Di mata keluarganya, Aira hanyalah seorang anak kedua yang tak pernah dianggap. Berbeda dari kakak dan adik bungsunya yang berpendidikan tinggi dan berkarier sukses, Aira hanya seorang lulusan SMA yang sehari-hari berjuang menjajakan kue keliling. Kasih sayang sang ayah menjadi satu-satunya alasan Aira bertahan di rumah yang penuh kepalsuan itu.
Namun, pertahanannya runtuh seketika saat pria yang ia cintai datang melamar. Bukan untuk dirinya, melainkan untuk sang adik. Pengkhianatan yang telah lama berjalan di belakangnya itu justru didukung penuh oleh ibu dan kakaknya.
Dalam hancurnya rasa kecewa, Aira melangkah pergi menembus derasnya hujan malam. Malang tak dapat ditolak, sebuah sepeda motor menyenggol tubuhnya yang ringkih. Sang pengendara yang merasa bersalah bermaksud membawanya ke rumah sakit, tetapi jalanan malam yang sepi dan hujan lebat memaksa mereka berteduh di sebuah gubuk tua.Siapa sangka, niat baik untuk berteduh justru berbuah petaka. Warga sekitar yang mengepung gubuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Karin Bunuh Diri
Tiba-tiba, seorang pria sentakan keras menahan pergelangan tangan Karin yang sudah bersiap melompat dari pembatas jembatan.
"Gila ya?! Ngapain pakai panjat-panjat segala? Mau bunuh diri?!" seru pria itu tajam sambil menarik tubuh Karin paksa agar kembali menapak ke jalanan.
"Ih, lepasin! Biarin aku mati sekalian! Buat apa aku hidup kalau begini?!" Karin memberontak sengit. Namun cengkeraman pria itu jauh lebih kuat. Sekali tarik, Karin terseret jatuh ke bawah pembatas.
"Lepasin nggak! Nggak usah sok peduli sama hidupku! Biarkan aku mati!" cerocos Karin hysteris. Ia masih berusaha keras merangkak naik ke atas pagar jembatan lagi.
Pria itu berdecak sebal. "Dasar cewek gila. Emang stres! Cantik-cantik kok agak laen mentalnya."
"Biarin aku mati! Biar aku nggak perlu nanggung malu lagi!" jerit Karin sesenggukan, air matanya menetes deras.
Keributan itu langsung memancing perhatian orang-orang yang melintas. Beberapa pengendara dan pejalan kaki spontan berhenti, ikut mengerumuni dan menahan Karin.
"Ya ampun, Mbak! Nyebut! Jangan dikit-dikit mau nekat bunuh diri. Semua orang di dunia ini juga punya beban hidup masing-masing!" panggil seorang warga.
"Betul itu, Mbak. Mau seberat apa pun masalahnya, dibicarain baik-baik. Nekat begini bukan jalan keluar!" timpal yang lain.
"Emangnya ada masalah apa sih, Mbak, sampai nekat mau terjun segala?" tanya seorang bapak-bapak penasaran.
Seketika tubuh Karin lemas. Ia tak lagi memberontak, lalu ambruk sambil menangis tergugu mengingat pernikahan impiannya yang hancur berkeping-keping.
"Hik... hik... calon suamiku ketahuan selingkuh pas menjelang hari H! Pernikahanku batal... hancur semuanya! Huaaaa!" ratap Karin kencang.
Warga yang mendengar langsung mengelus dada.
"Ya ampun, yang sabar ya, Mbak..."
"Mbaknya harusnya bersyukur dong! Bagus ketahuan borok calon suaminya sekarang sebelum terlanjur akad. Kalau sudah nikah baru ketahuan selingkuh, jauh lebih sakit hati, Mbak!"
"Bener banget! Mbak kan masih muda, perjalanan masih panjang. Anggap aja dia emang bukan jodoh terbaik. Nanti pasti diganti sama pria yang jauh lebih berkelas," sahut seorang ibu-ibu.
Ibu-ibu itu lalu menoleh ke sekeliling. "Mending diantarkan pulang aja ini, bahaya kalau ditinggal sendiri. Keluarganya wajib tahu!"
Pandangan warga langsung tertuju pada pria pemuda yang pertama kali menolong Karin.
"Nah, Masnya aja yang anterin. Mas kan bawa mobil tuh." usul seorang bapak-bapak.
Pria itu terbelalak kaget. "Lho, kok jadi saya, Pak? Saya nggak kenal sama dia, alamat rumahnya aja saya nggak tahu." protesnya keberatan.
"Kalau kami nggak mungkin, Mas, cuma naik motor. Masnya bawa mobil, lebih aman. Lagian menolong orang stres begini kan pahalanya gede." bujuk warga yang disambut anggukan setuju oleh yang lainnya.
"Iya, Mas, tolongin aja. Kami juga harus buru-buru balik kerja nih." sahut karyawan lain yang kebetulan sedang keluar makan siang.
Akhirnya, mau tidak mau pemuda itu menyerah. Dengan ganjalan kejengkolan di dada, ia membimbing Karin masuk ke mobilnya. Padahal ia sendiri harus segera kembali ke kantor.
*Sialan. Pakai acara disuruh jadi sopir cewek stres segala.* gerutunya dalam hati. *Untung mukanya cakep, kalau enggak udah tak lempar dari tadi.*
"Nama kamu siapa?" tanyanya datar saat mobil mulai melaju.
"Karin." jawab Karin pelan sambil mengusap sisa air mata di pipinya.
"Rumahmu di mana?"
Karin pun menyebutkan alamat lengkap rumahnya. Namun, di dalam hati, mata Karin sempat melirik interior kendaraan mewah tersebut. *Wah, mobilnya bagus banget. Kayaknya orang kaya nih.* batin Karin.
Lantaran penasaran, Karin balik menatap pria di sampingnya. "Kalau kamu... namanya siapa?"
"Raka. Lagian kamu aneh, orang stres kok pakai nanya-nanya nama segala." ceplos Raka tanpa beban.
Mata Karin langsung melotot lebar. "Enak aja! Aku bukan orang stres ya!"
"Kalau bukan stres terus apa namanya? Tadi kamu hampir nekat terjun. Coba kalau nggak ada aku, udah melayang tuh nyawa." cibir Raka pedas.
"Aku itu cuma lagi frustrasi! Aku mergokin calon suamiku selingkuh, padahal harusnya hari ini kami menikah!" seru Karin membela diri.
Karin saat ini sama sekali belum tahu bagaimana penampilan baru Aira yang makin memesona dan glamor. Kalau saja Karin sudah melihat Aira yang sekarang, dipastikan dia bakal makin kepanasan dan makin tersiksa seperti Siska.
"Terserah kamulah. Ini rumahmu, kan?" potong Raka dingin saat mobilnya berhenti tepat di depan sebuah pagar rumah.
"Iya, ini rumahku. Mau mampir dulu?" tawar Karin sok ramah.
"Nggak, terima kasih. Aku mau langsung balik ke kantor, kamu pikir aku nggak ada kerjaan?" tolak Raka sinis. Dia benar-benar jengkel. Gara-gara mengurusi cewek merepotkan ini, urusan kantornya jadi tertunda, padahal ayahnya sudah menelpon berkali-kali karena ada masalah mendesak.
Saat itu, Bu Ismi kebetulan sedang berjalan keluar rumah. Matanya membelalak kaget melihat Karin turun dari sebuah mobil mewah. Bu Ismi yang mengira anak kesayangannya itu mengurung diri di kamar mandi atau kamar tidur langsung bergegas mendekat.
"Loh, Karin! Dari mana aja kamu? Ibu kira kamu ngurung diri di kamar!" cerceh Bu Ismi panik.
Raka menurunkan kaca mobilnya dan berseru dari dalam, "Eh, Bu! Tolong dijagain ya anaknya! Tadi dia hampir aja bunuh diri melompat dari jembatan. Kalau nggak ada saya yang halangin, mungkin sekarang udah lewat!"
Mendengar itu, Bu Ismi terperanjat setengah mati. Wajahnya pucat pasi. "Bener yang dibilang Masnya, Karin?!"
"I... iya, Bu." aku Karin gugup. "Tadi pikiranku bener-bener gelap... Maaf ya, Bu, namanya juga orang lagi frustrasi..."
"Ya sudah, saya pamit dulu." pangkas Raka tak sabar. Tanpa menunggu balasan panjang lebar, Raka langsung menginjak gas dan melaju kencang.
"Terima kasih banyak ya, Mas!" teriak Bu Ismi menyusul mobil Raka yang makin menjauh.
Setelah mobil itu menghilang dari pandangan, Bu Ismi langsung menatap Karin dengan raut gusar.
"Karin! Kamu ngapain sih pakai acara nekat mau bunuh diri segala?! Sudahlah, lupakan si Bagas itu! Masih banyak laki-laki di luar sana yang jauh lebih ganteng dan jauh lebih tajir dari Bagas! Siapa tahu nanti kamu malah dapat suami yang kelasnya jauh di atas dia!" omel Bu Ismi.
Ucapan ibunya langsung meresap ke otak Karin. Karin mengangguk pelan. Benar juga kata Ibunya. Buktinya baru saja dia ditolong oleh pria tampan yang membawanya dengan mobil mewah. Mobil yang ditumpanginya tadi saja harganya sangat fantastis.
Melihat ekspresi Karin yang mulai tenang, Bu Ismi segera merangkul dan menuntun anak kesayangannya itu masuk ke dalam rumah. Bu Ismi benar-benar takut Karin bakal nekat kabur dan mencoba bunuh diri lagi.
"Ingat ya, Karin! Jangan pernah coba-coba bunuh diri lagi!"
"Kamu bakal nyesel nanti." peringat Bu Ismi.
"Iya, Bu. Nggak lagi-lagi, kok. Karin masih sayang nyawa. Bener kata Ibu, cowok di luar sana masih antre. Siapa tahu nanti dapet yang jauh lebih segalanya dibanding Bagas." celetuk Karin yang matanya mulai berbinar tiap kali mengingat Raka.
"Nah, gitu dong! Udah ah, Ibu mau buru-buru nganterin kue dagangan dulu, nanti keburu sepi malah nggak dapet duit." omel Bu Ismi seraya ngeloyor pergi.
Begitu Ibunya menghilang di balik pintu, Karin langsung menepok jidatnya sendiri. "Aduh, bego banget sih! Kenapa tadi nggak minta nomor HP-nya coba? Kalau begini terus, gimana caranya gue bisa ketemu dia lagi?" gumamnya gemas pada diri sendiri.
Mengingat Raka yang tadi sempat memujinya cantik, senyum-senyum sendiri langsung terbit di wajah Karin.
"Raka... nama yang bagus." bisiknya manja.
"Maaf ya, Pa. Raka telat, jalanan macet banget tadi." alibi Raka begitu menginjakkan kaki di ruangan kantor.
"Kamu ini biasakan jangan santai banget! Bisa nggak sih kerja yang bener dan serius?" semprot Fandy langsung, tanpa basa-basi begitu Raka muncul.
"Raka selalu serius kok Pa kalau urusan kerjaan. Lagian ada masalah heboh apa sih sampai Papa kelihatan sekacau ini?" tanya Raka bingung melihat ekspresi ayahnya yang sudah seperti kehilangan separuh nyawa.
"Kamu mikir nggak? Perusahaan kita ini lagi di ambang krisis besar! Semua produk baru yang kita lempar ke pasaran sama sekali nggak laku!" seru Fandy emosi. "Rugi sampai miliaran! Kalau begini terus, kita bisa gulung tikar, Raka! Coba putar otak kamu, gimana caranya biar perusahaan ini nggak bangkrut!" lanjutnya frustrasi seraya menjatuhkan tubuhnya ke sofa dan memijit pelipisnya yang mendenyut hebat.
Raka menyandarkan badannya santai. "Lah, Kak Devan kan punya perusahaan raksasa yang makin berkembang pesat. Kalau bisnis kita terancam ambruk, ya tinggal minta tolong sama dia buat suntik modal. Beres, kan?" usul Raka dengan kelewat enteng.
Mendengar ide spontan anak bungsunya itu, raut wajah Fandy yang tadinya tegang seketika langsung berubah lega, bagaikan mendapat angin segar di tengah kepungan asap.
**BERSAMBUNG**