NovelToon NovelToon
Cinta Dan Keyakinan

Cinta Dan Keyakinan

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Bad Boy / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kholifah Lifah

romansa islami story

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

.

Aroma khas kertas tua, debu tipis, dan kayu ek yang mengering menyambut indra penciuman Nadiva. Suasana perpustakaan utama SMA Nusa Bakti di sore hari selalu menjadi tempat favoritnya. Cahaya matahari keemasan yang menembus jendela kaca raksasa di sisi barat ruangan, menciptakan siluet panjang dari deretan rak-rak tinggi yang menjulang.

​Di sudut paling tersembunyi, diapit rak buku-buku Sejarah dan Sastra Klasik, Nadiva menenggelamkan dirinya. Tumpukan buku cetak tebal berserakan di mejanya, bersanding dengan kertas buram penuh coretan rumus Fisika yang terlihat seperti bahasa alien. Ujian Tengah Semester (UTS) tinggal menghitung hari, dan bagi Nadiva, ini bukan sekadar ujian biasa. Ini adalah batu loncatan pertamanya menuju Maroko.

​Tangan mungilnya baru saja hendak menstabilo sebuah paragraf penting ketika sebuah bayangan gelap tiba-tiba jatuh menutupi bukunya, menghalangi cahaya matahari sore.

​Nadiva menghela napas pelan. Belum sempat ia mendongak, sebuah tangan besar dengan urat-urat yang menonjol pelan mendarat di atas buku catatannya, menutupnya dengan sekali gerakan telak. Brak. Suaranya tak terlalu keras, tapi cukup memekakkan telinga di tengah keheningan perpustakaan.

​"Rajin banget, Cewek Aneh. Takut ketahuan bodohnya pas UTS nanti?"

​Suara bariton yang berat dan serak itu mengalun pelan, nyaris seperti bisikan, tepat di atas puncak kepalanya.

​Nadiva mendongak. Jantungnya sempat berdegup kaget, namun wajahnya dengan cepat kembali datar. Dereen Hilton berdiri di sana. Seragamnya, seperti biasa, tidak pernah rapi. Jaket kulit hitamnya tersampir sembarangan di bahu sebelah kiri, sementara tangan kanannya masih menekan buku catatan Nadiva.

​"Wa'alaikumsalam, Kak Dereen," sindir Nadiva tenang, tak berniat sedikit pun untuk beranjak dari kursinya. "Bisa tolong singkirin tangannya? Virus malas dari Kakak takutnya nular ke catatanku."

​Bukannya marah, sudut bibir Dereen justru terangkat, membentuk seringai miring yang entah mengapa membuat ketampanannya terlihat makin kurang ajar. Alih-alih menyingkir, cowok itu menarik kursi di seberang meja dan menjatuhkan tubuhnya di sana.

​Dereen mencondongkan tubuhnya ke depan, melipat kedua lengan kekarnya di atas meja. Jarak mereka kini hanya dibatasi oleh tumpukan buku tebal. Saat cowok itu bergerak, ritsleting jaketnya bergemerincing pelan, dan kilat perak dari kalung salib di dadanya kembali tertangkap oleh ekor mata Nadiva.

​Ada sebersit rasa nyeri yang aneh menyelinap di dada Nadiva setiap kali melihat benda itu. Sebuah pengingat mutlak bahwa betapapun seringnya mereka berinteraksi, dunia mereka sejatinya dibatasi oleh dinding tebal yang tak mungkin diruntuhkan. Beda Tuhan, beda jalan.

​"Gue denger dari anak-anak, lo punya mimpi halu mau kuliah di Maroko?" suara Dereen memecah keheningan, mengembalikan Nadiva pada realitas. Mata elang cowok itu menatap lurus ke dalam netra cokelat terang Nadiva, seolah sedang menelanjangi setiap isi kepalanya.

​Nadiva menegakkan punggungnya. Ego dan sifat barbar-nya refleks mengambil alih. "Bukan halu. Itu target. Dan bedanya aku sama Kakak, aku punya masa depan yang harus dikejar. Kakak kan cuma nunggu warisan yayasan cair aja, makanya santai."

​Rahang Dereen mengetat sekilas mendengar balasan tajam itu, tapi seringainya tak luntur. "Mulut lo emang minta dijahit ya," desisnya rendah. "Gue kasih tau satu fakta pait buat lo, Div. Di sekolah ini, anak beasiswa kayak lo cuma bakal jadi figuran. Dan soal UTS minggu depan..."

​Dereen mengikis jarak, memajukan wajahnya hingga embusan napasnya yang beraroma peppermint samar-samar menyapa hidung Nadiva. "...Gue tantang lo."

​Kening Nadiva berkerut. Ia ikut memajukan wajahnya, menolak kalah dominasi. "Tantangan apa?"

​"Gue tahu lo butuh peringkat satu paralel buat pertahanin beasiswa dan mulusin jalan lo ke Maroko itu," ucap Dereen dengan nada meremehkan. Jemarinya mengetuk pelan meja kayu, menciptakan ritme yang mengintimidasi. "Gue tantang lo. Kalau nilai UTS gue lebih tinggi dari lo, atau lo gagal dapet peringkat satu... lo harus jadi pesuruh gue sampai lulus. Nggak ada protes, nggak ada embel-embel hukum agama lo. Lo. Jadi. Babu. Gue."

​Hening sejenak. Hanya terdengar detak jarum jam dinding perpustakaan yang terasa melambat.

​Di kepala Nadiva, roda gigi berputar cepat. Tantangan ini konyol. Dereen dikenal sebagai anak geng motor yang kerjaannya bolos, tidur di UKS, atau nongkrong di kantin. Dari mana cowok tiang jemuran ini punya kepercayaan diri setinggi itu untuk menantangnya di bidang akademik?

​Namun, ada kilat keseriusan yang mematikan di mata gelap Dereen. Ia tidak sedang bercanda.

​"Tapi..." Dereen melanjutkan, nadanya kini melunak, berubah menjadi sedikit serak dan menggoda. "...kalau keajaiban datang dan lo yang menang, gue janji bakal kabulin satu permintaan lo. Apa pun. Bahkan kalau lo minta gue berhenti gangguin lo selamanya."

​Darah Nadiva mendidih. Bukan karena marah, melainkan karena adrenalin yang tiba-tiba berdesir kencang di pembuluhnya. Jiwa kompetitifnya yang terpendam, jiwa pantang menyerah yang membawanya dari kampung halaman hingga bisa masuk ke sekolah elite ini, mendadak terbakar hebat.

​Nadiva tersenyum. Bukan senyum manis, melainkan senyum menantang yang membuat raut wajahnya terlihat luar biasa keras kepala.

​Ia meraih pulpennya, lalu mengetukkannya ke dahi Dereen dengan gerakan cepat. Tuk!

​Dereen terkesiap, mundur setengah inci, matanya membulat tak percaya atas kelancangan gadis itu.

​"Deal!" seru Nadiva tegas, suaranya mengandung keyakinan yang tak bisa digoyahkan. "Tapi ada syarat tambahannya, Kak."

​Dereen mengusap dahinya yang tak sakit namun terluka gengsinya. "Syarat apa?" geramnya.

​"Kalau aku menang..." Nadiva mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap tepat ke manik mata hitam kelam milik Dereen. "Kakak nggak cuma harus berhenti gangguin aku. Tapi Kakak harus berdiri di tengah lapangan upacara, pakai bando Hello Kitty, dan teriak pakai Toa: 'Saya Dereen Hilton mengakui bahwa Nadiva lebih pintar dari saya!'"

​Keheningan yang mencekam turun menyelimuti meja sudut itu. Dereen menatap gadis berjilbab putih di depannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada amarah, kegilaan, dan anehnya... rasa kagum yang terkubur dalam-dalam.

​Selama delapan belas tahun hidupnya, perempuan yang berinteraksi dengan Dereen selalu terbagi dalam dua kategori: mereka yang takut padanya, atau mereka yang memuja-mujanya. Dan Nadiva? Gadis ini tak masuk di kategori mana pun. Ia melawannya. Menantangnya. Bahkan berani menginjak-injak egonya dengan senyum ceria tanpa dosa.

​Dada Dereen naik-turun. Tawanya tiba-tiba pecah—tawa pelan yang berat dan sarkas, mengalun membelah kesunyian perpustakaan.

​"Lo bener-bener punya nyali, Div," gumam Dereen, matanya memancarkan kilat berbahaya. Ia berdiri perlahan, merapikan letak jaket kulitnya. "Kita lihat minggu depan. Siapin mental lo buat bawain tas gue sampai lulus."

​"Siapin aja bando Hello Kitty-nya dari sekarang, Kak!" balas Nadiva tak mau kalah, matanya menyipit penuh tekad.

​Dereen berbalik dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Namun, jauh di lubuk hatinya, debaran yang tak biasa mengetuk rongga dada cowok itu.

​Sementara itu, sepeninggal Dereen, Nadiva membuang napas panjang yang sedari tadi ditahannya. Tangannya yang sempat sedikit bergetar kini kembali menggenggam pulpen dengan kuat. Matanya beralih pada tumpukan buku di depannya.

​Kamu salah pilih lawan, Dereen, batin Nadiva dengan semangat yang menyala-nyala bak kobaran api. Jangankan peringkat satu, kalau perlu nilai sembilan puluh sembilan aku sapu bersih!

​Perang belum berakhir. Ini baru permulaan. Dan Nadiva, dengan segala keyakinan dan prinsipnya, bersumpah tidak akan pernah menyerah pada takdir—apalagi pada cowok arogan beda keyakinan yang diam-diam, mulai mengacak-acak ritme jantungnya.

1
Lyka Lyka
kereenn...
Lyka Lyka
udh baca maraton ehh .. malah abis😂 di tggu lanjut annya
Ossa Mulya
gak sabar nunggu lanjutannya Thor 💚💚💚 seru banget cerita ini💚
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!