NovelToon NovelToon
Menolak Sistem, Kunikahi Villain

Menolak Sistem, Kunikahi Villain

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Sistem / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:871
Nilai: 5
Nama Author: AraLum

Rania tak sadarkan diri di tabrak pengendara motor, setelah mengejar penjambret yang membawa HP kesayangannya. Saat membuka mata, ia justru terbangun dalam tubuh Putri Wening Sasikirana dari Kerajaan Wanunggalih.

Belum sempat memahami keadaan, sebuah sistem memberinya misi: menikahi Pangeran Mukti Samudera, yang ternyata adalah sepupu Wening.

Rania menolak.

Ketika ia kebingungan karena tidak punya uang, sistem memberinya tantangan berjualan. Jika produknya viral, poinnya akan dikembalikan.

Di tengah usahanya mencari uang, Rania bertemu Raden Ji Aryasatya, pangeran dari kerajaan tetangga yang dikenal sebagai villain.

Sistem ingin Rania mengikuti takdir.

Rania justru memilih menolaknya.

Kalau harus memilih, kenapa tidak menikahi villain saja?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 29

Bab 29— Umpan di Tengah Malam

Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Rania berdiri di kamarnya, mengenakan kain gelap sederhana—bukan gaun putri yang biasa ia pakai, melainkan pakaian yang memudahkan gerak, mirip dengan yang ia kenakan saat menyamar di pasar dulu.

"Sistem," bisiknya pelan, mencoba memanggil sekali lagi meski tahu responnya selalu tidak menentu akhir-akhir ini. "Kalau kau bisa dengar, aku butuh semua bantuan yang bisa kau kasih malam ini."

[Ting!]

Suara itu muncul, lebih stabil dari beberapa hari terakhir, meski masih terasa rapuh.

[Host... koneksi sedikit membaik. Siap membantu sebisa mungkin.]

"Syukurlah," Rania menghela napas lega. "Ada info baru soal lokasi markas mereka?"

[Analisis terbatas. Namun pola komunikasi mencurigakan terdeteksi di sekitar reruntuhan kuil lama di sisi barat, berbeda dari lokasi pertempuran sebelumnya.]

Rania mencatat informasi itu baik-baik, bersiap menyampaikannya pada Aryasatya begitu rencana malam ini dimulai.

Ia melangkah keluar kamar dengan hati-hati, memastikan tidak ada pengawal yang melihatnya terlalu jelas—bagian dari skenario yang sudah mereka susun rapi bersama Raja dan jenderal senior. Beberapa pengawal yang "kebetulan" bertugas malam itu memang sudah diberi tahu untuk membiarkan Rania lewat tanpa benar-benar menghalanginya, menciptakan kesan bahwa Putri benar-benar berhasil kabur tanpa pengawasan.

Di gerbang belakang istana, bayangan seseorang sudah menunggu.

"Kau yakin soal ini?" bisik Aryasatya begitu Rania mendekat, wajahnya tegang meski berusaha terlihat tenang.

"Nggak sepenuhnya," jawab Rania jujur, mencoba tersenyum meski hatinya berdebar kencang. "Tapi kita nggak punya pilihan lain."

Mereka berjalan menyusuri jalan setapak yang gelap, menuju arah hutan di luar perbatasan kota, sengaja mengambil rute yang mencolok—cukup untuk menarik perhatian mata-mata yang mungkin mengawasi dari kejauhan.

Tidak lama, Rania merasakan firasat yang familiar—sensasi diawasi yang sudah ia kenali sejak insiden pertama di pasar bersama Mukti.

"Mereka mulai ngikutin," bisiknya pelan pada Aryasatya.

Aryasatya mengangguk kecil, tidak menoleh untuk tidak menimbulkan kecurigaan. "Bagus. Teruskan jalan seperti biasa."

Mereka terus berjalan, melewati jalan setapak yang semakin gelap dan sepi, menuju arah hutan sesuai rencana—seolah benar-benar mencoba melarikan diri dari istana menuju tempat aman.

Semakin jauh mereka berjalan, semakin jelas suara langkah-langkah pelan mengikuti dari kejauhan, tersembunyi di balik pepohonan.

"Sistem," bisik Rania sepelan mungkin, "berapa banyak yang ngikutin kita sekarang?"

[Terdeteksi: setidaknya lima individu, bergerak dalam formasi mengepung dari sisi kiri dan kanan.]

Rania memberi isyarat kecil pada Aryasatya, mengkomunikasikan informasi itu tanpa kata-kata yang sudah mereka sepakati sebelumnya.

Tepat ketika mereka mencapai jembatan kayu kecil yang melintasi sungai di tepi hutan, bayangan-bayangan itu akhirnya muncul dari kegelapan, mengepung mereka dari segala arah.

Lima orang berpakaian gelap, wajah tertutup kain, senjata tajam di tangan masing-masing.

"Putri Wening," salah satu dari mereka berkata, suaranya dalam dan dingin, "Tuan kami ingin bicara denganmu."

Rania berusaha terlihat ketakutan—tidak terlalu sulit mengingat jantungnya memang berdegup kencang sungguhan, meski ini bagian dari rencana.

"Siapa kalian?" tanyanya, suaranya sengaja dibuat gemetar.

"Ikut kami dengan tenang," jawab orang itu, "dan tidak akan ada yang terluka."

Aryasatya melangkah maju, berpura-pura melindungi Rania dengan tubuhnya—sesuai rencana yang mereka susun untuk membuat kesan bahwa mereka berusaha melarikan diri bersama, bukan sengaja terjebak.

"Kalian tidak akan menyentuhnya," kata Aryasatya, suaranya penuh ancaman yang meyakinkan.

Pertarungan singkat pun pecah—Aryasatya dan Rania sengaja melawan dengan intensitas yang terkendali, cukup untuk terlihat meyakinkan namun tidak benar-benar berusaha melarikan diri sepenuhnya. Setelah beberapa menit "perlawanan", mereka berdua akhirnya "berhasil" dilumpuhkan dan diikat, sesuai skenario.

Saat mereka digiring menyusuri hutan menuju lokasi yang tidak diketahui, Rania bisa merasakan jantungnya berdegup kencang—bukan hanya karena akting, namun karena ketidakpastian nyata tentang apa yang menunggu di depan mereka.

"Kau baik-baik aja?" bisik Aryasatya pelan, berjalan di sampingnya dengan tangan terikat.

"Takut beneran," bisik Rania jujur. "Tapi kita harus terus jalanin ini."

Mereka berjalan cukup lama, melewati jalan setapak yang semakin tersembunyi, hingga akhirnya sampai pada mulut gua besar yang tersembunyi di balik tebing curam, dijaga lebih banyak orang berpakaian gelap.

Di dalam gua yang remang oleh cahaya obor, Rania bisa melihat sosok yang sudah mereka duga akan menunggu di sana.

Paman Surya berdiri di tengah ruangan gua yang luas, menatap kedatangan mereka dengan senyum puas yang mengerikan.

"Akhirnya," katanya pelan, "Putri Wening datang sendiri ke sarangku."

Di belakangnya, terikat pada sebuah tiang batu, Nyonya Ratih menatap mereka dengan mata yang melebar—campuran antara kelegaan melihat mereka masih hidup, dan kekhawatiran besar karena kini mereka berdua juga tertangkap dalam jebakan yang sama.

"Wening," bisik Ratih lemah, "kenapa kau datang kemari? Ini terlalu berbahaya!"

Rania menatap Paman Surya, mencoba menjaga ketenangannya meski jantungnya berdegup liar.

"Aku datang buat nyelametin Bibi Ratih," katanya tegas, "dan buat ngehentiin rencana gila kau ini."

Paman Surya tertawa pelan, suaranya bergema di dinding gua yang gelap.

"Berani sekali," katanya, "untuk seseorang yang sekarang sepenuhnya berada dalam kekuasaanku."

Ia melangkah mendekat, matanya menyipit penuh perhitungan saat menatap Rania.

"Mari kita lihat," lanjutnya pelan, "seberapa jauh keberanian itu bisa membawamu."

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!