NovelToon NovelToon
Sepuluh Ribu Kematian Abadi

Sepuluh Ribu Kematian Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Mengubah Takdir / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Di Sekte Lembah Giok Hitam, menjadi "Murid Teladan" bukanlah kehormatan, melainkan vonis mati sebagai tumbal perpanjangan umur sang tetua.

Di malam sebelum darahnya dikuras habis di atas altar, Gu Yuan, seorang murid luar tanpa latar belakang, tak sengaja membangkitkan artefak peninggalan ayahnya: Kaca Kematian Awal (Yuan Sha Jing).

Setiap kali niat membunuh mengarah padanya, cermin kuno itu membekukan waktu dan memaksanya mati dalam ribuan cabang simulasi. Ia merasakan lehernya ditebas, meridiannya meledak, dan racun membakar jantungnya berulang kali, semua demi satu hal yakni menemukan satu-satunya jalan keluar hidup-hidup.

"Jika takdir menyuruhku mati sepuluh ribu kali, maka aku akan bangkit sepuluh ribu satu kali untuk memenggal takdir itu sendiri."

Bagi Gu Yuan, kematian bukan akhir, melainkan peta menuju keabadian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 034 - Mengganti Pakaian Pelayan Altar

Di balik tumpukan balok kayu bakar basah yang terlindung dari pandangan luar halaman belakang, Gu Yuan bergerak cepat tanpa membuang waktu satu tarikan napas pun. Setiap detik yang terbuang sia-sia adalah celah bagi bencana yang bisa menggagalkan seluruh persiapannya.

Ia melucuti pakaian pelayan dapur yang dikenakan oleh pria muda yang pingsan tak sadarkan diri di tanah: sehelai baju katun kasar berwarna abu-abu kusam yang berbau minyak babi tengik dan bawang busuk, sehelai celana panjang linen hitam yang robek di bagian lutut, dan sebuah celemek kulit tebal yang dipenuhi noda arang serta jelaga tungku hitam. Pakaian pelayan rendahan ini berbau sangat menyengat dan kotor, namun justru bau minyak goreng tengik dan jelaga pekat inilah yang menjadi penyamaran terbaik untuk menyembunyikan sisa aroma belerang dan asam herbal dari air limbah bak cucian.

Gu Yuan mengikat kedua pergelangan tangan dan kaki pembantu dapur itu menggunakan sobekan kain lap basah yang dipilin kuat, menyumpal mulutnya dengan segumpal jerami kering dan kain perca, lalu menyembunyikan tubuh yang terkulai lemas itu ke dalam celah sempit di bawah panggung kayu penyimpanan arang batu. Di tempat gelap dan terpencil itu, pria tersebut tidak akan ditemukan sampai esok siang saat regu pengangkut arang datang mengambil pasokan baru.

Gu Yuan mengenakan pakaian pelayan dapur tersebut. Ukuran bajunya sedikit pas di pundaknya yang kini jauh lebih padat dan kokoh oleh otot Tulang Besi, namun celemek kulit tebal di bagian depan menutupi lekuk tubuhnya dengan sangat sempurna.

Di balik lipatan kain celemek kulit tebal itu, Gu Yuan menyelipkan senjata-senjata intinya dengan penataan yang mudah dijangkau dalam sekejap: belati berkarat yang tajam di sisi kanan pinggang, tiga bilah belati lempar baja hitam di saku dalam, botol porselen berisi sisa Pil Penahan Darah dan Pil Penempa Raga, serta pelat perunggu segi delapan pengendali formasi altar. Cermin perunggu peninggalan ayah angkatnya tetap tersimpan aman di balik lipatan kain terdalam yang menempel tepat di atas ulu hatinya, memancarkan hawa perunggu yang dingin dan menenangkan detak jantungnya.

Saat meraba saku celemek bagian dalam milik pelayan dapur tadi, jemari Gu Yuan menyentuh sebuah gulungan kertas tebal dan sebuah token tembaga bulat.

Ia menarik gulungan kertas tersebut keluar dan membukanya di bawah temaramnya bayangan tumpukan kayu bakar.

Kertas itu adalah surat instruksi pengantaran barang resmi bertatahkan stempel lilin merah dari balai obat balai dalam. Di dalamnya tertera daftar tugas khusus untuk bagian dapur umum: membawa nampan tembaga berisi dua belas mangkuk dupa pembakar darah dan sebaskom arang cendana hitam menuju gua air terjun sebelum lonceng senja berdentang tiga kali. Di bawah daftar tugas itu, tertulis catatan tegas bertinta merah yang digarisbawahi kasar: Dupa pembakar darah harus diletakkan tepat di sekeliling tiang ketujuh dan kedua belas untuk memanaskan saluran urat darah sebelum Tetua Mo tiba.

Mangkuk dupa pembakar darah di tiang ketujuh dan kedua belas.

Gu Yuan menyipitkan matanya sambil menyimpan kembali surat instruksi tersebut ke dalam lipatan celemeknya. Takdir tampaknya sedang membuka jalan yang sangat selaras dengan rencana sabotasenya. Tugas mengantarkan mangkuk dupa ini memberinya akses resmi melewati barikade pengawal tebing tanpa dicurigai, sekaligus menempatkannya tepat di samping dua tiang formasi yang telah ia rusak simpulnya saat ritual puncak dimulai nanti malam.

Gu Yuan melangkah perlahan keluar dari balik tumpukan kayu bakar, menyelinap masuk ke dalam ruang persiapan dapur belakang melalui pintu samping yang terbuka separuh.

Di atas meja kayu panjang yang dipenuhi jelaga, telah tersusun rapi beberapa nampan tembaga berkaki empat. Di atas nampan-nampan itu tergeletak mangkuk-mangkuk gerabah merah berisi serbuk dupa pembakar darah yang berbau wangi manis menusuk bercampur aroma bunga bangkai kering. Di sampingnya, beberapa pelayan dapur lainnya sedang sibuk mengikat tali celemek mereka sambil mengeluh pelan tentang beratnya tugas pengantaran malam ini.

Gu Yuan segera mengambil salah satu nampan tembaga yang paling berat, mengangkatnya dengan kedua tangan setinggi dada, lalu menarik kain penutup kepalanya rendah-rendah hingga menutupi sebagian kening, pelipis, dan sorot matanya.

“Hei, kau yang di sana! Cepat berbaris keluar!” seru seorang murid dalam berjubah biru muda yang berdiri di ambang pintu depan dapur sambil memegang sebilah pedang terbang bersarung perak dengan angkuh. “Rombongan pengantar dupa harus tiba di bibir tebing air terjun sebelum kabut darah menyelimuti mulut gua! Jangan ada yang berani lamban atau menjatuhkan mangkuk!”

Gu Yuan melangkah mantap, menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil bergabung dengan barisan tujuh orang pelayan dapur yang sedang melangkah keluar dari halaman dapur menuju pelataran luar.

Barisan pelayan itu melangkah beriringan di atas jalan setapak berbatu cadas yang menanjak terjal menuju tebing belakang balai obat. Di sepanjang jalan setapak tersebut, barikade-barikade kayu besi dan pagar kawat berduri telah dipasang berlapis-lapis di setiap sudut lereng. Di setiap sepuluh langkah, berdiri dua orang murid dalam bersenjata pedang terbang dengan mata yang mengawasi setiap gerak-gerik para pelayan dengan sorot tajam penuh selidik.

Namun, begitu melihat nampan tembaga berisi mangkuk dupa pembakar darah dan stempel tugas resmi di celemek para pelayan, para pengawal pedang itu hanya melambaikan tangan menyuruh mereka lewat tanpa melakukan penggeledahan fisik yang mendalam. Bagi para murid dalam yang angkuh dan terbiasa memandang rendah manusia fana, para pelayan dapur rendahan ini hanyalah semut-semut pekerja tak berdaya yang tidak akan pernah berani melakukan perlawanan sedikit pun.

Gu Yuan melangkah dengan sangat tenang di tengah barisan, mengatur ritme detak jantung dan pernapasannya agar tetap lambat dan berirama seperti orang biasa yang kelelahan menahan beban berat nampan tembaga berkaki empat tersebut.

Di depan mereka, suara gemuruh jutaan kubik air terjun mulai terdengar membahana membelah kesunyian malam, menyemburkan kabut air dingin yang bercampur dengan uap merah pekat dari dalam mulut gua tebing yang kini telah terbuka lebar menyambut datangnya rombongan kurban.

1
Shiro Hoshinova
jir jadi kiko
Shiro Hoshinova
Apalagi ini woy
Helios
Hahaha lolos gara-gara botol arak
Ryo Hamada
Misah jalan sendirian mungkin pilihan paling cerdas buat hindarin kejaran sekte
Ryo Hamada
Mo Cheng kuat bgt ya berarti, udh turun ranah tapi masih bisa ancurin lantai
Ryo Hamada
Gas mumpung ada kesempatan
Ryo Hamada
Beneran dingin banget sikap MC kalau udh masalah keselamatannya. Realistis & gak naif, suka aku model MC yg kaya gini
Ryo Hamada
Xiao Wu mungkin ceroboh micu bel alarm, tapi kekacauan sekte justru nutupin langkah Gu Yuan menuju gua air terjun. Momentum pas jir
Ryo Hamada
Mungkin langsung masuk ke aula Mo Cheng itu langkah bunuh diri, tapi jalan mundur udah ketutup total. Harus main peran sampe tuntas.
Helios
Woy tahanan di bilik jangan teriak napa
Shiro Hoshinova: Fix inimah
total 1 replies
Shiro Hoshinova
Hawanya horor kerasa banget, keren thor!
Helios
Hoki seumur hidup kepake tuh pas kuncinya jatuh deket sepatu wkwkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!