NovelToon NovelToon
Kesatria Merah

Kesatria Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Reinkarnasi / Perperangan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: PrinceArslan

Mati di medan perang modern, Alvaro sang prajurit pasukan khusus elit terlahir kembali di Aetheria—dunia yang dikuasai oleh sihir dan aura. Sialnya, ia terjebak dalam raga "Arya Denwick" Anak bangsawan 17 tahun berpenyakitan pewaris desa rawa miskin, yang baru saja didorong ke jurang kematian oleh Musuh yg tidak diketahui.
Tanpa "sistem" ajaib layaknya kisah pahlawan lain, Arya menolak takdir pecundangnya. Memadukan pernapasan yang ia ketahui di militer untuk memanipulasi energi aura dan mematikannya seni pedang dari Bumi, ia merakit ulang tubuh rusaknya.
dan menjadi penguasa sejati di kerajaan bahkan dunia tersebut!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Pergerakan dari Musuh Terdekat

Ruang kerja Baron Nesta Deepwood terasa hangat. Lantainya dilapisi karpet bulu binatang, dan perapiannya menyala stabil. Di wilayah barat perbatasan, Baroni Deepwood memegang kendali atas tanah yang jauh lebih subur dan rute dagang yang lebih aktif dibandingkan tetangganya.

Nesta duduk di balik meja kayu tebalnya. Ia adalah pria bertubuh besar dengan pakaian berlapis yang menunjukkan kemakmurannya. Tangannya memegang sebuah perkamen kecil—laporan dari mata-mata yang baru saja kembali dari batas wilayah Denwick.

"Lima gerobak penuh gandum," gumam Nesta. "Tidak ada bala bantuan militer. Dan Aran belum kembali dari perang."

Nesta meletakkan perkamen itu ke atas meja. Sudut bibirnya tertarik membentuk seringai pelan.

Nama Aran Denwick selalu mengganjal di benaknya. Di masa lalu, saat mereka masih mengabdi di ibukota, Aran adalah seorang Komandan Kesatria Kerajaan yang memimpin barisan elit. Di saat yang sama, Nesta hanyalah seorang komandan regu biasa. Ia tahu bagaimana rasanya harus menundukkan kepala setiap kali kuda Aran melintas.

Kini keadaan telah berbalik. Aran hanyalah penguasa baroni yang wilayahnya dipenuhi rawa, sementara Nesta duduk di atas tanah yang makmur. Mengetahui bahwa Denwick sekarang memiliki pasokan pangan besar tanpa perlindungan yang memadai adalah sebuah kesempatan yang tak boleh dilewatkan.

Nesta menatap komandan patrolinya yang berdiri siaga di dekat pintu.

"Kirim tiga regu patroli perbatasan," perintah Nesta. "Susupkan mereka ke batas wilayah Denwick. Mulai ganggu pemukiman terluar mereka. Curi sisa panen yang ada, rampas ternak mereka, dan buat kekacauan kecil yang terus-menerus. Kita lihat bagaimana respons wilayah itu saat pemimpin utamanya tidak ada."

"Sesuai perintah, Tuanku," jawab komandan itu sebelum undur diri.

Satu minggu telah berlalu sejak kepulangan Arya dari Hutan Kuno.

Pekerjaan pembuatan bendungan alami dan penggalian jalur irigasi di area perbukitan timur berjalan pesat. Dengan pasokan gandum dari Vane, para pekerja memiliki tenaga yang cukup. Air perlahan mulai dialirkan secara teratur ke lahan-lahan yang telah digali, mempersiapkan fondasi untuk kedatangan bibit gandum air dari barat.

Siang itu, Arya sedang berada di ruang kerja kastil untuk memeriksa catatan logistik.

Suara terompet penjaga dari atas menara gerbang mendadak berbunyi. Nada tiupannya adalah penanda kedatangan pasukan, bukan serangan musuh.

Arya meletakkan pena bulunya dan segera berjalan keluar menuju pelataran kastil. Lady Lisa, yang juga mendengar suara terompet itu, bergegas keluar menyusul dari ruang tengah.

Gerbang besi kastil ditarik terbuka. Rombongan yang telah lama ditunggu akhirnya masuk.

Baron Aran Denwick berkuda di barisan paling depan. Namun, posturnya tidak tegap. Tubuhnya merosot di atas pelana, tangannya mencengkeram erat surai kudanya. Zirah logamnya penyok di berbagai tempat dan dipenuhi noda darah yang telah mengering.

Di belakang Aran, puluhan prajurit yang ikut berangkat bersamanya berjalan memasuki pelataran.

Mereka adalah para veteran—orang-orang yang setia mengikuti Aran dari ibukota saat ia diasingkan ke Denwick puluhan tahun lalu, yang sehari-harinya hidup membaur sebagai warga biasa saat tidak sedang memegang senjata. Kini, barisan veteran itu terlihat berantakan. Zirah mereka sobek dan penyok, pedang mereka tumpul, dan beberapa dari mereka memanggul rekan-rekannya yang terluka parah.

Meski tubuh mereka kelelahan dan penuh luka, tidak ada raut kepanikan di wajah mereka. Pandangan mereka tetap tajam, khas prajurit yang telah kenyang menelan pahitnya medan pertempuran. Mereka tetap mempertahankan formasi barisan, memastikan tuan mereka terlindungi di tengah.

"Aran!" panggil Lady Lisa, berlari menerobos pelataran.

Tepat saat kudanya berhenti di tengah halaman, kesadaran Aran memudar. Tubuhnya limbung dan jatuh dari pelana.

Max dan Josh, yang sedang bersiaga di dekat lumbung, bergerak cepat menahan tubuh Baron tersebut sebelum menghantam tanah. Saat Max menopang tubuhnya, ia menyadari adanya pendarahan hebat dari sisi kiri perut Aran. Darah segar merembes menembus celah zirah yang rusak.

"Bawa dia ke dalam kamar! Panggil tabib sekarang!" perintah Arya keras dan stabil, mengambil alih situasi.

Beberapa saat kemudian, kamar utama kastil dipenuhi bau obat gosok herbal. Tabib desa bekerja cepat menghentikan pendarahan. Ia membalut luka di perut kiri Aran dengan kain bersih. Lady Lisa duduk di tepi ranjang, menatap cemas wajah suaminya yang pucat.

Arya berdiri diam di dekat ranjang, matanya menatap lekat kepingan zirah logam milik ayahnya yang tergeletak di lantai. Ada robekan besar di bagian perut kiri zirah tersebut. Pinggiran logam itu melesak ke dalam, tembus hingga merobek bantalan kulit pelindungnya.

Arya mengerutkan kening. Zirah ayahnya ditempa dari baja yang tebal. Butuh tenaga yang luar biasa besar dan momentum yang mematikan untuk bisa menembus lempengan logam itu dengan satu hantaman. Arya bertanya-tanya di dalam kepalanya, musuh macam apa yang dihadapi ayahnya di medan perang hingga bisa membuat barisan veteran mereka terluka separah ini.

Di atas ranjang, napas Aran terdengar berat. Pria paruh baya itu perlahan membuka matanya. Ia menatap wajah istrinya, lalu beralih ke sosok putranya.

"Kalian kembali hidup dari Hutan Kuno..." suara Aran terdengar parau, nyaris berbisik.

"Simpan tenagamu, Ayah," jawab Arya, berdiri mendekati ranjang. "Perang macam apa yang sebenarnya kau lalui? Pasukan veteran kita babak belur, dan kerusakan zirahmu... itu bukan luka dari tebasan pedang atau bentrokan infanteri biasa."

Aran tersenyum getir, menahan rasa sakit di perutnya saat ia mencoba mengatur napas. "Viscount Danes Thorin... sedang menahan serangan perebutan wilayah dari Viscount Shieldbreaker di perbatasan selatannya. Pasukan Shieldbreaker maju membawa batalion kavaleri lapis baja."

Arya menyimak. Kavaleri lapis baja adalah unit pemecah formasi berkuda dengan daya hancur tinggi. "Lalu di mana pasukan utama Thorin saat hantaman pertama terjadi?"

"Di belakang kami," jawab Aran singkat. "Thorin menempatkan semua prajurit dari baroni-baroni kecil yang berhutang pajak padanya di baris paling depan."

Penjelasan itu sangat jelas bagi Arya. Pasukan Aran dikirim ke garis depan sebagai tameng daging. Mereka sengaja ditempatkan di sana untuk menerima hantaman mematikan dari tombak kavaleri musuh, membiarkan formasi baroni kecil hancur untuk memperlambat laju kuda, sehingga pasukan utama Thorin bisa membalas serangan dengan aman dari belakang.

Bahwa Aran dan para veterannya berhasil bertahan hidup dan kembali ke Denwick membuktikan kualitas tempur mereka. Insting Aran sebagai mantan komandan elit membuatnya berhasil menahan formasi dan memimpin pasukannya mundur, meski ia sendiri harus membayar dengan luka tusukan tombak kavaleri di perutnya.

"Aku gagal mengamankan batas wilayah operasional, Arya..." ucap Aran pelan, efek obat dari sang tabib mulai membuatnya kembali mengantuk. "Beruntung para veteran kita tahu cara menahan formasi agar tidak rata dengan tanah."

"Istirahatlah," jawab Arya. "Kau berhasil membawa mereka pulang. Aku yang akan mengatur wilayah ini."

Kesadaran Aran kembali tenggelam. Arya berjalan keluar dari kamar, menutup pintu kayu itu rapat-rapat.

Di lorong luar, Max sudah berdiri menunggu.

"Para veteran sedang dirawat, Tuan Muda," lapor Max. "Mereka selamat, tetapi butuh waktu untuk memulihkan fisik dan memperbaiki perlengkapan mereka. Mereka tidak bisa bertarung dalam waktu dekat."

Arya mengangguk pelan. Baroni Denwick butuh pasukan yang segar. Ia tidak bisa terus-menerus mengandalkan veteran ayahnya yang sedang terluka.

Tepat pada saat itu, Erson berlari menghampiri dari arah tangga menara dengan langkah tergesa-gesa.

"Tuan Muda!" lapor Erson tegas. "Laporan dari penjaga perbatasan barat. Sekelompok pasukan tak dikenal baru saja melintasi batas wilayah kita. Mereka menyerang desa terluar, merusak kebun, dan merampas beberapa gerobak hasil panen warga."

Arya menoleh. Matanya menyipit perlahan. "Pasukan tak dikenal?"

"Mereka tidak membawa bendera, Tuan Muda," lanjut Erson. "Tetapi arah datang dan rute pelarian mereka jelas mengarah langsung kembali ke wilayah Baroni Deepwood."

Udara di lorong itu terasa semakin berat. Ayahnya baru saja kembali dalam keadaan terluka parah akibat taktik kotor penguasa yang lebih tinggi. Kini, tetangga mereka sendiri mencoba memanfaatkan momen tersebut dengan melakukan provokasi terang-terangan di perbatasan.

Arya menatap lurus ke arah Max dan Erson. Tidak ada kemarahan yang meledak, hanya perhitungan taktis yang dingin. Zirah dan senjata standar kerajaan dari Vane sudah tersimpan rapi di dalam gudang, menunggu untuk digunakan.

"Max, kumpulkan warga desa di pelataran besok pagi," perintah Arya, suaranya sedingin es. "Kita buka perekrutan prajurit baru. Sebarkan pengumuman ke seluruh baroni. Gaji mereka empat keping perak sebulan. Baroni Denwick akan membangun pasukannya sendiri."

1
palupi
semangat thor👍🥰
palupi
semakin seru...👍🥰
palupi
❤️
PrinceArslan: halo kak' Jika kaka suka karya ku.. aku akan merekomendasikan karya ku yang lain yaitu "Goblin Emperor" barangkali kaka tertarik terimakasih
total 1 replies
palupi
semakin seru 👍
palupi
👍
palupi
langsung tertarik ceritanya 🥰
👍
PrinceArslan: terima kasih 👍
total 1 replies
marsabat hindom
sangat bagus
PrinceArslan: terima kasih 🙏
total 1 replies
Sung Jin Woo
bagus
Akagami Shanks
suka cerita yg seperti ini 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!