Ini adalah cerita tentang seorang remaja yang dianggap sebagai generasi muda terkuat saat ini. Ia tidak hanya kuat, ia juga kaya. Semua ia dapatkan berkat campur tangan gurunya.
Takdir mempertemukannya pada seorang pendekar misterius. Pendekar itu sangatlah kuat, walaupun tingkahnya agak sembrono.
Di kemudian hari ia akan mengetahui identitas dari pria itu. Petualangan mereka berdua akan sangat seru dan penuh intrik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Langkah yang Menghabisi Puluhan Pendekar
Orang-orang memandang ke arah pria bertubuh tinggi besar yang baru saja berhenti di belakang Gao Rui. Sejak awal, perhatian mereka sepenuhnya tersedot oleh pertarungan antara Gao Rui dan Zhan Hu. Tidak seorang pun benar-benar memedulikan pria yang berdiri diam sambil memegang payung hitam itu.
Ditambah lagi hujan turun begitu deras. Jarak mereka sebelumnya juga cukup jauh sehingga sosok tersebut hanya terlihat sebagai bayangan samar di balik tirai hujan.
Namun kini pria itu telah berada cukup dekat. Semua orang akhirnya dapat melihatnya dengan jelas.
"..."
Tubuhnya tinggi dan kekar. Bahunya lebar, seolah mampu menopang gunung. Wajahnya dingin tanpa sedikit pun perubahan ekspresi, sementara sepasang matanya memancarkan ketenangan yang justru terasa jauh lebih mengerikan daripada amarah.
Payung hitam di tangannya tetap terbuka, membiarkan hujan mengalir tenang di sepanjang sisinya. Ia berdiri begitu saja. Namun entah mengapa, keberadaannya membuat udara di sekitar terasa jauh lebih berat. Seolah seekor binatang buas baru saja membuka matanya.
"Glek..."
Seorang anggota Kelompok Serigala Darah menelan ludah dengan susah payah.
"Orang itu..."
"Dia juga seorang pendekar..."
Yang paling membuat mereka ketakutan bukanlah penampilannya. Melainkan aura yang dipancarkannya.
Aura itu begitu tenang, namun menyesakkan. Bahkan beberapa anggota Kelompok Serigala Darah merasakan aura pria tersebut jauh lebih mengerikan daripada aura Zhan Hu sebelum terbunuh.
Tubuh mereka mulai gemetar.
"Tidak... tidak mungkin..."
"Kenapa..."
"Kenapa ada monster lain di sini...?"
Bisik-bisik panik mulai terdengar.
"Siapa dia?"
"Jangan bilang..."
Seorang anggota Kelompok Serigala Darah membelalak.
"Apa... apa dia seorang pendekar suci?"
Kalimat itu membuat wajah rekan-rekannya semakin pucat.
"Pendekar Suci...?"
"Itu mustahil..."
"Tidak mungkin ada pendekar sekuat itu muncul di desa kecil seperti ini..."
Namun semakin mereka memandang pria bertubuh besar tersebut, semakin sulit mereka meyakinkan diri sendiri. Aura itu benar-benar berada di luar pemahaman mereka.
Salah seorang penyandera segera berteriak panik.
"Hei!"
"Kau!"
"Jangan ikut campur!"
Pedangnya semakin menekan leher sandera.
"Kalau kau berani bergerak... kami akan membunuh mereka semua!"
Lima penyandera lainnya ikut mengangkat suara.
"Benar!"
"Jangan mendekat!"
"Kami tidak bercanda!"
Namun pria bertubuh besar itu sama sekali tidak menoleh kepada mereka. Seolah-olah ancaman tersebut tidak pernah ada.
Tatapannya tetap tertuju kepada Gao Rui. Hening sesaat, kemudian Gao Rui menoleh kepadanya.
"Paman..."
Nada suaranya tetap tenang.
"Apa Paman bisa menolong warga desa yang disandera?"
Sha Nuo menatap keenam sandera itu selama beberapa saat. Lalu...
"Hahaha..."
Tawa pelan keluar dari mulutnya.
Tawa itu tidak keras, tetapi justru membuat para anggota Kelompok Serigala Darah merasakan hawa dingin menjalar di sepanjang tulang belakang mereka.
Sha Nuo menggelengkan kepala pelan.
"Itu... hal yang mudah."
Sha Nuo perlahan mengalihkan pandangannya dari Gao Rui menuju puluhan anggota Kelompok Serigala Darah yang masih bertahan. Payung hitamnya tetap berada di atas kepala. Hujan deras terus membasahi jalanan, sementara langkahnya sama sekali tidak bergeming.
Tatapannya menyapu satu per satu wajah para perampok itu. Kemudian sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis.
"Kalian..."
Suaranya tenang, namun terdengar jelas di tengah derasnya hujan.
"...benar-benar pengecut."
Tatapan dinginnya beralih kepada keenam penyandera.
"Tidak mampu mengalahkan lawan... lalu menjadikan rakyat biasa sebagai tameng hidup."
Ia menggeleng pelan.
"Sampah seperti kalian... bahkan tidak pantas disebut pendekar."
"..."
Ucapan itu membuat wajah para anggota Kelompok Serigala Darah memerah karena marah sekaligus takut.
Clang!
Puluhan bilah pedang kembali digenggam semakin erat. Meski demikian, tak seorang pun berani maju.
Entah mengapa, ketakutan yang jauh lebih besar dibandingkan saat menghadapi Gao Rui kini memenuhi hati mereka. Firasat buruk, perasaan itu terus berteriak di dalam benak mereka.
Lari, cepat lari. Namun kaki mereka justru terasa membeku.
Salah seorang penyandera menggertakkan giginya.
"Jangan mendekat!"
Suaranya nyaris pecah.
"Kalau kau maju satu langkah saja... aku akan membunuhnya!"
Ia semakin menekan pedangnya ke leher wanita tua yang disanderanya.
"Aku tidak bercanda!"
Sha Nuo hanya terkekeh pelan.
"Hahaha..."
Ia memandang pria itu seolah sedang melihat seekor semut.
"Jangan mengancamku."
Tap.
Sha Nuo melangkah satu langkah ke depan. Hanya satu langkah. Namun langkah sederhana itu membuat seluruh anggota Kelompok Serigala Darah membelalak.
"Sial.”
Penyandera wanita tua itu meraung marah.
"Kau sendiri yang memaksaku!"
Tatapannya dipenuhi kegilaan.
"Kalau begitu... mati saja!"
Pedangnya langsung bergerak, berniat membunuh wanita tua tersebut.
Namun saat bilah pedang itu baru bergerak beberapa senti...
Syuut!
Bayangan hitam tiba-tiba muncul dari tanah berlumpur.
"Apa?!"
Mata pria itu membelalak. Bayangan pekat itu melilit pergelangan tangannya seperti tangan iblis yang muncul dari kedalaman bumi.
Pedangnya berhenti. Tidak mampu bergerak sedikit pun.
"Apa... ini?"
Belum sempat ia memahami apa yang terjadi...
Sraaak!
Sebuah tombak kegelapan muncul dari bawah tanah. Dalam sekejap, tombak itu menembus dada pria tersebut.
"Puaaakh!"
Darah menyembur keluar dari mulutnya.
Namun, itu baru permulaan. Seluruh tanah di jalan utama Desa Qinghe mulai bergetar. Bayangan hitam pekat menyebar ke segala arah.
Seolah-olah kegelapan itu hidup.
"A-Apa itu?!"
"Tana... tanahnya!"
"Mustahil!"
Puluhan anggota Kelompok Serigala Darah panik. Namun semuanya sudah terlambat.
Syuut!
Syuut!
Syuut!
Satu demi satu tombak kegelapan muncul dari bawah tanah.
Sraaak!
Seorang perampok tertembus dari bawah dagu hingga menembus kepalanya.
Sraakk!
Perampok lain tertusuk tepat di jantung.
Sraakk!
Satu lagi tertembus dari punggung hingga keluar dari dada.
"Aaaaargh!"
"Tolong..."
Sraak!
Jeritan mereka bahkan tidak sempat selesai.
Kegelapan terus bermunculan. Semakin banyak dan semakin luas.
Seluruh jalan utama Desa Qinghe berubah menjadi lautan tombak hitam yang keluar dari dalam tanah. Para anggota Kelompok Serigala Darah berusaha melarikan diri. Namun ke mana pun mereka melangkah, kegelapan selalu muncul lebih dahulu.
Sraak!
Sraak!
Sraak!
Dalam beberapa tarikan napas saja, puluhan tubuh berjatuhan ke tanah satu demi satu. Tak ada yang mampu bertahan. Tak ada yang berhasil meloloskan diri.
Beberapa saat kemudian, seluruh kegelapan perlahan menghilang kembali ke dalam tanah. Seolah tidak pernah muncul sebelumnya. Yang tersisa hanyalah puluhan mayat anggota Kelompok Serigala Darah yang bergelimpangan di tengah hujan.
"..."
Suasana Desa Qinghe kembali sunyi. Keenam sandera masih berdiri di tempat mereka. Tidak satu pun dari mereka yang berakhir mati. Pedang-pedang yang semula mengancam leher mereka telah jatuh bersama tubuh para penyanderanya. Mereka, berhasil diselamatkan semuanya.
"..."
Gao Rui terdiam.
Ekspresi mukanya benar-benar berubah. Kedua matanya sedikit membelalak saat memandang puluhan mayat yang kini memenuhi jalan utama Desa Qinghe.
"Paman Nuo..."
Bibirnya bergerak pelan. Ia kembali mengingat apa yang baru saja terjadi.
Sha Nuo, hanya melangkah satu kali. Satu langkah sederhana. Bahkan pria itu tidak menutup payungnya. Namun, dalam satu langkah itu saja, seluruh musuh yang tersisa telah terbunuh.
"..."
Gao Rui menarik napas perlahan. Meskipun ia mengetahui Paman Nuo adalah pendekar yang sangat kuat, ia tetap tidak menyangka perbedaan kekuatan mereka ternyata sebesar ini.
"Jadi... beginikah kekuatan pendekar yang benar-benar berada di puncak..."
Tatapannya kembali tertuju kepada Sha Nuo. Pria bertubuh besar itu masih berdiri tenang di bawah payung hitamnya. Wajahnya sama sekali tidak berubah, seolah baru saja menginjak seekor semut, bukan menghabisi puluhan pendekar sekaligus.
...*******...
Hai semua mohon maaf jika visualnya tidak sesuai ekspektasi kalian. Aku bukan desainer grafis yang bagus dan masih harus belajar. Ini hanya sedikit selingan saat menulis novel ini ya...
Bonus
tenang Paman Nuo turun tangan, pasti semua beres dan aman... dan seterusnya
tinggal panen cincin ruang