Ini menceritakan kisah seorang pemuda yang memiliki sembilan Akar Spiritual, yang dianggap sebagai sampah oleh dunia kultivasi. Namun, tanpa sengaja, ia justru dibimbing oleh dua sosok legendaris yang telah berdiri di puncak dunia kultivasi.
Membawa dua cincin warisan tersegel yang menyimpan kekayaan dari dua sekte besar, Shen Luo memulai perjalanannya di dunia kultivasi.
Di tengah perjalanan, ia harus terseret ke dalam perselisihan masa lalu kedua gurunya, berhadapan dengan seorang Iblis Suci yang mematikan, serta terikat dalam perjodohan dengan seorang Putri Es yang telah mencintai pria lain.
Dengan sembilan Akar Spiritual yang dianggap sebagai kelemahan, Shen Luo harus bertahan hidup dan mengungkap rahasia kekuatannya, hingga suatu hari segel kedua cincin warisan itu terbuka dan takdirnya mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Badai di Arena
Keheningan arena akhirnya pecah oleh erangan Lin Kuang.
Ia terbaring di atas Batu Besi Hitam dengan tubuh berlumuran darah. Dantiannya telah hancur, membuatnya tidak lagi mampu mengerahkan sedikit pun Qi.
Wasit berdiri kaku di tempatnya. Wajahnya pucat.
Sebelum pertandingan dimulai, ia telah menerima perintah untuk menutup mata jika Lin Kuang membunuh Shen Luo. Namun kenyataannya justru berbalik. Orang yang terbaring di arena sekarang adalah Lin Kuang.
Wasit menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya mengangkat tangannya.
"Pemenang ronde pertama... Shen Luo!"
Suaranya terdengar jauh lebih lemah daripada biasanya.
Shen Luo tidak menunjukkan kegembiraan. Ia hanya berbalik dan turun dari arena.
Murid-murid yang berada di jalurnya segera menyingkir. Tidak ada lagi yang berani mengejeknya seperti sebelumnya.
Di tribun utama, Jian Chen menggenggam pagar batu hingga retak.
Rencananya telah gagal.
Namun ia masih belum menyerah.
Di sampingnya, Jian Nantian tetap duduk tenang. Dari awal hingga akhir, pria itu tidak menunjukkan sedikit pun kepanikan.
Ia masih memiliki cara lain.
Pertandingan berikutnya segera dimulai.
Tak lama kemudian, nama Shen Luo kembali muncul dalam pengundian.
Lawannya adalah seorang murid yang telah mencapai puncak Pengumpulan Qi Tingkat Kesembilan. Ia membawa tombak perak yang panjangnya hampir dua kali tinggi tubuhnya.
Begitu aba-aba diberikan, murid itu langsung menerjang.
"Tombak Penembus Awan!"
Ujung tombaknya menusuk lurus ke arah tubuh Shen Luo.
Shen Luo hanya menggeser tubuhnya sedikit. Serangan tersebut melewati sisi tubuhnya tanpa menyentuh jubahnya.
Tangannya kemudian bergerak.
Trang!
Punggung tangannya menghantam batang tombak.
Senjata itu langsung patah.
Murid tersebut masih belum sempat memahami apa yang terjadi ketika telapak tangan Shen Luo sudah menghantam dadanya.
Boom!
Tubuhnya terlempar keluar arena dan jatuh tak sadarkan diri.
Sorakan yang hendak muncul dari para penonton kembali tertahan.
Pertandingan berikutnya dimulai.
Kali ini, dua saudara kembar naik ke arena. Keduanya menggunakan rantai besi dan memiliki gerakan yang sangat serasi. Begitu pertarungan dimulai, mereka menyerang dari dua arah hingga rantai-rantai itu melilit Shen Luo dari segala sisi.
Kedua bersaudara itu tersenyum.
Mereka mengira Shen Luo akhirnya terjebak.
Namun senyum itu segera membeku.
Rantai besi berhenti hanya beberapa jari dari tubuh Shen Luo.
Pemuda itu bahkan tidak bergerak.
Qi Suci mengalir dari tubuhnya dan memenuhi ruang di sekelilingnya.
Boom!
Rantai-rantai besi tersebut hancur dalam sekejap.
Sebelum kedua bersaudara itu sempat mundur, Shen Luo sudah berada di antara mereka.
Krak! Krak!
Dua hantaman siku mengenai rusuk mereka hampir bersamaan.
Keduanya terhuyung, lalu jatuh berlutut sebelum akhirnya roboh ke tanah.
Pertandingan terus berlanjut.
Ronde keempat.
Ronde kelima.
Ronde keenam.
Setiap kali nama Shen Luo muncul, lawannya selalu datang dengan keyakinan bahwa mereka mampu mengalahkannya. Namun keyakinan itu tidak pernah bertahan lama.
Pedang, kapak, palu, tombak, bahkan teknik bela diri yang dianggap kuat oleh para murid luar, semuanya berakhir dengan cara yang sama.
Hancur.
Shen Luo bahkan tidak pernah mencabut pedang kayunya.
Ia hanya bergerak ketika diperlukan dan tidak pernah menggunakan tenaga berlebihan. Setiap lawan yang naik ke arena akhirnya dibawa turun dalam keadaan terluka parah.
Lambat laun, keberanian para murid luar mulai runtuh.
Di ruang tunggu, murid-murid yang sebelumnya bersemangat kini bahkan tidak berani menatap arena ketika nama Shen Luo dipanggil.
Ketika nama seorang murid diumumkan sebagai lawan berikutnya, wajahnya langsung pucat.
"Aku... tidak bisa."
Ia melihat ke arah arena dengan tubuh gemetar. Setelah itu, ia mengambil sebuah batu dari sudut ruangan dan menghantamkan batu tersebut ke lututnya sendiri.
Prak!
"Aaagh!"
Ia jatuh sambil memegangi kakinya.
"Lapor kepada wasit! Aku terluka! Aku tidak bisa bertarung!"
Beberapa murid lain yang melihatnya saling berpandangan.
Ada yang pura-pura sakit. Ada yang mengaku Qi-nya menyimpang. Bahkan ada yang menyerah sebelum memasuki arena.
Menghadapi Shen Luo kini terasa lebih menakutkan daripada menerima hukuman sekte.
Di tribun utama, Su Yuhan hanya tersenyum tipis.
Sementara itu, Mu Qingxue terus memperhatikan Shen Luo.
Semakin lama melihatnya bertarung, semakin sulit baginya mengalihkan pandangan.
Tidak ada gerakan yang sia-sia. Shen Luo tidak pernah berteriak atau menunjukkan kesombongan. Ia hanya bergerak ketika diperlukan, lalu mengakhiri pertarungan secepat mungkin.
Di sisi lain, wajah Jian Chen semakin muram.
"Ayah."
Ia menundukkan suara.
"Semua murid kita telah kalah."
Jian Nantian tidak langsung menjawab. Matanya tetap tertuju pada arena.
Beberapa saat kemudian, ia berkata,
"Anak itu bukan sekadar kuat."
Jian Chen menoleh.
Jian Nantian menyipitkan mata.
"Qi-nya sangat murni. Tubuhnya juga jauh lebih kuat daripada kultivator Pengumpulan Qi biasa."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan,
"Namun yang paling berbahaya adalah Hati Dao-nya."
Jian Chen terdiam.
Sejak awal ujian, Shen Luo tidak pernah menunjukkan rasa takut. Tidak peduli siapa yang berdiri di hadapannya, pemuda itu selalu menghadapi mereka dengan ketenangan yang sama.
Jian Nantian mengepalkan tangannya.
"Su Yuhan tidak salah memilihnya." Tatapannya menjadi semakin dingin.
Jian Chen menggertakkan giginya. "Ayah, lalu apa yang harus kita lakukan?"
"Jangan panik." Suara Jian Nantian tetap tenang. "Orang-orang tadi hanya murid luar."
Ia melirik putranya.
"Untuk babak terakhir, aku sudah menyiapkan seseorang."
Mata Jian Chen bergetar.
"Siapa?"
Jian Nantian tidak langsung menjawab.
"Divisi Bayangan."
Wajah Jian Chen berubah.
Ia tahu nama itu.
Divisi Bayangan bukan murid biasa. Mereka adalah orang-orang yang bergerak dalam kegelapan dan hanya muncul ketika keluarga Jian membutuhkan seseorang untuk melakukan pekerjaan yang tidak bisa dilakukan secara terbuka.
Jian Nantian kembali mengarahkan pandangannya ke arena.
"Dia akan menjadi lawan terakhir Shen Luo."
Matahari mulai condong ke barat.
Pertandingan semifinal akhirnya berakhir. Seorang murid Pengumpulan Qi Tingkat Kesembilan kembali dibawa turun dari arena dengan tubuh berlumuran darah.
Shen Luo masih berdiri di tengah arena.
Napasnya tetap tenang dan jubah abu-abunya hanya sedikit berdebu. Setelah melewati begitu banyak pertandingan, ia bahkan belum menunjukkan tanda-tanda kelelahan.
Puluhan ribu murid di sekitar arena kini tidak lagi bersorak.
Mereka hanya menunggu.
Shen Luo mengangkat kepala dan menatap lorong di ujung arena.
Sejak beberapa saat lalu, ia telah merasakan aura yang berbeda dari tempat itu.
Aura tersebut jauh lebih kuat daripada semua lawan yang pernah dihadapinya hari ini.
Sudut bibir Shen Luo terangkat tipis.
"Akhirnya datang juga."
Dari dalam lorong terdengar suara langkah kaki.
Satu langkah. Kemudian langkah berikutnya.
Sosok berjubah hitam perlahan keluar dari kegelapan.
Begitu ia muncul, hawa dingin langsung menyelimuti arena.
Shen Luo akhirnya menyentuh gagang pedang kayunya.
Namun ia belum mencabutnya.
Untuk pertama kalinya hari itu, lawan yang berdiri di hadapannya benar-benar membuatnya tertarik.
Pertarungan terakhir akan segera dimulai.
Dukung cerita ini dengan cara Like, Rating, Vote, dan gift ya. Semakin banyak dukungan, semakin banyak updatenya.
Terimakasih👍
Moga2 MC nya ga kegatelan ma cewek2, dan ga punya banyak bini /Facepalm//Facepalm/