Tit... Tit... Tit...
"Nih uang buat beli listrik. Dasar wanita benalu, bisanya cuma minta uang aja tapi dandan tidak bisa." teriak seorang laki-laki sambil melempar beberapa lembar uang ke arah wajah istrinya.
Mempunyai mertua yang baik, tapi anaknya selalu menguji kesabarannya. Pelit, suka membandingkan dengan perempuan lain, dan selingkuh. Namun selalu menyalahkan istrinya yang selama ini sabar mendampinginya. Dia adalah Aruna Fatihah yang harus diuji kesabarannya selama 3 tahun belakang dengan perubahan suaminya.
Akankah Aruna masih akan bersabar jika suaminya menjalin kasih dengan perempuan lain? Apakah Aruna akan memilih diam atau membalas perlakuan dari suaminya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rekaman
"Silvy, kamu yakin ada yang mengangkat panggilan telfonmu? Aku tidak sedang membawa ponsel lho saat jam itu," tanya seorang laki-laki yang tak lain adalah Kafka.
Kafka pergi dari rumah setelah terpojok dengan ucapan dari Aruna Daripada semakin tambah bertengkar dengan Aruna, lebih baik dia pergi menemui seorang wanita yang sedang dekat dengannya. Dia adalah Silvy, mantan kekasih Kafka saat SMA. Entah bagaimana mereka bisa bertemu kembali, tapi sekarang keduanya memang telah bersama lagi. Tentu saja tanpa sepengetahuan dari Aruna.
Keduanya bertemu di sebuah restorant dekat perusahaan saat jam makan siang. Kebetulan, keduanya sama-sama bekerja di perusahaan itu. Kafka menjadi manager pemasaran dengan Silvy sebagai anak buahnya. Silvy tidak mengenal Aruna karena perempuan itu bekerja di perusahaan tersebut baru 3 tahun ini. Namun Silvy tahu kalau Kafka sudah menikah.
"Benar kok, Mas. Coba lihat ini," Silvy memperlihatkan daftar panggilan di ponselnya. Memang benar jika panggilan masuk itu terjawab.
"Apa jangan-jangan istrimu atau Ibumu yang mengangkat, Mas?" tanya Silvy dengan tatapan penasarannya.
"Nggak mungkin kayanya. Aruna dan Ibu tidak pernah mau tahu sama ponselku. Aku dan Aruna juga sudah ada perjanjian, tidak akan memeriksa ponsel." ucap Kafka dengan yakin.
"Mungkin aku lupa dan tak sengaja terpencet kali ya,"
Kafka berusaha berpikir positif tentang kejadian ini. Kafka menganggap bahwa ini adalah keteledorannya saat menyimpan dan menggunakan ponsel. Silvy pun menganggap itu hanya angin lalu saja. Silvy segera memesan menu makan siangnya. Dia memesan makanan lebih banyak karena tadi pagi belum sarapan. Apalagi Kafka belum mengirimkan uang untuk dirinya pagi tadi.
"Mas, jangan lama-lama dong geraknya. Aku kan juga mau jadi istrimu," rengek Silvy sambil menunggu pesanannya.
"Sabar, aku lagi celah biar Aruna bisa tandatangan surat persetujuan balik nama rumah." ucap Kafka sambil mengusap rambut Silvy dengan lembut.
"Aku tuh suka khawatir kalau tiba-tiba rencana kita gagal dan kamu akan lebih memilih istrimu, Mas. Aku kan cinta banget sama kamu. Aku nggak mau kehilangan kamu," ucap Silvy dengan rengekan manjanya.
"Tenang saja, aku kan juga cinta mati sama kamu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Lagian aku masih bertahan dengan Aruna karena rumah itu saja," ucap Kafka dengan yakin.
"Pokoknya setelah rumah itu pindah tangan ke aku, kita langsung menikah. Susah senang akan kita lalui bersama," lanjutnya dengan yakin.
"Susah? Ogah lah, masa bareng-bareng. Kalau senang-senang mah aku yes," batin Silvy sedikit mencerna ucapan Kafka.
Tentu saja Silvy yang sedari dulu matre, akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Kafka. Dulu dia putus dengan Kafka karena tahu bahwa laki-laki itu berasal dari keluarga miskin. Namun Ibu Salma yang pekerja keras, berusaha menyekolahkan Kafka sampai perguruan tinggi. Kemudian bekerja di sebuah perusahaan terkenal karena rekomendasi dari kekasihnya, Aruna. Kafka dan Aruna bertemu saat keduanya masih kuliah di kampus yang sama.
Kafka mengambil manajemen dan berfokus pada pemasaran, sedangkan Aruna dengan jurusan akuntansi. Aruna yang pandai dan cerdas, dengan mudahnya mendapatkan beasiswa. Hingga Aruna juga langsung masuk perusahaan besar atas rekomendasi kampus. Melihat kekasihnya masih menganggur, dia merekomendasikannya pada Kafka agar ikut bergabung di perusahaan itu. Namun sepertinya Kafka lupa akan perjuangan istrinya itu hingga dia diangkat sebagai manager.
"Ibumu dekat dengan istrimu ya, Mas?" tanya Silvy yang sedari dulu memang tak suka dengan Ibu Salma. Pernah bertemu dua kali dan Silvy selalu menatap Ibu Salma dengan tatapan jijik. Pasalnya setiap bertemu dengan Silvy, Ibu Salma hanya menggunakan daster lusuh dan banyak tambalan.
"Iya. Malah sekarang tuh Ibu selalu belain Aruna dibandingkan aku yang anaknya sendiri. Kelak kalau kamu menjadi istriku, coba ambil hatinya Ibu. Siapa tahu rumah yang ditinggali Ibu sekarang, diberikan sama kita." ucap Kafka mencoba memberi pengertian pada Silvy. Sedangkan Silvy hanya bisa tersenyum paksa menanggapi ucapan Kafka. Untuk menerima rumah, dia senang saja. Namun untuk dekat dengan Ibu Salma, tentu saja itu tidak akan pernah terjadi.
Oh... Iya, Mas.
***
"Isti?" tanya seorang perempuan pada orang di depannya. Dia adalah Aruna yang bertemu dengan teman kuliahnya, Istiqomah Laili atau biasa dipanggil Isti.
"Iya. Ini aku..."
"Segitu berbeda kah aku sekarang? Sampai kamu tidak mengenaliku, Aruna." sindir Isti sambil terkekeh pelan.
Bagaimana tidak mengenal teman satu kelasnya itu? Isti dulu adalah sosok mahasiswi yang pendiam dan tidak pernah dandan. Namun sekarang, Isti terlihat lebih dewasa dengan make upnya. Bahkan Isti menggunakan kacamata hitam dan setelan kantoran. Isti juga melihat penampilan Aruna yang berubah drastis. Pakaian sederhana, tanpa polesan make up sama sekali. Padahal dulu saat masih bekerja, Aruna tampil modis dengan setelan baju kerjanya.
"Kamu kelihatan sangat dewasa. Ini lipstik kenapa merah banget? Udah kaya dicium tawon," ucap Aruna sambil terkekeh pelan.
"Biar nanti ada bekasnya kalau mau cium suami," ceplos Isti dengan asal membuat Aruna menggelengkan kepalanya.
"Kamu ada apa ingin bertemu denganku? Mau pinjam duit? Nggak ada, lagi krisis ini aku." seloroh Aruna yang kemudian duduk di samping Isti. Apalagi keduanya juga dari keluarga biasa saja, pasti yang dibahas dulu saat bertemu tak jauh-jauh dari uang.
"Ya enggak lah. Aku mah nggak cari duit lagi. Tapi duit yang cari aku," Isti membuka kacamata hitamnya sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Astaga... Kamu berubah sekali, Isti. Tengil begini jadinya sekarang," Aruna sampai tak mengenali Isti yang dulu, sangat jauh perbedaannya.
"Kehidupan dan lingkungan udah berubah, aku cuma ikuti arusnya aja."
"Oh ya... Aku mau tanya. Kamu masih sama si Kafka? Maksudku belum bercerai kan?" tanya Isti tiba-tiba.
Tujuan Isti menghubungi Aruna adalah untuk bertanya mengenai Kafka. Keduanya bertemu di sebuah cafe dekat tempat tinggal Aruna. Beruntung Nasya sore ini mengaji sehingga tidak merengek ingin ikut. Aruna menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Isti mengeluarkan ponselnya kemudian menyerahkannya pada Aruna. Rekaman video dan suara langsung terputar setelah Isti mengusap layarnya. Itu adalah percakapan antara Kafka dengan Silvy.
Deg...
"Ini yang mau aku tunjukkan sama kamu. Bukannya aku mau manas-manasin atau bikin curiga, tapi percakapan mereka itu sangat aneh. Apalagi membahas menikah dan rumah," ucap Isti menjelaskan maksud merekam percakapan Kafka di restorant. Isti saat itu ada di restorant yang sama dengan Kafka dan tahu bahwa laki-laki itu adalah suami dari Aruna.
"Hati dan cintaku sudah mati untukmu, Mas. Aku tidak akan pernah membiarkan kalian hidup bahagia," gumam Aruna sambil mengepalkan kedua tangannya.
😁😁😁😁
Kafka mungkin ank kandung mu,,
tp jiwa ny bukan ,, dy cuma laki2 pengecut jelmaan Dari kodok sawah ,, 😒😒😒😒
smangat sehat sll up byk2🤭😄💪
makin seruu cerita ny
tq thor🙏😍
smangatttt up byk2🤭💪
smangattt hempasssss cpttttt😄💪