NovelToon NovelToon
Kaki Impoten Sang Gladiator

Kaki Impoten Sang Gladiator

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Dark Romance
Popularitas:476
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

“Maaf, babby … aku cuma… aku cinta sama kamu. aku takut kamu bakal pergi.”

Gwen mengatupkan rahangnya. “Kasih tangan kamu.”

Raymon mengernyit, tapi menurut.

Gwen menarik tangannya ke bawah, di antara tubuh mereka, lalu menekan jari-jarinya ke kain dalamnya yang basah.

“Kamu ngerasain itu, Raymon? Cuma baring di samping kamu aja bikin aku kayak gini. Aku segila itu sama kamu.”

Tubuh Raymon langsung bereaksi. Pelan, dia menarik turun pakaian dalam Gwen.

“Lepas,” katanya pelan tapi tegas.

“Raymon, jangan…”

Tapi dalam satu gerakan, kain itu langsung robek.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mansion

Gwen tahu Raymon kaya.

Sebagai Presiden Gladiators, itu sudah pasti. Dia membayangkan rumah besar. Tapi yang ada di depannya sekarang bukan sekadar rumah. Ini benteng.

Dinding beton tinggi mengelilingi seluruh properti. Kamera terpasang setiap beberapa meter di atasnya.

Mobil melewati gerbang otomatis dengan pos penjagaan di samping, lalu melaju di jalan berbatu menuju sebuah mansion raksasa.

Rumputnya terawat sempurna, hanya ada beberapa pohon tersebar, sengaja agar tidak menghalangi pandangan.

Dua pria bersetelan hitam dengan senjata di pinggang berjaga di depan rumah. Beberapa lainnya berpatroli di area sekitar. Pasti masih banyak lagi yang tidak terlihat.

“Di dalam juga ada kamera?” tanya Gwen.

“Kalau kamu mau orang percaya dan tetap loyal, kamu juga harus percaya sama mereka,” jawab Raymon di sampingnya. “Kalau aku pasang kamera di dalam, berarti aku nggak percaya sama anak buah aku.”

Mobil berhenti di depan rumah. Troy membuka pintu untuk Gwen, sementara sopir mengambil kursi roda Raymon dari bagasi.

Gwen turun dan menatap bangunan itu. Hanya dua lantai, tapi membentang luas ke segala arah. Besarnya tidak masuk akal.

Raymon bergerak di sampingnya. “Suka?”

“Nggak.”

“Kenapa?”

“Aku nggak suka sesuatu yang terlalu besar.”

Tiga anak tangga mengarah ke pintu utama. Gwen sempat bertanya-tanya bagaimana Raymon akan naik, lalu melihat jalur landai di samping.

Raymon naik dengan mudah.

Melihatnya, Gwen merasakan sesuatu yang aneh. Sedikit iba. Pasti sulit bagi pria seperti dia menjalani perubahan sebesar ini.

Gwen menaiki tangga dan bertemu Raymon di depan pintu. Seorang penjaga membukakan pintu kayu besar untuk mereka.

Raymon memimpin Gwen melewati aula luas menuju lift di bawah tangga besar bercabang. Seorang pria bersetelan hitam muncul dari lorong.

“Presiden,” sapanya sambil mengangguk.

“Carolina masih bangun?” tanya Raymon.

“Masih. Sepertinya di dapur.”

“Bilang aku sudah pulang. Suruh dia minta salah satu gadis siapkan makanan, lalu dia boleh istirahat,” kata Raymon, lalu melirik Gwen. “Dan bilang ke semua orang jangan masuk sayap timur. Nggak ada yang boleh ke sana kecuali aku panggil.”

“Untuk malam ini?”

Senyum tipis muncul di wajah Raymon. “Bukan. Sampai aku kasih perintah. Dan aku bakal hubungi dapur kalau kita sudah siap makan.”

“Baik.”

Pria itu mengangguk dan pergi, sempat melirik Gwen dengan rasa ingin tahu. Dari ekspresinya, gosip pasti sudah mulai menyebar.

Begitu keluar dari lift, Raymon membawa Gwen ke lorong kiri dan membuka pintu besar menuju ruangan luas.

Di tengah ada ruang duduk. Di kiri, perpustakaan. Di kanan, dapur modern besar dengan ruang makan. Furniturnya tidak banyak, mungkin supaya memudahkan pergerakan Raymon.

Dekorasinya bernuansa alami, cokelat dan krem, banyak elemen kayu. Modern, tapi tidak dingin.

Gwen suka.

“Kita perlu bahas beberapa hal,” kata Raymon sambil menunjuk ruang duduk. Sofa panjang besar menghadap TV di dinding.

“Kamu tidur di kamar itu.” Dia menunjuk ke kanan. “Kamar aku di seberang.”

Ruangnya begitu luas sampai Gwen butuh beberapa detik untuk menemukan pintu yang dimaksud. Dia tidak terlalu peduli seperti apa kamarnya, selama ada tempat tidur empuk dan pintu yang bisa dikunci.

Kakinya sakit, jadi dia langsung berjalan ke sofa, melepas sepatu haknya di jalan, lalu menjatuhkan diri ke bantal.

Aneh rasanya berada di sini. Dia akan tinggal di sini selama enam bulan. Bersama Raymon. Dia seharusnya takut. Tapi ada yang aneh. Dia memang cemas, gugup… tapi tidak takut.

Gwen mengangkat kepala, menatap pria yang memimpin dunia Mafia itu. Pria yang mengancam akan membunuhnya jika dia gagal menjalankan perannya. Dan kupu-kupu itu kembali bergejolak di perutnya.

Ya Tuhan.

Ada yang salah dengan dirinya.

Alih-alih takut, dia justru tertarik padanya.

“Sudah malam, jadi besok aku ajak kamu keliling rumah,” kata Raymon sambil berbalik ke arah sofa. “Lebih baik kamu nggak jalan-jalan sendiri dulu sebelum aku kenalin kamu ke semua orang.”

“Oke.” Gwen mengangguk. “Terus sekarang?”

“Aku bakal minta dapur kirim makanan. Kita belum makan apa-apa. kamu mau sesuatu?”

“Aku nggak lapar, tapi nggak ada salahnya kalau staf lihat kita bareng. Biar gosipnya berjalan.”

Membuat pertunjukan di depan staf sebenarnya bukan rencana Raymon malam ini. Dia mengira Gwen akan langsung masuk kamar begitu mereka sampai, menjauh darinya.

Sekarang dia malah penasaran. Ada sesuatu yang mengganggu dari cara Gwen bersikap. Terlalu santai, seperti semua ini normal. Padahal tidak ada yang normal dari dipaksa tinggal bersama orang asing dan berpura-pura jadi istrinya.

Berarti Gwen benar-benar sangat menyayangi Papanya sampai mau melakukan ini.

Saat Raymon menelepon dapur, Gwen mulai melepas jepit rambutnya. Helai-helai hitam panjang itu jatuh satu per satu ke punggungnya seperti air terjun. Raymon sempat bertanya-tanya apakah rambut itu selembut kelihatannya.

“Kapan pelayannya datang?” tanya Gwen sambil melepas jepit terakhir.

“Sebentar lagi.”

“Oke. Kita mulai.”

Gwen bangkit dari sofa dan berdiri di depan Raymon. Dia membungkuk, mulai membuka kancing kemeja Raymon. Wajahnya terlihat tenang, tapi tangannya sedikit gemetar.

Akhirnya, reaksi yang wajar. Setelah selesai, Gwen memiringkan kepala, memikirkan sesuatu, lalu menatapnya.

“Aku boleh naik?”

Raymon menyipitkan mata. “Ke mana?”

“Ke pangkuanmu? Kaki kamu sakit nggak?”

Dia mau duduk di pangkuannya?

Raymon tidak bisa berhenti menatapnya. “Nggak.”

Gwen mengangguk, mengangkat sedikit gaunnya dengan satu tangan, tangan lain bertumpu di bahu Raymon. Dia menggigit bibir, tampak bingung harus bagaimana selanjutnya.

Raymon membungkuk, meraih pinggangnya, lalu mengangkatnya ke atas pahanya. Gwen terkejut, tangannya langsung melingkar di leher Raymon, matanya melebar.

“Terus?” tanya Raymon, menahan tawa.

“Kita tunggu pelayannya lihat, kita berpelukan.”

“Ini belum, kan? Kamu cuma duduk di pangkuan aku.”

Raymon mengangkat tangan, menyingkirkan helai rambut yang jatuh di wajah Gwen, lalu menahan tengkuknya dan menunduk mencium lehernya.

Dengan tangan lain, dia menyusuri belahan gaun Gwen, menyentuh pahanya yang terbuka.

Gwen menarik napas tajam. Terdengar ketukan di pintu.

“Masuk!” seru Raymon, lalu kembali mencium leher Gwen.

“Tuan, Carolina bilang untuk bawa—”

Suara pelayan itu terputus.

“Tinggalin di dapur dan keluar,” kata Raymon tajam.

Gadis itu buru-buru meletakkan makanan lalu hampir berlari keluar, menutup pintu di belakangnya.

Begitu dia pergi, Gwen langsung melepaskan diri dan turun dari pangkuan Raymon.

Bagus.

Kalau dia duduk lebih lama, dia mungkin akan menyadari reaksi tubuh Raymon.

“Kayaknya berhasil,” kata Gwen sambil merapikan rambutnya, yang malah jadi makin berantakan.

“Penampilan yang bagus.”

“Aku mau tidur sekarang.” Gwen berjalan ke arah kamar, lalu berhenti. “Boleh pinjam baju? Aku nggak mau tidur pakai gaun mahal.”

Bayangan Gwen memakai pakaiannya memicu sesuatu di dalam Raymon. Dia membayangkan menarik Gwen ke kamarnya. Dia tidak suka itu. Ini hanya bisnis.

“Aku ambilin. Besok kita suruh orang ambil barang-barang kamu. Taruh kunci kamu di dapur!”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!