Sìang itu pesawat Bomber Martin B-10 Belanda terbang rendah di langit RANCAGAOK
BOOOOM!!!
Cahaya putih menyilaukan membelah malam. Tanah terlempar ke udara. Atap rumah Pak Lurah terangkat lalu hancur berkeping-keping.
"Turun!" teriak Bayu.
Semua menjatuhkan diri ke tanah. Debu dan pecahan bambu menghujani punggung mereka. Bau mesiu dan kayu terbakar memenuhi udara.
*TAT... TAT... TAT...*
Suara tembakan dari udara menyisir tanah. Peluru menancap ke batang pisang dan pematang sawah. Bayu menarik Astri ke bawah parit.
Bayu, Karta, Ningsih, Astri bertekad untuk merebut kampung halaman mereka dari tangan belanda hanya bermodal tekad berjuang dan senjata seadanya.
Kisah perjuangan anak muda melawan penjajah, semoga jadi pengibar semangat anak muda Indonesia" MERDEKA"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 : MEMBANGUN PERTAHANAN
Fajar kembali menyingsing, membawa semangat baru setelah kepulangan Astri dan Ningsih dari Kamp Pengungsian Cikadu. Kabar tentang apa yang mereka pelajari di sana menyebar cepat, membawa harapan baru dan memperkuat keyakinan bahwa perjuangan ini bukan hanya tentang pertempuran, melainkan juga tentang ketahanan dan keberlangsungan hidup. Di tempat persembunyian utama, suasana pagi itu terasa lebih hidup dari biasanya, dipenuhi suara diskusi dan langkah kaki yang mantap.
"Kita akan membangun pertahanan yang lebih kuat, bukan hanya di tempat persembunyian ini, tapi juga di setiap jalur masuk menuju lembah," Bayu memaparkan rencananya di hadapan semua pejuang. Peta yang didapat dari rampasan Belanda terhampar di atas batu datar, ditimpa bebatuan kecil agar tidak terbang ditiup angin.
"Kapten Wirayuda sudah memberi petunjuk jelas, dan kita harus memanfaatkan setiap pengetahuan yang kita miliki."
Karta menunjuk ke arah peta. "Jalur sungai ini adalah yang paling sering mereka gunakan. Airnya dangkal, namun di sisinya banyak bebatuan besar dan tebing curam."
"Itu jalur yang sempurna untuk jebakan. Kita bisa menaruh tumpukan batu yang siap didorong, atau membuat parit sembunyi yang ditutupi ranting," usul Jaka Kelitik, matanya sudah membayangkan bentuk jebakan yang akan ia buat.
"Dan di bagian air yang dangkal, kita bisa menanam bambu runcing yang tajam di bawah permukaan air, tak terlihat dari atas."
Pak Somad, dengan pengalaman dan keahliannya, segera menyahut. "Kita bisa menggunakan sisa-sisa kayu dari rumah yang terbakar. Diikat kuat dengan rotan dan akar pohon, lalu diselipkan di antara bebatuan. Kalau disamarkan dengan lumpur dan dedaunan, pasti tak akan terlihat."
Embek Gombloh, dengan kekuatannya yang besar, menawarkan diri untuk mengangkut batu-batu besar dan balok kayu yang dibutuhkan. Dul Kalong dan Sukria, dengan keahlian mereka dalam mengintai dan menembak, ditugaskan untuk berjaga di titik-titik strategis yang bisa melihat pergerakan musuh dari jauh.
Sementara para pria sibuk merencanakan pembangunan pertahanan, Astri dan Ningsih tak mau kalah. Mereka segera mengumpulkan para wanita dan anak-anak yang lebih besar di area yang agak terpisah.
"Dari Cikadu, kami belajar bahwa menjaga kesehatan itu sama pentingnya dengan menjaga diri dari musuh," Astri memulai, suaranya tenang namun penuh wibawa.
"Kita akan membuat 'Dapur Umum' sederhana di sini. Memastikan semua orang mendapatkan makanan yang cukup, terutama anak-anak dan yang sedang sakit."
Ningsih mengeluarkan kantong berisi benih tanaman obat dari Bu Marsinah.
"Kita juga akan membuat 'Pos Perawatan' kecil. Semua daun dan akar yang sudah diajarkan Bu Marsinah, kita akan tanam di sini. Siapa tahu suatu saat kita bisa punya cukup untuk membuat obat-obatan sendiri."
Bu Siti, dengan pengalamannya yang sudah lama, segera setuju.
"Ide yang bagus, Nak. Selama ini kita hanya mengandalkan apa yang ada. Sekarang kita punya ilmu baru. Kita bisa mencari daun sirih lebih banyak, mengumpulkan kunyit dan jahe untuk menjaga daya tahan tubuh."
Nyi Mas Inten, yang biasanya lebih pendiam, kali ini ikut bersemangat.
"Aku tahu tempat di mana banyak tanaman obat liar tumbuh subur. Kita bisa mencarinya bersama."
Maka, dimulailah hari-hari penuh kesibukan di Rancagaok. Para pria siang malam sibuk membangun jebakan dan pertahanan. Mereka memasang jerat tali yang kuat, menggali parit sembunyi yang ditutupi ranting, dan menyusun batu-batu besar di tebing yang rawan longsor. Setiap detail dipikirkan matang-matang agar musuh tidak bisa masuk dengan mudah.
Di sisi lain, para wanita dan anak-anak sibuk dengan tugas mereka. Mereka mendirikan tiga tungku besar dari tanah liat untuk Dapur Umum, memastikan asapnya tidak terlihat dari jauh. Mereka memilah bahan makanan yang terkumpul, memasaknya dengan porsi yang pas agar semua kebagian. Astri dan Ningsih memimpin dengan penuh semangat, mengajarkan cara-cara baru yang mereka dapat dari Cikadu.
"Nasi ini harus dimasak sedikit lebih keras, Bu. Agar tidak mudah basi dan bisa disimpan lebih lama," kata Astri kepada Bu Siti.
"Dan air minumnya harus direbus sampai mendidih, agar tidak ada kuman yang menyebabkan sakit perut," tambah Ningsih sambil mengawasi beberapa anak kecil yang sedang mengambil air.
Setiap hari, setelah semua pekerjaan selesai, mereka berkumpul di satu tempat. Para pria menceritakan perkembangan pertahanan yang mereka bangun, sementara para wanita melaporkan tentang persediaan makanan dan kondisi kesehatan warga. Diskusi berjalan hangat, setiap masalah dipecahkan bersama, setiap ide didengarkan dengan baik.
Suatu malam, Bayu dan Karta sedang berpatroli di batas luar persembunyian. Bulan sabit bersinar redup di langit, menyinari samar-samar hutan yang sunyi.
"Aku tak pernah menyangka kita bisa sejauh ini, Karta," ucap Bayu pelan.
"Dulu kita hanya berpikir bagaimana caranya agar bisa selamat hari ini, besok, dan lusa. Sekarang kita sudah memikirkan bagaimana caranya agar generasi berikutnya bisa hidup tenang di tanah ini."
Karta mengangguk setuju. "Semua berkat Kapten Wirayuda. Dia bukan hanya mengajari kita cara bertempur, tapi juga mengajari kita bagaimana cara berpikir seperti seorang pemimpin."
"Dan Astri serta Ningsih. Apa yang mereka bawa dari Cikadu itu sangat berharga. Kesehatan dan makanan itu sama vitalnya dengan senjata. Kalau warga sakit dan kelaparan, percuma saja kita punya banyak senjata," tambah Bayu.
Mereka terus berjalan, memeriksa setiap jebakan yang sudah dipasang, memastikan semuanya berfungsi dengan baik. Di kejauhan, mereka bisa mendengar suara api kecil di Dapur Umum dan samar-samar suara Ningsih yang sedang mengajari beberapa wanita tentang tanaman obat.
Keesokan harinya, Wadana Raksapati datang kembali dari kota. Wajahnya tampak serius, namun ada secercah harapan di matanya.
"Ada kabar baik dan buruk," ujarnya begitu ia sampai di tengah perkumpulan.
"Kabar baiknya, Bupati Adiningrat sudah menyiapkan jalur aman untuk pengiriman bantuan logistik dari kota. Dia juga sudah menyiapkan beberapa orang kepercayaannya untuk membantu kita menyelundupkan barang-barang."
Semua bersorak pelan. Bantuan dari dalam kota adalah sesuatu yang sangat mereka butuhkan.
"Lalu kabar buruknya?" tanya Kapten Wirayuda.
"Mayor Van Der Hock sangat marah karena pasukannya berhasil kita hadang. Dia memerintahkan Kapten De Vries untuk memimpin pasukan yang jauh lebih besar. Mereka akan mencari kita sampai dapat, dan kali ini mereka tidak akan segan-segan untuk membakar seluruh hutan ini jika diperlukan," jawab Wadana.
"Ada sekitar delapan puluh prajurit, dan mereka akan membawa Tank FT-17 Renault serta sebuah Pesawat Pengintai Fokker C.V."
Suasana kembali hening. Angka delapan puluh prajurit, tank, dan pesawat pengintai adalah kekuatan yang sangat besar, jauh melebihi apa yang mereka punya.
"Kita sudah tahu mereka akan datang," kata Bayu, suaranya tenang.
"Dan kita juga sudah membangun pertahanan. Kali ini, kita tidak akan lari. Kita akan sambut mereka di tempat yang kita sudah siapkan."
Kapten Wirayuda menatap Bayu, matanya memancarkan kebanggaan.
"Kita tidak akan bertempur sendirian. Kita akan bertempur dengan akal, dengan keberanian, dan dengan persatuan. Ini bukan hanya pertempuran melawan Belanda, tapi ini pertempuran untuk membuktikan bahwa kita mampu berdiri di atas kaki sendiri."
Maka, persiapan dipercepat. Setiap pejuang Rancagaok tahu bahwa pertempuran besar sudah di ambang mata. Mereka mengasah bambu runcing, memastikan setiap jebakan terpasang sempurna, dan mengisi perut dengan makanan yang cukup.
Di Dapur Umum, para wanita berdoa dan menyiapkan bekal perang. Di Pos Perawatan, ramuan obat disiapkan untuk mengobati setiap luka yang mungkin terjadi.
Malam sebelum pertempuran, semua berkumpul dalam lingkaran besar. Mbah Kartareja memimpin doa, memohon restu leluhur dan kekuatan dari alam. Bayu berdiri di tengah, menatap satu per satu wajah yang ada di sana. Wajah-wajah yang dulu penuh ketakutan, kini memancarkan keteguhan yang tak tergoyahkan.
"Kita mungkin tidak punya senjata sebanyak mereka, tapi kita punya sesuatu yang lebih berharga: tanah ini, keluarga kita, dan keyakinan bahwa kita berjuang untuk kebenaran," ucap Bayu.
"Besok, kita akan tunjukkan kepada mereka, bahwa Rancagaok takkan pernah luntur!"