Di penghujung tahun 1989, Kota Marunda digegerkan oleh hilangnya Nirmala Hadiningrat, anak perempuan berusia tujuh tahun dari keluarga terkaya dan paling berpengaruh di kota tersebut. Tanpa ada tuntutan uang tebusan, satu-satunya petunjuk yang ditinggalkan pelaku di kamar korban hanyalah sebutir talas hutan misterius yang dibungkus kain kafan kusam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Hollow Archive, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Labirin Besi
Aris menyeret Wali Kota yang menggigil melewati pekatnya kabut putih zat kimia APAR. langkah kaki dan makian para pembunuh yang kebingungan di dalam gudang berangsur meredup di belakang mereka.
Dengan sisa tenaga di lengannya yang kaku, Aris melempar Wali Kota ke kursi penumpang jip patroli polisi Sektor Selatan yang tersembunyi di balik kontainer tua.
Mesin jip menyala dalam sekali starter. Tepat saat Aris hendak menginjak pedal gas untuk melesat keluar dari area pelabuhan lama, pria dengan pakaian kotor dan napas terengah-engah keluar dari balik kegelapan reruntuhan kontainer, berdiri menghadang di depan jip.
Aris menginjak rem. Lampu depan jip menyoroti wajah pria itu. Dia adalah Bramantyo. Kacamata tebalnya retak sebelah, dan tas kanvas tempatnya menyimpan salinan dokumen belacu tampak hangus di bagian sudutnya.
"Bram! Masuk ke belakang! Kita harus bawa Wali Kota ini sekarang!" teriak Aris dari balik kemudi.
Bramantyo segera masuk ke kursi belakang, memegang bahu jaket kulit Aris dengan tangan yang gemetar. Wajah wartawan senior itu dipenuhi jelaga hitam.
"Aris... kita punya masalah besar. Siaran radio kita dihentikan paksa. Kantor redaksi Harian Suara Marunda baru saja dibakar habis oleh massa bayaran Sekretaris Kota!"
"Bagaimana dengan peralatan pemancar dan salinan berkasmu?"
"Semuanya hangus, Ris. Pemancar gelap di pelabuhan juga sudah dihancurkan oleh kelompok polisi Sektor Selatan yang membelot dari Wijaya,"
Bramantyo menahan amarah.
"Mereka bergerak cepat untuk memutus arus informasi. Sekarang, satu-satunya bukti asli yang tersisa di seluruh Kota Marunda adalah catatan kas suap 1959 asli yang ada di dalam jaketmu.
Jika mereka merebut itu, makar ini akan dikubur selamanya sebagai insiden kebakaran biasa."
Aris melirik Wali Kota di sampingnya yang menunduk, lalu meraba dada. Tiga bundel catatan kas asli dan pita kaset magnetik di balik jaket kulit cokelatnya terasa seperti bom waktu yang siap meledak.
Saluran publik telah diputus, kota telah dibakar, dan sisa kepolisian telah terpecah.Pembalasan hukum di penghujung tahun 1989 ini tidak lagi berjalan di atas kertas koran, melainkan berubah menjadi perang terbuka di jalanan Kota Marunda.
Aris membanting setir ke kanan, memadamkan seluruh lampu jip patroli, dan membiarkan kendaraan itu meluncur dalam gelap, menuju kawasan industri mati di ujung dermaga.
Tujuannya adalah stasiun kereta api logistik tua yang terbengkalai sejak awal dekade 80-an. Di sana, puluhan gerbong baja pengangkut batu bara yang sudah berkarat berjejer, menciptakan labirin besi yang sempurna untuk bersembunyi dari kejaran polisi pembangkang dan massa bayaran.
Jip berhenti di dalam salah satu hanggar lokomotif yang beratap seng bolong-bolong. Udara malam tahun 1989 yang lembap dan berbau pelumas tua menyelimuti mereka.
"Bram, bawa Wali Kota ke dalam gerbong nomor tiga di sebelah sana. Pastikan dia tidak bersuara," perintah Aris dengan suara yang tegas.
Tangannya memegang pistol revolver kaliber miliknya, merasakan dinginnya logam senjata yang sisa pelurunya kian menipis.
Bramantyo keluar sambil menarik lengan Wali Kota yang badannya masih gemetar akibat sisa hipotermia dari ruang pendingin.
Mereka menyelinap di antara bayang-bayang roda besi kereta yang masif.
Aris sendiri tetap bertahan di dekat jip, telinganya dipasang tajam-tajam ke arah luar hanggar. Gerimis yang mengguyur atap seng menimbulkan suara berisik konstan, namun detektif itu masih bisa menangkap sesuatu, suara raungan mesin beberapa sepeda motor trail yang mulai memasuki area rel terluar stasiun.
Para pemburu itu bergerak taktis. Mereka tidak lagi menggunakan sirine, melainkan sorot lampu senter berdaya tinggi menerangi malam, menyapu barisan gerbong tua satu per satu.
Aris meraba jaket kulit cokelatnya. Catatan kas suap 1959 asli dan pita kaset magnetik di dalam kantongnya terasa dingin.
Bukti itu aman, namun ruang gerak mereka kini resmi terkunci di dalam labirin besi tua ini.
Dia harus memikirkan satu taktik gerilya yang matang untuk menghabisi para pengejar sebelum mereka menemukan tempat persembunyian Bramantyo dan Wali Kota.