Setelah enam bulan wafatnya sang Ibu, Dea memutuskan meninggalkan rumah karena tidak tahan terhadap tekanan dan siksaan dari Paman, Bibi dan sepupunya yang sengaja ingin merebut warisan dari sang ayah yang merupakan seorang CEO sebuah perusahaan Ekspor-Impor bernilai ratusan triluin.
Takdir Pelarian Dea mempertemukannya dengan Tania, seorang gadis desa yang merantau ke kota untuk mencari keluarga dan asal usul jati dirinya.
Dea akhirnya mau kembali ke rumah setelah sang ayah menikahi Tania dan menjadi ibu tiri untuk Dea. Kembalinya Dea ke rumah menimbulkan ketidak sukaan dari paman dan bibi Dea, apalagi sekarang adanya Tania yang menjadi perisai hidup bagi Dea.
Banyak drama dan kejadian yang menguras emosi, banyak plot twist dalam setiap bab kejadiannya, baik dalam kehidupan Dea maupun kehidupan Tania dalam mencari keluarganya di ibukota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Genderang Perang di Bawah Bayangan Olympus
Badai salju Zurich seolah kehilangan suaranya. Di pelataran Kastil Schloss von Hapsburg, puluhan prajurit elite berseragam serba hitam yang sebelumnya lumpuh akibat tekanan gravitasi Valerius, kini mulai terbatuk-batuk, meraup oksigen dengan rakus. Freya berusaha bangkit dengan bertumpu pada lututnya, menyeka seberkas darah segar yang menetes dari hidungnya.
Xander melangkah maju menembus tumpukan salju, pandangannya terkunci pada amplop hitam berlogo burung hantu emas yang tergeletak di atas kap mobil Maybach. Saat ujung jemarinya bersentuhan dengan kertas amplop itu, sensasi panas menyengat seperti besi pijar langsung merambat ke kulitnya, namun wajah Sang Dominus Umbrae tidak bergeming sedikit pun.
"Masuk ke dalam. Semua pasukan, tingkatkan protokol keamanan menjadi Omega-Red," perintah Xander dengan suara yang sedingin es. "Dirga, hubungi tim evakuasi di Bogor. Pindahkan Kakek Suratman ke bungker kedalaman tanah level empat sekarang juga."
Tania membuka pintu mobil, merengkuh Dea yang masih menatap ke arah tempat kereta kuda gaib itu menghilang. "Kita masuk, Sayang. Tidak ada yang akan menyentuhmu. Ibu berjanji."
Sepuluh menit kemudian, ketenangan ruang keluarga kastil telah berubah menjadi ruang perang yang dipenuhi ketegangan. Meja biliar antik dari kayu mahoni di tengah ruangan telah digeser, digantikan oleh meja proyeksi holografik berukuran raksasa.
Xander berdiri di ujung meja, melemparkan amplop hitam itu ke atas panel pemindai.
BIP!
Seketika, layar holografik memproyeksikan sebuah peta topografi tiga dimensi berwarna merah terang. Peta itu berpusat di sebuah gugusan pegunungan es tak terjamah di perbatasan pegunungan Alpen, tepat di atas awan. Di puncak tertinggi yang selama ini dianggap kosong oleh satelit Google Earth, berdiri sebuah megaproyek melayang—sebuah benteng berbentuk cincin raksasa yang dikelilingi oleh perisai plasma transparan.
"Gunung Olympus," gumam Xander rahangnya mengeras. "Bukan mitos Yunani kuno, melainkan Stasiun Ketinggian Orbital milik The Elysium Court. Tempat para 'Dewa' ekonomi dunia duduk mengamati kita seperti semut."
Dea menatap benteng holografik itu dengan mata membelalak. "Siapa sebenarnya mereka, Ayah? Mengapa mereka bisa mematikan satelit kita dan melumpuhkan pasukan Freya tanpa menyentuh mereka?"
Xander menumpukan kedua tangannya di tepi meja, menatap putrinya dengan tatapan serius. "Dunia bawah tanah yang selama ini kaulihat—Sebastian, Baskoro, Mawar Hitam, bahkan sindikatku sendiri—hanyalah anjing penjaga. Kami yang mengotori tangan dengan darah. Namun The Elysium Court adalah majikannya. Mereka terdiri dari Tiga Pilar: Pilar Ekonomi yang mengendalikan inflasi dan bank sentral dunia, Pilar Perang yang menyuplai senjata ke negara-negara adidaya, dan Pilar Informasi yang mengontrol semua data digital di bumi."
"Dan uang dari Mawar Hitam yang kusumbangkan..." Dea menelan ludah, suaranya bergetar pelan. "...adalah uang mereka?"
"Itu adalah uang darah yang mereka gunakan untuk menahan laju inflasi buatan mereka sendiri," potong Tania tajam. Wanita itu berdiri menyilangkan lengan, menatap tajam ke arah hologram. "Kau tidak melakukan kesalahan, Dea. Kau telah mengembalikan hak anak-anak yang dirampas oleh lintah-lintah berdasi itu. Jika mereka marah karena uangnya hilang, itu membuktikan satu hal: mereka tidak maha kuasa. Mereka juga butuh uang untuk berkuasa."
Xander menoleh pada Tania, sedikit terkejut namun bangga melihat keberanian logis wanita itu. "Kau benar, Tania. Tapi Valerius tidak menggertak soal Bogor. Pilar Ekonomi memiliki senjata satelit Kinetic Rod—misil tungsten murni seberat sepuluh ton yang dijatuhkan dari orbit. Tanpa bahan peledak, kecepatan jatuhnya sanggup meratakan satu kota dalam hitungan detik layaknya meteorit. Mereka bisa menghapus Bogor tanpa terdeteksi oleh radar nuklir mana pun."
Keheningan kembali menyelimuti ruang perang. Ancaman itu terlalu masif. Ini bukan lagi pertarungan tinju di atas ring; ini adalah perang melawan entitas yang bisa memanipulasi hukum fisika dan ekonomi dunia.
Dirga yang sejak tadi memonitor komunikasi mengebrak meja dengan frustrasi. "Kita tidak punya pasukan udara yang bisa menembus perisai plasma Olympus, Tuan Xander! Kalaupun kita mengirim jet tempur, mereka akan ditembak jatuh sebelum mencapai radius sepuluh kilometer. Ini misi bunuh diri!"
"Kita tidak akan menyerang dari udara," ucap Dea tiba-tiba.
Semua mata di ruangan itu sontak menoleh ke arah Dea. Gadis remaja yang beberapa jam lalu baru saja menyerahkan takhta harta bawah tanah itu, kini menatap peta topografi dengan sorot mata yang menyala tajam. Ia menggeser jari telunjuknya di atas hologram, memperbesar gambar di bagian bawah gunung es yang menjadi fondasi stasiun Olympus.
"Waktu di vila, Kakek Suratman pernah mengajariku cara mencabut rumput liar yang akar tunjangnya sangat dalam," ucap Dea dengan nada tenang yang memancarkan wibawa murni Dominus Umbrae. "Kakek bilang, jangan tarik dari atas karena daunnya akan putus dan akarnya tetap hidup. Kita harus menggali tanahnya dari bawah, dan memotong urat nadinya."
Dea menatap Xander. "Ayah bilang stasiun itu melayang karena perisai plasma dan gravitasi buatan. Energi sebesar itu tidak mungkin dihasilkan dari panel surya. Pasti ada reaktor fusi raksasa di bawah tanah yang menyuplainya, kan?"
Mata Xander terbelalak. Ia segera mengetikkan rentetan kode komando di panel meja. Peta hologram itu memindai ke bawah permukaan gunung es. Benar saja, jauh di kedalaman dua ribu meter di bawah tanah, terdapat sebuah lorong pipa energi raksasa—bekas tambang misil era Perang Dingin yang kini disulap menjadi reaktor penyuplai Olympus.
"Jalur pasokan magma," bisik Xander takjub. "Tidak ada radar anti-udara di bawah sana. Hanya sistem keamanan lorong bawah tanah yang diisi oleh prajurit mekanik."
Tania menyeringai lebar, sebuah senyuman liar khas petarung jalanan yang merindukan ajang pembuktian. Ia melangkah mendekati meja, menarik keluar sepasang kerambit perak bermotif naga dari balik gaunnya, lalu menancapkannya tepat di proyeksi reaktor bawah tanah tersebut.
"Kalau begitu sudah diputuskan," kata Tania lantang, matanya menatap Xander dengan kilat menantang. "Kau dan Freya mungkin ahli dalam peretasan satelit dan tembak-menembak jarak jauh. Tapi untuk urusan menyusup ke lorong sempit, mematahkan leher penjaga dalam diam, dan meledakkan fondasi rumah dari bawah... serahkan padaku."
Xander menatap kedua wanita di depannya—istri sambung yang memiliki nyali seekor singa betina, dan putri kandungnya yang mewarisi kegeniusan taktis layaknya panglima perang. Rasa putus asa yang sempat hinggap saat berhadapan dengan utusan Elysium kini menguap tak bersisa, digantikan oleh adrenalin murni yang mendidihkan darahnya.
"Kita punya waktu tujuh hari," ujar Xander, suaranya kini menggelegar memenuhi ruang taktis, membangkitkan semangat seluruh prajurit yang mendengarnya. Ia menekan tombol merah di bawah meja, membuka dinding lapis baja di ujung ruangan yang menampilkan deretan persenjataan tingkat tinggi, baju zirah taktis nano, dan bahan peledak EMP.
"Freya, siapkan Ghost-Train—kereta bor bawah tanah peninggalan Uni Soviet yang kita sita sepuluh tahun lalu. Dirga, kumpulkan dua belas prajurit Shadow Vanguard terbaik yang berani mati."
Xander melangkah mendekati Dea, memegang kedua bahu putrinya dengan mantap. "Kau tidak akan pergi ke Pengadilan Absolut sebagai pesakitan, Dea. Saat mereka memanggil namamu di atas sana, fondasi singgasana mereka sudah akan hancur menjadi debu di bawah kaki kita."
Dea mengangguk mantap, menggenggam jam saku perak milik ibunya erat-erat. "Mari kita tunjukkan pada dewa-dewa palsu itu, Ayah, Ibu... bahwa manusia dari bumi bisa membuat mereka berdarah."
Malam itu, di tengah amukan badai salju Swiss, sebuah genderang perang yang tak terdengar oleh dunia mulai ditabuh. Ini bukan lagi sekadar pembalasan dendam keluarga, melainkan pemberontakan epik untuk meruntuhkan langit dan membebaskan bumi dari belenggu para dewa oligarki. Perburuan Olympus baru saja dimulai.
sejauh ini sy suka ceritanya,sy kasi like thor