Di balik ruang pemulasaraan yang dingin dan sunyi, Arya menyimpan kemampuan magis sekaligus mengerikan. Ia bisa melihat detik-detik terakhir kehidupan dari setiap jenazah yang disentuhnya. Tugasnya bukan sekadar menyucikan jasad, melainkan menjadi saksi bisu bagi suara-suara yang dibungkam kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Naluri Penyidik
Di saat yang sama, tiga kilometer dari lokasi persembunyian rahasia Hendrawan, mobil dinas Iptu Farhan meraung menembus hujan deras. Di sampingnya, layar tablet navigasi menampilkan pemetaan jaringan listrik dan bangunan tua di sekitar kawasan industri utara.
Farhan tidak mengendarai mobilnya secara acak. Sebagai penyidik berpengalaman, ia tahu bahwa penculik seperti Hendrawan, seorang mantan spesialis medis, akan membutuhkan fasilitas khusus dengan pasokan air mengalir, pembuangan limbah kedap udara, dan sumber listrik berdaya stabil untuk menjalankan aksinya.
"Panggilan untuk Farhan!" suara Dokter Aris terdengar melalui frekuensi radio panggil mobil. "Farhan, kamu ada di mana?!"
"Saya masih menyisir area utara, Dok!" sahut Farhan seraya membelokkan tajam mobilnya menyeberangi rel kereta api tua. "Ada perkembangan dari hasil analisis laboratorium?!"
"Ada!" jawab dr. Aris dengan nada suara sangat serius. "Jejak formalin yang ditemukan di pakaian Maya bukan jenis formalin medis standar rumah sakit! Itu adalah campuran formalin industri murni dengan tambahan zat pelarut fenol berkelas laboratorium tua! Hanya ada dua lokasi di kota ini yang pernah memesan bahan kimia jenis itu secara khusus dalam lima tahun terakhir!"
Farhan menahan napasnya. "Sebutkan lokasinya, Dok!"
"Lokasi pertama adalah gudang kimia kampus yang sudah disita. Dan lokasi kedua... adalah Laboratorium Patologi Khusus milik Dr. Hendrawan di pinggir Kompleks Pergudangan Kencana yang sudah tidak beroperasi!"
"Hendrawan?!" panggil Farhan kaget! Nama itu seketika membuka kembali memori lama Farhan tentang perwira medis yang terdepak dari kepolisian tiga tahun lalu karena kasus manipulasi otopsi!
"Ya! Dia dipecat saat kamu masih bertugas di Polsek!" tegas dr. Aris. "Hendrawan punya pengetahuan mendalam tentang prosedur forensik dan tempat-tempat yang tak terpantau oleh patroli reguler!"
Farhan menekan tombol navigasi di tabletnya, lalu memasukkan alamat Kompleks Pergudangan Kencana.
"Jaraknya hanya dua kilometer dari posisiku sekarang!" seru Farhan melalui radio. "Kirimkan seluruh unit Brimob dan tim penembak jitu ke lokasi itu sekarang juga! Jangan gunakan sirine!"
Farhan menginjak pedal gas hingga batas maksimal. Mobilnya meluncur bagaikan anak panah menembus kegelapan malam, bertaruh dengan waktu yang kian menipis untuk menyelamatkan nyawa Arya.
Sementara itu...
Di dalam ruang bawah tanah yang dingin, jarum suntik di tangan Hendrawan hanya berjarak beberapa milimeter dari pembuluh darah leher Arya.
Arya bisa merasakan aura kematian yang begitu dekat dan pekat dari sosok pria di hadapannya. Namun di tengah desakan rasa takut yang hebat, sebuah kekuatan batin yang tersembunyi mendadak bangkit dari dalam sanubari Arya.
Ia mengingat wajah almarhum Pak Bambang yang tersenyum padanya, keberanian Dian Pertiwi yang tak gentar menghadapi ancaman, dan kepercayaan penuh yang diberikan oleh Iptu Farhan. Arya menyadari satu hal, ia bukan lagi korban tak berdaya yang bisa diintimidasi oleh orang-orang jahat.
"Dokter Hendrawan..." kata Arya dengan suara yang mendadak berubah menjadi sangat tenang dan dingin, tidak ada lagi getaran ketakutan di dalamnya.
Hendrawan menghentikan pergerakan tangannya sejenak, lalu menatap Arya dengan dahi berkerut heran. "Apa? Kamu mau memohon ampun?"
Arya menatap lurus ke dalam mata Hendrawan melalui bingkai kacamatanya.
"Saya tidak perlu memohon ampun pada seorang pengecut yang bersembunyi di balik jas dokter dan pisau bedah," ujar Arya dengan nada tajam menusuk. "Kamu bicara soal sains dan pengetahuan... tapi sebenarnya kamu cuma seorang pria tua yang frustrasi karena kariermu hancur. Kamu menjual integritasmu pada Nusantara Utama Group, dan saat mereka membuangmu seperti sampah, kamu melampiaskan kegagalanmu pada orang-orang yang tidak bersalah."
Mata Hendrawan membelalak lebar oleh amarah yang tiba-tiba membakar dadanya. Penghinaan yang dilontarkan oleh Arya tepat menghantam harga diri dan kesombongan akademisnya yang rapuh!
"Tutup mulutmu, Pemulasara!" bentak Hendrawan seraya mencengkeram rahang Arya dengan kasar! "Kamu tidak tahu apa-apa tentang keagungan pekerjaanku!"
"Saya tahu lebih banyak dari yang kamu bayangkan," balas Arya, menggunakan satu-satunya senjata yang ia miliki dalam keadaan terikat yaitu kemampuan sentuhan magisnya!
Meskipun kedua tangan Arya terikat rantai di belakang kursi, bagian bahu kanan Arya yang terbuka akibat baju yang robek kini sengaja dimiringkan oleh Arya, dan menempelkannya langsung pada pergelangan tangan Hendrawan yang mencengkeram rahangnya!
SREEEKKK!
Kontak kulit terjadi! Aliran energi dingin yang dahsyat meledak di dalam kepala Arya! Penglihatan magis dari masa lalu Hendrawan menyeruak masuk secara brutal!
Visual penglihatan berputar hebat dalam otak Arya!
Tiga tahun lalu. Sebuah ruang kerja mewah milik Hendra Wijaya di gedung Nusantara Utama Group.
Hendrawan berlutut di lantai, memohon-mohon dengan wajah penuh keringat dingin saat Hendra Wijaya melemparkan seberkas dokumen ke wajahnya.
"Kamu dokter tidak berguna, Hendrawan!" bentak Hendra Wijaya dingin. "Polisi sudah mendeteksi manipulasi racun pada jasad korban itu! Kamu dipecat dari kepolisian dan nama baikmu hancur! Jangan pernah menginjakkan kaki di kantor saya lagi!"
Hendrawan tersungkur dan menangis di atas karpet mahal, ditinggalkan sendirian bagaikan anjing buangan oleh penguasa yang dulu dipujanya. Dendam dan kegilaan pun mulai merusak jiwa dokter forensik itu sejak detik tersebut...
BZZZZT!
Arya menarik napas panjang seraya menyunggingkan senyum sinis ke arah Hendrawan.
"Hendra Wijaya membuangmu seperti sampah tiga tahun lalu, kan?" bisik Arya dengan nada mengejek yang mematikan. "Kamu membuat eksperimen gila ini bukan demi sains... tapi karena kamu ingin merasa menjadi 'Tuhan' setelah semua orang menganggapmu tidak berguna!"
"CUKUP!" jerit Hendrawan kalap!
Bersambung...