NovelToon NovelToon
Mantan Komandan Muda

Mantan Komandan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Penyelamat / Fantasi
Popularitas:666
Nilai: 5
Nama Author: Kanji Wara

Bima mengira ia bisa mengubur masa lalunya yang kelam di Desa . Mantan komandan regu pasukan khusus ini memilih hidup bersahaja sebagai petani jagung dan pemancing di tepi sungai demi melarikan diri dari trauma perang. Namun, kedamaian yang ia bangun susah payah runtuh setiap kali ia teringat pada Joni, sahabat sekaligus anak buahnya yang gugur dalam pelukan Bima akibat terjangan peluru senapan mesin musuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

sebuah janji

Empat bulan sudah berlalu sejak pesta pernikahan mewah itu digelar. Waktu berjalan begitu cepat, namun kondisi di dalam kamar utama villa tepi danau masih saja tidak menunjukkan perubahan. Bima—ya, dia memang Bima—masih tetap setia dengan rutinitasnya tidur tenang di atas sofa tanpa pernah sekalipun menyabung jalur kencing dengan istrinya. Sebuah kenyataan yang sungguh ironis, mengingat di luar sana mereka dikenal sebagai pasangan penguasa baru wilayah Utara, ditambah lagi Viona adalah gadis cantik idaman yang ranjangnya dibiarkan dingin begitu saja.

Malam itu, pintu villa kembali terbuka dan Viona melangkah masuk dengan raut wajah yang penuh dengan kekesalan. Penampilannya kali ini terlihat agak kusut, tidak serapi biasanya. Guratan kelelahan tercetak jelas di wajah cantiknya akibat tekanan pekerjaan kantor yang semakin menggila menjelang akhir tahun. Bima yang sudah bersiap di ruang tengah langsung berjalan mendekat, membawakan secangkir minuman hangat untuk menyambut istrinya.

"Kamu kenapa?" tanya Bima pelan dengan suara baritonnya yang menenangkan.

Tanpa menjawab pertanyaan suaminya secara verbal, Viona yang sudah terlalu pusing langsung merogoh tas kerjanya. Dia mengeluarkan dan menyodorkan satu map tebal berisi berkas cetak biru (blueprint) struktur mekanika bangunan sipil berskala besar ke hadapan Bima.

"Tim arsitek dan insinyur kami sudah tiga bulan penuh meneliti dokumen ini, dan kami terus-menerus mengalami kebuntuan struktural," keluh Viona frustrasi, menghempaskan tubuhnya ke sofa sembari memijat keningnya.

Bima menerima map tersebut dengan tenang. Dia membuka lembaran berkasnya, lalu mengamati gambar-gambar teknis yang rumit itu secara seksama. Detik berikutnya, fokus seorang mantan pemimpin regu teknik pasukan khusus bangkit di dalam dirinya. Bima mengambil selembar kertas kosong baru dan sebuah pena dari atas meja, lalu dengan gerakan tangan yang sangat lancar dan cepat, dia menggambar ulang persis dengan skema arsitektur yang ada di berkas.

Bima mengetukkan ujung pena di tiga titik berbeda pada kertas gambarnya, lalu menatap Viona. "Nah... di bagian sini letak beban terberatnya. Di sini adalah titik tumpu utamanya," jelas Bima secara runut. "Dan tepat di sebelah sini adalah bagian terlemahnya. Kebuntuan timmu terjadi karena mereka salah menghitung distribusi massa di area ini."

Viona yang sedari tadi bersandar langsung menegakkan tubuhnya, matanya membelalak kaget mendengar penjelasan Bima yang terdengar sangat ilmiah dan presisi. "Bi... Bima, kamu benar-benar mengerti diagram serumit ini?!" tanya Viona tidak percaya.

Bima hanya tersenyum tipis, menyembunyikan fakta bahwa menghitung struktur bangunan dan titik lemah beton adalah makanan sehari-harinya saat melakukan misi sabotase militer dulu. "Sedikit," jawab Bima merendah.

"Hmph, ya... cuma dikit kata kamu," sahut Viona, meski dalam hatinya dia luar biasa takjub dan merasa beban pening di kepalanya mendadak terangkat. Otak pebisnisnya langsung berputar cepat memanfaatkan situasi ini demi menyelamatkan posisinya dari ancaman pencopotan jabatan oleh sang nenek.

Viona menatap lurus ke dalam sepasang mata Bima dengan pandangan menantang. "Begini saja," ujar Viona tegas. "Jika kamu bisa menyelesaikan seluruh koreksi hitungan struktur ini sebelum besok pagi saya bawa berkasnya ke kantor... maka akan aku kabulkan satu permintaanmu."

Bima menghentikan gerakan penanya, lalu melirik ke arah Viona dengan pandangan mata yang mendadak terasa dalam dan sarat akan makna tersembunyi.

Melihat tatapan intens suaminya, jantung Viona mendadak berdesir halus, namun dia tetap mempertahankan harga diri tsundere-nya. "Ya, satu permintaan. Apa saja yang kamu mau, akan aku penuhi," kata Viona memastikan taruhan malam itu, tanpa tahu bahwa janji instan tersebut bisa saja menjadi senjata makan tuan bagi urusan ranjang mereka yang selama empat bulan ini terabaikan.

Malam semakin larut, namun keheningan di dalam kamar villa itu terasa semakin hidup. Viona yang awalnya berniat langsung tidur, justru memilih untuk tetap duduk di tepi ranjang. Sepasang matanya tidak bisa beralih dari sosok Bima yang kini fokus penuh di meja kerja kecil sudut ruangan. Laki-laki itu terlihat begitu tenang, jemarinya bergerak sangat lincah menggoreskan pena dan melakukan kalkulasi rumit di atas tumpukan kertas. Garis rahangnya yang tegas tampak semakin jelas di bawah temaram lampu meja.

Ada rasa hangat yang perlahan merayap di dada Viona, sebuah perasaan asing yang selama empat bulan pernikahan ini selalu dia tekan dalam-dalam. Selama ini dia menganggap Bima hanyalah laki-laki biasa yang dinikahkan dengannya demi status. Namun, malam ini, topeng misterius suaminya perlahan terkikis. Cara Bima memandang cetak biru itu, ketelitiannya, dan aura kepemimpinan yang mendadak memancar, membuat Viona sadar bahwa ada rahasia besar yang disembunyikan oleh laki-laki di hadapannya.

Jam dinding terus berdenting, menunjukkan waktu telah melewati pukul dua dini hari. Rasa kantuk akhirnya mulai menyerang Viona. Perlahan, kesadarannya mulai menipis hingga akhirnya dia terlelap dengan posisi menyandarkan kepala di tumpukan bantal. Di sisi lain ruangan, Bima baru saja meletakkan penanya. Dia menarik napas panjang, menatap lembar kertas terakhir yang kini sudah dipenuhi dengan coretan rumus perbaikan distribusi massa yang sangat sempurna. Kebuntuan tiga bulan tim arsitek Viona akhirnya selesai hanya dalam hitungan jam.

Bima berdiri dari kursinya, meregangkan tubuhnya sejenak, lalu berjalan menghampiri ranjang. Dia memandang wajah Viona yang sedang tertidur lelap. Sisa-sisa guratan lelah di wajah istrinya kini telah digantikan oleh kedamaian tidur. Bima mengulurkan tangan, dengan sangat lembut merapikan beberapa helai rambut yang menutupi kening Viona agar tidak mengganggu tidurnya. Senyum tipis kembali terkembang di bibir Bima. Taruhan malam ini telah dia menangkan, dan dia tahu betul permintaan apa yang akan dia ajukan esok hari untuk mencairkan dinginnya dinding pembatas di antara mereka.

Maaf smuanya

saya nunggu kontrak dulu

Baru saya lanjutkan

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!