Nadira menghabiskan empat tahun menunggu suami yang hanya ia temui saat akad nikah. Saat Arga akhirnya pulang, ia datang bersimbah darah ke IGD, dan Nadira sendiri yang mengoperasinya. Tapi Arga tidak pulang sendirian. Ada nama perempuan lain di bibirnya, dan anak kecil yang memanggilnya Papa. Di tengah luka tembak, gugatan cerai, dan rahasia masa lalu yang mulai terkuak, Nadira memilih pergi. Arga baru sadar bahwa istri yang ia tinggalkan bukan sekadar nama di buku nikah. Tapi mengejar Nadira berarti ia harus rela terbakar oleh penyesalan yang selama ini ia hindari. Dan saat dua keluarga, dua rahasia, dan dua nama Alya bertabrakan, siapa sebenarnya cinta sejati Arga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11 - Undangan ke Malam yang Salah
Undangan itu datang lewat Kevin Hartono.
Nadira menerimanya di ruang dokter setelah operasi usus buntu yang cukup melelahkan. Sebuah kotak hitam kecil diletakkan perawat di mejanya, lengkap dengan kartu undangan berembos emas.
Maya yang kebetulan menunggu di sofa langsung bersiul.
"Wah. Ini bukan undangan acara rumah sakit biasa."
Nadira membuka kartu itu.
Gala amal Hartono Group untuk pembangunan ruang rawat anak.
Lokasi: ballroom Hotel Mahadewi, Jakarta.
Dress code: formal.
Di bagian bawah ada tulisan tangan.
Saya harap Dokter Nadira bisa hadir. Bukan sebagai dokter yang sedang bertugas, tapi sebagai tamu kehormatan.
Kevin.
Maya merebut kartu itu. "Tamu kehormatan? Nadira, ini bukan sekadar acara amal. Ini modus."
"Aku tidak akan datang."
"Kenapa?"
Nadira menatapnya. "Kamu baru bilang ini modus."
"Iya, tapi modus orang kaya kadang berguna. Kalau kamu datang, rumah sakit dapat tambahan dana. Kalau Arga lihat, dia panas. Dua manfaat sekaligus."
"Aku tidak hidup untuk membuat Arga panas."
"Sayang sekali. Padahal wajah dia kalau cemburu itu bahan berita."
Nadira mengambil kartu itu kembali. "Aku lelah, May."
Maya melembut. "Aku tahu. Tapi kamu tidak bisa terus bersembunyi. Setelah perceraianmu jadi gosip keluarga besar Wijaya, cepat atau lambat orang akan bicara. Lebih baik kamu muncul dengan kepala tegak daripada mereka membuat cerita sendiri."
Nadira diam.
Maya benar. Sejak ia keluar dari rumah Wijaya, beberapa kerabat Mama Renata sudah mengirim pesan penuh rasa ingin tahu. Ada yang pura-pura perhatian, ada yang terang-terangan bertanya apakah Arga membawa perempuan lain. Nadira tidak menjawab satu pun.
"Aku tidak punya gaun."
Maya tersenyum lebar. "Itu artinya iya."
"Aku belum bilang iya."
"Kamu bilang tidak punya gaun, bukan tidak mau datang."
Nadira menyesal bicara.
Sore itu, Maya menyeretnya ke butik langganan seorang stylist yang sering bekerja dengan media. Nadira menolak gaun terlalu terbuka, terlalu berkilau, terlalu manis, terlalu mahal. Maya hampir menyerah sampai stylist membawa kebaya modern warna hijau gelap dengan potongan sederhana.
"Ini."
Nadira menyentuh kainnya. Halus, tidak berlebihan, tapi elegan.
Maya menatapnya di cermin. "Kamu terlihat seperti dokter yang bisa menyelamatkan nyawa sekaligus menghancurkan ego laki-laki."
"Itu pujian?"
"Pujian tertinggi."
Di tempat lain, Arga menerima kabar itu dari Bima.
"Dokter Nadira diundang ke gala Hartono Group."
Arga yang sedang membaca laporan berhenti. "Kevin?"
"Iya."
"Dia datang?"
"Belum pasti."
Bima sengaja tidak menambahkan bahwa Maya sudah memesan jadwal fitting. Ia tidak ingin komandannya berdiri terlalu cepat dan jahitannya protes.
Arga menatap ponselnya. Ia sudah tidak mengirim pesan langsung pada Nadira kecuali hal penting. Bukan karena tidak ingin. Karena ia sedang belajar tidak menerobos hidup perempuan itu.
Tapi Kevin Hartono mulai terasa seperti masalah.
"Kita hadir."
Bima berkedip. "Kita?"
"Satuan mendapat undangan?"
"Ada. Sebagai mitra donor keamanan acara."
"Bagus."
"Komandan masih dalam masa pemulihan."
"Aku bisa berdiri."
"Berdiri iya. Menahan cemburu belum tentu."
Arga menatapnya.
Bima mengangkat map. "Saya urus konfirmasi kehadiran."
Malam gala tiba tiga hari kemudian.
Ballroom Hotel Mahadewi dipenuhi cahaya keemasan, bunga putih, dan orang-orang yang tersenyum sambil menghitung keuntungan di kepala masing-masing. Pengusaha, pejabat, dokter senior, selebritas, akun gosip yang menyamar jadi tamu, semuanya berkumpul atas nama amal.
Nadira datang bersama Maya.
Begitu mereka masuk, beberapa kepala menoleh. Nadira tidak terbiasa diperhatikan dengan cara seperti itu. Di rumah sakit, orang melihatnya karena butuh bantuan. Di sini, orang melihatnya karena ingin menilai.
"Tenang," bisik Maya. "Dagu naik sedikit. Jangan kelihatan ingin kabur."
"Aku memang ingin kabur."
"Nanti. Setelah makan dessert."
Kevin menghampiri mereka dengan setelan hitam. Senyumnya tampak tulus, tapi Nadira tetap menjaga jarak.
"Dokter Nadira, terima kasih sudah datang."
"Saya datang untuk rumah sakit."
"Apa pun alasannya, saya senang."
Maya batuk kecil. "Saya juga ada, Pak Kevin."
Kevin tertawa. "Tentu. Terima kasih sudah mendampingi."
Di seberang ballroom, Arga melihat semua itu.
Ia datang dengan batik formal gelap. Luka di dadanya belum sepenuhnya pulih, tapi posturnya tetap tegak. Bima berdiri di sampingnya, siap menahan kalau komandannya tiba-tiba berubah menjadi bencana sosial.
"Komandan bernapas dulu," bisik Bima.
"Aku bernapas."
"Seperti orang mau menyerbu gedung."
Arga tidak menjawab.
Nadira tampak berbeda malam itu. Kebaya hijau gelap membuat kulitnya terlihat lebih cerah. Rambutnya disanggul rendah. Tidak ada perhiasan berlebihan, hanya anting kecil dan jam tangan. Justru karena sederhana, ia terlihat mahal.
Arga merasa dadanya sesak.
Bukan karena luka.
Karena ia baru sadar selama empat tahun, ia tidak pernah melihat istrinya berdandan untuk acara apa pun. Ia tidak pernah menemaninya ke resepsi keluarga. Tidak pernah menggandeng tangannya di depan orang.
Sekarang pria lain berdiri di sampingnya, memperkenalkannya pada tamu-tamu penting.
"Mas Arga."
Suara Laras muncul dari belakang.
Arga menoleh. Laras datang dengan gaun biru muda. Ia tidak membawa Kendra. Di sampingnya berdiri Vania Hartono, perempuan yang dilihat Bima tempo hari.
"Laras," kata Arga singkat. "Kamu diundang?"
Vania tersenyum. "Saya yang mengundang. Bu Laras teman saya."
Arga menatap Vania. "Kalian berteman cepat sekali."
"Perempuan yang punya masalah sama biasanya mudah akrab."
Bima langsung tegang.
Arga menatap Laras. "Jangan buat masalah."
Laras tersenyum sedih. "Mas selalu mengira aku akan membuat masalah."
"Karena kamu datang bersama orang yang terang-terangan tidak menyukai Nadira."
Vania tertawa pelan. "Mayor Arga, saya tidak punya urusan dengan Dokter Nadira. Saya hanya ingin acara keluarga saya berjalan baik."
Arga tidak percaya satu kata pun.
Di sisi lain, Kevin mengajak Nadira melihat maket ruang rawat anak yang akan dibangun. Beberapa dokter senior ikut bergabung. Nadira bicara tentang kebutuhan ventilasi, ruang isolasi, dan akses keluarga pasien. Suaranya tenang, isi kepalanya jelas.
Kevin memperhatikannya dengan kagum.
"Dokter Nadira bicara seperti sudah merancang ruangan itu sendiri."
"Saya hanya tahu apa yang pasien butuhkan."
"Itu sebabnya saya ingin Anda terlibat dalam proyek ini."
Nadira menatapnya. "Sebagai dokter konsultan?"
"Sebagai apa pun yang membuat Anda bersedia sering bertemu saya."
Maya yang berdiri di belakang Nadira hampir tersedak minuman.
Nadira menjawab datar, "Kalau pembahasan proyek, silakan melalui direktur rumah sakit."
Kevin tersenyum. "Baik. Saya mundur lagi."
Arga melihat dari jauh. Kali ini ia tidak maju. Ia mengepalkan tangan, lalu melepaskannya.
Bima mengangguk kecil, bangga seperti melihat murid TK berhasil tidak merebut mainan.
Acara berjalan lancar sampai sesi lelang amal dimulai.
Vania naik ke panggung sebagai perwakilan keluarga Hartono. Ia bicara dengan anggun, lalu memperkenalkan beberapa tamu kehormatan. Ketika nama Nadira disebut, layar besar menampilkan foto Nadira sedang memeriksa pasien anak dalam kegiatan donor darah.
Nadira terkejut.
Ia tidak diberi tahu fotonya akan dipakai.
"Dokter Nadira Prameswari adalah contoh perempuan muda yang mengabdikan hidupnya untuk pasien. Kami bangga malam ini beliau hadir."
Tepuk tangan terdengar.
Maya berbisik, "Kenapa aku merasa ini terlalu manis?"
Nadira juga merasa begitu.
Beberapa menit kemudian, seorang pelayan mendekat membawa minuman.
"Untuk Dokter Nadira, dari panitia."
Nadira menerima gelas itu karena semua tamu di mejanya juga menerima minuman serupa. Warnanya bening dengan potongan lemon.
Maya sedang dipanggil fotografer kenalannya di sisi lain. Kevin naik ke panggung untuk menyerahkan donasi simbolis. Arga tertahan oleh seorang pejabat militer yang mengajaknya bicara.
Nadira menyesap sedikit.
Rasanya agak pahit.
Ia menurunkan gelas dan mengerutkan kening.
Di kejauhan, Vania melihatnya.
Laras berdiri di samping Vania, wajahnya pucat.
"Itu aman, kan?" bisik Laras.
Vania tidak menoleh. "Aman kalau dia tidak bodoh."
"Kamu bilang cuma bikin dia tampak mabuk."
"Dan setelah itu semua orang akan melihat dokter suci itu tidak sesuci yang mereka pikir."
Laras menggenggam tasnya.
Di meja, Nadira mulai merasa ruangan bergerak terlalu pelan. Suara tepuk tangan terdengar jauh. Panas naik dari leher ke wajahnya.
Ia menatap gelas.
Tidak.
Ini bukan alkohol biasa.
Ia dokter. Ia tahu tubuhnya.
Nadira berdiri perlahan, mencoba mencari Maya.
Tapi sebelum sempat melangkah, Vania sudah menghampiri dengan senyum lembut.
"Dokter Nadira, Anda terlihat tidak sehat. Saya antar ke ruang istirahat?"
Nadira menatapnya.
Senyum itu terlalu rapi.
"Tidak perlu."
Ia melangkah menjauh, tapi lututnya melemah.
Seseorang memegang sikunya.
Bukan Vania.
Arga.
Wajahnya tegang. "Nadira, kamu kenapa?"
Nadira mencoba menarik tangannya, tapi tubuhnya justru condong ke dada Arga.
"Minumannya..."
Hanya satu kata itu yang perlu Arga dengar.
Matanya berubah dingin.
Ia menatap gelas di meja, lalu Vania dan Laras yang berdiri terlalu dekat.
Bima langsung bergerak tanpa perintah.
Arga memeluk Nadira agar ia tidak jatuh.
Nadira menggenggam kemejanya, napasnya mulai tidak teratur.
"Jangan bawa aku ke ruang istirahat mereka," bisiknya.
"Aku tahu."
"Jangan... rumah sakit juga terlalu jauh."
Arga menatap wajahnya yang mulai memerah. "Aku bawa kamu keluar."
Nadira menutup mata, berusaha tetap sadar.
Saat Arga mengangkatnya, seluruh ballroom menoleh.
Kevin turun dari panggung dengan wajah terkejut. Maya berlari dari sisi lain. Vania memasang wajah panik palsu. Laras berdiri mematung.
Arga hanya berkata pada Bima, "Kunci semua akses rekaman CCTV. Ambil gelas itu. Jangan biarkan siapa pun menyentuhnya."
"Siap."
Lalu Arga membawa Nadira keluar dari ballroom.
Di pelukannya, Nadira berbisik sangat pelan.
"Mas Arga..."
"Aku di sini."
"Jangan percaya siapa pun."
Rahang Arga mengeras.
"Aku hanya percaya kamu."
Untuk pertama kalinya, Nadira tidak punya tenaga untuk membantah.