NovelToon NovelToon
Nikah Kilat Dengan CEO Berandal

Nikah Kilat Dengan CEO Berandal

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anvika

Kanara gadis berusia 27 tahun dengan penampilan cupu, pulang ke kampung halamannya sebagai cara untuk melarikan diri dari rasa sakit akibat dikhianati kekasihnya yang merupakan aktor papan atas. Ia bersumpah untuk menolak cinta, tetapi takdir justru mempermainkannya. Nara terjebak dalam pernikahan kilat dengan Sagara, seorang pemuda asing berpenampilan berandal yang datang ke desanya.

Menghadapi Nara yang menutup rapat hatinya, Sagara justru hadir membawa sejuta kejutan yang menjungkirbalikkan dunia gadis itu. Kini, Nara dihadapkan pada pilihan sulit. Sanggupkah ia membuka lembaran baru dan menerima kehadiran Sagara di hidupnya? Ataukah Nara akan memilih melangkah mundur, membiarkan dirinya tenggelam dalam rencana besar untuk membalas rasa sakit hatinya pada sang mantan?

📌 Update setiap hari! Jangan lupa pasang notifikasi dan masukin ke library kalian ya! 😉✨

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anvika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 Kamu Cantik

Pulang dari rumah, Nara bergegas untuk membersihkannya. Ia terlalu terburu-buru hingga rumah ditinggal dalam keadaan kotor, piring dan sisa alat masak ibunya pun belum sempat dicuci.

"Makan dulu, nanti aku bantu bersihkan." Sagara sudah menyendok nasi untuk dirinya dan Nara. Di atas meja sudah ada lauk masakan ibu mertuanya yang sengaja disisihkan untuk dimakan sendiri.

"Hoho, benarkah?" Nara duduk di kursinya, ia menuangkan air minum untuk Sagara, lalu dirinya.

"Seorang pria tidak pernah mengingkari perkataannya," ujar Sagara menepuk dada kirinya, menunjukkan kesungguhan.

"Oh ya?" salah satu alis Nara terangkat, tidak percaya tentu saja. "Buktinya banyak pria di luaran sana yang mengingkari perkataannya. Janji, omong kosong!" ujarnya menggebu.

Kini giliran Sagara yang mengangkat alis. "Woah, tampang Anda sepertinya adalah salah satu korban, Nona," ujar pria itu berkelakar saja, menunjuk Nara dengan sendoknya. Tapi diluar ekspektasi pria itu, reaksi gadis dihadapan menjadi diam, termenung. "Ouh, sepertinya benar." Sagara melipat bibir ke dalam.

"Memang benar kan, mereka selalu mengingkari perkataannya sendiri!" Nara menyedok nasi, memasukan ke dalam mulut. Mengunyah penuh minat, seolah tengah mengoyakkan sesuatu yang membuatnya tidak senang.

"Mm-mm-mm." Sagara menggeleng. "Jangan samakan pria brengsek itu dengan ku, Nona. I'm Sagara Radetya Adhiyaksa, pria yang penuh pesona dan tentu juga bermartabat. Selalu menepati perkataannya, apalagi janji yang telah dibuat. Jadi, kamu tidak perlu khawatir."

Nara sontak memutar bola mata mendengar pria itu menyombongkan diri sendiri. Ada ya, pria senarsis ini. Tapi lupakan itu, ia lebih tertarik dengan kalimat terakhirnya yang tidak sinkron itu. "Memangnya aku menghawatirkan apa?" tanya Nara menjeda sejenak suapannya.

"Tentu saja menghawatirkan mendapatkan suami seperti pria yang kamu bicarakan itu, karena aku telah menjadi suamimu. Jadi, bersyukurlah." Pria itu menunjukkan giginya yang rapi, tersenyum lebar.

"Heh!"

***

Nara dan Sagara beristirahat sejenak setelah menyantap sarapan mereka, setelahnya keduanya membersihkan rumah.

"Kamu pilih yang mana? Membersihkan dapur, cuci piring, buang sampah, atau bersihin kamar, ruang tamu sama halaman depan?" tawar Nara. Sagara tampak menimbang.

"Harus pel juga, kalau pilih membersihkan kamar dan ruang tamu?" tanya pria itu. Ia benci mengepel karena ganggangnya yang pendek membuat harus menunduk. Ngepel di kamar kosan yang kecil saja membuatnya muak, apalagi kamar dan ruang tamu. Pinggangnya bisa encok, apalagi dirinya yang jarang olahraga di sini.

"Ya, tentu saja. Membersihkan dapur juga nanti harus ngepel," jawab Nara.

Sagara mendengus, ngepel hanya di dapur lebih baik daripada ngepel kamar dan ruang tamu yang lumayan luas. "Oke, aku pilih bersihin dapur."

Nara tampak berseri-seri. "Beneran?" tanyanya memastikan. Ia sendiri tidak terlalu suka mencuci piring. Sagara mengangguk mengiyakan. "Cuci sama peralatan masak yang ibu pake tadi pagi juga?"

"Iyaaa, Kanara ... 'kan semua bagian dapur." Helaan napas jengah pria itu terdengar. Nara terkekeh saja sebagai tanggapan.

"Setuju." Keduanya pun mulai mengerjakan bagian masing-masing.

Satu jam telah berlalu, Sagara menyelesaikan pekerjaannya, begitu pula dengan Nara. Sagara masuk ke kamar untuk mengambil handuk dan baju gantinya, berniat untuk membersihkan diri. Rasanya panas dan gerah.

Di dapur ia bertemu dengan Nara yang tengah minum. Mata gadis itu terbelalak melihat persiapan Sagara, padahal ia berniat mandi lebih dulu. Tubuhnya juga sangat lengket. "Mau apa?!" ia merentangkan tangan, menahan Sagara menuju kamar mandi.

"Tentu saja mandi, kamu tidak lihat aku bawa handuk sama baju ganti." Sagara mengibas handuknya di depan wajah Nara.

Gadis itu tampak terdiam sejenak, memikirkan alasan agar ia mandi terlebih dahulu. "Siapa yang mandi duluan di antara kita, dia yang akan membersihkan kamar mandi. Kamu tahukah, kamar mandi belum di bersihkan." Nara menyunggingkan senyum dengan alasannya. Menaik-turunkan alis, ia yakin sekali Sagara akan mengalah.

Namun yang terjadi, pria itu malah menyunggingkan senyum. "Kata siapa kamar mandi belum dibersihkan? Aku sudah membersihkan. Jadi boleh mandi duluan, kan?! Uhh ... gerah, panas. Tolong jangan halangi jalan." Pria itu tersenyum jumawa tak kala wajah Nara pias.

"Benarkah?"

"Lihat saja sendiri, kalau tidak percaya." Sagara merangkul bahu Nara yang berubah lemas menuju kamar mandi untuk mengeceknya sendiri. Nara yang tak lagi bersemangat mengikutinya saja.

"Kan, aku tidak bohong. Kamar mandinya sudah bersih."

Nara mengangguk lemas. "Tidak bisakah aku saja yang duluan mandi?" pintanya dengan wajah memelas.

Sagara mengangguk, menciptakan harapan untuk Nara. Tapi ketika mulut pria itu berbicara, rasanya Nara ingin menaboknya. "Bisa, asalkan aku juga berada di dalam sana. Jadi sekalian kita mandi bersama, aku sama sekali tidak masalah." Senyumnya.

"Di mimpi, mu!!!" Nara mendengus, melangkah menjauh dari kamar mandi. Kekehan Sagara mengiringi langkahnya. "Dasar pria menyebalkan!" rutuk Nara melangkah cepat.

***

Kini Nara dan Sagara duduk di sofa ruang tamu. Rambut keduanya sama-sama terbungkus handuk. Nara menonton televisi dengan wajah cemberut, sedangkan Sagara memandangnya.

Wajah Nara yang seperti itu malah terlihat lucu di mata Sagara, ia sampai jarang berkedip saking intensnya menatap Nara. Wajah gadis ini polos saja, bibirnya yang sesekali maju entah menggumamkan apa terlihat lembut. Senyum Sagara tampak sadar terlukis.

"Kamu menatapku!" Nara menoleh tiba-tiba, memergoki aksi pria itu.

Senyum Sagara luruh, ia segera menoleh ke arah lain. "Tidak, siapa yang menatapmu." Sangkal Sagara menjadi kikuk.

"Ngaku! Jangan bohong. Kamu menatapku, kan?" Sagara masih menyangkal.

Nara meraih rahang Sagara, membuat pria itu menoleh ke arahnya. Tatapan keduanya menjadi bertemu. "Katanya seorang pria tidak pernah mengingkari perkataannya, tapi lihat sekarang, dia malah menyangkal tindakannya."

Sagara menangkap tangan Nara yang masih bertengger di rahangnya, membawa tangan mungil itu ke pipinya. "Aku memang menatap mu, apa tidak boleh?" Tatapan Sagara tidak berpindah. Malah lebih dalam, membuat gadis itu gugup.

"K-kenapa tadi menyangkal?" tanya Nara, terdengar seperti bentakan tertahan. Kegugupannya semakin menjadi saja, apalagi Sagara yang tidak ingin melepaskan tangannya.

"Kamu cantik!" ujar pria itu, meluncur begitu saja di bibirnya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia memuji wanita lain cantik selain ibunya.

Mata Nara membulat, menyentak tangannya dan berhasil terlepas. "Jadi maksud kamu, selama ini, kemari dan hari-hari yang lalu itu aku jelek?! Ya, benar sih. Kamu selalu menghinaku cupu. Penampilan ku memang begitu, aku tahu, tidak perlu kamu pertegas!" ujar Nara menggebu.

Sagara menepuk dahi, suasana yang awalnya tentram menjadi ambyar. Sagara menepuk sofa, bergeser lebih maju ke arah Nara sampai gadis itu terhimpit ke ujungnya. "Kalian para gadis kenapa sih?! Diberikan pujian, tapi kalian malah mengubahnya menjadi sebuah penghinaan."

Nara meneguk ludahnya susah, hidungnya dengan hidung Sagara hampir bersentuhan karena saking dekatnya jarak pria itu dengannya. "J-jadi, kamu pernah memberikan pujian pada gadis lain?!" Suara kecil Nara terdengar.

"Owhhh!" Sagara menjauhkan tubuhnya pada Nara. Gadis ini benar-benar ya! "Ternyata kalian juga suka mengalihkan pembicaraan!" Sagara kembali mendekat, dan malah menggelitik gadis itu.

"Sagaraaaa!!!" pekik Nara kegelian.

***

Bersambung ...

1
Maulidia Okta
wah karna ada uwak sakit, nara sama sagara pasti bisa lebih dekat lagi, udh kayak suami istri beneran...
Maulidia Okta
gitu donk yang akur dan mendekati mesra nick.....
Maulidia Okta
duh...mulau ada bau² kedekatan nich
Maulidia Okta
duh... enteng banget aa gara, ngomong ya....
Anvika: Iya, kaya ngajak main diaa🤭
total 1 replies
Maulidia Okta
suka cefitanya....
Anvika: Makasih kak😍🥰
total 1 replies
Maulidia Okta
nara ribet banget ya
Anvika: Heheh, memang ribet dia kak🤭
total 1 replies
fabdul
Walaupun tanpa cinta, tapi tetap berkomitmen 👍
Anvika: Setuju, kak😊
total 1 replies
fabdul
Mampir💪
Anvika: Siap, Kak. Semoga suka ceritanya 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!