Hutang budi membuat Pria setengah baya itu lupa pada gadis belia yang dulu menolongnya saat pingsan dalam melaksanakan tugas. Bertahun-tahun ia mencari, hingga akhirnya ia menemukan gadis itu dan menjodohkannya dengan 'putranya', Letnan Julang Wengkar (Elang), perwira muda yang gagah, berani, dan namanya di kenal kemiliteran.
Namun takdir punya jalan yang tak terduga. Di balik kesediaan gadis itu menerima perjodohan, tersimpan rahasia yang selama ini ia pendam dalam diam.. Hatinya bukan untuk Elang. Ia justru mencintai Letnan Dante, sahabat Elang sendiri.. Juga 'putra' dari mendiang sahabat Pak Riegan semasa muda dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. The power of Puma.
Beberapa minggu berlalu. Bang Dante dan Bang Elang sudah kembali di mess dan bekerja sebagaimana mestinya.
Cherry dan Shanli juga sudah kembali tinggal di kost. Kuliah seperti biasa tanpa menunjukkan ada keanehan. Keempatnya nampak seperti sahabat.
Namun di satu malam, suasana di antara mereka seperti ada yang janggal. Dalam hal apapun, dimana pun, dan kapanpun.. Bang Elang selalu sibuk pada perhatiannya untuk Shanli. Bang Elang selalu memastikan segala hal yang membuat Shanli nyaman, apa yang Shanli inginkan, atau ada sesuatu yang sedang di inginkan gadis itu, sementara Cherry duduk di seberang sana, diam, menunduk, dan tidak mendapatkan perhatian apapun.
Hal itu tidak luput dari pengamatan Bang Dante. Ia sudah memperhatikan itu semua sejak lama. Setiap gerakan sahabatnya, setiap kali Elang lebih dulu merespons Shanli.. setiap kali itu juga Cherry diabaikan. Hingga malam itu, saat semua sudah selesai makan dan para gadia sedang di dapur, Bang Dante tidak bisa lagi menaham rasa jengkelnya.
"Yang benar saja kau, Lang..!!" suaranya rendah namun tegas, menatap lurus ke arah sahabatnya. "Kenapa kau begitu perhatian pada Shanli, tapi Cherry kau biarkan begitu saja?"
Bang Elang berhenti menatap layar ponselnya. Pandangannya kini tertuju pada pria yang menegurnya. "Saya tidak mengabaikannya, Dan. You know Shanli lebih membutuhkannya. Dia lebih rapuh, lebih penakut daripada Cherry. Apa salah kalau saya ikut menjaganya."
"Oohh gitu??? Cherry tidak butuh dijaga?" tegur Dante lebih keras, matanya menatap tajam. "Kau pikir karena dia ceria, karena dia berani, karena dia sering tertawa, berarti dia tidak butuh diperhatikan? Dia juga wanita, Lang. Dia juga punya hati yang bisa terluka. Dan setiap kali kau lebih dulu memanjakan Shanli, kau seakan lupa ada Cherry disana. Saat kau melihatnya tersenyum, belum tentu dia tidak menangis. Dia merasa... dia tidak cukup berharga untukmu."
"Sok tau, kau. Dia akan baik-baik saja meskipun tanpa aku. Tapi Shanli tidak bisa." Jawab Bang Elang.
Tak lama Bang Jangkar dan Bang Sabrang tiba.
"Waaahh.. Makan nggak ajak-ajak." Celetuk Bang Jangkar sambil mencomot bakwan di hadapannya. Malam itu ia baru saja datang untuk cuti dari penugasan, ia pun staff intelijen.. Sama seperti sahabatnya, Dante.
Disana Bang Dante dan Bang Elang saling membuang muka.
"Ada masalah apa kalian??? Masih banyak nih bakwannya." Kata Bang Jangkar dengan sengaja.
"Aku ke Markas duluan. Ada yang harus di selesaikan lebih awal." Pamit Bang Dante, ia pun menyambar rokok du**ill nya.
Tak ada balas apapun dari Bang Elang, tapi setelah Bang Dante pergi, barulah ekspresi Letnan Julang Wengkar berubah. Ia mengurut keningnya seraya mengatur nafas.
"Kau ada masalah apa?? Si Dante itu hanya ngamuk sama kita kalau salah satu dari kita ada yang keluar jalur. Kenapa kau ini selalu cari perkara dengan orang yang paham kitab gundul dan Ihya Ulumuddin." Omel Bang Jangkar.
Bang Elang langsung menoleh pada adiknya itu. "Daripada kitab gundul, dia lebih pintar Ihya Ulumuddin." Sambar Bang Elang. "Lagipula tak ada hubungannya kitab gundul, kitab sakral itu dengan sikap kerasnya. Sifat manusia memang watak."
Seolah tak mendengar, Bang jangkar dan Bang Sabrang terus mengunyah bakwan, tempe mendoan dan tahu di atas meja.
"Kapan lu kawin, Brang??" Celetuk Bang Jangkar dengan mulut penuh.
"Senin dah, besok KUA tutup." Jawab Bang Sabrang. "Nah, lu???"
"Kalau jodoh gue dah otw, senin juga dah. Felling gue dia lagi kepincut beruk jantan." Balas Bang Jangkar santai.
Tak lama Cherry dan Shanli kembali, tapi mereka kaget melihat kedua pria ada di ruang makan kost mereka.
"Lho.. Om Dante kemana??" Tanya Cherry.
"Ke markas duluan." Jawab Bang Sabrang.
Bang Jangkar menoleh memperhatikan Cherry. "Bukan main.. Ini calonmu kan, Lang??"
"Iya kali." Jawab Bang Elang santai.
Saat itu Shanli menunduk tak menjawab.
"Ini.. Pasti Shanli ya???" Tebak Bang Jangkar.
Shanli yang masih menunduk lalu mengangguk.
'Apa mereka ribut perkara dua perempuan ini. Tapi apa??'
"Makan dulu lah, Om. Cherry masak banyak kok." Kata Cherry menawari.
Kedua sahabat yang baru datang itu berjingkrak tidak menolak. Mereka mendapat undangan dari Dante, tapi pria itu malah pergi lebih dulu.
Meskipun kini mulut Bang Jangkar banyak mengoceh, ia tetap merasa ada yang aneh dari pertemuan kali ini. Hanya dirinya belum tau jawabannya.
...
Bang Dante bersandar dan mengurut keningnya.
'Be**bah satu itu mikir apa??? Cherry itu calon istrinya, kan???? Tak bisakah dia mikir perasaan calonnya sedikit saja????'
"Kang.. Ayo meeting sekarang..!!" Kata Bang Jangkar mengetuk pintu dan berteriak dari luar ruangan kerja Letnan Dante.
~
"Kalau menyergap dari sisi barat, nggak efektif. Di barat selalu ada banyak orang berlalu lalang. Banyak pedagang kaki lima disana." Tolak Bang Elang.
"Ya karena disana banyak pedagang kaki lima, kita gerak. Tempat paling aman, ya tempat paling bahaya." Jawab Bang Dante sambil mematikan sisa puntung rokoknya lalu menyulut batang rokok yang baru.
"Kurang-kurangi lah rokokmu itu, kau masih bujangan." Tegur Bang Jangkar.
"Memangnya kenapa kalau bujangan. Sakit dan mati itu di tangan Tuhan, bukan rokok." Balas Bang Dante.
"Susah memang kalau bicara sama dia." Celetuk Bang Elang.
Bang Dante hanya tersenyum tipis kemudian mengambil lasser pointer dan melanjutkan ulang arahan tentang meetingnya kali ini.
***
Malam itu, Bang Dante baru kembali dari luar kota. Tak sengaja ia melihat Cherry duduk sendirian di bangku taman kota sambil memeluk lututnya. Bang Dante menghentikan laju mobilnya dan memastikan bahwa benar yang di lihatnya adalah Cherry.
Benar saja, saat itu ia melihat gadis itu menangis. Langkah kakinya mendekat. Entah kenapa hatinya tiba-tiba merasa begitu sakit.
Tak ada satu pun kata dari bibir Bang Dante. Pria itu hanya duduk di sebelahnya, memberi jarak namun cukup dekat. Ia tidak langsung bertanya, ia hanya ada di sana, memberi waktu agar Cherry bisa sedikit lebih tenang.
Saat tau ada sosok yang duduk di sampingnya, Cherry hanya menoleh sekilas.
"Om tau, hidup ini sangat keras untuk kita meratap." Cherry berbicara pelan, tanpa menoleh lagi, suaranya terdengar tertahan. "Seringkali Cherry berpikir... Kenapa Cherry di lahirkan, bukankah lebih baik tidak tau asal usul, seperti Shanli yang akhirnya bisa bahagia. Sedihnya hanya karena tidak tau siapa orang tuanya." Cherry menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya. "Dia memang pantas mendapatkan hadiah dari kesabarannya. Shanli lembut, penurut, manis. Dan Cherry.. Cherry berisik, keras kepala, sering bikin masalah. Wajar kalau Elang lebih memilih dia."
Dante diam sejenak, lalu suaranya terdengar lembut namun tegas. "Kau salah. Lembut bukan berarti lebih berharga. Dan keras kepala bukan berarti tidak butuh dicintai. Kamu adalah kamu, jadilah dirimu sendiri. Dan kalau seseorang tidak bisa melihat keindahan di balik lembutnya hatimu.. itu bukan salahmu. Dia yang buta.
"Tapi.. Semua sudah selesai, Om."
"Nanti saya yang bicara sama Elang." Kata Bang Dante.
"Nggak, Om. Jangan..!! Shanli sedang hamil.. Anaknya Om Elang." Ucap Cherry pelan setengah berbisik.
"Haaahh???"
Cherry mengangguk, badannya gemetar dan lemas.
Jemari Bang Dante mengepal erat. Nafasnya putus sambung karena geram dengan tingkah polah sahabatnya.
"Jangan nangis. Balas, Cherr..!!!!"
"Cherry nggak bisa, dia sahabat Cherry." Kata Cherry sambil sesenggukan.
"Sahabat ya sahabat, tapi calon suamimu sudah di makan sama dia. Kau balas si Shanli, jangan lemah..!!!"
"Cherry harus gimana, nggak tau.." Jawab Cherry.
"Nangis nggak akan selesaikan masalahmu. Kita nikah saja, mau?????" Tanya Bang Dante.
"Nikah???" Cherry menghapus air matanya dengan bingung.
"Ya nikah. Dia hamil.. Kau juga..!!! Memang dia saja yang bisa hamil." Omel Bang Dante.
"Tapi dia hamilnya sebelum nikah."
"Kau ini.. Jangan ambil jalur kiri. Mau begitu sekarang pun saya mampu. Tapi yang sopan lah, dek. Nikah baik-baik ya kita. Mana semua berkasmu..!! Besok pagi kita pengajuan nikah. Langsung, tanpa basa basi..!!"
"Tapi kita belum pacaran."
"Nanti.. Setelah nikah kita pacaran. Buat apa pacaran, nggak penting." Balas Bang Dante tanpa ingin ada bantahan lagi.
.
.
.
.
maaf ya mba Naraa/Pray/...tetep tak baca koq meskipun nyesek banget🥹
lanjut mba Nara
Tokoh ceritanya mba Nara...pria² yg bertanggungjawab👍
lanjut mba nara👍
mba Nara, ngasih bawangnya banyak bgt🥹🥹
huaaa...ga rela klo pada pisah😭
lanjut mba Nara🥰
itu lg si vivian...melu² ngobong blarak....adeeehhh koq yo ora kapok... njaluk dijak gelud ae iki
lanjut mba nara