Kanara gadis berusia 27 tahun dengan penampilan cupu, pulang ke kampung halamannya sebagai cara untuk melarikan diri dari rasa sakit akibat dikhianati kekasihnya yang merupakan aktor papan atas. Ia bersumpah untuk menolak cinta, tetapi takdir justru mempermainkannya. Nara terjebak dalam pernikahan kilat dengan Sagara, seorang pemuda asing berpenampilan berandal yang datang ke desanya.
Menghadapi Nara yang menutup rapat hatinya, Sagara justru hadir membawa sejuta kejutan yang menjungkirbalikkan dunia gadis itu. Kini, Nara dihadapkan pada pilihan sulit. Sanggupkah ia membuka lembaran baru dan menerima kehadiran Sagara di hidupnya? Ataukah Nara akan memilih melangkah mundur, membiarkan dirinya tenggelam dalam rencana besar untuk membalas rasa sakit hatinya pada sang mantan?
📌 Update setiap hari! Jangan lupa pasang notifikasi dan masukin ke library kalian ya! 😉✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anvika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Apakah Ini Cinta
Mendapat pertanyaan mendadak itu, manik mata Sagara seketika bergerak liar. Pria itu tiba-tiba terpaku.
Ada apa denganku? Kenapa aku bersikap seberlebihan ini? Kenapa aku langsung panas jika ada pria lain yang memandang dan mendekati Nara? batinnya berkecamuk, mempertanyakan tindakannya yang mendadak aneh dari biasanya.
"Aa, kok malah bengong?" Nara menggerakkan telapak tangannya di depan wajah Sagara untuk menyadarkannya, namun tidak berhasil. Setelah Nara mengguncang bahunya pelan, barulah pria itu bereaksi.
Sagara memandangi Nara, cukup lama. Ia menatap wajah ayu di depannya yang polos tanpa polesan kosmetik.
Tanpa keinginannya, jantungnya berdesir secara berbeda, dua kali lebih cepat dari biasanya. Sagara belum tahu rasanya jatuh cinta? Namun, apakah seperti ini gejalanya?
Pria itu menggeleng pelan, berusaha menguasai diri sebelum menjawab pertanyaan Nara.
"Hari ini lumayan berat, aku sepertinya kelelahan. Jadi emosiku kurang stabil dan gampang marah. Maaf kalau membuatmu tidak nyaman," ujarnya.
Sagara sadar bahwa dirinya baru saja melanggar kesepakatan pernikahan mereka karena tidak menjawab dengan jujur. Namun, ia butuh waktu untuk memastikan perasaannya terlebih dahulu sebelum berterus terang.
Mengingat momen-momen belakangan ini ... kebiasaannya yang suka menjahili Nara, perdebatan-perdebatan kecil mereka, hingga ketertarikan fisik yang berusaha ia tahan semampunya, ternyata pelan-pelan menciptakan perasaan baru.
Niat awalnya yang hanya ingin menjaga dan membuat Nara nyaman sebagai bentuk tanggung jawab seorang suami—terlepas dari bagaimana pernikahan mereka terlaksana—kini menjadi sesuatu yang bersiap mekar menjadi cinta.
Benarlah kata kakeknya, cinta itu memang tidak bisa dipahami. Ia bisa datang tanpa diinginkan, bahkan tanpa disadari.
Mendengar penjelasan Sagara, Nara mengurungkan niat untuk mengajaknya bicara lebih jauh.
"Kalau begitu simpan ponselnya, beristirahatlah." Nara mengambil ponsel dari tangan Sagara lalu meletakkannya di atas meja nakas samping tempat tidur.
Lampu kamar kemudian ia matikan, menyisakan cahaya bulan yang menyelinap di sela-sela jendela, membuat pencahayaan kamar berubah remang-remang.
Sagara menuruti ucapan Nara. Ia merebahkan diri dan menarik selimut hingga sebatas dada. Begitu pula dengan Nara. Keduanya berbaring terpisah oleh bantal guling yang dijadikan sebagai pembatas.
Keheningan malam dengan cepat menguasai kamar tersebut.
Sampai lima belas menit berlalu ...
"Nara. Kenapa waktu itu kamu mengatakan tidak akan pernah mencintaiku?" Meskipun ditanyakan dengan suara pelan, pertanyaan Sagara terasa menggema di seisi kamar yang sunyi.
Tidak ada sahutan, apalagi jawaban. Sagara menoleh ke samping dan mendapati Nara ternyata sudah tertidur pulas. Pria itu menghela napas pendek, lalu kembali menatap langit-langit kamar yang gelap.
Jujur saja, ia tidak mudah dekat dengan perempuan kecuali ibu dan adiknya. Dan sekarang Nara adalah perempuan pertama yang tidak hanya dekat, ia juga merasa nyaman dengannya.
***
Sagara menutup pintu kulkas tak kala tidak menemukan bahan makanan yang bisa dimasak untuk sarapan pagi ini, lemari pendingin itu telah kosong melompong menyisakan dua buah wortel yang mulai bertunas.
"Bahan makanan yang tersisa sudah habis ku masak untuk kemarin malam, A," ucap Nara yang muncul dari lorong dapur, lalu berjalan menuju teko untuk menuangkan segelas air putih.
"Kalau begitu ayo kita belanja ke pasar, sekalian cari sarapan di luar," ajak Sagara.
Nara langsung menyetujui saran tersebut. "Ya sudah, aku siap-siap dulu."
Siap-siap yang di maksud Nara adalah pergi mengenakan jaket dan mengambil kantong belanja kain untuk menyimpan belanjaan mereka nanti.
Sagara tidak perlu menunggu lama seperti stereotip perempuan pada umumnya saat hendak bepergian.
Namun, alis Sagara sedikit mengernyit tak kala melihat rambut panjang Nara yang hanya dicepol asal memperlihatkan leher jenjangnya.
Beberapa helai anak rambut yang lolos melambai-lambai di sekitar pelipis—yang malah membuat wajah gadis itu terlihat semakin cantik.
Nara menatap kepergian Sagara dengan kening berkerut bingung. Ia mengangkat bahu, lalu memilih duduk di sofa ruang tamu.
Beberapa saat kemudian, Sagara kembali dengan sebuah sisir di tangannya. Tanpa meminta persetujuan lebih dulu, pria itu mendekat, melepas ikat rambut Nara, dan mulai menyisir rambut panjang gadis itu dengan saksama dan hati-hati.
"Eh?" Nara refleks menoleh, membuat gerakan tangan Sagara sedikit terganggu.
"Tetaplah menghadap ke depan, supaya aku mudah menyisir dan mengikat rambutmu," ujar pria itu memberi instruksi.
"Tapi kenapa? Apa rambutku terlalu berantakan? Kalau iya, aku bisa menyisirnya sendiri. A, biar aku—"
"Diamlah, ini hampir selesai," potong Sagara tegas. "Nah, sudah. Simpulnya tidak terlalu kencang, kan?" Sagara menundukkan setengah badannya lalu menoleh tepat di samping wajah Nara untuk memastikan hasil ikatannya.
Nara yang merasakan pergerakan itu refleks ikut menoleh.
Gerakan spontan tersebut membuat wajah keduanya kini berhadapan dalam jarak yang sangat dekat.
"Hm, ya. Aman," ujar Nara kaku. Nada suaranya mendadak canggung akibat kedekatan posisi mereka yang tidak terduga ini.
"Hm, syukurlah." Sagara kembali berdiri tegak, menjauhkan wajahnya. "Aku hanya tidak ingin anak rambutmu mengganggu pandangan nanti saat kita berkendara," kilas pria itu, sengaja mencari alasan logis demi menutupi alasan yang sebenarnya.
Padahal ia tidak ingin leher Nara terlalu terekspos sehingga ia mengikatnya menjadi ekor kuda yang tidak terlalu tinggi, helai-helai rambutnya yang melambai sebelumnya malah membuat Nara terlihat cantik sekaligus sexy di saat bersamaan.
Dan Sagara tidak ingin orang lain menikmati hal tersebut. Cukuplah dirinya, hanya dirinya seorang. Karena bagaimanapun, sekarang ia adalah suami dari Nara.
"Ya, terima kasih, A. Ternyata Aa pandai juga mengikat rambut. Apa karena sering melakukannya?" seloroh Nara seraya melirik rambut gondrong Sagara yang pagi ini juga sudah terikat rapi.
Sagara hanya mengedikkan bahu sekilas. "Ya, mungkin begitu."
"Oh ya, A. Kemarin aku pinjam motormu. Maaf baru bilang sekarang, karena kemarin urusannya sangat mendesak," ucap Nara dengan gurat bersalah di wajahnya.
Sagara sama sekali tidak keberatan soal motornya, melainkan fokusnya pada satu hal. "Ke mana?" tanyanya, sengaja mengalihkan pandangan dan berpura-pura sibuk agar rasa ingin tahunya tidak terlalu kentara.
"Ke jalan besar, mengambil buku titipan temanku," jawab Nara, juga menjelaskan tujuannya sebelum pria itu kembali bertanya.
Sagara membulatkan mulutnya membentuk huruf O, lalu mengangguk singkat. Ia kemudian memberi isyarat agar mereka segera berangkat.
"Pakai motorku saja ya, biar ada tempat untuk menaruh belanjaan di gantungan depan," pinta Nara. Beruntung, kemarin ia sempat mengisi penuh tangki bahan bakar motor maticnya.
Sagara mengangguk setuju. "Ya sudah, ayo."
Motor matic tersebut di starter, mesinnya menderu-deru saat Sagara memanaskannya. Saat selesai, pria itu memberi gerakan isyarat agar Nara naik ke boncengan.
"Pegangan," pinta Sagara sebelum menjalankannya motor.
"Aku bisa pegangan di belakang, A. Jalan aja," balas Nara.
Sagara mendengus dan tanpa berkata-kata, pria itu menarik pergelangan tangan Nara untuk memeluk pinggangnya.
"Apa lagi yang harus dikhawatirkan, semua warga sudah tahu kalau kita ini suami-istri. Tidak akan ada yang berani mengusik."
Nara pasrah, malas juga berdebat dengan Sagara pagi-pagi yang sifat menyebalkannya mulai kembali, padahal tadi malam amat menentramkan karena dia yang kalem tidak banyak tingkah. Jadi, ia mengiyakan saja. Bahkan dengan sengaja mengeratkan pelukannya agar pria itu tahu rasa.
Walaupun sesak, Sagara sama sekali tidak mempermasalahkannya. Malah menyunggingkan senyumannya.
"Wah, mentang-mentang sudah punya istri. Nyengir mulu kerjaannya sekarang!" ucap Zaki yang niat awalnya menikmati udara pagi, kini harus terpaksa melihat kemesraan bosnya dengan istri.
***
Bersambung ...
Yang perna merasakan jatuh cinta, silakan dijelaskan ke Bambang Sagara 🤭💘
cukup layani suamimu, hormati, jaga dari pelakor
dijamin bucin tuh Aa saga
lanjut kak 😍/Coffee//Rose/
lanjut kak
wuih bau baunya ibu mertua bakal ketagihan masakan nara nih
lanjut kak 😍/Coffee//Rose/
mereka dekat dengan cara yg lucu
makasih upnya kak😍/Coffee//Rose/
dan suami juga seneng
hati hati menhaga istri ya sagara
lanjut /Coffee//Rose/
balas dendam yg elegan dengan suami sah ya nara
yg akhirnya tumbuh rasa cinta
lanjut kam
hayo pilih mana kak othornya
atau jangan jangan nanti pas gara pulang dari kantor melihat nara naik motor sagara
lanjut kak 😍
libatkan sagara semua akan bere
lanjut kak😍
tenang aj bang... nara juga mulai suka lho..
lanjut A saga ma neng nara
semangat kak😍