NovelToon NovelToon
JODOH KU CEO DINGIN

JODOH KU CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Romansa
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: nabila claraaa

Aku, *Aira Putri*, dipaksa nikah sama *Arka Mahendra* demi bayar utang rumah sakit mamaku.
Dia CEO dingin, tajir, dan paling benci sama wanita matre. Aku? Cuma karyawan biasa yg apes.

Aturannya jelas:
1. Gak boleh saling cinta
2. Gak boleh pegang tangan
3. Cerai setelah 1 tahun

Masalahnya...
Kenapa dia yg paling pertama nolongin pas aku diganggu?
Kenapa dia yg marah pas aku deket sama cowok lain?
Kenapa tatapan dinginnya bikin jantungku anget?

*Arka Mahendra* bersumpah gak akan jatuh cinta.
Tapi takdir bilang: *"Jodoh gak akan kemana"*

Akankah pernikahan kontrak ini berakhir di meja hijau... atau di pelaminan beneran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nabila claraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5- KEBOCORAN PINTU

Jam 1.23 pagi.

Aku masih duduk di lantai depan kamar Arka. Gelas air di tanganku udah kosong.

Pipiku masih panas inget tatapan Arka tadi. "Gak sopan masuk kamar laki-laki jam segini" katanya. Tapi suaranya khawatir.

Dari dalam kamar kedengeran suara batuk. 3 kali. Kering. Serak. Terus hening.

"Pak?" panggilku pelan. Gak ada jawaban.

Jantungku gak enak. Pucat tadi. Batuk-batuk. Apa demam?

Aku nekat ngetuk lagi. "Pak Arka?"

Masih sepi.

Dengan tangan gemetar aku buka lagi pintu kecil itu. Kali ini gak nunggu dijawab.

Arka masih duduk di sofa. Tapi kepalanya nunduk. Laptop udah mati. Gelas di tangannya miring. Airnya tumpah ke karpet.

"Pak?" Aku lari kecil. Lututku nyentuh karpet pas jongkok di depannya.

Aku sentuh dahinya. PANAS. Kayak kompor.

"Ya Allah Pak... demam tinggi ini." Tanganku gemetar. "Pak bangun."

Arka buka mata pelan. Pupilnya agak merah. Bibirnya pecah-pecah. "Aira? Jam berapa..."

"Jam 1 Pak. Bapak demam. Aku panggil Bu Yati ya? Atau dokter?"

"Tidak usah," katanya serak. Dia mau berdiri tapi oleng. "Hanya... kecapekan meeting."

Aku langsung sigap. Naro tangan Arka di bahuku. "Yaudah ke tempat tidur Pak. Ayo. Berat juga."

Badan Arka berat. Tinggi 185cm sandar di badan aku yang 155cm. Aku nyaris jatuh 2 kali.

Pas udah rebahan di ranjang king size nya, Arka narik selimut sendiri. Matanya merem. "Kamu... tidur. Jangan di sini. Gak pantas."

Aku geleng. Air mata udah di ujung. "Gak bisa. Bapak demam 39 ini kayaknya. Aku kompres dulu."

Aku lari ke dapur. Basahin 2 handuk pake air anget. Pas balik, Arka udah merem tapi alisnya nyatu. Kayak nahan sakit. Kemeja dalamnya basah keringat.

Aku duduk di pinggir ranjang. Naro kompres di dahinya. Pelan. Tanganku gemetar.

"Gak usah repot," gumam Arka. Suaranya pelan banget. Kayak anak kecil.

"Ini kerjaan saya Pak," jawabku. Niru kata dia pagi tadi. "Kerjaan saya jagain Bapak."

Arka kebuka mata. Menatapku 5 detik. Lama. Matanya sayu. "Kamu... beda sama Natasha."

Jantungku berhenti. "Maksudnya?"

"Dia kalau aku sakit, teriak-teriak nyalahin asisten. Nyuruh ganti dokter 3x. Kamu... diem. Ngurusin."

Aku diem. Tangan masih ngompres. Tenggorokan ngganjel.

Jam 2 pagi. Arka tidur. Napasnya berat. Aku duduk di kursi sebelah. Ngawasin. Tiap 15 menit ganti kompres. Lap keringat di leher dan ketiaknya pake handuk kecil.

Jam 3. Arka menggigil. Kejang kedinginan.

Aku langsung selimutin pake 2 selimut. Masih dingin.

"Pak... Pak..." panggilku panik.

Tanganku gak sengaja nyentuh tangan Arka. Dingin banget. Es.

Tanpa mikir panjang aku genggam. Dua tangan. "Pak... angetin ya. Maaf ya lancang."

Arka gak jawab. Tapi 10 detik kemudian genggamannya... ngebales. Kuat. Mencari hangat.

Kami ketiduran gitu. Aku di kursi, badan nyender ke ranjang, tangan masih kegenggam sama Arka.

*JAM 6 PAGI*

Alarm HP Arka bunyi. Nada klasik. Tapi yang bangun duluan aku.

Leher pegel. Punggung sakit. Pas nengok... tangan kami masih bertaut. Jari Arka nyelip di sela jariku.

Aku langsung lepas. Panik. "Astaga."

Arka kebangun. Liat tangannya kosong. Terus liat aku yang udah berdiri 1 meter. Wajahnya datar lagi. Dinding es naik.

"Jam 6," katanya serak. Suaranya masih berat. "Meeting jam 9."

"Demam Bapak udah turun," kataku cepat. Ngecek pake punggung tangan. "38. Aku buatin bubur ya. Sama teh anget."

Aku buru-buru keluar. Pipiku kebakar. Malu banget. Gimana jelasin ke Bu Yati kalau semalem tidur di kamar Tuan.

Pas di dapur, Bu Yati udah nunggu sambil masak. "Gimana Nduk? Tuan kenapa?"

"Demam Bu. Tapi udah mendingan. Tadi malem 39."

Bu Yati senyum lebar. "Tuh kan. Akhirnya ada yang jagain Tuan juga. Dari 5 tahun terakhir gak ada yang berani masuk kamar dia pas sakit."

Aku cuma manggut. Masak bubur ayam suwir. Pesen gofood es krim cokelat. "Buat penurun panas," kataku.

Jam 7.30. Aku anterin ke kamar. Arka udah duduk. Pakai kemeja putih tapi kancingnya kebuka 2. Rambutnya masih basah.

"Pak, makan dulu," kataku.

Dia liat bubur. Terus liat aku. "Kamu semaleman gak tidur?"

"Gak apa-apa Pak. Saya biasa begadang."

Arka narik nafas. "Duduk. Makan bareng."

Kami makan dalam diam. Cuma suara sendok. Tapi rasanya... gak canggung.

*JAM 8 PAGI - DI MOBIL*

Arka maksa nyetir sendiri. "Aku gak mau supir. Pusing."

Sepanjang jalan dia diem. Sesekali batuk. Sampai lampu merah.

"Kemarin," katanya tiba-tiba. "Makasih udah jagain."

Aku kaget. "I-iya Pak. Sama-sama. Itu tugas saya."

"Tangan kamu," katanya. Matanya lirik ke tanganku di pangkuan. "Kapalan. Merah."

Aku nunduk. "Biasa Pak. Kerjaan rumah."

Sampai kantor, Natasha udah nunggu di lobby lagi. Kali ini bawa map merah + 2 cup kopi mahal.

"Ark, ini data merger," katanya manja. "Sama kopi kesukaan kamu. Kita meeting bareng ya? Di ruang kamu aja."

Arka liat aku sekilas. Terus jawab dingin. "Meeting sama direksi jam 9. Kamu tunggu di ruang tamu lantai 2. Sekretarisku yang urus."

Natasha cemberut. Pas lewat aku, dia bisik lagi. Bau parfumnya nyengat. "Tangan kamu kenapa merah-merah? Habis gandengan ya semalem? Sama siapa? Sama Tuan?"

Aku langsung diem. Muka kebakar. Jalan cepet ke pantry.

*JAM 12 SIANG - RUANGAN ARKA*

Aku anterin makan siang. Bubur ayam + es krim. Pesanan Arka semalem.

Arka lagi nelpon. Bahas merger. Nadanya tegas. CEO banget. "Gak bisa. Harga segitu kemahalan. Turunin 8%."

Pas nutup telpon dia ngeliat aku. Matanya lelah tapi tajam. "Sini."

Aku taro nampan. Gemetar.

"Duduk," perintahnya.

Aku duduk di kursi tamu. Jarak 2 meter. Jaga jarak.

Arka ngeluarin kotak P3K dari laci. "Siniin tangan kamu."

Aku kaget. "Hah?"

"Tangan kamu lecet. Kompres semalem kelamaan. Pasti perih."

Dengan hati-hati dia ngolesin salep di punggung tanganku. Gerakannya pelan. Fokus. Hangat.

Ini pertama kalinya Arka nyentuh aku dengan sengaja. Bukan gak sengaja.

"Udah," katanya. "Jangan bilang siapa-siapa. Nanti dikira aku pilih kasih."

Aku manggut. "Baik Pak."

Dia bersandar. Melepas kacamata. Pijit pelipis. "Aira... soal Natasha. Dia bohong. Aku nikahin kamu bukan buat bikin dia cemburu."

Aku nahan napas. "Lalu buat apa Pak?"

Arka diam lama. Matanya ke jendela. Pemandangan kota. "Karena di kontrak ada pasal 9. Kalau aku gak nikah tahun ini, perusahaan ayah diambil alih om. Dan... karena aku gak mau nikah sama dia. Dia matre. Dia cinta harta aku, bukan aku."

_Deg_

"Jadi saya pilihan terakhir?" tanyaku kecil. Sakit.

Arka menoleh. Matanya serius. Gelap. "Bukan. Kamu pilihan satu-satunya yang gak nuntut apa-apa. Yang tulus. Yang pas aku demam, gak nanya 'asuransi kamu apa'. Tapi nanya 'Bapak mau bubur apa'."

Air mataku jatuh. Gak bisa ditahan.

"Kerja," katanya buru-buru. Nutup pembicaraan. Tapi pipinya... agak merah. Dia batuk buat nutupin.

*JAM 6 SORE - DI MOBIL PULANG*

Sepanjang jalan pulang masih hening. Tapi beda. Gak setegang pagi.

Tiba-tiba Arka buka suara. "Mau makan apa?"

Aku kaget. "Eh? Bebas Pak."

"Bubur lagi?"

Aku manggut. "Iya. Ngidam."

Dia pesen gofood di lampu merah. 2 mangkok bubur ayam komplit + es krim + buah potong.

"Buat besok pagi," katanya. "Sama buat kamu. Biar gak pingsan."

Aku menatap profilnya. Tegas. Tapi kenapa rasanya... ada celah. Retakan kecil.

*JAM 11 MALAM - RUMAH*

Aku gak bisa tidur. Ngidam lagi. Tapi bukan bubur. Bukan es krim.

Pengin kepastian. Pengin tau Arka mikir apa.

Pas buka pintu, lagi-lagi ada nampan di depan pintu. Bubur ayam. Es krim cokelat. Teh hangat. Roti. Dan obat penurun panas.

Dan note baru tulisan tangan Arka. Rapi banget:

_“Jangan dipikirin omongan orang. Kamu bukan pelampiasan. Kamu tanggung jawab aku. Dan... istirahat. Jangan begadang jagain aku lagi. -A”_

Tanganku gemetar megang kertas itu. "Tanggung jawab" kata itu bikin dada anget.

Dari balik pintu kecil itu, aku denger suara Arka batuk. Pelan. Terus batuk lagi.

Tanpa mikir panjang, aku nekat. Pegang gagang pintu kecil itu. Pelan.

Klik.

Gak dikunci.

Tangan ku gemetar.

Jantung rasanya mau copot.

Pintu itu terbuka pelan... berderit.

Kamar Arka gelap. Cuma ada lampu meja yang redup. Wanginya sama... wangi parfum woody yang selalu dia pake.

Arka duduk di sofa, tanpa kemeja. Cuma pake kaos dalam hitam dan celana training. Laptop masih nyala di meja. Di tangannya ada gelas air putih yang belum disentuh. Wajahnya agak pucat.

Dia menoleh pas denger suara pintu. Alisnya nyatu.

"Kamu ngapain?" Suaranya serak. Kayak baru bangun atau habis batuk.

Aku langsung panik. Lutut lemes. "S-saya... haus Pak. Mau ambil air. Takut lewat depan... jadi lewat sini."

Alasan paling jelek sedunia.

Arka diam. Menatapku dari atas ke bawah. Bajuku masih daster hamil. Rambut acak-acakan. Mata sembab.

Lalu dia berdiri. Mendekat. Jarak kami cuma 1 langkah. Aku bisa ngerasain panas tubuhnya.

"Gak sopan masuk kamar laki-laki jam segini," bisiknya. Tapi gak marah. Khawatir. "Badan kamu masih lemes. Tadi begadang."

Aku mau mundur. Tapi dia duluan yang nutup pintu kecil itu dari belakangku. Klik.

"Besok bilang ke Bu Yati. Suruh taruh air di kamar kamu," katanya pelan. Tangannya ngambilin gelas air dari meja, terus disodorin ke aku.

Jari kami bersentuhan pas aku nerima gelas itu. Hangat. Kulitnya kasar.

"Minum. Terus tidur. Kalau demam aku kambuh lagi, panggil aku. Jangan diem."

Aku mengangguk. Keluar dari kamarnya sambil nahan napas. Pipiku panas.

Di dalam hati... kenapa rasanya anget banget ya dada ini. "Tanggung jawab" katanya.

*JAM 12 MALAM*

Setelah keluar dari kamar Arka, aku langsung lari ke kamarku.

Duduk di lantai. Peluk lutut.

Jam 12 malam. HP ku bunyi. Nomor tidak dikenal.

_Tok tok_

Bukan telpon. Pesan WA.

*"Aira? Ini Bu Ratna. Mama Arka."*

Jantungku copot. Mama mertua? Yang katanya tinggal di Singapura?

*"Besok jam 10 pagi kamu ke rumah ya. Kita ngobrol. Sendiri. Tanpa Arka tau."*

Aku ngetik. Hapus. Ngetik lagi.

"Baik Bu. Alamatnya dimana?"

*"Villa Arka Residence Blok A1. Satpam udah aku pesen. Dateng ya. Penting."*

HP jatuh dari tanganku.

Mama Arka mau ketemu? Soal apa? Soal pernikahan kontrak? Soal Natasha?

Aku gak bisa tidur semalaman.

*JAM 9 PAGI - VILLA ARKA RESIDENCE*

Rumahnya gede banget. 3 lantai. Kolam renang. Taman. Satpam 4 orang.

Bu Ratna duduk di ruang tamu. Umur 50an. Elegan. Dandan. Tapi matanya tajam. Mirip Arka.

"Duduk," katanya. Tanpa senyum.

Aku duduk paling ujung. Kaku. "Selamat pagi Bu."

"Langsung aja ya," Bu Ratna buka map. "Ini perjanjian pernikahan kalian. 1 tahun. 5M. Aku udah baca."

Aku langsung nunduk. Malu. "Iya Bu."

"Natasha itu anak teman arisan aku. Keluarga baik. Setara. Cantik. Pinter. Kenapa Arka malah milih kamu? Asisten rumah tangga? Hamil di luar nikah?"

Setiap kata nusuk. "Saya... saya tidak hamil di luar nikah Bu. Saya--"

"Udah. Aku gak peduli," potongnya. "Yang aku mau cuma 1. Setelah kontrak selesai, kamu pergi. Jangan harap harta Arka sepeserpun."

Dia dorong amplop cokelat ke aku. "Ini 50 juta. Buat kamu mulai hidup baru. Anggap aja pesangon."

Tanganku gemetar megang amplop itu. 50 juta. Buat nyuruh aku pergi.

"Tapi Bu... Arka belum--"

"Arka itu anakku," katanya tegas. "Aku yang tau apa yang terbaik buat dia. Natasha udah balik. Mereka akan balikan. Dan kamu, jangan ganggu."

Air mataku jatuh. Gak bisa ditahan. "Baik Bu."

Aku berdiri. Membungkuk. Keluar dengan kaki lemes.

Di mobil ojek, aku nangis sejadinya. 50 juta. Harga diri aku 50 juta.

*JAM 1 SIANG - KANTOR ARKA CORP*

Aku langsung ke kantor. Wajah sembab. Mata bengkak.

Pas masuk ruangan Arka, dia langsung berdiri. "Kamu dari mana? Kenapa telat? Kenapa nangis?"

Aku kaget. Dia notice? "Saya... saya ke pasar Pak. Beli bahan."

"Bohong," katanya. Dia jalan ke arahku. "Mata kamu merah. Siapa yang nyakitin kamu?"

Aku geleng. "Gak ada Pak. Saya kecolongan bawang."

Arka diem. Menatapku 10 detik. Terus dia ngeluarin tisu. Ngusap air mataku pelan.

"Jangan bohong sama aku," bisiknya. "Aku bisa liat."

Aku langsung pecah. Cerita semuanya. Dari WA Bu Ratna sampai amplop 50 juta.

Wajah Arka langsung berubah. Datar. Marah. Dingin level kutub utara.

"Dimana amplopnya?" tanyanya.

"Di tas saya Pak."

"Kasih."

Aku kasih. Arka buka. Isinya 50 juta cash. Dia langsung sobek. 2. Semua.

"Aku bukan barang yang bisa dibeli 50 juta," katanya pelan. Tapi nadanya ngebunuh. "Dan kamu bukan pelampiasan. Kamu istri aku."

Dia nelpon. "Bu. Ke kantor saya sekarang. 15 menit."

*JAM 1.30 SIANG - RUANGAN ARKA*

Bu Ratna datang. Kaget liat aku di situ.

"Bu," kata Arka. Datar. "Kenapa ibu temuin istri saya tanpa sepengetahuan saya?"

Bu Ratna kaget. "Istri? Kontrak kan?"

"Di mata hukum dia istri saya," jawab Arka. "Dan ibu gak ada hak ngusir dia."

Bu Ratna menatap aku sinis. "Dia yang godain kamu ya?"

"Tidak," potong Arka cepat. "Saya yang minta dia nikah. Saya yang butuh dia. Bukan dia yang butuh saya."

Hening.

"Kalau ibu sayang sama saya," lanjut Arka. "Hargai pilihan saya. Kalau tidak, saya yang pindah dari rumah itu."

Bu Ratna langsung diem. Wajahnya kaget. "Arka... kamu berubah."

"Iya Bu. Karena dia," Arka nunjuk aku. "Dia yang ngajarin aku kalau tanggung jawab itu bukan cuma di kertas."

Bu Ratna keluar. Ngeloyor. Marah.

Pintu ketutup. Tinggal kami berdua.

Arka langsung lemes. Pegang meja. "Sialan. Pusing."

Demamnya kambuh. 38.5

Aku langsung panik. "Pak duduk. Aku ambilin air."

Aku nyuapin Arka obat. Nyuapin bubur. Ngompres lagi. Di ruangan kantor.

Jam 5 sore. Arka tidur di sofa ruangan. Aku duduk di lantai. Kepala di sandaran sofa. Jagain.

Tiba-tiba tangan Arka turun. Mencari. Lalu genggam tanganku lagi.

Dalam tidurnya dia bisik. "Jangan pergi ya..."

Aku nangis. Tapi kali ini nangis bahagia.

*JAM 9 MALAM - DI RUMAH*

Arka udah baikan. Demam turun.

Kami makan malam bareng di meja. Bu Yati senyum-senyum liatin.

"Besok kita ke dokter ya," kata Arka. "Cek kandungan kamu. Sekalian cek aku."

"Baik Pak."

"Dan," Arka menatapku. "Mulai besok kamu pindah ke kamar sebelahku. Pintu kita tembusin. Biar gampang kalau ada apa-apa."

Aku kaget. "Pak itu--"

"Itu perintah," potongnya. Tapi kali ini ada senyum tipis. "Pintu kita udah bocor, Aira. Gak usah ditutup lagi."

Malam itu aku tidur nyenyak pertama kali dalam 3 bulan.

Karena aku tau... tembok es Arka udah bener-bener bocor.

Dan yang bikin bocor bukan Natasha. Bukan kontrak.

Tapi aku.

*BERSAMBUNG KE BAB 6 : "DEMI KAMU"*

---

*CATATAN PENULIS* ✍

Makasih udah sabar nungguin ya min!

*ISIAN BAB 5:*

Jagain Arka demam semaleman + genggam tangan

Dikonfrontir Bu Ratna + dikasih 50 juta

Arka sobek uang + belain "dia istri saya"

Arka ngaku "aku yang butuh dia"

Pindah kamar tembus

*VOTING BAB 6 WAJIB!!!*

A. *"DEMI KAMU"* \= Arka kecelakaan kecil, Aira yang rawat di RS 3 hari

B. *"NATASHA NGERUSUH"* \= Natasha sebar foto Aira + Arka ke media

C. *"KONTRAK MAU HABIS"* \= Tinggal 30 hari, Arka ajak Aira kencan beneran

Komen A/B/C + VOTE ⭐ 4K ya! Kalau tembus Bab 6 aku up adegan Arka cium kening Aira pas demam 🔥

Makasih udah baca sampe akhir! Love you readers 🤍

- _Penulis: Askara Senja_ -

---

1
Nureliya Yajid
Lanjut thor 👍
Nureliya Yajid
Lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!