NovelToon NovelToon
Sisi Gelap Timbangan (The Scale & The Shadow)

Sisi Gelap Timbangan (The Scale & The Shadow)

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Sistem
Popularitas:343
Nilai: 5
Nama Author: yrp putri

Seorang Hakim Ketua yang menjunjung tinggi keadilan harus memilih antara hukum, ayahnya, dan cinta kelamnya pada seorang buronan nomor satu yang pernah menghancurkan masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yrp putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji Suci dan Sangkar Sang Raja

Hari itu, langit Jakarta secerah kristal, seolah semesta ikut merestui akhir dari pelarian panjang mereka.

Pernikahan Aluna dan "Arkanza Dirgantara" digelar di sebuah paviliun kaca megah yang berdiri di atas tebing, menghadap langsung ke hamparan laut lepas. Kemegahan acara itu tidak ditampilkan lewat kemewahan yang norak, melainkan melalui keanggunan yang syahdu. Ribuan tangkai mawar putih dan *lavender*—bunga kesukaan Aluna—menghiasi setiap sudut ruangan, menyebarkan aroma penenang yang mengusir segala trauma masa lalu.

Diiringi alunan *grand piano* yang memainkan melodi klasik, Aluna melangkah menyusuri lorong altar. Ia mengenakan gaun putih berekor panjang yang begitu elegan, membuat Sang "Palu Es" kini benar-benar menjelma menjadi seorang bidadari. Di sisinya, Inspektur Arya Larasati berjalan dengan dada membusung bangga, meski matanya berkaca-kaca menahan haru.

Di ujung altar, Arjuna berdiri tegak dalam balutan tuksedo hitam yang dijahit sempurna. Saat Inspektur Arya menyerahkan tangan putrinya kepada Arjuna, sang polisi senior itu berbisik pelan, "Bapak serahkan nyawa Bapak padamu, Nak."

Janji suci diucapkan dengan suara bergetar. Cincin platina melingkar di jari manis mereka. Saat Arjuna menyingkap kerudung Aluna dan mendaratkan ciuman lembut di bibirnya, tepuk tangan riuh menggema. Sumpah itu telah terikat. Di hadapan Tuhan dan hukum negara, mereka kini sah menjadi suami istri. Untuk beberapa jam, Aluna benar-benar merasa bahwa ia telah berhasil memenangkan Arjuna seutuhnya dari kegelapan.

Namun, kedamaian itu hanyalah ilusi berumur pendek.

**Satu Jam Sebelum Resepsi Berakhir (Flashback)**

Pesta resepsi mulai mereda. Para tamu undangan penting dan pejabat telah undur diri, menyisakan kerabat dekat dan keluarga.

Inspektur Arya sedang beristirahat sejenak di ruang tunggu VIP sambil meminum air putih, senyum kelegaan masih terukir di wajahnya yang keriput. Tiba-tiba, pintu diketuk. Seorang bawahan kepercayaannya dari divisi intelijen masuk dengan wajah pucat pasi dan napas terengah-engah, membawa sebuah amplop cokelat berstempel merah "Sangat Rahasia".

"Komandan... maaf mengganggu, tapi ada paket anonim yang dikirimkan langsung ke meja Anda di markas. Kurir itu bilang ini menyangkut keamanan negara dan... keluarga Anda," ucap bawahan itu gemetar.

Inspektur Arya mengerutkan kening. Ia membuka amplop itu dan menarik keluar setumpuk dokumen.

Hanya butuh sepuluh detik bagi dunia Sang Inspektur untuk hancur lebur.

Dokumen itu adalah rekam medis dan analisis biometrik yang sengaja dibocorkan. Terdapat foto rontgen bahu "Arkanza" yang menunjukkan bekas luka serpihan peluru—tepat di posisi yang sama dengan luka tembak Baskara saat insiden di Pengadilan Negeri. Ditambah dengan satu dokumen cacat tentang anomali sidik jari yang baru saja dienkripsi ulang. Semua bukti itu mengarah pada satu kesimpulan mutlak dan tak terbantahkan.

Pengusaha bersih yang baru saja menikahi putrinya... adalah iblis yang selama ini ia buru.

Tangan Inspektur Arya gemetar hebat, meremas kertas itu hingga hancur. Wajahnya yang tadi memancarkan kebahagiaan kini memerah padam oleh amarah, pengkhianatan, dan keputusasaan yang tak terbayangkan.

**Kehancuran di Ujung Pesta**

Kembali ke ruang resepsi yang kini sudah sepi. Aluna sedang bersandar manja di dada Arjuna, melepas penat sambil menatap gemerlap bintang dari balik dinding kaca. Arjuna memeluk pinggang istrinya, tersenyum menatap cincin di jari Aluna.

Tiba-tiba, suara langkah sepatu bot yang berat dan tergesa memecah keheningan romantis itu.

**KLIK.**

Suara kokangan pelatuk senjata api menggema begitu keras.

Aluna tersentak dan menoleh. Darahnya seolah ditarik paksa dari tubuhnya. Di ujung ruangan, Inspektur Arya berdiri dengan seragam kebesarannya. Kedua tangannya menggenggam erat pistol *revolver* standar kepolisian, diarahkan lurus... tepat di antara kedua mata Arjuna.

"Angkat tanganmu, Baskara!" raung Inspektur Arya, suaranya menggelegar dipenuhi luka dan amarah yang menghancurkan jiwa. "Menjauh dari putriku, kau bajingan keparat!"

Aluna membeku. Napasnya terhenti. Waktu seakan berhenti berdetak.

Arjuna tidak mengangkat tangannya. Pria itu menatap lurus ke arah laras pistol mertuanya. Tubuhnya menegang, namun sorot matanya menyorotkan sebuah realisasi yang sangat kelam dan mematikan.

Hanya ada satu orang di dunia ini yang memiliki akses ke data biometrik aslinya. Hanya ada satu orang yang bisa membocorkan dokumen cacat itu tepat di saat ia tidak bisa lagi mundur.

*Ayahnya.*

Sang Raja Mafia telah menepati janjinya untuk membiarkan mereka menikah. Namun, pria tua itu tidak pernah berniat melepaskan Arjuna.

Arjuna adalah putra mahkota. Ia adalah pewaris tunggal kerajaan bawah tanah Baskara. Raja Mafia tidak akan membiarkan senjata terbaiknya pensiun menjadi pengusaha legal dan dimiliki sepenuhnya oleh wanita terang seperti Aluna.

Sang Raja sengaja menjebak mereka. Ia membiarkan janji suci itu terikat lebih dulu, memastikan bahwa Aluna dan Arjuna telah sah menjadi suami istri yang tak terpisahkan. Lalu, ia meledakkan bomnya. Ia membocorkan identitas Arjuna kepada Inspektur Arya.

Arjuna mengatupkan rahangnya kuat-kuat hingga urat lehernya menonjol. Ia tahu persis apa tujuan ayahnya. Dengan terbongkarnya identitas ini, Arjuna tidak punya pilihan selain kabur dan kembali ke dunia gelap untuk bertahan hidup. Dan karena Aluna telah terikat oleh pernikahan dan kegilaan cintanya, Sang Raja tahu pasti bahwa Aluna tidak akan membiarkan Arjuna pergi sendiri. Aluna pasti akan mengikutinya.

Sang Raja Mafia telah menang telak. Ia berhasil memaksa putra mahkotanya pulang, sekaligus menyeret Sang Hakim Ketua jatuh kembali ke dalam lubang hitam bisnisnya.

"Ayah... turunkan senjatamu," suara Aluna bergetar hebat. Gadis itu melangkah maju, memposisikan dirinya sebagai tameng hidup di depan Arjuna, menghadap langsung ke arah laras pistol pria yang telah membesarkannya.

"Menyingkir, Aluna!" jerit Inspektur Arya, air mata penderitaan mengalir di pipinya yang keriput. "Dia menipumu! Dia monster yang menculikmu! Dia Baskara!"

"Aku tahu, Ayah!" balas Aluna tak kalah keras, air matanya ikut pecah meruntuhkan riasan pengantinnya. "Aku sudah tahu semuanya!"

Pernyataan itu menghantam Inspektur Arya lebih keras daripada peluru mana pun. Pria paruh baya itu terhuyung mundur selangkah, menatap putrinya dengan horor yang tak terlukiskan.

Di balik tubuh istrinya yang gemetar, Arjuna menarik napas panjang. Utopia yang terang itu telah hancur. Kegelapan telah datang menjemput mereka kembali, dan kali ini, tidak ada lagi jalan keluar selain menuruni dasar neraka itu bersama-sama.

1
Teduh Kata
semangat!
yrputri: terimakasih
total 1 replies
Teduh Kata
Hai kak, aku sudah bom like karya kamu, dan mari salin follow yah dan jangan luoa like karya aku juga. mari saling dukung💪
yrputri: hai kak, terimakasih sudah bom... sudah saya like sudah saya like balik juga ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!