Bejo Mulyorejo pemuda berusia 18 tahun, dia hidup sendirian di Desa Krajan jauh dari hiruk-pikuk kota. Dia mendapatkan warisan dari leluhurnya menjadi Penggali Makam melanjutkan peninggalan sang kakek buyut.
Kehidupan sehari-hari Bejo terbilang cukup, dia selalu hemat dalam pengeluarannya. Walaupun sesekali dapat bantuan dari orang tak terduga tapi dia berusaha membuka usaha kecil-kecilan, akan tetapi perjalan panjang Bejo sedikit sulit.
Bukan kesulitan tentang kebutuhan tapi kesulitan dalam menghadapi segala penampakan setelah menggali makam, dia yang memiliki mata peka dan terbiasa dengan makhluk gaib namun dia juga memiliki rasa takut tersendiri.
Bagaimana kehidupan Sang Penggali Makam ini, kita lanjutkan dalam perjalanan panjangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D.P. Auzora., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meminta Bantuan
Bejo dan teman-temannya terengah-engah di parkiran sekolah, mereka lari ketika sadar sosok itu terus melihat kearah mereka.
"Itu tadi apaan Jo?, serem bener." Jarot bertanya.
"Kalau di lihat-lihat sih, Genderuwo."
"Gila.. kok bisa ada di situ," seru Salsa.
Bejo, Jarot, Dirga, Dinda, Salsa dan Clara masih tidak percaya apa yang di lihatnya lalu mereka duduk di warung dekat parkir sepeda motor.
"Kenapa wajahmu seperti ketakutan begitu Sal?," tanya Aldo.
"Itu bang, tadi di ringin ujung timur ada penampakan sosok hitam matanya merah menyala," jawab Salsa.
Aldo yang mendengarkan langsung berdiri, dia menatap tajam kearah Salsa dan teman-temannya.
"Yang lihat pertama siapa?," tanya Aldo.
"Bejo tuh bang," jawab Dirga.
Aldo beralih ke arah Bejo.
Bejo sendiri mulai tenang kembali, ia terus memandangi ujung pohon ringin yang masih terlihat jelas. Kemudian Aldo menghampiri Bejo.
"Beneran tadi lu yang duluan lihat Jo?,"
"Iya bang,"
"Bahaya sih ini!!,"
Bejo menyipitkan matanya, dia kebingungan mendengar ucapan Bang Aldo.
"Bahaya apasih bang?,"
"Pokoknya kamu hati-hati aja, ada seseorang yang berniat jahat ke kalian terutama kamu Jo."
Bejo terdiam seribu kata, sedangkan Dinda yang duduk di sampingnya mulai khawatir dengan keadaan Bejo. Dinda memandang wajah Bejo dengan penuh perhatian sekaligus rasa khawatirnya.
"Sudahlah bang, jangan nakut-nakutin yang lain. Aku akan baik-baik saja,"
"Semoga saja, tapi kamu harus berhati-hati saja."
"Baik bang, terimakasih."
Pandangan Bejo kembali ke arah pohon beringin tua di kejauhan, ia merasakan sebuah panggilan samar-samar dalam batinnya. Namun Bejo berusaha untuk tetap tenang menghadapi apa yang akan terjadi.
Kini Bejo dan Dinda pulang bersama, dengan Dinda tetap diam namun ia ingin mengatakan sesuatu tapi tidak berani untuk mengatakannya.
Tepat terdengar suara adzan Bejo berhenti, ia berbelok ke masjid untuk beribadah sebelum melanjutkan perjalanan pulang. Dinda tetap ikut dia sangat khawatir apalagi Bejo tidak bertanya apapun padanya.
Setelah beribadah, Bejo duduk di luar bersama Dinda memasang sepatu masing-masing.
"Loh Bejo!! Baru pulang?,"
"Pak imam. Iya pak saya baru pulang,"
"Kamu sini dulu, bapak mau ngomong sesuatu!!,"
Bejo memandang Dinda, penuh pertanyaan karena pertama kalinya pak imam mengajaknya berbicara saat bertemu walaupun biasanya sering tapi selalu ada janji tidak tiba-tiba seperti ini.
Pak Imam duduk bersama Bejo di ikuti Dinda juga di sampingnya.
"Bapak mau bertanya, apakah kamu tau sebab kematian dari Sinta?,"
Bejo terdiam sejenak, ia menyusun kembali ingatan saat melihat pemakaman Sinta yang di rasa baik-baik saja namun dia menyadari satu hal dalam kejadian sebelumnya.
"Sepertinya saya tidak tau pasti pak, apalagi saya tidak begitu kenal jauh dengan Sinta."
Pak Imam menganggukkan kepalanya.
"Kamu tau tadi di kelas kenapa bapak meminta berdoa untuknya?,"
Bejo menggelengkan kepalanya.
"Tapi ini belum pasti hanya samar-samar saja, bapak melihat sosok perempuan cantik mengikutimu dan dia tersenyum ke arah bapak saat mengajar kalian pagi tadi."
Mata Bejo terbelalak terkejut, ia kebingungan dengan apa yang di maksud oleh Pak Imam. Bejo mulai menyusun kembali setiap kejadian kemarin hingga saat ini, tapi tidak ada sangkut pautnya.
Hingga Bejo teringat soal sore setelah pemakaman Sinta ia juga melihat sosok Sinta dari ujung matanya, tapi Bejo tidak yakin benar atau tidaknya.
"Saya jadi bingung pak, kenapa bisa jadi seperti ini!," ucap Bejo.
"Sudah kamu berdoa saja, semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk," balas Pak Imam.
"Amin pak. Saya pamit pulang dulu pak, Assalamualaikum?,"
"Wa allaikum salam."
Bejo dan Dinda kembali melanjutkan perjalanan pulang, Pak Imam memandang kepergian kedua muridnya tidak berselang lama muncullah seorang gadis muda dari belakang pak Imam.
"Siapa tadi itu Mas?,"
"Dia muridku dek. Kenapa?,"
"Hmm.. seperti tidak asing!!,"
"Memang tidak asing, kan dia yang gali makam di desa ini,"
"Oh iya lupa aku mas."
Pak Imam menggelengkan kepala melihat sang adik sangat pelupa.
Bejo mengantar Dinda hingga sampai rumahnya, setelah itu Bejo pulang kerumah. Saat sampai dia tidak buru-buru masuk kedalam kamar, ia kebelakang untuk menghangatkan air untuk mandi.
Kemudian Bejo duduk di depan, pandangan kosong memikirkan sesuatu yang di ucapkan oleh pak Imam sebelumnya.
Mbak Mala berjalan membawa Nasi goreng yang di masak ibunya, ketika melihat Bejo sedang melamun ia buru-buru mendekatinya.
"Oi.. Bejo, ngelamun aja kamu."
"Eh.. enggak kok mbak,"
"Hmm.. nih nasi goreng, ibuk masak lebih. Kamu makan ya?,"
"Terima kasih mbak."
Bejo makan dengan perlahan, ia tidak bisa menikmati sepenuhnya makanan yang di berikan Mbak Mala. Bejo masih terbayang-bayang oleh ucapan pak Imam, membuat dia mulai menyusun semua ingatannya.
Mbak Mala yang melihat Bejo sedikit aneh terus memandanginya.
"Kamu kenapa sih Jo!! Makan kok nasinya gak di sendok,"
Bejo melihat sendok yang mengambil nasi goreng, dia kembali terdiam membuat Mbak Mala semakin penasaran dan khawatir dengan perubahan tiba-tiba Bejo.
"Kamu baik-baik saja kan Jo?," tanya Mbak Mala.
Bejo menghela napasnya.
"Aku gak papa kok mbak cuman capek aja," jawab Bejo.
"Yaudah kamu istirahat aja,"
"Iya mbak."
Bejo masuk kedalam rumah, membawa nasi goreng yang masih banyak. Mala memandang kepergian Bejo, lalu ia juga kembali pulang kerumahnya.
Bejo menghempaskan tubuhnya ke ranjang usang hingga berbunyi pelan. Pandangan Bejo terus mengingat semua kejadian belakangan ini hingga dia tertidur pulas.
Dalam mimpinya Bejo, ia bangun berada di sebuah sabana hijau yang sangat luas hanya ada sebuah gubuk kecil di depannya.
Namun pandangan Bejo melihat sosok perempuan cantik memakai gaun berwarna putih bersih duduk di gubuk kecil yang tidak jauh dari dia terbangun.
Bejo menghampiri dengan langkah pelan.
"Kamu sudah bangun Mas?,"
"Kamu siapa?," tanya Bejo.
"Aku adalah orang yang mencintaimu hingga akhir hayatku datang, kamu adalah cinta pertama dalam diam yang aku sembunyikan selama ini."
Bejo menyipitkan matanya, ia kebingungan apa yang di maksud oleh sosok perempuan itu.
"Aku tidak ingin menganggumu tapi aku ingin meminta bantuan,"
"Bantuan apa yang kamu minta?,"
"Kamu pergi kerumah sepupuku yang Intan Ayu, ambil barang yang ingin aku kasihkan ke kamu tapi aku sudah terlanjur pergi meninggalkanmu,"
"Sebenarnya kamu itu siapa?,"
"Aku hanya seorang gadis muda yang selalu mencintaimu dalam diamku, kamu akan mengetahui setelah mendapatkan apa yang aku katakan."
KLAP....
Tiba-tiba Bejo terbangun dari tidurnya, ia terengah-engah dalam keringat sejagung membasahi seluruh tubuhnya. Ia terdiam cukup lama, menenangkan diri dari apa yang ada dalam mimpinya.
"Astaghfirullahalazim.. mimpi apa aku sebenarnya!!," gumam Bejo.
Saat melihat jam ternyata ia tertidur setengah jam, lalu ia bangun karena lupa mematikan kompor yang menghangatkan air sebelumnya. Namun saat sampai di sana kompor itu sudah mati dengan air hangat yang sudah siap, membuat Bejo termenung.
Bejo kebingungan melihat semua ini, apalagi mimpinya.
"Intan Ayu!! Siapa dia sebenarnya?,"
Bejo terdiam sambil mengingat nama yang di ingat dalam mimpinya.
"Ahh.. sudahlah. Lebih baik aku mandi dan beribadah baru keluar," seru Bejo.
Kemudian mandi, setelah selesai ia beribadah sebelum keluar rumah.
Setelah semua selesai Bejo keluar dari rumah, ia menyalakan motor pergi menuju kemanapun yang di inginkan Bejo. Dia terus berjalan menyusuri jalan raya yang sangat ramai di malam minggu itu, Bejo berhenti di sebuah minimarket terdekat.