NovelToon NovelToon
Sumpah Yang Terlupakan Dari Sang Penjahat Wanita

Sumpah Yang Terlupakan Dari Sang Penjahat Wanita

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Fantasi Isekai
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: nadnote

Seorang wanita pekerja kantoran yang rasional bertransmigrasi ke dalam novel romansa tragis sebagai Geneviève de Montmirail, seorang putri Duke yang ditakdirkan dieksekusi karena cintanya yang gila dan obsesif kepada Duke muda, Lucien de Vaudémont.
​Bertekad untuk mematahkan bendera kematiannya (death flag), Geneviève memutuskan untuk menarik diri sepenuhnya dari kehidupan Lucien dan lingkungan istana yang beracun. Alih-alih mengejar cinta fana, ia menggunakan kecerdasannya dalam administrasi keuangan untuk memajukan wilayahnya dan membuka bisnis perhiasan yang mendobrak tren kekaisaran.
​Namun, sikap dingin Geneviève justru memicu retaknya "Sihir Putih" milik Putri Mahkota Camille, sang protagonis asli novel yang tampak suci namun bermuka dua. Saat Lucien mulai mengalami kilasan ingatan yang menyiksa tentang masa lalu yang tak pernah ia ketahui, Geneviève menemukan sebuah perhiasan rahasia peninggalan tubuh aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadnote, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prolog & Teh yang Terlalu Manis

"Nona, jika Anda mau menangis meraung-raung di depan kediaman Duke hari ini, tolong beri tahu saya lebih awal. Saya perlu waktu untuk menyumpal telinga saya dengan kapas."

​Suara ketukan cangkir porselen yang diletakkan secara kasar di atas nakas terdengar sangat nyaring. Bunyi itu terasa seperti hantaman godam di kepala Geneviève.

​Ia membuka matanya perlahan. Kelopak matanya terasa berat, bengkak, dan lengket. Saat pandangannya mulai fokus, hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit kamar berukir emas meliuk-liuk khas gaya barok. Matanya berkedip beberapa kali, mencoba memahami motif malaikat kecil di atas sana yang sedang meniup trompet. Ini jelas bukan plafon apartemen sewaannya yang bocor di ibu kota.

​Pandangannya perlahan turun, beralih pada sosok yang berdiri di samping ranjang. Seorang pelayan wanita berseragam hitam putih yang sedikit aneh. Bagian lengannya sengaja dibuat lebih longgar dari seragam pelayan pada umumnya. Pelayan itu sedang melipat tangan di depan dada, menatap Geneviève dengan sebelah alis terangkat tinggi. Tatapannya penuh penghakiman, seolah sedang melihat seekor serangga yang berguling-guling di lumpur.

​Geneviève berusaha duduk. Ia menahan erangan saat kepalanya berdenyut hebat. Pada detik itulah, sebuah memori yang bukan miliknya menghantam otaknya dengan kekuatan badai. Rentetan gambar bergerak cepat. Sebuah kekaisaran bernama Valerand. Ibu kota Lumière. Jalanan berbatu yang dipenuhi kereta kuda. Pesta dansa yang bising. Dan seorang pria berwajah dingin dengan kemeja kerah tinggi bernama Lucien de Vaudémont.

​Lalu, kepingan ingatan memalukan tentang seorang wanita bodoh yang menangis semalaman karena pria itu ikut bermunculan. Namanya Geneviève de Montmirail. Putri seorang Duke terpandang yang rela membuang harga dirinya hanya demi mengejar punggung seorang pria yang tidak pernah melihatnya.

​Geneviève menelan ludah. Ia tidak sedang bermimpi. Ia, seorang pekerja kantoran gila kerja yang meninggal dunia karena serangan jantung akibat lembur, kini terbangun di dalam novel romansa tragis yang pernah ia baca sebelum tidur. Dan dari semua karakter yang ada, ia harus masuk ke tubuh sang penjahat wanita. Karakter obsesif yang ditakdirkan mati dipenggal karena berani mengusik cinta suci antara Lucien dan sang protagonis asli, Putri Mahkota Camille.

​"Berapa banyak air mata yang mau Anda peras hari ini, Nona?" Pelayan itu bertanya lagi. Nada suaranya datar namun tajam menyengat. "Kemarin Anda sudah membanjiri kereta kuda dengan tangisan saat Tuan Duke Lucien menolak menerima kue buatan Anda. Kue yang, jujur saja, bentuknya lebih mirip batu bata yang dipanggang. Kuda penarik kereta kita saja tidak mau meliriknya."

​Geneviève menatap pelayan itu lekat-lekat. Namanya Odette. Ingatan tubuh ini mengonfirmasinya. Odette adalah pelayan dari kalangan rakyat jelata yang mulutnya lebih tajam dari pisau jagal. Satu-satunya orang yang tidak pernah menjaga sopan santun palsu di depannya.

​Rasa frustrasi langsung mendidih di dada Geneviève. Bukan karena ucapan kasar Odette, melainkan karena kebenaran dari ucapan itu sendiri. Ingatan tentang kelakuan tubuh aslinya ini benar-benar membuat harga dirinya sebagai wanita karir yang rasional meronta-ronta. Menangis di kereta? Membuat kue berbentuk aneh? Mempermalukan nama keluarga Duke Montmirail di depan umum demi seorang pria fiksi? Benar-benar sangat menyedihkan.

​"Beri aku tehnya, Odette," ucap Geneviève pelan. Suaranya terdengar serak, parau karena wanita bodoh ini terlalu banyak menangis tadi malam.

​Odette mendengus pelan. Ia mengambil cangkir dari nakas dan menyerahkannya dengan gerakan sedikit kasar. "Saya sudah menambahkan lima sendok gula seperti biasa. Sesuai selera Anda yang kekanak-kanakan. Mungkin bisa sedikit mengobati rasa pahit karena cinta yang bertepuk sebelah tangan. Walaupun saya sangat ragu, gula sebanyak apa pun tidak akan bisa menyembuhkan kebodohan."

​Geneviève tidak membalas sindiran itu. Kepalanya masih berputar merangkai semua kepingan ingatan dan plot novel yang ia ketahui. Ia meniup permukaan teh yang mengepul, lalu menyesapnya sedikit.

​Sesaat kemudian, ia terbatuk hebat. Matanya melotot tajam. Rasanya seperti menelan cairan tebu pekat yang direbus bersama karamel. Sangat manis sampai membuat tenggorokannya gatal dan giginya terasa linu.

​"Ini bukan teh," protes Geneviève sambil menjauhkan cangkir itu dengan ekspresi sangat jijik. Ia meletakkannya kembali ke atas nakas dengan bunyi berdenting keras. "Ini sirup gula yang diberi warna. Singkirkan benda ini. Buatkan aku teh hitam pekat. Tanpa gula. Tanpa susu. Dan tolong, pastikan airnya benar-benar mendidih."

​Odette terdiam sebentar. Tangannya yang bersedekap perlahan turun. Matanya memicing, menatap majikannya dari ujung kepala yang berantakan sampai ke ujung kaki yang menyembul dari balik selimut sutra. "Apakah penolakan dari keluarga Vaudémont kemarin akhirnya membuat lidah Anda rusak, Nona?"

​"Tidak," jawab Geneviève tegas. Ia menyibakkan selimut sutra tebal yang menutupi tubuhnya. Udara dingin kamar segera menyentuh kulitnya, namun ia mengabaikannya. Ia turun dari ranjang. Kakinya menapak di atas karpet Persia yang tebal dan lembut. "Penolakan kemarin akhirnya membuat otakku kembali berfungsi. Aku sudah selesai mengonsumsi racun manis ini."

​Odette menatapnya dengan raut wajah tidak percaya, namun tangannya tetap bergerak lincah. Pelayan itu mulai memunguti tisu dan sapu tangan basah yang berserakan di atas karpet. Bukti nyata dari drama tangisan semalaman yang memalukan.

​"Oh, sungguh sebuah keajaiban dari Dewi Cahaya," sindir Odette sambil melempar sapu tangan basah itu ke dalam keranjang cucian. "Jadi, apakah ini artinya Anda tidak akan mengirimkan patung lilin berbentuk hati ke kediaman Tuan Duke siang ini?"

​Langkah Geneviève terhenti mendadak. "Patung lilin?" Ia memijat pelipisnya dengan kuat. Ingatan memalukan lainnya kembali muncul menghantam kesadarannya. Rasa malu yang luar biasa hebat menyerang batinnya. Apakah wanita ini benar-benar tidak punya sisa harga diri sedikit pun? "Tolong katakan padaku kalau aku belum benar-benar memesan patung konyol itu, Odette."

​"Anda sudah memesannya tiga hari yang lalu, Nona. Harganya setara dengan gaji saya selama lima tahun. Pemahatnya bahkan bertanya apakah ia harus menambahkan ukiran puisi cinta Anda yang sangat, luar biasa membingungkan." Odette tersenyum miring. Senyum yang sangat menyebalkan untuk dilihat pagi-pagi begini. "Puisi yang berbunyi, Oh Lucien, cintaku padamu sepanas tungku besi, membakar kayu bakar di tengah badai salju."

​Geneviève memejamkan mata rapat-rapat. Ia menarik napas panjang. Kepalanya makin berdenyut hebat hingga rasanya ingin pecah. Ia benar-benar ingin mengubur dirinya sendiri di halaman belakang rumah kaca sekarang juga.

​"Batalkan pesanan itu," perintah Geneviève dengan nada dingin. Ia berbalik dan menatap Odette tajam. "Sekarang juga. Tarik kembali uang muka yang sudah dibayarkan. Jika pemahatnya menolak, suruh ksatria keluarga kita untuk memberinya sedikit teguran ramah. Gunakan alasan apa saja. Katakan padanya seleraku berubah mendadak."

​Odette berhenti memungut barang. Ia berdiri tegak dan menatap Geneviève dengan tatapan menyelidik yang intens. "Anda serius, Nona? Kemarin sore Anda mengancam akan menelan sebotol racun tikus jika patung itu tidak selesai tepat waktu."

​"Kemarin aku sedang sakit jiwa. Hari ini aku sudah sembuh," jawab Geneviève santai.

​Ia berjalan menuju meja rias yang terbuat dari kayu mahoni berukir rumit. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar berbingkai perak. Wajah yang terpantul di sana sangat luar biasa cantik. Memiliki aura aristokrat yang sangat kental. Rahang yang tegas, hidung bangir, dan bibir merah alami. Namun, sepasang matanya bengkak mengerikan. Rambutnya yang berwarna gelap berantakan seperti sarang burung gagak. Ia tampak persis seperti wanita gila yang kurang tidur.

​Mengapa wanita secantik ini, dengan status sosial yang begitu tinggi sebagai putri Duke, harus mengemis cinta pada seorang pria yang sudah jelas tidak memedulikannya?

​Memori Geneviève tentang alur novel mengingatkannya pada satu fakta pahit. Di cerita aslinya, pria itu memang tidak pernah menatapnya. Lucien adalah pemeran utama pria yang sangat dingin dan kaku. Pada akhirnya pria itu ditakdirkan jatuh ke pelukan Putri Mahkota Camille, sang protagonis wanita yang suci bak malaikat. Sementara Geneviève hanyalah batu sandungan. Seorang penjahat menyedihkan yang akan memfitnah Camille, lalu berakhir mati di tiang eksekusi karena cemburu buta.

​Bodoh. Sangat bodoh. Di kehidupan sebelumnya, Geneviève banting tulang siang dan malam hanya untuk membayar sewa apartemen. Sekarang ia memiliki kekayaan, kecantikan, dan kekuasaan keluarga Montmirail, lalu ia harus membuangnya demi seorang pria yang membencinya?

​Tidak akan pernah. Silakan saja Lucien beromantis ria dengan Putri Mahkota. Geneviève tidak peduli. Ia hanya ingin bertahan hidup, menghasilkan banyak uang, dan menikmati kehidupan mewahnya dengan tenang.

​"Odette," panggil Geneviève. Tangannya meraih sisir perak di atas meja dan mulai merapikan rambutnya yang kusut. "Berapa banyak uang yang sudah aku buang untuk mengejar Duke Vaudémont bulan ini saja?"

​Odette mendengus keras. Ia mulai menghitung dengan merentangkan jarinya satu per satu. "Mari kita lihat. Gaun baru bertatahkan mutiara untuk pesta minum teh musim panas, padahal Anda bahkan tidak diundang secara resmi. Tiga setel perhiasan berlian merah yang Anda paksa kirimkan sebagai hadiah ulang tahunnya, yang kemudian dikembalikan utuh keesokan harinya. Menyewa kelompok musisi jalanan untuk bernyanyi di bawah jendela kamarnya tengah malam, yang berujung pada penangkapan mereka oleh penjaga kota karena dianggap mengganggu ketertiban. Anda harus membayar uang tebusan dan suap untuk mereka semua."

​Geneviève menghela napas panjang. Sisir di tangannya berhenti bergerak. "Ada lagi?"

​"Tentu saja masih banyak, Nona," lanjut Odette tanpa ampun. "Belum lagi biaya tutup mulut yang sangat mahal untuk para wartawan koran harian ibu kota, agar mereka tidak menulis kelakuan memalukan Anda di halaman depan. Oh, dan Anda juga menyewa kereta kuda berlapis emas hanya untuk mondar-mandir sepuluh kali di depan Istana Soleil berharap Tuan Duke melihat Anda dari jendela markas ksatria."

​"Cukup, berhenti di situ." Geneviève mengangkat sebelah tangannya. Ia benar-benar tidak sanggup mendengar rincian memalukan lebih lanjut. Rasa frustrasi memuncak di dadanya. Dadanya sesak bukan karena patah hati, melainkan karena menyadari betapa hancurnya pengelolaan keuangan wanita ini. "Katakan padaku, berapa total estimasi pengeluaranku bulan ini dalam angka yang pasti?"

​"Kira-kira dua ratus ribu koin emas, Nona." Odette menjawab tanpa beban sedikit pun, sambil menepuk-nepuk debu dari celemek putihnya.

​Dua ratus ribu koin emas.

​Geneviève menahan napas. Tangannya mencengkeram tepi meja rias dengan sangat kuat sampai buku-buku jarinya memutih pucat. Ingatan otaknya otomatis menerjemahkan nilai uang tersebut. Dengan dua ratus ribu koin emas, ia bisa membeli separuh jalan utama kawasan komersial di ibu kota Lumière. Ia bisa membuka jalur perdagangan laut baru untuk wilayah Montmirail. Ia bisa berinvestasi di tambang permata dan melipatgandakan asetnya dalam setahun.

​Dan pemilik asli tubuh ini menggunakan uang sebanyak itu hanya untuk menyewa musisi jalanan dan membeli gaun norak? Ini adalah kejahatan finansial tingkat tinggi.

​Geneviève membalikkan badannya. Ia menatap pelayannya dengan ekspresi sangat serius, jauh lebih serius daripada yang pernah dilihat Odette seumur hidupnya.

​"Odette. Aku ingin kau pergi ke ruang kerja ayahku sekarang juga. Temui kepala pelayan atau akuntan keluarga kita. Bawakan padaku buku besar keuangan wilayah Montmirail untuk tiga tahun terakhir. Beserta rincian laporan pengeluaranku secara pribadi dan buku tabungan pribadiku."

​Odette mengerjap. Mulutnya setengah terbuka. Ini adalah pertama kalinya Geneviève melihat pelayan berlidah tajam itu benar-benar kehilangan kata-kata. Mata Odette membulat sempurna.

​"Buku besar keuangan?" Odette mengulangi kata-kata itu perlahan, seolah sedang mengeja bahasa kuno yang sudah lama punah. "Nona, apakah Anda yakin tidak sedang membentur sesuatu yang keras saat turun dari kereta kemarin sore? Atau mungkin Anda salah memakan jamur liar di taman? Anda biasanya mengeluh sakit perut jika melihat deretan angka yang lebih panjang dari jumlah jari tangan Anda."

​"Bawakan saja, Odette. Aku butuh bacaan ringan untuk menemani teh hitam pekat yang akan kau buatkan nanti," ucap Geneviève tenang, nadanya datar dan sama sekali tidak menerima penolakan.

​Odette masih berdiri mematung di tempatnya. Matanya memicing curiga, meneliti setiap inci wajah majikannya untuk mencari tanda-tanda kebohongan. "Anda tidak sedang merencanakan sesuatu yang ilegal, kan? Anda tidak berencana menyewa kelompok tentara bayaran elit untuk menculik Tuan Duke malam ini, kan? Karena jika itu rencana Anda, saya menolak ikut campur. Menghadapi Ksatria Gaspard yang gila aturan itu sangat merepotkan. Pria itu sekaku pedangnya sendiri, saya tidak mau berurusan dengannya dan berakhir di penjara istana."

​Mendengar nama Gaspard disebut, Geneviève hanya mengingat deskripsi singkat dari novel. Ksatria bayangan Lucien. Pria yang sangat setia dan selalu mengawal Duke itu ke mana-mana.

​"Tidak ada penculikan. Tidak ada musisi jalanan. Dan pastinya tidak ada lagi drama memalukan di depan kediaman Vaudémont," tegas Geneviève. Ia berjalan meninggalkan meja rias, melangkah pasti menuju ruangan kecil di sudut kamar yang berfungsi sebagai lemari pakaiannya.

​"Lalu apa arti semua ini, Nona? Kenapa tiba-tiba Anda peduli pada buku keuangan keluarga?" tanya Odette, masih belum melangkah pergi untuk mengambil pesanan teh.

​"Aku telah menyadari sesuatu yang sangat penting pagi ini, Odette," ucap Geneviève sambil mendorong dua pintu kayu berukir besar yang menjadi pintu lemarinya.

​"Bahwa cinta sejati tidak bisa dipaksakan dengan koin emas?" tebak Odette dengan nada malas, bersiap mendengar omong kosong puitis lainnya.

​"Bukan," bantah Geneviève lugas. Pintu lemari terbuka lebar, memperlihatkan jajaran pakaian yang sangat padat dan menyilaukan mata. "Aku sadar bahwa menangisi pria yang tidak pernah mau melihatku adalah perbuatan paling tidak menguntungkan dalam sejarah peradaban manusia. Itu membuang-buang waktuku, menguras tenagaku, dan yang paling tidak bisa kumaafkan adalah, kelakuan itu menghabiskan uangku dengan sia-sia."

​Keheningan seketika memenuhi kamar mewah itu selama beberapa detik. Hanya terdengar suara perapian yang bergemeretak pelan memakan kayu bakar. Lalu, segaris senyum tipis, sangat tipis sampai hampir tidak terlihat, perlahan muncul di wajah Odette.

​"Pencerahan yang sangat brilian, Nona," puji Odette datar. "Walaupun agak terlambat lima tahun, tapi jauh lebih baik daripada Anda harus mati tersedak rasa penasaran karena cinta."

​Geneviève mengabaikan sindiran itu. Perhatiannya kini sepenuhnya tersita oleh isi lemarinya. Matanya seakan diserang oleh lautan warna neon yang menyakitkan penglihatan. Gaun merah menyala yang sangat mencolok mata. Gaun merah muda terang dengan renda tebal yang bertumpuk-tumpuk seperti kue tart. Gaun ungu pekat dengan pita besar yang jumlahnya sangat tidak masuk akal. Semua pakaian ini dirancang dengan satu tujuan memalukan, yaitu untuk menarik perhatian Lucien secara paksa dari kejauhan saat berada di keramaian pesta Istana Soleil.

​Selera yang sangat norak. Sangat mengerikan.

​Geneviève, yang di kehidupan sebelumnya selalu menghargai profesionalisme dan keanggunan, memiliki selera yang berbanding terbalik dengan pemilik asli tubuh ini. Ia menyukai warna-warna lembut, estetika berkelas, dan desain elegan yang tidak perlu berteriak untuk memancarkan aura. Pakaian-pakaian yang berjejer di depannya ini terlihat seperti properti rombongan sirkus keliling.

​Tanpa ragu sedikit pun, tangannya terulur dan menarik paksa sebuah gaun dari gantungannya. Sebuah gaun berwarna merah darah berbahan sutra mengkilap, dengan potongan dada yang terlalu rendah dan aksen bulu burung unta raksasa di bagian pundaknya. Ini adalah gaun andalan kesayangan pemilik tubuh asli. Gaun tempur yang paling sering ia pakai untuk mencegat kereta Lucien di gerbang istana kekaisaran.

​"Nona, astaga, itu gaun favorit Anda," tegur Odette, suaranya naik setengah oktaf saat melihat Geneviève menarik gaun itu dengan sangat kasar, sama sekali tidak peduli jahitannya akan robek. "Anda memesannya khusus dari Madam Yvette, penjahit paling mahal di ibu kota bulan lalu. Anda sendiri yang bilang gaun itu akan membuat Tuan Duke tidak bisa bernapas saat melihat Anda melangkah masuk."

​"Oh, percayalah padaku Odette, gaun ini memang bisa membuat siapa pun berhenti bernapas di tempat. Karena desainnya mencederai retina mata dan menyumbat jalan napas karena bulu-bulu aneh ini," gumam Geneviève dengan nada meremehkan.

​Ia berbalik dengan cepat. Dengan gaun merah darah menjuntai memprihatinkan di tangannya, ia berjalan mendekati perapian kamar. Sisa kayu bakar dari semalam masih menyala merah menyala, menciptakan hawa panas yang kontras dengan udara dingin pagi musim gugur di luar jendela.

​Odette yang baru saja berniat berbalik untuk mengambil nampan teh, otomatis menoleh. Matanya membelalak lebar melihat arah langkah majikannya. Pelayan itu membeku di tempat.

​"Nona? Apa yang mau Anda lakukan dengan gaun seharga dua ribu koin emas itu? Apakah Anda mau melelangnya? Saya tahu tempat pelelangan barang bekas di pasar gelap yang bayarannya bagus." Odette mencoba mencegah, naluri pelitnya bangkit melihat barang mahal diperlakukan semena-mena.

​Geneviève tidak menjawab. Ia menatap gaun merah di tangannya dengan tatapan luar biasa dingin. Gaun ini adalah simbol kebodohannya di masa lalu. Simbol keterikatan pada pria fiksi yang tidak pantas, yang pada akhirnya akan menuntunnya pada tiang eksekusi. Geneviève sudah tidak peduli pada Lucien maupun alur cerita novel ini.

​Dengan gerakan tenang dan tanpa sedikit pun keraguan di matanya, Geneviève mengayunkan tangannya dengan kuat. Ia melempar gaun sutra merah darah itu langsung ke tengah kobaran api perapian.

​Api seketika menyambar bahan sutra mahal tersebut dengan ganas. Suara gemeretak terdengar sangat nyaring ketika material itu terbakar dengan cepat, mengeluarkan asap kelabu tebal yang langsung membumbung naik ke cerobong. Cahaya keemasan dari kobaran api memantul terang di mata Geneviève. Mata bengkaknya tidak lagi menyiratkan kesedihan seorang gadis malang, melainkan tekad yang tajam, sangat rasional, dan berbahaya.

​Di belakangnya, terdengar suara dentingan perak yang memekakkan telinga.

​Nampan perak yang berisi teko air, cangkir porselen, dan sisa teh manis terlepas begitu saja dari tangan Odette. Nampan itu jatuh berdebum kencang menghantam lantai. Teh lengket tumpah berantakan ke segala arah, menodai karpet Persia mahal yang bernilai tinggi.

​Namun Odette sama sekali tidak memedulikan kekacauan di dekat kakinya. Mulut pelayan bermulut pedas itu terbuka lebar nyaris menyentuh lantai. Matanya terpaku ngeri pada kobaran api yang sedang asyik melahap gaun paling mahal di lemari keluarga Montmirail.

​"Astaga Naga," bisik Odette dengan suara bergetar pelan. "Dia benar-benar sudah gila."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!