Hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidup Zoey berubah menjadi mimpi buruk.
Di depan ratusan tamu undangan, sahabat yang paling ia percaya mengaku tengah mengandung anak calon suaminya.
Tak ingin keluarganya dipermalukan, Zoey melakukan sesuatu yang bahkan tak pernah terlintas di benaknya. Ia menarik tangan seorang pria asing yang kebetulan hadir sebagai tamu.
“Aku akan menikah dengannya.”
Pria itu adalah Damian, konglomerat tampan berusia tiga puluh delapan tahun yang dikenal dingin, berwibawa dan sulit didekati. Demi alasan masing-masing, mereka sepakat menjalani pernikahan tanpa cinta.
Namun, sesaat setelah resmi menjadi suami istri, Zoey dibuat syok oleh kenyataan yang sengaja tidak diberitahukan Damian. Pria itu adalah seorang duda dengan anak kembar berusia enam belas tahun.
Mampukah Zoey menaklukkan sang duda yang menutup hatinya sekaligus memenangkan hati kedua kembar nakalnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 11
“Di mana Victor?” tanya Damian dingin.
Suara baritonnya memecah keheningan ruang keluarga, menghentikan Victoria yang sedang duduk memeluk lutut sembari menonton televisi kesukaannya.
Gadis itu menoleh perlahan, menatap wajah kaku ayahnya.
“Tumben Papa menanyakan keberadaan Victor? Biasanya Papa juga acuh, kan? Jangankan Victor, aku saja kadang Papa anggap tidak ada di rumah ini,” sahut Victoria dengan nada sarkas.
Rahang Damian seketika mengeras. “Victoria! Papa tanya sekali lagi, di mana saudaramu yang berandalan itu!” bentaknya, hinga menggema tajam ke seluruh sudut ruangan mewah itu.
Ya, Damian memang belum sempat menanyakan soal Victor pada orang suruhan yang setiap hari ditugaskan mengawasi kedua anak kembarnya.
“Aku nggak tahu,” balas Victoria, akhirnya bangkit berdiri.
Air mata yang sejak tadi ditahannya kini menggenang di pelupuk mata.
“Kenapa Papa terus berteriak setiap kali bicara pada kami? Apa salah kami selama ini, Pa? Kami muak melihat sikap Papa yang selalu dingin, tanpa ada setitik kehangatan sama sekali untuk kami!”
“Berhenti membahas hal klise yang sama setiap harinya, Victoria. Kau sudah dewasa, bukan anak kecil lagi yang harus terus dimanja,” balas Damian tajam, sama sekali tak tersentuh oleh air mata putrinya.
“Justru itu!” pekik Victoria, suaranya kini pecah berderai dalam tangis pilu.
“Sejak kecil kami tidak pernah merasakan apa itu kasih sayang! Kami tumbuh di rumah sebesar istana ini, tapi rasanya seperti hidup di dalam kuburan es! Pernahkah Papa bertanya bagaimana hariku? Pernahkah Papa memeluk Victor saat dia sedih? Tidak, kan?! Papa hanya peduli pada reputasi dan perusahaan!”
“Cukup, Victoria!” sergah Damian, memotong luapan emosi putrinya. Matanya menatap tajam tanpa ampun.
“Selama ini Papa bekerja keras memeras keringat untuk kalian. Harta, kekayaan, status sosial, kemewahan, semua yang Papa berikan apakah belum cukup?! Teman-temanmu di luar sana mengemis untuk bisa hidup senyaman ini. Berhenti bersikap kekanak-kanakan dan tidak tahu diuntung!”
Victoria tersenyum kecut, air matanya menetes jatuh membasahi pipi.
Kekanak-kanakan katanya? Apakah salah jika seorang anak meminta sedikit saja waktu dan perhatian dari ayah kandungnya?
Apakah cinta seorang ayah kini memiliki label harga yang harus ditukar dengan uang?
Ungkapan itu hanya mampu Victoria tahan di dalam hatinya, mencekik tenggorokannya dengan rasa sesak.
Percuma saja berdebat, karena ia tahu, setiap tahun ego Damian bukannya melunak, melainkan semakin membatu.
Di tengah perdebatan itu, pintu utama terbuka.
“Aku pulang,” ucap Victor datar. Ia berjalan masuk dengan raut wajah lelah, dan tak lama disusul oleh Zoey dari belakang.
Melihat putranya pulang larut, Damian pun segera melangkah lebar menuju ruang utama.
Tanpa basa-basi sedikit pun, tangannya terayun cepat di udara.
Plak!
Satu tamparan keras dan amat bertenaga melayang tepat di pipi kanan Victor.
Remaja itu terhuyung ke belakang, wajahnya terlempar ke samping hingga ujung bibirnya berdarah.
“Bagus sekali. Jam berapa ini?!” desis Damian, menatap tajam sang putra. “Apa kau memang sudah sering keluyuran dan pulang terlambat tanpa sepengetahuanku, Victor? Menjadi berandalan jalanan rendahan?!”
Zoey menganga lebar, terkejut melihat adegan kejam yang baru saja terjadi di depan matanya.
Ia buru-buru berlari menghampiri Victor, menempatkan dirinya sebagai tameng di antara ayah dan anak itu.
“Damian! Apa yang sudah kau lakukan?!” jerit Zoey marah. “Dia putramu sendiri! Kenapa kau menamparnya secara membabi buta?!”
Zoey beralih menatap remaja itu dengan cemas. “Kau baik-baik saja, Vic?”
Victor justru menepis kasar tangan Zoey. Tanpa bicara sepatah kata pun, dengan mata yang menyimpan seribu luka kemarahan, ia melangkah pergi menuju lantai atas.
Victoria yang melihat hal itu segera mengusap air matanya dan berlari menyusul saudara kembarnya.
Kini, tinggallah Zoey dan Damian yang saling berhadapan.
“Jangan ikut campur urusanku tentang anak-anakku, Zoey. Cukup jadilah istri yang penurut. Diam di rumah, dan aku akan memberikan nominal uang berapa pun yang kau mau. Tapi ingat, jangan pernah kau berani masuk ke dalam urusan pribadiku, mengerti?!”
Zoey membalas tatapan itu tanpa gentar sedikit pun.
“Kau pikir aku semiskin itu sampai rela menukar hati nuraniku? Aku tidak butuh uangmu!” balas Zoey lantang. “Dasar ayah egois! Kau menutupi kegagalan dan ketidakmampuanmu sebagai orang tua dengan lembaran uang? Aku sungguh tidak menyangka ternyata seperti inilah sikap aslimu di balik setelan mahalmu, Damian!”
“Lalu, apa maumu? Menjadi pahlawan? Menjadi ibu pengganti yang baik? Kau pikir wanita sepertimu bisa menaklukkan kedua bocah nakal dan rusak itu?” Damian melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga ujung sepatu mereka bersentuhan.
Zoey menelan ludah dengan susah payah. Aroma mint dan tembakau dari tubuh pria itu mengintimidasinya.
Namun, dari jarak sedekat ini, untuk pertama kalinya Zoey seolah melihat sesuatu di balik tatapan kelam Damian.
Ada secercah sisi rapuh dan kesepian mendalam yang sengaja dikubur rapat oleh benteng keangkuhannya.
“Ya. Aku akan melakukannya,” jawab Zoey mantap, mengangkat dagunya tinggi-tinggi menantang sang suami.
Damian terkekeh sinis. Berani sekali gadis ini melawannya dan menjawab dengan begitu lantang tanpa ragu sama sekali.
“Lakukan saja. Aku yakin, mereka justru akan membuatmu kewalahan dan memohon padaku untuk pergi dari rumah ini.”