NovelToon NovelToon
GODJEK

GODJEK

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Harem
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lihazel

Seorang driver ojol tampan tapi bernasib sial mendapatkan sistem aplikasi "Godjek" misterius, di mana setiap orderan absurd dari pelanggan cantik memberinya hadiah kekuatan aneh yang bikin geleng-geleng kepala.

Bertahun-tahun lalu, sebelum jadi ojol, Raka memiliki seorang adik perempuan yang sangat dia sayangi. Suatu hari, adiknya memesan ojek online malam-malam untuk pulang. Raka yang saat itu sibuk, tidak bisa menjemputnya sendiri.

Malam itu, ojol yang ditumpangi adiknya mengalami kecelakaan fatal.
Kata-kata terakhir adiknya di telepon sebelum kecelakaan adalah: "Mas, aku udah jalan ya, ojolnya baik banget." Raka tidak pernah memaafkan dirinya sendiri. Dia menjadi ojol yang baik untuk "menebus Dosa" dan penyesalan di dasar hatinya setelah adiknya pergi untuk selama-lamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lihazel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Reuni Hangat Dua Hati yang Terabaikan

Deru silinder tunggal mesin Honda Supra Fit tahun 2006 milik Arya Prasetya membelah keheningan sisa malam di kawasan Tambora dengan ketukan yang begitu presisi, halus, dan stabil. Getaran rantai roda yang biasanya mengeluarkan bunyi derit murah kini seolah diredam oleh lapisan energi tak kasat mata yang terus dipancarkan oleh Sistem Godjek. Di atas jok kulit tiruan yang salah satu sudutnya dilapisi lakban hitam erat-erat, Arya duduk tegak dengan jaket premium Anti-Gosong Indestructible berwarna hijau-perak yang memancarkan kilau satin lembut di bawah temaram lampu merkuri jalanan.

Jika ada mata awam yang memandang dari kejauhan, kontras visual yang tersaji di sepanjang gang sempit itu benar-benar akan menghancurkan nalar sehat. Garis rahang Arya yang tegas, tatapan sepasang mata elangnya yang tajam namun meneduhkan, serta postur tubuh bidangnya yang tegap sempurna sangat layak disandingkan dengan aktor papan atas yang biasa memuncaki tangga popularitas. Namun, semua karisma tingkat tinggi itu dibalut oleh kenyataan bahwa ia adalah seorang pengemudi ojek online yang sedang bersiap menjemput rezeki subuh di atas motor bebek tua yang spakbor belakangnya sedikit miring.

"Masuk aja, Bang Jay, Dedi," kata Arya akhirnya dengan nada suara yang tenang namun penuh penekanan emosional, menatap dua seniornya yang masih terkagum-kagum melihat kemewahan pangkalan baru mereka. "Anggap aja ini rezeki halal anak sholeh buat pangkalan kita. Tapi ingat, meskipun tempatnya sudah nyaman dan pakai AC, jangan sampai kalian malah malas-malasan narik penumpang. Performa harian kita harus tetap stabil 100 persen. Dan satu lagi... kalau sebentar lagi ada orang-orang necis yang dateng bawa makanan aneh-aneh, kalian makan aja dengan tenang, tapi jangan pernah buka rahasia soal masa kecil gua ke mereka, paham?"

"Siap, Arya! Laksanakan!" sahut Bang Jay dan Dedi serempak dengan posisi hormat komando yang sangat heboh.

Arya menarik tuas kopling gaibnya perlahan, membiarkan Supra Fit-nya melaju membelah jalanan ibu kota demi mencari orderan pertamanya subuh ini. Di dalam hatinya, ia tahu betul bahwa navigasi hidupnya ke depan tidak akan pernah sama lagi. Namun, sebelum ia sempat memikirkan taktik persaingan antara Citra Kirana sang ratu CEO dan Nadia Anastasia si supermodel mewah, layar God-Phone 13 Pro Max gaib yang terpasang di stang motornya mendadak bergetar hebat.

Pendaran cahaya ungu keperakan yang mistis memancar dari layar, disusul oleh suara denting sistem yang begitu familier namun selalu berhasil membuat bulu kuduknya merinding.

TING-TONG!

[NOTIFIKASI SISTEM: FITUR BARU TERBUKA!]

[Fitur Intelijen Asmara (Radar Navigasi Hati - Tingkat 1) Telah Diaktifkan Secara Otomatis!]

Prinsip Kerja: Sistem akan mendeteksi keberadaan target VIP wanita yang memiliki ikatan baper emosional di atas 85% dengan Driver dalam radius 5 kilometer. Jalur navigasi ojol akan otomatis diarahkan untuk menyeimbangkan distribusi asmara kasta tertinggi agar ulasan Bintang 5 Kelap-Kelip tidak mengalami inflasi.

Arya ternganga di balik kaca helm INK bututnya yang penuh goresan. Di dalam benaknya, sebuah krisis eksistensial yang luar biasa hebat kembali meledak.

"Sistem bajingan!" umpat Arya dalam hati, meratapi hilangnya sisa-sisa logika kewarasan dunia yang ia miliki. "Gua ini cuma mitra ojol reguler yang mau nyari duit buat beli beras sama minyak goreng ibunya di rumah, bukan agen rahasia interpol urusan percintaan! Apa-apaan ini pake ada distribusi asmara segala? Memangnya perasaan cewek bisa dibagi-bagi kayak pembagian kupon sembako di kelurahan Tambora?!"

Meskipun hatinya bergejolak penuh kepanikan, tuntutan profesionalisme demi mempertahankan reputasi akunnya membuat Arya tetap menggenggam erat stang motornya. Tepat pada saat itu, sebuah titik koordinat darurat berkedip di layar ponsel dewa miliknya, memproyeksikan ikon stetoskop emas kecil di daerah Salemba, tepat di depan salah satu rumah sakit pendidikan terbesar di Jakarta.

TING-TONG!

[ORDERAN KHUSUS MASUK!]

Nama Penumpang: Alya Nindita (Mahasiswi Kedokteran UI - Tingkat Kebaperan: 92%).

Lokasi Penjemputan: Koridor Barat RS Cipto Mangunkusumo.

Catatan Penumpang: "Tolong cepat ya Bang... saya habis jaga malam di IGD 24 jam, capek banget dan angkutan umum belum ada yang lewat."

Melihat nama itu, memori Arya langsung terlempar pada kejadian beberapa waktu lalu, saat ia menerobos barikade tawuran warga yang brutal demi menyelamatkan seorang gadis suci berwajah malaikat. "Alya?" gumam Arya pelan. Tanpa berpikir dua kali, jiwanya langsung disinkronkan oleh sistem untuk menarik tuas gas Supra Fit-nya kuat-kuat. Motor bebek tua itu melesat stabil dalam kecepatan tinggi, membelah kabut tipis sisa polusi udara Jakarta Pusat.

Sesampainya di koridor barat rumah sakit, suasana subuh yang dingin dan sepi menyelimuti lobi utama. Di atas salah satu kursi tunggu panjang berbahan besi, duduk seorang gadis muda yang mengenakan jas putih khas dokter muda (co-ass) yang sedikit kusut. Meskipun lingkaran hitam tipis akibat kurang tidur menghiasi bagian bawah matanya, kecantikan alami Alya Nindita sama sekali tidak memudar. Rambut hitamnya dikuncir kuda dengan menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah ovalnya yang bersih seputih porselen.

Alya mengembuskan napas panjang, menatap layar ponselnya dengan cemas. Namun, keheningan subuh itu tiba-tiba dipecahkan oleh suara deru mesin motor yang sangat halus, bulat, dan berwibawa. Ketika ia mendongak, matanya langsung melebar sempurna.

Di depannya, sebuah motor Supra Fit 2006 berhenti dengan presisi tinggi. Sang pengendara membuka kaca helmnya, menampilkan struktur wajah yang begitu maskulin, dengan garis rahang tegas dan tatapan mata elang yang langsung meruntuhkan seluruh rasa lelah yang menggelayuti tubuh Alya selama dua puluh empat jam terakhir.

"Dengan Nona Alya Nindita? Orderan atas nama Mas Arya?" tanya Arya dengan suara berat yang dipenuhi kelembutan seorang pria matang.

"Kak... Kak Arya?!" bisik Alya dengan suara yang bergetar karena baper tingkat tinggi. Jantungnya mendadak berdebar kencang sehangat kepiting rebus, melupakan fakta bahwa ia baru saja menghadapi tumpukan tugas analisis anatomi tubuh manusia yang melelahkan. "Ini beneran Kak Arya? Aku... aku gak lagi mimpi karena halusinasi kurang tidur, kan?"

Arya memberikan senyuman terbaiknya—senyuman jantan alami yang sanggup membuat pertahanan hati gadis mana pun runtuh dalam sekejap. Ia turun dari motornya dengan gerakan efisien, langsung mengambil alih tas ransel besar milik Alya yang berisi buku-buku kedokteran tebal. "Bukan mimpi, Nona Alya. Driver ojol pribadi Anda selalu aktif dan siap melayani kapan saja. Silakan dipakai helmnya."

Arya menyerahkan sebuah helm cadangan yang mendadak berubah menjadi bersih, higienis, dan memancarkan wangi mint segar berkat fitur sterilisasi otomatis sistem. Alya menerima helm itu dengan tangan yang sedikit gemetar, memakainya dengan perasaan emosional yang meluap-luap. Ketika ia menaiki jok belakang motor bebek tersebut, aroma khas tubuh Arya—perpaduan sabun batang murah yang segar dan aroma maskulin alami seorang pekerja keras—langsung menyerbu indra penciumannya. Tanpa ragu, Alya mengunci kedua lengannya di pinggang tegap Arya, menyembunyikan wajahnya yang merona merah di balik punggung lebar sang ojol tampan.

"Pegang yang erat, Neng. Navigasi subuh ini mungkin agak sedikit berangin," kata Arya keren, menyalakan kembali mesin motornya.

Supra Fit itu bergerak membelah aspal jalanan Salemba menuju arah kediaman Alya di Kebayoran Baru. Di sepanjang jalan, Alya merasa dunia yang tadinya penuh tekanan dan kompetisi akademis yang kejam mendadak berubah menjadi sangat damai. "Kak Arya..." bisik Alya di sela-sela embusan angin pagi. "Makasih ya, udah jemput aku. Jujur, setelah kejadian tawuran waktu itu, aku selalu kepikiran tentang Kakak. Aku... aku takut gak bisa ketemu Kakak lagi karena kesibukan kuliah klinikku."

Arya yang mendengar monolog emosional itu hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal menggunakan tangan kanannya yang sedikit bebas dari stang. Di dalam hatinya, ia berbisik dengan tingkat ketidakpekaan asmara yang sangat tinggi. "Aduh, ini anak kedokteran kenapa malah baper begini subuh-subuh? Padahal gua cuma jalanin tugas biar rating bintang gua gak turun ke level neraka jahanam. Kalau dia tahu tarif argo subuh ini cuma lima belas ribu, apa dia masih bakal se-terharu ini?"

Namun, kedamaian perjalanan romantis slow-burn itu tidak bertahan lama. Ketika motor Arya melintasi kawasan Senayan, tepat di dekat area luar Stadion Utama Gelora Bung Karno, layar God-Phone-nya kembali menyala dengan warna neon merah merona yang sangat mengintimidasi.

TING-TONG!

[PERINGATAN PROTOKOL DARURAT: MISI BERGANDA TERDETEKSI!]

Target VIP 2 Berada Dalam Jarak Interseksi 50 Meter!

Nama: Tiara Puspita (Atlet Lari Nasional - Tingkat Kepuasan Masa Lalu: 100%).

Status: Sedang mengalami krisis fisik akibat kram otot kaki akut saat latihan maraton subuh.

Instruksi Misi: Berikan bantuan moral dan fisik segera menggunakan Skill Karbo-Kinesis atau Stamina Kuda Sembrani yang tersisa. Kegagalan menolong akan memicu pengurangan poin God-Pay sebanyak 300.000 poin!

"Hah?! Tiara?!" Arya membelalakkan matanya terkejut. Pandangan mata elangnya yang sangat tajam langsung menyapu trotoar luas di sekitar pagar luar GBK. Benar saja, di bawah pohon pelindung jalan yang rindang, tampak seorang gadis jangkung dengan pakaian olahraga (sport bra dan legging ketat) berwarna hitam yang menonjolkan bentuk tubuhnya yang atletis, padat, dan proporsional.

Gadis itu adalah Tiara Puspita, atlet lari kebanggaan nasional yang dulu pernah ia selamatkan dari kejaran paman oportunisnya menggunakan mode "Bebek Terbang" menembus langit Sudirman. Saat ini, Tiara sedang terduduk di atas pembatas jalan sambil memegangi betis kanan kirinya dengan wajah yang meringis menahan sakit yang luar biasa. Keringat bercucuran membasahi tubuhnya, membuat beberapa helai rambut pendeknya menempel erat di kening.

Tanpa memedulikan etiket ojol konvensional, Arya langsung mengarahkan motornya ke pinggir trotoar dan mengerem dengan presisi tinggi.

"Nona Tiara!" seru Arya sambil menurunkan standar samping motornya dengan satu sentakan kaki yang mantap.

Mendengar suara yang sangat ia kenali dalam mimpi-mimpi indahnya belakangan ini, Tiara Puspita mendongak dengan sisa-sisa kekuatannya. Begitu melihat sosok pria gagah berjaket hijau-perak mengkilap di depannya, matanya yang tajam khas seorang sprinter seketika berbinar penuh rasa tidak percaya.

"Ar... Arya?!" pekik Tiara dengan nada suara yang campur aduk antara rasa sakit, terkejut, dan gelora asmara yang mendadak meledak di dadanya. "Kamu... kok bisa ada di sini? Kaki aku... kaki aku mendadak kram parah, kaku banget gak bisa digerakin. Padahal besok pagi aku harus ikut seleksi final pelatnas..."

Alya Nindita yang masih duduk di jok belakang motor merasa dekapannya terlepas. Ia segera turun dari motor, menatap gadis atlet di depannya dengan dahi yang berkerut halus. Sebagai seorang mahasiswi kedokteran yang dilatih untuk responsif terhadap kondisi darurat medis, naluri klinisnya langsung bergejolak. Namun, di sisi lain, naluri kewanitaannya merasakan ada percikan ancaman asmara kasta tinggi yang sangat pekat di udara.

"Kram otot akut karena asam laktat yang menumpuk terlalu cepat," ucap Alya secara profesional, melangkah mendekati Tiara sambil meneliti posisi kaki sang atlet. "Jangan dipaksa meluruskan kakinya sendiri secara mendadak, itu bisa bikin cedera robek otot ligamen."

Tiara menatap Alya dengan pandangan menyelidik yang penuh kewaspadaan khas seorang atlet papan atas. "Kamu... siapa? Kenapa kamu bisa bareng sama Arya subuh-subuh begini? Dan... kenapa kamu meluk pinggang dia tadi?" tanya Tiara dengan nada ketus yang menyembunyikan rasa cemburu terselubung yang sangat mendalam.

Alya tidak mau kalah. Ia menegakkan tubuhnya, membetulkan letak kerah jas putih dokternya dengan keanggunan seorang putri akademis. "Aku Alya, pasien... maksudku, aku penumpang langganan khusus Kak Arya. Kak Arya yang udah menyelamatkan nyawaku dari bahaya. Dan sebagai calon dokter, aku cuma mau bantu mengobati kram kaki kamu."

Suasana di pinggir trotoar Senayan subuh itu mendadak dipenuhi oleh keheningan yang luar biasa syahdu sekaligus mencekam. Dua wanita paling menakjubkan di bidangnya masing-masing kini saling berhadapan, memancarkan aura persaingan asmara terselubung yang sanggup membakar aspal Jakarta. Aliansi tak resmi di antara para heroine lama kini resmi memasuki babak baru yang penuh dengan intrik persaingan yang tak terhindarkan!

Arya yang berada di tengah-tengah benturan kosmik dua dewi tersebut merasa fungsi fisiknya kembali setengah lumpuh karena kebingungan. Di dalam batinnya, ia meratapi nasibnya yang malang. "Aduh, ini kenapa malah jadi ajang debat kedokteran vs ilmu keolahragaan di pinggir jalan sih?! Lu berdua kalau mau berantem soal otot jangan bawa-bawa gua dong! Saldo God-Pay gua taruhannya ini!"

TING-TONG!

[FITUR INTEGRASI AKTIF: GUNAKAN SKILL KARBO-KINESIS UNTUK MENGURANGI KADAR ASAM LAKTAT PADA TARGET VIP 2!]

Mendapat petunjuk dari sistem, Arya segera mengambil langkah taktis. Ia berlutut di depan Tiara dengan gerakan yang sangat jantan dan penuh wibawa maskulin alami. "Nona Tiara, tolong tenang dan percaya sama saya. Nona Alya, tolong bantu pegangi pundaknya agar dia tetap rileks," instruksi Arya dengan suara berat yang dipenuhi kewibawaan moral seorang pria matang.

Arya memfokuskan tatapan matanya pada betis kencang milik Tiara. Lewat kekuatan Karbo-Kinesis yang dipinjamkan sistem, ia memanipulasi energi kalori dan mengurai penumpukan zat kimia sisa pembakaran otot di kaki Tiara secara instan. Tangan kokoh Arya memijat lembut pergelangan kaki Tiara dengan kehangatan energi sistem yang mengalir konstan.

"Hahhh..." Tiara mendesah pelan dengan suara serak yang sangat menggoda iman, matanya tampak sedikit berair karena rasa sakit yang mendadak menguap digantikan oleh sensasi nyaman yang luar biasa besar. Rasa hangat yang menjalar dari tangan Arya membuat seluruh pertahanan batin sang atlet nasional runtuh total. Benih-benih cinta dan rasa keterikatan baper yang dulu sempat tertanam kini tumbuh semakin subur dan menggurita di dalam hatinya.

Alya Nindita yang melihat proses "pengobatan mistis" itu terbelalak tidak percaya. Sebagai mahasiswi kedokteran yang menjunjung tinggi logika sains, apa yang disaksikannya benar-benar menghancurkan nalar sehatnya. "Bagaimana mungkin... pijatan sederhana tanpa alat fisioterapi bisa mengurai spasme otot secepat itu?" batin Alya dengan dada yang bergemuruh hebat karena takjub sekaligus cemburu melihat kedekatan fisik Arya dengan Tiara. Di matanya, Arya bukan lagi sekadar driver ojol biasa, melainkan sosok ksatria pelindung penuh misteri yang dikirim oleh alam semesta.

Setelah beberapa saat, Arya berdiri kembali dengan senyum lebar yang sangat menyegarkan, mengusap dahi bidangnya. "Gimana, Nona Tiara? Sudah bisa digerakin kakinya?"

Tiara mencoba menggerakkan kakinya, melompat kecil di atas trotoar, dan mendapati kekuatannya telah pulih 100 persen, bahkan terasa jauh lebih bugar dari biasanya berkat sisa energi Stamina Kuda Sembrani milik Arya yang ikut tersalurkan. "Arya... ini keajaiban! Kaki aku udah gak sakit sama sekali!" Tiara langsung maju selangkah, hendak memeluk tubuh tegap Arya demi meluapkan kegembiraannya.

Namun, dengan sigap, Alya Nindita melangkah maju di antara mereka, menghalangi pergerakan Tiara dengan senyuman manis yang penuh dengan intrik persaingan kasta tertinggi. "Wah, syukurlah kalau sudah sembuh. Tapi sebagai tindakan preventif medis, sebaiknya kamu jangan terlalu banyak bergerak dulu hari ini agar performa otot kamu tetap stabil."

Tiara menghentikan langkahnya, menatap Alya dengan binar mata yang memancarkan percikan perang dingin perebutan hati sang driver tampan. "Makasih atas masukannya, Calon Dokter. Tapi sebagai atlet, aku tahu betul batas kemampuan fisik tubuhku sendiri."

Arya Prasetya yang melihat kedua wanita elit tersebut saling melempar pandangan penuh arti hanya bisa menggaruk kepalanya kembali. Ketidakpekaan asmaranya yang luar biasa tinggi membuatnya menutup insiden subuh ini dengan kalimat komedi slow-burn yang sangat merusak suasana romantis.

"Aduh, alhamdulillah kalau semuanya sudah aman dan sehat walafiat," ujar Arya dengan wajah tanpa dosa yang sangat menawan. "Kalau begitu, karena tugas darurat saya sudah selesai dan performa harian saya subuh ini harus tetap stabil, saya mohon izin untuk melanjutkan pengantaran Nona Alya. Takutnya Ibu saya di rumah keburu nungguin beras di pasar grosir buat jualan nasi timbel nanti siang. Nona Tiara, kalau mau pulang, hati-hati di jalan ya. Jangan lupa kasih ulasan Bintang 5 kelap-kelip lewat aplikasinya!"

Tanpa menunggu balapan kata-kata atau tanggapan lebih lanjut dari kedua wanita yang masih terpaku menatap karismanya, Arya segera memakai kembali helm INK bututnya, menyalakan mesin Supra Fit-nya yang menderu halus, dan bersiap melaju membelah jalanan ibu kota yang kian benderang oleh sinar matahari terbit.

TING-TONG! [MISI DARURAT GANDA SELESAI DENGAN EVALUASI SEMPURNA!]

Ulasan Bintang 5 Berhasil Diraih dari Alya Nindita & Tiara Puspita!

Poin God-Pay Tambahan: +350.000 Poin.

Status Hubungan Terbuka: Aliansi Reuni Dua Hati Tingkat 1 Aktif.

Di sudut trotoar Senayan, Alya Nindita yang kembali naik ke jok belakang dan Tiara Puspita yang berdiri menatap kepergian mereka di pinggir jalan, sama-sama memegang dada mereka yang masih berdebar kencang. Di dalam hati masing-masing, sebuah komitmen jangka panjang telah terkunci rapat untuk memonopoli waktu dan memenangkan hati sang driver ojol legendaris dari gang sempit Tambora! Panggung komedi romantis penuh intrik absurd di aspal Jakarta kini resmi memasuki babak yang jauh lebih panas, rumit, dan sama sekali tidak terduga oleh logika manusia biasa!

1
Panggil Zain Aja
bolelah, karakter sampingan aja punya nuansa yang hidup👍
Lihazel: makasih ka, kalo berkenan boleh kasih review nya juga ka, supaya makin semangat updatenya ☺️
total 1 replies
Panggil Zain Aja
ganti nama jir
Panggil Zain Aja
asli, kalau lo nahan biar ga keluar dari ni novel. SERU BANGET ANJER😹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!