Ayu mengira rumah tangganya baik-baik saja—Bayu tampak suami penyayang dan bertanggung jawab. Namun perlahan ia sadar, penghasilannya selama ini diam-diam menghidupi wanita lain: istri kedua Bayu yang tak pernah ia ketahui keberadaannya. Ketika kebenaran terbongkar, Ayu bukan hanya menghadapi pengkhianatan, tapi juga fitnah dan kekerasan dari orang-orang yang seharusnya ia percaya. Dari titik paling rapuh itu, ia bangkit dan diam-diam menyusun rencana untuk membalikkan keadaan yang selama ini merugikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB TIGA BELAS
## Bab 13: Batas Kesabaran
Raka sudah semakin besar, kini mulai belajar merangkak, sering kali membuat Wulan kewalahan sendirian menjaganya sepanjang hari tanpa bantuan siapa pun. Tidak ada asisten rumah tangga, tidak ada keluarga dekat yang bisa diandalkan—hanya dirinya sendiri, berjuang membesarkan anak dari seorang laki-laki yang statusnya sebagai suami hanya bisa ia akui secara diam-diam.
Pagi itu, setelah semalaman tidak bisa tidur nyenyak karena Raka rewel demam ringan, Wulan mengirim pesan panjang pada Bayu, sesuatu yang jarang ia lakukan mengingat biasanya ia berusaha menahan diri agar tidak terlalu banyak menuntut.
*Bang, aku capek banget. Raka semalaman rewel, aku sendirian ngurus, nggak ada yang bisa dimintai tolong. Kamu di mana aja sih akhir-akhir ini? Udah jarang banget ke sini.*
Bayu membalas beberapa jam kemudian, di sela kesibukan kantornya.
*Maaf, Lan, lagi banyak kerjaan. Nanti sore aku usahain mampir.*
Balasan singkat itu justru semakin membuat Wulan kesal. Ia menatap layar ponselnya cukup lama, merasakan amarah yang selama ini ia tahan mulai perlahan meluap.
*"Usahain"? Bang, aku bukan minta ditemenin jalan-jalan. Anak kita sakit. Kamu tuh ayahnya, harusnya nggak perlu "usaha" buat mikirin anak sendiri,* balasnya, kali ini dengan nada yang jauh lebih tajam dari biasanya.
---
Sore harinya, Bayu benar-benar datang, membawa obat dan beberapa kebutuhan yang diminta Wulan. Namun suasana di kontrakan itu terasa jauh lebih tegang dari biasanya.
"Kenapa sih akhir-akhir ini kamu jarang banget ke sini, Bang? Raka sakit aja kamu baru dateng pas udah sore," tanya Wulan, nada suaranya penuh kekecewaan yang tertahan.
"Aku juga punya kehidupan lain, Lan. Nggak bisa tiap hari bebas ke sini," jawab Bayu, mencoba tetap tenang meski dalam hati ia merasa serba salah.
"Kehidupan lain? Maksud kamu istri sahmu itu, kan?" Wulan mulai meninggikan suaranya, sesuatu yang jarang ia lakukan di depan Bayu. "Aku juga capek, Bang. Capek jadi yang kedua terus, capek sembunyi-sembunyi, capek nunggu janji-janji kamu yang nggak pernah jelas kapan terwujud."
Bayu terdiam, tidak langsung menjawab, membiarkan Wulan melampiaskan kekesalan yang sudah lama ia pendam.
"Aku juga manusia, Bang. Aku juga pengen diakui, pengen Raka bisa manggil kamu 'Ayah' di depan orang banyak, bukan cuma diem-diem kayak gini terus," lanjut Wulan, air matanya mulai menggenang. "Sampai kapan kita kayak gini?"
"Aku juga lagi mikirin caranya, Lan. Tapi ini nggak segampang yang kamu bayangin," jawab Bayu, mencoba membela diri meski jauh di dalam hatinya ia tahu, ucapan itu sudah terlalu sering diulang tanpa ada tindakan nyata yang mengikutinya.
"Gampang kok, Bang. Kamu tinggal jujur aja sama istrimu. Kalau kamu emang beneran cinta sama aku dan Raka, kamu bakal berani ambil risiko itu," desak Wulan, kalimat yang terdengar sederhana di mulutnya, namun terasa begitu berat bagi Bayu yang harus menanggung konsekuensi dari dua sisi sekaligus.
---
Pertengkaran sore itu berlangsung cukup lama, diselingi tangisan Raka yang terbangun karena mendengar suara keras kedua orang tuanya. Bayu akhirnya menggendong Raka, mencoba menenangkannya, sementara Wulan duduk di sofa dengan wajah basah oleh air mata, menatap kosong ke arah dinding.
"Lan," Bayu akhirnya memecah keheningan, suaranya lebih lembut. "Aku ngerti kamu capek. Aku juga capek, sebenarnya. Tapi percaya sama aku, aku nggak akan ninggalin kamu sama Raka. Cuma butuh waktu yang tepat buat semuanya."
"Waktu yang tepat itu kapan, Bang? Raka udah mau setahun. Kamu masih bilang 'waktu yang tepat'," Wulan mendesah, suaranya mulai melemah, lelah secara emosional maupun fisik.
Bayu tidak memiliki jawaban pasti, hanya mendekat, duduk di samping Wulan sambil tetap menggendong Raka yang mulai tenang. "Aku janji, Lan. Sebentar lagi. Aku cuma butuh nyari cara yang paling aman, biar nggak ada yang tersakiti terlalu dalam—termasuk kamu, termasuk Ayu, termasuk Raka."
Kalimat itu, meski terdengar bijaksana, sebenarnya hanya cerminan dari ketidakmampuan Bayu untuk benar-benar mengambil keputusan tegas. Ia terus berharap ada solusi ajaib yang bisa menyelesaikan semuanya tanpa harus kehilangan salah satu dari dua kehidupan yang sudah terlanjur ia bangun—sebuah harapan yang, semakin hari, semakin terbukti tidak realistis.
---
Malam itu, setelah suasana sedikit mereda, Wulan menyiapkan makan malam sederhana untuk mereka berdua, sementara Bayu bermain sebentar dengan Raka sebelum akhirnya harus kembali pulang ke rumah Ayu. Di tengah makan, Wulan kembali membuka pembicaraan, kali ini dengan nada yang lebih tenang namun tetap serius.
"Bang, aku udah mikir. Kalau kamu emang belum berani jujur sama istrimu, aku yang bakal cari cara sendiri," katanya, menatap Bayu lurus-lurus.
Bayu mengangkat wajahnya, terkejut. "Maksud kamu apa, Lan?"
"Aku nggak akan nyariin dia langsung atau bikin ribut, tenang aja," Wulan menjelaskan, meski nada suaranya masih menyisakan ketegasan yang jarang ia tunjukkan sebelumnya. "Tapi aku pengen kamu tahu, aku juga punya batas kesabaran, Bang. Aku nggak akan terus-terusan diem kalau kamu nggak juga ambil tindakan."
Kalimat itu membuat Bayu merasakan kekhawatiran baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Selama ini, ia selalu merasa memegang kendali penuh atas situasi ini—kapan harus berkunjung, berapa banyak uang yang harus diberikan, bagaimana cara menjaga agar semuanya tetap tersembunyi. Namun kalimat Wulan malam itu memberi sinyal baru: bahwa kendali itu, ternyata, tidak sepenuhnya berada di tangannya sendiri.
"Lan, tolong jangan buru-buru ambil tindakan sendiri. Kasih aku waktu lagi, aku janji bakal cari solusi secepatnya," pinta Bayu, nada suaranya mulai terdengar cemas.
Wulan tidak menjawab secara langsung, hanya menatap Bayu dengan tatapan yang sulit diartikan—antara lelah, kecewa, dan sedikit ancaman terselubung yang membuat Bayu semakin menyadari, keseimbangan rapuh yang selama ini ia jaga dengan susah payah, kini benar-benar berada di ambang keruntuhan.
Malam itu, dalam perjalanan pulang menuju rumah Ayu, pikiran Bayu dipenuhi kekhawatiran baru. Ia menyadari, waktu yang tersisa untuk memperbaiki atau mengakhiri situasi ini dengan caranya sendiri semakin menipis—dan jika ia terus menunda, kemungkinan besar, kebenaran itu akan terbongkar bukan atas kemauannya sendiri, melainkan atas kesabaran Wulan yang, malam itu, sudah menunjukkan tanda-tanda akan segera habis.
---
*Bersambung ke Bab 14*