Selesai membaca novel drama yang bikin emosi, Naya malah mengalami kecelakaan dan terbangun di dalam tubuh figuran bernasib sama. Tahu alur tragisnya, ia memanfaatkan kontrak nikah 6 bulan untuk hura-hura pakai uang Damar suami kaya nan dingin yang terpaksa menikahinya lalu berniat kabur membawa uang kompensasi cerai!
Namun, sikapnya yang berubah 180 derajat jadi cuek savage dan menganggap Damar sekadar ATM berjalan justru membalikkan alur cerita. Saat masa kontrak usai dan Naya menagih perceraian, Damar malah ngamuk tak rela dan mendadak berubah jadi suami posesif yang bucin parah!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12.Cemburu
Suasana di dalam mobil sport milik Damar mendadak hening begitu perjalanan pulang dari jamuan makan malam dimulai. Naya yang menyadari ucapan Damar di balkon tadi pura-pura sibuk memandangi gemerlap lampu jalanan dari balik jendela. Jantungnya sempat berdebar tipis, namun logikanya langsung menyadarkan diri.
Eits, Naya! Jangan keburu baper! Dia itu cuma gengsi, dan perhatiannya cuma sebatas formalitas menjaga status serta taruhan dua miliar dalam masa kontrak empat bulan lagi. Lagian cowok kaku kayak gitu mana paham soal cinta! batin Naya menyemangati dirinya sendiri.
Sementara itu, Damar fokus memegang kemudi dengan wajah yang kembali datar bagai papan gilas. Pria itu merutuki dirinya sendiri di dalam hati. Kenapa tadi saya bicara seperti itu pada Naya? Benar-benar tidak profesional! Dia pasti pikir saya sudah luluh padanya. Tidak boleh. Saya tidak boleh terlihat lemah hanya karena ucapan bercanda Andre kemarin.
Gengsi Damar yang setinggi langit langsung kembali membangun benteng pertahanan yang super kokoh.
"Naya," panggil Damar dengan suara berat dan dingin yang sengaja dibuat-buat.
Naya menoleh santai, mengunyah permen karet yang ditemukannya di dalam tas. "Kenapa, Mas Kulkas?"
"Soal ucapan saya di balkon tadi..." Damar berdeham keras, merapikan posisi duduknya. "Jangan salah paham. Saya cuma bermaksud menegaskan posisi kontrak kita di depan jajaran komisaris. Saya tidak punya perasaan apa-apa pada kamu."
Naya tertawa renyah, merasa lega sekaligus makin gemas melihat pertahanan Damar yang kaku. "Aduh, Mas Damar... Siapa juga yang salah paham? Saya tahu kok Mas cuma acting. Lagian saya juga enggak bakal gampang kebiasaan baper sama cowok yang makannya aja masih panggil 'formalitas perusahaan'. Aman, Mas! Saya sangat profesional!"
Damar melirik Naya dari sudut matanya. Bukannya merasa lega, ada sedikit rasa kesal yang tidak beralasan terselip di dadanya saat mendengar betapa santainya Naya menegaskan bahwa gadis itu tidak baper padanya.
"Bagus kalau kamu sadar diri," desis Damar ketus, menyembunyikan kekecewaan kecil yang mendadak muncul tanpa diundang.
Keesokan harinya, suasana hangat yang sempat tercipta semalam langsung menguap begitu saja. Pagi-pagi sekali, kabar tak sedap merayap masuk ke dalam mansion Diksara.
Saat Naya baru saja turun ke lantai dasar membawa pakaian kotornya, ia melihat Mamah Ratna sedang duduk di ruang tamu bersama seorang wanita muda bergaun anggun berwarna pastel. Gadis itu berwajah cantik dengan riasan halus, pembawaannya sangat lemah lembut dan terkesan anggun ala keluarga terpandang.
"Aduh, Clarissa... Mama seneng banget kamu akhirnya pulang dari London!" seru Mamah Ratna dengan nada suara yang sengaja dibikin keras agar terdengar sampai ke tangga. "Kamu itu dari dulu paling paham selera keluarga Diksara. Nggak kayak orang asing yang tiba-tiba masuk ke rumah ini tanpa asal-usul yang jelas!"
Naya menghentikan langkahnya di anak tangga terakhir. Ia menyilangkan tangan di dada, memandangi pemandangan di depan mata dengan alis terangkat. Oho, sinyal drama baru nih. Clarissa siapa lagi ini? Musuh baru atau sekadar figuran lewat?
Clarissa tersenyum manis, mengibaskan rambut bergelombang indahnya. "Tante Ratna bisa saja. Clarissa cuma kangen sama Tante dan... Damar. Katanya Damar sudah menikah ya, Tante? Kok cepat sekali?"
"Menikah karena terpaksa, Clarissa!" potong Mamah Ratna cepat seraya melirik sinis pada Naya yang berjalan mendekat. "Kamu tahu sendiri kan, Damar itu orangnya terlalu bertanggung jawab. Ada cewek yang kebetulan beruntung, masuk ke hidupnya lewat jalur kompensasi. Tapi tenang saja, pernikahan ini enggak akan lama kok!"
Naya yang mendengar itu bukannya sakit hati, justru malah tersenyum paling manis. Ia melangkah santai menuju ruang tamu, lalu duduk di sofa tunggal tanpa rasa canggung sedikit pun.
"Selamat pagi Tante Ratna yang cantik dan Mbak... Clarissa, ya?" sapa Naya ramah, bernada super santai. "Wah, pagi-pagi sudah bahas masa berlaku nikah orang lain. Seru banget deh! Boleh ikut nimbrung?"
Clarissa agak terkejut melihat reaksi Naya yang sangat percaya diri dan tidak menunjukkan raut minder sama sekali. Gadis itu menatap Naya dari ujung kepala sampai ujung kaki, menilai penampilan Naya yang hanya memakai kaus oblong oversized dan celana kulot santai.
"Kamu... Naya, ya?" tanya Clarissa dengan nada lembut yang terkesan merendahkan. "Salam kenal. Saya Clarissa, teman masa kecil Damar sekaligus putri dari mitra bisnis utama Diksara Group di Eropa."
"Salam kenal juga, Mbak Clarissa!" jawab Naya penuh semangat. "Saya Naya, istri sahnya Mas Damar yang dibayar dua miliar. Pasti Tante Ratna udah cerita lengkap kan?"
Puk!
Clarissa tersedak ludahnya sendiri gara-gara kejujuran Naya yang sangat vulgar dan tidak ada jaim-jaimnya.
Tepat saat itu, Damar turun dari lantai dua dengan setelan jas kerjanya yang rapi. Langkahnya terhenti ketika melihat sosok Clarissa duduk di ruang tamunya.
"Clarissa?" panggil Damar dengan kening berkerut.
Clarissa langsung berdiri dari sofa, wajahnya berbinar bahagia. "Damar! Long time no see!" Clarissa melangkah mendekat dan hendak memeluk Damar, namun Damar secara refleks mundur setengah langkah dan hanya mengulurkan tangannya untuk menjabat.
"Kapan kamu kembali dari London?" tanya Damar singkat dan formal, sangat menjaga jarak.
Clarissa agak terpukul dengan sikap dingin Damar, namun ia buru-buru tersenyum lagi. "Baru kemarin malam, Mar. Hari ini aku sengaja main ke sini mau ajak kamu makan siang bareng, sekalian bahas kerja sama proyek baru antara perusahaan kita."
Mamah Ratna langsung menimpal, "Nah, betul itu Damar! Kamu harus makan siang sama Clarissa. Biar pikiran kamu segar lagi, enggak ngurusin hal-hal yang tidak bermutu di rumah ini!"
Damar melirik ke arah Naya. Ia berharap melihat riak cemburu atau raut tidak suka di wajah istrinya. Siapa tahu dengan hadirnya Clarissa, Naya akan merasa terancam dan mulai menunjukkan perhatian padanya.
Namun, harapan Damar hancur seketika. Naya justru sedang sibuk mengambil keripik kentang di meja, mengunyahnya dengan renyah sambil menonton interaksi mereka seperti sedang menyaksikan sinetron pagi.
"Wah, pas banget tuh Mas Kulkas!" seru Naya riang sambil menunjuk Damar pake keripik. "Mumpung ada Mbak Clarissa yang anggun begini, makan siangnya di restoran Perancis yang mahal itu aja! Biar porsinya seuprit tapi pas sama standar keluarga Diksara. Ya kan, Tante?"
Dada Damar mendadak sesak gara-gara rasa jengkel yang luar biasa. Cewek ini benar-benar tidak ada cemburu-cemburunya sama sekali! Malah menyuruhnya pergi makan siang dengan wanita lain!
Gengsi Damar yang terluka langsung menyala hebat. Pria itu menyipitkan matanya, menatap Naya tajam.
"Baik," sahut Damar dengan suara dingin yang dalam, sengaja menatap Naya saat mengucapkannya. "Saya akan makan siang dengan Clarissa hari ini. Andre, siapkan reservasi di restoran favorit Clarissa."
Clarissa tersenyum puas. "Terima kasih, Damar! Kamu memang selalu perhatian."
Naya tetap mengunyah keripiknya santai. "Sama-sama, Mbak! Nanti kalau ada makanan sisa di restoran Perancisnya, dibungkusin buat Bik Inah juga boleh kok!"
Damar mengepalkan tangannya di samping celana. Naya... kamu benar-benar memancing emosi saya! batin sang CEO jengkel setengah mati.
Siang harinya, pukul satu siang.
Di restoran bernuansa mewah, Damar duduk berhadapan dengan Clarissa. Makanan berkelas sudah tersaji di meja, namun Damar sama sekali tidak menyentuh garpunya. Pria itu hanya menatap layar ponselnya setiap sepuluh detik sekali, berharap ada pesan atau telepon masuk dari Naya—mungkin sekadar menanyakan keberadaannya atau menunjukkan sedikit kepanikan.
Namun, sampai tiga puluh menit berlalu, ponselnya tetap hening. Tidak ada satu pun notifikasi dari Naya.
"Damar? Kamu mendengarkan aku tidak?" tanya Clarissa lembut sambil memotong daging steak-nya. "Aku sedang bahas soal proposal desain gedung baru di London."
Damar mematikan layar ponselnya, berdeham kaku. "Maaf, Clarissa. Saya agak kurang fokus hari ini."
Clarissa menatap Damar penuh perhatian. "Kamu kelihatan lelah, Mar. Apa karena... pernikahan kamu? Tante Ratna bilang kalian menikah bukan karena saling mencintai. Kalau memang kamu merasa terbeban, kenapa tidak diselesaikan saja? Aku bisa bantu kamu bicara dengan jajaran direksi kalau kamu butuh dukungan."
Damar mengangkat pandangannya, menatap Clarissa dengan matanya yang dingin dan tajam. "Persepsi Mama salah, Clarissa. Dan urusan rumah tangga saya adalah privasi saya. Tolong jangan melampaui batas."
Clarissa membeku. Nada bicara Damar yang begitu tegas dan tidak bersahabat membuatnya sadar bahwa posisi Naya di mata Damar tidak sebercanda yang diceritakan Tante Ratna.
Sementara itu di mansion, Naya sedang asyik rebahan di sofa ruang tengah sambil menonton tayangan komedi di televisi. Tiba-tiba, Bik Inah menghampirinya membawa sebuah kotak kiriman paket yang cukup besar.
"Mbak Naya, ini ada paket datang atas nama Mbak Naya dari... Mas Bagas?" panggil Bik Inah ragu-ragu.
Naya mendudukkan tubuhnya, mengernyitkan dahi. Bagas?
Ingatan dari novel yang pernah ia baca langsung berputar cepat di kepala Naya. Dalam alur novel aslinya, Naya pemilik tubuh asli ini dulunya adalah cewek yatim piatu yang sangat malang dan polos. Dulu sekali, ketika orang tua Naya masih hidup dan berada di masa kejayaan bisnis, almarhum ayahnya sempat mengulurkan bantuan besar untuk menyelamatkan bisnis Papah Hendra (ayah Damar). Karena itulah, almarhum ayah Naya dan Papah Hendra sepakat menjodohkan anak-anak mereka.
Sayangnya, setelah orang tuanya meninggal dunia, Naya pemilik tubuh asli ini hidup sebatang kara dan jatuh miskin. Di sinulah muncul sosok Bagas, mantan kekasih yang sangat toxic! Dalam cerita novel, Bagas hanyalah cowok manipulatif yang sengaja mendekati dan mempermainkan perasaan Naya karena tahu gadis itu yatim piatu, tidak punya siapa-siapa, gampang dibodohi, dan pasrah ditindas. Dulu Bagas mencampakkan Naya begitu saja ketika tidak punya uang lagi, lalu mengabaikannya sampai Naya terpaksa menerima pernikahan perjodohan utang budi dengan keluarga Damar.
Oalah! Ini si Bagas, parasit toxic yang dulu memorotan dan memorak-porandakan mental Naya asli di novel ini?! batin Naya menyeringai sinis. Bagus banget, tokoh antagonis kelas teri akhirnya menampakkan hidung gatalnya!
Naya membuka kotak paket tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah buket bunga kering bernuansa estetis, sebotol parfum murah tapi menyengat, dan selembar surat bertuliskan:
‘Naya, aku tahu kamu terpaksa menikah sama CEO dingin itu cuma demi bertahan hidup karena kamu udah enggak punya siapa-siapa lagi setelah orang tua kamu meninggal. Aku tahu kamu ditumbalkan karena utang budi. Tapi aku masih sayang sama kamu, Nay. Sekarang aku udah sukses. Tolong temui aku malam ini jam 7 di kafe biasa. Kita mulai semuanya dari awal.’
Naya langsung mendengkus geli membaca surat sok pahlawan itu. "Halah! Dasar cowok parasit halu! Dulu waktu gue lagi yatim piatu dan terlunta-lunta, lu tinggalin dan lu injak-injak perasaannya. Sekarang begitu denger gue tinggal di mansion Diksara, lu sok-sokan mau jadi pahlawan kepunyaan! Najis tralala!"
Naya berniat langsung membuang surat dan paket itu ke tempat sampah di dapur. Namun, tepat saat Naya berdiri membawa kotak tersebut, pintu depan mansion terbuka.
Damar berjalan masuk. Wajahnya terlihat sangat lelah dan ketus gara-gara makan siang yang membosankan bersama Clarissa, ditambah rasa jengkel karena Naya sama sekali tidak menelponnya. Pria itu melepas dasinya, dan matanya langsung tertuju pada kotak paket yang dipegang Naya, terutama pada selembar surat yang posisinya terbuka di paling atas.
Damar melangkah cepat menghampiri Naya. Tanpa izin, tangan panjang Damar merebut surat itu dan membacanya dalam hitungan detik.
Mata Damar membelalak tajam. Aura di sekitar pria itu mendadak berubah menjadi sangat berbahaya dan dingin membekukan.
"Siapa Bagas?!" bentak Damar dengan suara rendah yang menakutkan, menatap Naya dengan kilatan cemburu yang tidak bisa ditutupi lagi.
Naya terkejut melihat reaksi heboh Damar. "Aduh Mas Kulkas, santai dong! Jangan main rebut gitu! Itu cuma dari mantan nggak berguna yang tiba-tiba halusinasi!"
"Mantan?!" dada Damar naik turun menahan emosi yang bergejolak. "Dia minta kamu ketemu malam ini di kafe? Dan dia bahas soal status kamu yang dulu yatim piatu serta perjodohan orang tua kita?!"
Naya memutar bolak-balik matanya. "Ya elah, Mas... Dia tuh cuma cowok masa lalu yang mendadak gila! Dulu pas saya susah dan enggak punya siapa-siapa, dia buang saya gitu aja. Sekarang begitu lihat saya hidup enak di sini, dia malah kepanasan dan sok mau ngajak balikan!"
Damar melangkah maju satu tapak, memojokkan Naya ke tepi sofa. Matanya menatap Naya begitu dalam, menunjukkan rasa memiliki yang sangat kuat namun tertahan oleh dinding gengsi besarnya.
"Kamu tidak boleh pergi menemui pria itu," perintah Damar mutlak, suaranya bergetar tipis.
Naya mengangkat dagunya, menantang tatapan Damar dengan cengiran tipis. "Kenapa saya enggak boleh pergi? Mas Damar aja tadi siang boleh makan berdua sama Mbak Clarissa yang cantik anggun itu. Masa saya enggak boleh nemuin mantan buat sekadar saya ejek di depannya? Kan seru!"
Damar mengepalkan tangannya rapat-rapat. Rasa cemburu yang membakar dadanya beradu hebat dengan gengsi setinggi langit yang melarangnya untuk mengakui perasaan. Pria itu menelan ludah dengan susah payah, mencari alasan paling logis yang bisa ia gunakan.
"Karena... karena kamu masih berstatus sebagai istri sah Damar Diksara!" seru Damar dengan nada tegas yang dibuat-buat, meskipun telinganya sudah merah padam. "Saya tidak izinkan kamu menemui pria lain saat masa kontrak ini berlangsung. Itu merusak reputasi dan citra saya di mata publik!"
Naya menahan tawa gigihnya saat melihat betapa konyolnya alasan Damar. Muka cowok di depannya ini sudah merah padam gara-gara cemburu berat pada masa lalu Naya, tapi mulutnya masih saja menjual tameng 'reputasi dan status kontrak'.
Naya memajukan tubuhnya sedikit, menatap mata Damar yang bergetar. "Oh, cuma karena reputasi nih? Bukan karena Mas Damar cemburu setengah mati gara-gara takut istri sahnya ini digoda mantan parasit?"
"T-tentu saja bukan!" elak Damar gugup, buru-buru memalingkan wajahnya dan merapikan kemejanya yang tidak kusut. "Saya cuma... mengamankan aset investasi saya. Kalau kamu pergi sama pria seperti dia, siapa yang mau mendampingi saya di acara perusahaan nanti?"
Naya akhirnya tidak sanggup menahan tawa dan tertawa terpingkal-pingkal sampai memegangi perutnya. "Bwahahaha! Mas Damar ini bener-bener Kulkas ajaib ya! Alasannya makin lama makin enggak masuk akal! Masa saya disama-samain sama aset investasi?!"
Damar mematung, merutuki kebodohannya sendiri yang makin terlihat konyol di depan Naya. Pria itu menyilangkan tangannya di dada, berdeham keras demi mengembalikan wibawanya yang sudah runtuh berkeping-keping.
"Terserah kamu mau bicara apa," gumam Damar ketus. "Pokoknya malam ini kamu tidak boleh keluar rumah. Titik!"
Damar langsung berbalik badan dan melangkah lebar-lebar menaiki tangga menuju kamarnya dengan langkah gusar. Namun di tengah jalan tangga, Damar mendadak berhenti, lalu menoleh sekilas ke bawah.
"Dan buang bunga sampah itu dari rumah saya," tambah Damar dingin sebelum menghilang di balik pintu kamarnya.
Naya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum lebar. Ia memandangi buket bunga kering dari Bagas, lalu tanpa ragu melemparkannya langsung ke tempat sampah di sudut ruangan.
"Aduh, Mas Kulkas... gengsi kamu tuh bener-bener lucu banget!" bisik Naya santai. "Tapi tenang aja, gue juga enggak sudi ketemu mantan toxic basi. Lagian, ngelayanin tingkah gengsi cemburu lu jauh lebih menghibur daripada nonton bioskop!"
_Bersambung