Namaku Jefri Andalas Sinaga. Orang rumah memanggilku Jepot, pelanggan yang marah memanggilku bodat, dan satu kota kecil di internet memanggilku Bang Jepot sambil tertawa. Semua bermula ketika aku berkata “aman, bah” di pesta pernikahan, lalu satu gedung gelap sebelum kalimatku selesai.
Setelah kehilangan pekerjaan, aku pulang ke bengkel Bapak yang nyaris tutup. Bersama Liza Cemberut, Deli Patah, Bibir Ember, Tia Cekrek, dan orang-orang yang lebih bising daripada mesin gerinda, aku membuka jasa Konslet Medan. Setiap kerusakan ternyata tersambung ke gengsi, utang, pertengkaran keluarga, konten viral, atau rahasia yang tak seharusnya kusentuh.
Ketika serangkaian korsleting mengarah pada sambungan ilegal yang dapat membakar satu kawasan, lelucon tidak lagi cukup untuk melindungi siapa pun. Aku harus memilih diam demi usaha atau membuka sistem yang juga menyeret dosa lama keluargaku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MOTOR DELI PATAH JADI MOBIL SERVIS
Fadli datang ke bengkel dengan suara motor lebih dulu daripada tubuhnya.
Knalpot motornya menggeram dari ujung gang, batuk dua kali, lalu mengeluarkan bunyi logam beradu. Beberapa detik kemudian ia muncul mengenakan jaket ojek daring dan helm yang kacanya ditahan selotip bening.
Ia berhenti di depan kami dengan gaya orang membawa kabar besar. Mesinnya mati sendiri sebelum sempat dimatikan.
“Lek,” katanya, membuka helm. “Aku punya ide usaha.”
Aku sedang menghitung uang hasil servis kipas kemarin, yang secara teknis tidak ada karena Mak Sendok hanya mencoret utang kopi. Liza duduk di meja kas, menyusun daftar pelanggan lama. Ia mulai datang tanpa diminta setelah menemukan buku utang, mungkin karena tidak percaya kami bisa dibiarkan sendirian.
“Kalau idemu jual motor, aku setuju,” kataku.
Fadli memeluk setang. “Jangan bicara kasar kepada tulang punggung keluarga.”
“Motor itu tulang punggungmu?”
“Lebih setia daripada sebagian manusia.”
Liza tidak mengangkat kepala. “Apa idenya?”
“Servis panggilan.”
Aku tertawa. “Kami bengkel.”
“Justru. Barang orang rusak di rumah. Kipas besar, mesin cuci, pompa air. Mereka malas angkat. Kita datang.”
“Kita siapa?”
“Bang Jepot dan Deli Patah.”
“Itu nama usaha atau daftar korban kecelakaan?”
Fadli turun dari motor. “Pikirkan. Warga bayar orang datang. Aku antar kau. Kau perbaiki. Liza tagih. Kalau pelanggan marah, kita pergi cepat.”
“Aku pernah kerja di perusahaan. Pakai mobil operasional, seragam, surat tugas.”
“Sekarang kau pakai sandal Makmu dan menyervis kipas yang makan sendok.”
Aku menunjuknya. “Jangan rendahkan pekerjaan teknis.”
“Aku tidak rendahkan. Aku sedang sesuaikan kendaraan dengan keadaan.”
Liza memutar kalkulator ke arahku. Pada layar tertera angka sederhana. “Satu pekerjaan panggilan sehari dengan biaya jasa minimum seratus lima puluh ribu cukup untuk membayar listrik bengkel dan sebagian cicilan sewa.”
“Kalau tidak ada pelanggan?”
“Makanya dicari.”
“Aku tidak mau keliling gang seperti tukang tambal panci.”
Fadli mengangguk serius. “Benar. Tukang tambal panci punya pengeras suara. Kita belum punya modal.”
Aku menahan tawa agar tidak memberi kemenangan.
Liza membuka buku baru. Di halaman pertama, ia menulis: JASA PANGGILAN. Di bawahnya: biaya kunjungan, pemeriksaan, material, garansi pekerjaan, dan izin dokumentasi.
“Kenapa sudah ditulis?” tanyaku.
“Karena idenya masuk akal.”
“Belum tentu aku setuju.”
“Utang tidak menunggu harga dirimu selesai rapat.”
Fadli membuka bagasi motor. Dari dalam ia mengeluarkan kotak perkakas plastik yang salah satu penguncinya patah, dua gulung tali rafia, dan papan kecil bekas iklan minuman.
“Aku sudah siapkan armada operasional.”
“Itu motor tua.”
“Armada tidak ditentukan usia. Ditentukan semangat.”
“Semangat tidak membuat remnya pakem.”
“Rem belakang masih ada.”
“Rem depan?”
Fadli mengalihkan pandangan. “Kita jangan terjebak detail negatif.”
Ia menaruh kotak perkakas di belakang jok dan mulai mengikatnya dengan tali rafia. Ikatan pertama longgar. Ikatan kedua menekan lampu belakang. Ikatan ketiga membuat jok tidak bisa dibuka.
Aku mengambil tali dari tangannya. “Begini bukan ikatan. Ini mi instan.”
“Kalau kau pandai, buatlah.”
Aku memasang dudukan sementara dari besi siku bekas di bengkel, lalu mengikat kotak dengan tali ratchet tua milik Bapak. Fadli mengawasi sambil memberi saran yang tidak diminta.
“Agak ke kiri.”
“Kalau ke kiri, beratnya tidak seimbang.”
“Kanan ada knalpot.”
“Yang penting tidak kena panas.”
“Lek, kau sekarang bicara seperti orang punya prosedur.”
Aku mengencangkan baut. “Aku memang selalu punya prosedur.”
Liza menyahut dari meja, “Kau baru mengenalnya minggu ini.”
Setelah kotak terpasang, Fadli mengeluarkan papan iklan. Ia menulis dengan spidol hitam: SERVIS LISTRIK PANGGILAN - BANG JEPOT. Di bawahnya, dengan huruf lebih kecil: DIANTAR DELI PATAH.
“Kenapa namamu ikut?” tanyaku.
“Branding.”
“Orang melihat dua nama itu malah memanggil ambulans.”
“Yang penting diingat.”
Tia muncul dari rumah sambil membawa ponsel. “Bagus ini. Bisa kubuat video peluncuran.”
Aku langsung menoleh. “Tidak usah.”
Biasanya Tia akan membantah. Kali ini ia memandang kotak alat, papan sederhana, dan wajah Bapak yang berdiri di pintu bengkel tanpa ikut campur.
Ia menurunkan ponsel.
“Tidak direkam?” tanyaku.
Tia menggeleng. “Tidak semua yang penting harus jadi tontonan, Bang.”
Fadli menatapnya. “Tapi yang lucu boleh?”
“Kalau knalpotmu jatuh, aku pertimbangkan.”
Kami mendorong motor ke tengah gang untuk mencoba keseimbangan. Kotak alat tidak bergeser. Papan iklan terikat di samping. Fadli menyalakan mesin dengan dua kali starter dan satu tendangan kecil pada bodi.
Motor hidup.
“Akhirnya,” katanya bangga. “Mobil servis.”
“Rodanya dua.”
“Mobil yang sedang diet.”
Ia memutar gas sedikit. Bunyi logam terdengar dari bawah.
Klang.
Knalpotnya jatuh tepat di depan bengkel.
Tia mengangkat ponsel secara refleks. Liza menutup wajah dengan buku. Bapak berbalik masuk tanpa berkata apa-apa. Mak Sendok berteriak dari warung, “Kalau barang rongsokan ditaruh di jalan, bayar sewa tempat!”
Fadli memandang knalpot di tanah. “Ini sebenarnya fitur bongkar-pasang.”
Aku jongkok memeriksa braketnya. “Bautnya hilang.”
“Bisa diikat rafia?”
“Kalau kau ingin mati sambil wangi plastik terbakar.”
Kami menghabiskan satu jam memperbaiki knalpot. Untuk menguji dudukan kotak alat, Fadli mengajakku berkeliling gang. Aku duduk di belakang sambil memegang kotak karena tidak percaya pada baut bekas yang kami pakai. Setiap melewati polisi tidur, Fadli berteriak “uji beban”, lalu menambah gas. Setelah putaran kedua, aku mengancam akan menguji kepalanya dengan kunci pas.
Kotak itu bertahan. Papan iklan miring sedikit, tetapi masih terbaca. Di tikungan terakhir, seorang anak menunjuk tulisan Bang Jepot dan tertawa. Aku pura-pura tidak melihat. Fadli malah melambaikan tangan seperti calon anggota dewan. Menurutnya, ejekan tetap termasuk pengenalan merek selama orang mengingat nomor telepon. Aku berharap teori pemasaran itu tidak diajarkan di mana pun.
Kami berhenti di depan warung dan mendapati Mak Sendok mencatat waktu perjalanan seolah sedang mengawasi lomba ketahanan kendaraan.
“Armada operasional lulus,” kata Fadli.
“Yang lulus kotaknya,” jawabku. “Pengemudinya masih masa percobaan.”
Setelah itu, Liza memaksa kami menentukan tarif, wilayah layanan, nomor telepon, dan aturan bahwa aku tidak boleh menjanjikan perbaikan sebelum pemeriksaan.
“Aku perlu fleksibel,” protesku.
“Kau perlu batas.”
“Pelanggan suka kepastian.”
“Kalau belum diperiksa, kepastianmu namanya bohong.”
Fadli mengangkat tangan. “Bagaimana kalau slogan kita: Datang dulu, panik belakangan?”
“Tidak,” jawabku dan Liza bersamaan.
Menjelang sore, papan kecil itu selesai dipasang. Kami mengambil foto hanya untuk dikirim ke grup warga dan pelanggan lama. Tidak ada musik dramatis, tidak ada judul viral, hanya nomor telepon serta daftar layanan.
Lima menit kemudian, ponsel Liza berbunyi.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kami kenal.
Setrika saya nyetrum suami. Bisa diperbaiki, jangan terlalu bagus.
Aku membaca ulang pesan itu.
Fadli mengangguk puas. “Tengok. Pasar sudah menemukan kita.”