Di dunia di mana para penyihir saling pamer ledakan dan mantra panjang, Kaelen Vance mantan pakar cybersecurity yang bereinkarnasi menjadi putra bangsawan miskin memilih menjadi anomali yang tak terlihat. Melihat sihir kuno tak lebih dari sistem jaringan yang penuh celah keamanan, Kael dengan sengaja memasukkan "kode rusak" pada ujian masuk Akademi Sihir. Tujuannya satu: dibuang ke Kelas F, sebuah gedung tua dengan sistem keamanan magis kedaluwarsa yang menjadi titik buta sempurna untuk meretas arsip kerajaan.
Publik mencapnya sebagai "Sampah Akademi". Mereka tidak tahu bahwa Kael tidak butuh merapal mantra; ia menyimpan struktur sihir di otaknya secara permanen layaknya NVRAM, dan menggunakan cincinnya sebagai router untuk meretas dan membelokkan serangan musuh di udara. Kael tidak butuh validasi atau menjadi pahlawan—ia menghancurkan musuhnya secara diam-diam dari balik layar.
Namun,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YANDRI HS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 26: Protocol Handshake
Cakrawala pagi di atas Akademi Sihir Aethelgard membentang bersih tanpa sehelai awan pun, memancarkan bias cahaya biru muda yang menyatu sempurna dengan pendaran stabil dari jaringan *Ley Lines* global. Dari balik jendela kamarnya yang sempit di Kelas F, Kaelen Vance memandang lurus ke arah garis cakrawala terjauh—titik di mana batas terluar peta dunia digitalnya bersinggungan dengan bentangan lautan luas yang belum terpetakan.
Di sebelah Kael, Elara Vane melipat kedua tangannya di dada, matanya mengikuti arah pandangan sang arsitek jaringan. Udara pagi terasa begitu sejuk, membawa serta ketenangan mutlak yang belum pernah dirasakan oleh dunia sihir selama ratusan tahun sejarah peradaban mereka.
"Kau serius dengan rencana ekspansi itu, Kael?" tanya Elara pelan, memecah kesunyian ruangan. Suaranya tidak lagi menyiratkan keraguan, melainkan antisipasi yang mendalam. "Membuka jalur komunikasi dan memperluas jaringan ke seberang lautan... itu bukan sekadar memperbarui server lokal. Itu berarti kita akan menyentuh peradaban asing yang mungkin memiliki sistem sihir, bahasa, dan protokol keamanan yang sama sekali berbeda dari kita."
Kaelen Vance tidak langsung menjawab. Ia berbalik perlahan dari jendela, melangkah kembali ke meja kayunya yang bersih dari perkamen-perkamen kacau masa lalu. Ia duduk tegak di kursinya, lalu meletakkan tangan kanannya di atas permukaan meja. Cincin perak di jari telunjuknya berdenyut pelan, memancarkan garis-garis data tiga dimensi yang kini menampilkan peta makro dunia secara utuh—bukan hanya Kerajaan Aethelgard atau reruntuhan Valoria, melainkan benua-benua lain yang selama ini terisolasi dalam kegelapan geografis.
"Perbedaan protokol bukanlah hambatan struktural, Elara," jawab Kael dingin, suaranya mengalir tenang bagaikan instruksi sistem yang dieksekusi tanpa cela. "Dalam arsitektur jaringan global, komunikasi lintas wilayah yang berbeda hanya membutuhkan satu hal: sebuah standar *Protocol Handshake* yang universal."
Kael mengetukkan jarinya di atas meja. Layar proyeksi di udara memperbesar salah satu titik koordinat di seberang lautan barat—sebuah wilayah kepulauan luas yang ditandai dengan ikon node mati berwarna abu-abu.
"Wilayah itu—yang dalam catatan arsip kuno disebut sebagai Kepulauan Meridian—terisolasi dari daratan utama karena runtuhnya jembatan magis purba dua abad lalu," lanjut Kael. "Akibat isolasi tersebut, peradaban di sana mengalami kemunduran teknologi sihir. Mereka terpecah menjadi faksi-faksi kecil yang saling berperang memperebutkan sisa-sisa sumber daya *mana* yang semakin menipis."
Elara mendekati meja, mengamati titik kepulauan abu-abu tersebut dengan saksama. "Mereka hidup dalam konflik berkelanjutan karena tidak memiliki sistem distribusi energi yang terpusat dan efisien?"
"Tepat," balas Kael. "Mereka mengalami apa yang disebut sebagai *Network Partition*—kondisi di mana bagian-bagian dari jaringan terputus dari server pusat, menyebabkan kegagalan sinkronisasi dan konflik internal yang tidak berkesudahan. Mereka tidak butuh invasi militer, dan mereka tidak butuh penaklukan kekuasaan konvensional. Yang mereka butuhkan adalah integrasi node."
Kael mengangkat tangan kanannya, membiarkan cincin peraknya memancarkan pendaran biru yang semakin terang. Garis-garis cahaya data mulai merentang dari pelabuhan barat Aethelgard, melintasi bentangan lautan luas, menembus gelombang badai magis, dan mendekati kepulauan terpencil tersebut.
"Kita tidak akan menunggu mereka datang atau meminta bantuan," ucap Kael mutlak. "Kita akan mengirimkan paket data uji coba pertama—sebuah sinyal *Handshake* global yang menawarkan integrasi, kestabilan, andal, dan efisiensi mutlak kepada peradaban di seberang lautan."
Kael menekan tombol eksekusi terakhir pada proyeksi digitalnya.
*Initiating cross-continent handshake...*
*Target: Meridian Archipelago (Node M-01).*
*Broadcasting synchronization signal.*
Seketika perintah itu dikirimkan, seutas garis cahaya biru yang sangat terang melesat menembus batas cakrawala, meninggalkan jejak kilau data yang membelah langit pagi Kerajaan Aethelgard.
Jauh di seberang lautan luas, di tengah kegelapan malam yang masih menyelimuti Kepulauan Meridian, menara-menara suar kuno yang telah mati selama ratusan tahun mendadak berkedip menyala dalam pendaran biru yang damai. Para penduduk lokal di pulau-pulau tersebut terperanjat, keluar dari rumah mereka dengan ketakutan dan takjub, menyaksikan langit malam mereka diterangi oleh cahaya pembaruan yang datang tanpa suara.
Kembali di ruangannya, Kaelen Vance menarik napas perlahan, menurunkan tangannya. Status global pada layar konsol kini menunjukkan bentangan jaringan yang jauh lebih luas, merangkul dunia dalam satu kesatuan logika yang utuh.
"Sinyal telah dikirim," kata Kael dingin, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang penuh kepastian. "Proses *Handshake* sedang berlangsung. Dunia baru saja bersiap untuk terhubung kembali."