan, tapi dari bayangan dan cahaya di baliknya. Kakek bilang, kamera itu perpanjangan dari hati manusia. Kalau hati lo kaku, hasil foto lo juga bakal mati."

​Aura terpaku. Ia menatap wajah Devan yang tampak begitu damai saat menceritakan kenangan tentang kakeknya.

Sisi diri Devan yang ini—sisi yang penuh wawasan seni, sensitif, dan berhati lembut—sangat bertolak belakang dengan reputasinya sebagai bad boy urakan jalanan.

​"Jadi... semua foto aku yang ada di galeri Instagram @BehindTheLens itu..." Aura bersuara lirih, "...kamu ambil dengan pemahaman estetika serumit ini?"

​Devan tersenyum tipis, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Aura.

"Dan dengan perasaan yang nggak pernah berubah sejak hari pertama gue melihat lu, Ra."

​Suasana meja kafe mendadak terasa hangat. Jantung Aura berdegup kencang, dadanya dipenuhi oleh rasa haru yang teramat sangat. Ia tidak menyangka di balik balutan jaket kulit hitam dan sikap dinginnya, Devan menyimpan jiwa seni yang begitu indah dan tulus.

​"Tapi..." Aura mendadak teringat ancaman Reno tadi siang, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan.

"Kalau Reno tahu kamu punya pengetahuan seluas ini soal visual, dia pasti bakal curiga lebih jauh, Devan. Bisa saja dia makin menuduh kamu macam-macam."

​"Biarin dia curiga," sahut Devan tenang, kembali fokus menatap layar laptop dan merapikan draf desain brosur pameran.

"Gue nggak peduli sama Reno. Yang penting tugas kelompok ini beres, dan nilai kamu aman."

​Aura tersenyum kecil, merasa terlindungi sekaligus kagum pada ketenangan Devan.

"Kamu ini ya... selalu saja mendahulukan kepentingan aku dibanding diri kamu sendiri."

​"Karena emang itu tujuannya," balas Devan spontan tanpa ragu.

​Aura merona hebat mendengar jawaban frontal itu. Ia buru-buru mengalihkan pandangannya ke layar laptop, pura-pura membaca teks draf proposal.

"Udah, cepat lanjutkan editannya! Jangan suka merayu gitu."

​Devan terkekeh pelan—suara tawa renyah yang sangat jarang didengar orang lain selain Aura. Suasana canggung di antara mereka perlahan menguap, digantikan oleh kehangatan kerja sama yang nyaman.

​Hingga menjelang pukul sepuluh malam, desain brosur pameran dan seluruh lampiran visual akhirnya selesai dikerjakan.

Devan merenggangkan kedua tangannya yang terasa kaku, lalu mengekspor file tersebut ke dalam flashdisk.

​"Nih, udah beres semua," kata Devan sambil menyerahkan flashdisk kecil itu ke hadapan Aura.

"Besok pagi, serahkan file ini ke Reno sebagai bukti kalau kelompok kita sudah merampungkan bagian visual tanpa ada cela."

​Aura menerima flashdisk itu dengan hati-hati. "Wah, keren banget, Devan! Aku yakin Pak Surya pasti bakal memuji konsep ini."

​"Semoga saja," gumam Devan.

​Namun, di saat mereka bersiap membereskan barang-barang untuk pulang, tiba-tiba layar ponsel Devan yang tergeletak di samping laptop berdering nyaring.

​Sebuah notifikasi pesan masuk melalui aplikasi perpesanan dari nomor tak dikenal.

​Devan mengambil ponselnya dan membuka pesan tersebut. Begitu membaca isi pesannya, warna kulit Devan seketika memucat. Rahangnya mengetat begitu keras hingga urat di lehernya menonjol.

​Aura yang melihat perubahan drastis di wajah Devan langsung ikut panik. "Devan? Ada apa? Siapa yang kirim pesan?"

​Devan tidak langsung menjawab. Ia membalikkan layar ponselnya agar Aura bisa membaca sendiri pesan singkat tersebut.

​Nomor Tak Dikenal:

[Sebuah foto terlampir]

Katalog foto-foto cantik Aura sudah siap dicetak dan disebar ke seluruh papan pengumuman kampus besok pagi. Mau menghentikannya? Datang sendiri ke gudang kosong belakang kampus sekarang juga, atau semua rahasia berharga biang kerok ini terbongkar.

​Mata Aura membelalak sempurna saat melihat foto di layar ponsel itu—foto-foto pribadinya yang dicuri dari kamar gelap Devan kini berada di tangan orang lain!

​Bersambung...

1
Naelong
mohon maaf yaa siang ini aku belum up, insyaallah malam nanti baru up. nanti aku up dabbel ya🙏. makasi yang sudah mempir. semoga kalian sehat selalu😍. ohh yaa jangan lupa tinggalin jejek ya, comment, likenya
Naelong
terimakasi yang udah mampir😍, semoga sehat sehat slalu🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!