Dihina karena dantiannya cacat, Xiao Bai mendadak mendapatkan Tungku Ekstraksi Surgawi—sebuah artefak gaib yang berfungsi sebagai sistem mutlak. Tanpa perlu berkultivasi dengan cara biasa, ia bisa mengekstrak esensi monster, tumbuhan obat, hingga pusaka kuno menjadi pil murni tanpa cacat! Dari seorang sampah yang diinjak-injak, Xiao Bai bangkit mengekstrak langit dan bumi untuk menjadi penguasa tunggal yang tak tertandingi.
#Romance #Drama #Adventure #Kultivasi #Sistem #Overpowered #BalasDendam #Action-Fantasy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Segel yang Tersembunyi
# TUNGKU EKSTRAKSI SURGAWI
Xiao Bai belum sempat menempuh setengah jalan kembali ke gudang tua ketika langkahnya terhenti oleh suara yang sama seperti di pasar tadi pagi—tenang, terhitung, dan kali ini tak lagi bersembunyi di balik semak.
"Aku sudah menunggu cukup lama untuk bicara denganmu, Nak."
Xiao Bai berbalik, mendapati pria berjubah abu-abu polos itu berdiri beberapa langkah di belakangnya, kali ini tanpa niat menyembunyikan diri. Wajahnya teduh, usianya sulit ditebak—bisa empat puluh, bisa juga delapan puluh, dengan sepasang mata yang menyimpan kedalaman yang tak sepadan dengan penampilan sederhananya.
"Siapa kau?" tanya Xiao Bai, mundur setengah langkah, waspada. "Kenapa kau mengikutiku sejak kemarin?"
"Namaku tidak penting untuk saat ini," jawab pria itu, melangkah mendekat dengan tenang, tangannya terangkat sedikit sebagai tanda tak berniat menyerang. "Yang penting adalah apa yang kulihat tadi malam, dan apa yang baru saja kusaksikan hari ini."
"Apa maksudmu?"
Pria itu berhenti beberapa langkah darinya, menatap lurus ke arah dada Xiao Bai—tepat ke titik di mana Tungku Ekstraksi Surgawi berdiam, tersembunyi dari mata biasa namun tidak sepenuhnya tersembunyi dari mata yang tahu apa yang harus dicari.
"Aku seorang pengembara yang kebetulan singgah di Kota Qingyun beberapa hari lalu," katanya. "Dan kebetulan pula, aku memiliki sedikit kemampuan untuk membaca aliran qi yang tak biasa. Tadi malam, dari kejauhan, aku merasakan pancaran energi asing dari arah gudang tua di pinggir kota—energi yang seharusnya mustahil dimiliki seorang pemuda dengan dantian 'cacat'."
Xiao Bai membeku. Ia tak pernah menyadari ada yang mengawasi saat ia berlatih ekstraksi semalam.
"Kau salah lihat," katanya, mencoba menjaga suaranya tetap datar meski jantungnya mulai berdegup lebih cepat.
"Aku tidak salah lihat, Nak," pria itu tersenyum tipis, bukan senyum mengejek, melainkan senyum seseorang yang sudah lama menunggu jawaban atas teka-teki lama. "Dan justru itulah yang membuatku penasaran sejak awal. Karena setahuku, dantian yang benar-benar cacat tidak akan pernah bisa memancarkan energi seperti yang kurasakan semalam. Dantian seperti itu—yang tak bisa menyerap qi sama sekali, seolah tertutup rapat oleh sesuatu—hanya mungkin terjadi karena satu hal."
"Apa itu?"
Pria itu menghela napas panjang, seolah mempertimbangkan apakah harus melanjutkan atau tidak. "Segel," katanya akhirnya. "Dantianmu bukan cacat sejak lahir, Nak. Dantianmu disegel. Dan segel seperti yang kurasakan pada dirimu bukan sembarang segel dari alkemis biasa—itu adalah segel tingkat tinggi, jenis yang hanya bisa dipasang oleh seseorang dengan kekuatan jauh melampaui tetua Sekte Awan Sembilan mana pun."
Dunia Xiao Bai serasa berhenti berputar sesaat. "Kau bercanda," bisiknya, meski ia tahu dari nada suaranya sendiri bahwa ia tidak sepenuhnya yakin dengan penyangkalannya.
"Aku tidak punya alasan untuk bercanda soal ini," pria itu melanjutkan, matanya tak lepas dari wajah Xiao Bai yang mulai pucat. "Pikirkan baik-baik: bagaimana mungkin seorang anak dengan dantian yang benar-benar tak berfungsi bisa tiba-tiba, dalam semalam, mengeluarkan pancaran energi asing yang bahkan aku—seorang pengembara berpengalaman—kesulitan mengidentifikasinya secara pasti? Itu bukan kebangkitan bakat biasa, Nak. Itu adalah tanda bahwa sesuatu yang telah lama terkunci, akhirnya mulai retak."
Xiao Bai teringat malam ketika Tungku Ekstraksi Surgawi pertama kali muncul—rasa panas membara di dadanya, seolah ada yang pecah dari dalam. Ia selalu mengira itu adalah momen "kebangkitan" sebagaimana Tungku sendiri menjelaskan. Tapi jika pria ini benar, mungkin itu bukan kebangkitan sepenuhnya—mungkin itu adalah momen ketika sebuah segel lama akhirnya runtuh.
"Kalau memang ada segel," Xiao Bai berkata pelan, mencoba mengendalikan suaranya yang mulai gemetar, "siapa yang memasangnya? Dan kenapa?"
"Itu," pria itu tersenyum, kali ini senyum yang lebih misterius daripada sebelumnya, "adalah pertanyaan yang jawabannya jauh lebih berbahaya untuk diketahui dibandingkan pertanyaan itu sendiri, Nak. Tapi aku bisa memberimu satu petunjuk kecil, sebagai tanda niat baikku."
Ia melangkah selangkah lebih dekat, menurunkan suaranya hingga hampir berbisik. "Segel seperti yang pernah menutupi dantianmu, biasanya dipasang bukan untuk menghukum, melainkan untuk melindungi. Seseorang, entah siapa, pernah berusaha keras menyembunyikan sesuatu di dalam dirimu, Nak—jauh sebelum Sekte Awan Sembilan menerimamu sebagai murid, jauh sebelum kau bahkan bisa mengingat masa kecilmu sendiri."
Xiao Bai merasakan darahnya berdesir. Ingatannya tentang masa kecil memang samar—ia hanya ingat mulai sadar sebagai murid luar sekte sejak usia sepuluh tahun, dengan ibunya yang jarang bicara soal masa lalu keluarga mereka sebelum itu, dan yang telah meninggal sebelum sempat menjelaskan apa pun.
"Ibuku..." gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada pria di depannya. "Apakah dia tahu soal segel ini?"
Pria berjubah abu-abu itu tidak menjawab langsung, hanya menatap Xiao Bai dengan tatapan yang campur aduk antara iba dan sesuatu yang lebih rumit—seolah ia tahu jawabannya, tapi memilih untuk tidak mengungkapkannya sekaligus.
"Itu pertanyaan yang harus kau cari jawabannya sendiri, Nak," katanya akhirnya, mundur selangkah, bersiap pergi. "Aku hanya seorang pengembara yang kebetulan lewat, bukan orang yang berhak menceritakan seluruh kebenaran yang mungkin belum siap kau terima. Tapi ingat kata-kataku: apa pun yang kini bersemayam di dalam dirimu, itu bukan sekadar kekuatan acak yang jatuh begitu saja dari langit. Itu adalah sesuatu yang sengaja disembunyikan, dan sesuatu yang sengaja disembunyikan selalu punya alasan untuk ditemukan kembali pada waktunya."
"Tunggu!" Xiao Bai melangkah maju, tapi pria itu sudah berbalik, jubahnya berkibar pelan ditiup angin sore. "Setidaknya beri tahu aku namamu! Bagaimana aku bisa menemuimu lagi kalau aku punya pertanyaan lebih lanjut?"
Pria itu berhenti sejenak, tanpa menoleh sepenuhnya, hanya menjawab dari balik bahu. "Kalau memang ditakdirkan, jalan kita akan bersilangan lagi, Nak. Untuk sekarang, fokuslah dulu menguasai apa yang kau miliki. Dunia ini terlalu berbahaya bagi seseorang yang memegang rahasia besar tapi belum cukup kuat untuk melindunginya."
Ia melangkah pergi, menghilang di antara bayang-bayang pepohonan senja, meninggalkan Xiao Bai berdiri sendirian dengan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban—dan sebuah kebenaran baru yang mengguncang segala hal yang selama ini ia yakini tentang dirinya sendiri.
Dantiannya bukan cacat. Dantiannya disegel.
Dan jika benar ada yang sengaja menyegel kekuatannya sejak kecil, itu berarti seseorang—entah kawan atau lawan—telah lama mengetahui bahwa Xiao Bai bukanlah "sampah" seperti yang semua orang yakini. Seseorang telah lama tahu bahwa di dalam dirinya tersimpan sesuatu yang begitu berharga, atau begitu berbahaya, hingga harus dikunci rapat-rapat sejak ia masih terlalu kecil untuk mengingat apa pun.
Cahaya keemasan Tungku Ekstraksi Surgawi berdenyut pelan di dalam dadanya, seolah turut merasakan gejolak pertanyaan yang kini membakar pikiran pemiliknya—pertanyaan yang jawabannya mungkin tersembunyi jauh lebih dalam daripada sekadar dendam pada Lin Hai atau Sekte Awan Sembilan.