NovelToon NovelToon
Dibuat Mandul Oleh Suami Pengkhianat, Aku Pun Bangkit Membalas

Dibuat Mandul Oleh Suami Pengkhianat, Aku Pun Bangkit Membalas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:67.5k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

BERTAHUN-TAHUN DIANGGAP MANDUL, TERNYATA ITU ADALAH JEBAKAN SUAMI DAN ORANG KETIGA. SETELAH MENGETAHUI KEBENARANNYA, AKU PUN MULAI MEMBALAS DENDAM!

Novel ini misi dari editor, jika ada kesamaan dengan author lain, berarti kita sedang sama-sama mengerjakan tugas misi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Hari Minggu menjadi satu-satunya hari di mana Aditya bisa sedikit bernapas lebih tenang. Tidak perlu bangun terlalu pagi untuk membersihkan kantor. Tidak perlu mondar-mandir membawa galon atau mendengar panggilan karyawan yang memintanya membuat kopi. Karena itulah siang itu ia memilih berjalan santai di taman kota yang tidak terlalu jauh dari kontrakannya.

Kaos hitam sederhana dan celana jeans yang dipakainya terlihat biasa saja. Tangannya masuk ke saku sambil berjalan pelan melewati jalur pedestrian yang cukup ramai. Beberapa anak kecil bermain sepeda, pasangan muda duduk bercengkerama di bangku taman, dan pedagang kaki lima sibuk melayani pembeli.

Aditya berhenti di dekat penjual es teh. Ia membeli satu gelas dingin, lalu duduk di bangku taman yang sedikit teduh. Matanya memandang lurus ke depan. Namun, pikirannya ke mana-mana.

Belakangan ini wajah Kemuning semakin sering muncul di kepalanya. Bahkan tanpa alasan jelas. Kadang saat sedang bekerja. Kadang saat hendak tidur. Kadang hanya karena melihat seorang ibu rumah tangga sedang membungkus bekal untuk suaminya.

Setiap kali itu terjadi, dada Aditya selalu terasa tidak nyaman. Penyesalan itu datang pelan-pelan, tetapi semakin hari semakin terasa nyata.

Aditya sedang menunduk membuka ponselnya ketika suara sepatu hak mendekat membuatnya sedikit mengangkat kepala. Lalu, tubuhnya langsung menegang.

Lavanya berdiri beberapa langkah di depannya sambil memegang tas kecil. Rambutnya yang panjang tergerai rapi, tetapi wajahnya tampak lebih pucat dibanding terakhir kali Aditya melihatnya di tempat karaoke.

Mereka sama-sama diam beberapa detik. Lavanya terlihat gugup.

Sementara Aditya justru merasa aneh dengan dirinya sendiri. Dulu, melihat Lavanya datang mendekat saja sudah cukup membuat jantungnya berdebar keras. Ia akan buru-buru tersenyum, memuji penampilan wanita itu, lalu sibuk mencari cara agar bisa terus dekat. Namun sekarang, tidak ada lagi rasa itu. Tidak ada lagi gelora yang dulu membuatnya rela menghancurkan rumah tangganya sendiri. Yang tersisa hanya rasa hambar dan sedikit lelah.

Aditya akhirnya mengalihkan pandangan lebih dulu. “Mau duduk?” tanyanya datar.

Lavanya terlihat sedikit terkejut mendengar nada suara Aditya yang begitu biasa.

“Oh … iya.” Wanita itu duduk perlahan di ujung bangku, menjaga jarak.

Suasana langsung terasa canggung. Tidak ada lagi tawa manja atau sentuhan genit seperti dulu. Yang ada hanya dua orang asing yang pernah saling menghancurkan hidup masing-masing.

“Kamu sekarang tinggal di sini?” tanya Lavanya pelan mencoba membuka percakapan.

“Iya.”

“Kerja?”

Aditya mengangguk singkat. “Masih.”

Setelah itu hening lagi. Lavanya meremas tali tasnya sendiri. Tatapannya beberapa kali melirik Aditya, tetapi pria itu lebih banyak melihat ke depan.

“Mas Adit,” panggil Lavanya pelan.

“Hm?”

“Malam itu, aku enggak nyangka bakal ketemu kamu di sana.”

Aditya tersenyum tipis, tapi tidak hangat. “Aku juga.”

Lavanya menunduk pelan. Entah kenapa dadanya terasa sesak melihat sikap Aditya sekarang. Dulu pria itu selalu memandangnya penuh damba dan rasa kagum. Sekarang tatapan itu hilang. Dan anehnya, Lavanya justru merasa kehilangan sesuatu.

“Aku tahu kamu pasti jijik lihat aku sekarang,” ucap Lavanya lirih.

Aditya tidak langsung menjawab. Ia hanya mengembuskan napas pelan sambil menatap orang-orang yang berlalu-lalang di depan taman.

“Aku enggak punya hak buat nilai hidup orang lain,” jawab Aditya akhirnya.

Kalimat itu membuat Lavanya terdiam. Pria itu tidak menyalahkan, tidak juga membelanya, tapi justru itu terasa lebih menohok.

Wanita itu menelan ludah sebelum akhirnya tertawa kecil, pahit. “Hidup lucu, ya,” gumam Lavanya. “Dulu aku ninggalin kamu karena takut miskin. Sekarang malah hidupku kayak gini.”

Aditya tetap diam.

Dan sikap diam itu membuat Lavanya perlahan membuka semuanya sendiri. “Aku sempat kerja di restoran,” katanya pelan. “Tapi, tidak lama.”

Aditya akhirnya menoleh sedikit.

Lavanya memainkan ujung tasnya sendiri sambil tersenyum hambar. “Awalnya enak. Gajinya UMR, tapi banyak pelanggan yang suka kasih tips. Selain itu, tempatnya juga bagus.” Ia berhenti sebentar. “Tapi lama-lama banyak yang enggak suka sama aku.”

“Kenapa?”

Lavanya tertawa kecil tanpa humor. “Karena pelanggan banyak yang datang buat nyari aku. Mereka maunya aku yang melayani.”

Aditya mengernyit pelan.

“Dari para pelanggan itu, aku dapat uang banyak.” Lavanya menunduk. “Manager senang, tapi rekan kerja lain enggak. Mereka iri dengan uang yang sering aku dapatkan tiap harinya.”

Lavanya masih ingat jelas bagaimana tatapan sinis para pegawai perempuan di restoran itu. Bisik-bisik di belakang, sindiran halus, sampai beberapa kali ada yang sengaja membuatnya dimarahi atasan.

“Mereka bilang aku sengaja cari perhatian pelanggan,” lanjut Lavanya lirih. “Padahal aku cuma kerja.”

“Terus?”

“Aku keluar.”

“Keluar atau dipaksa keluar?” tanya Aditya datar.

Lavanya langsung diam. Jawaban itu sudah terlihat jelas dari wajahnya. Wanita itu menghela napas panjang sebelum melanjutkan.

“Setelah itu kejadian dulu, keadaan keluarga aku makin susah.” Suaranya mulai mengecil. “Sakit Ayah makin parah.”

Aditya sedikit terkejut. “Pak Bagus?”

Lavanya mengangguk pelan. “Stroke ringan sama gagal ginjal.”

Kalimat itu membuat Aditya terdiam cukup lama. Ia masih ingat sosok Pak Bagus yang dulu terlihat sehat.

“Biaya berobatnya besar banget,” lanjut Lavanya. “Obat, kontrol rumah sakit, belum lagi cuci darah.”

Suara wanita itu mulai bergetar. “Aku bingung harus cari uang dari mana.”

Lavanya menunduk dalam-dalam. Jemarinya saling menggenggam kuat di atas pangkuan.

“Akhirnya aku masuk kerja di tempat itu.” Lavanya tersenyum pahit

Aditya memandang wajah Lavanya cukup lama.

Untuk pertama kalinya sejak bertemu lagi, ia benar-benar melihat wanita itu dengan lebih jelas.

Makeup mahal, tas bagus, baju modis. Namun, matanya terlihat lelah.

“Rasanya capek, Mas,” bisik Lavanya pelan. “Aku capek pura-pura senyum terus.” Kalimat itu terdengar begitu rapuh.

Aditya menunduk pelan. Entah kenapa, kemarahan yang dulu sempat ia rasakan perlahan hilang.

Yang tersisa hanya rasa kosong. Karena sekarang ia sadar dirinya dan Lavanya sama-sama jatuh dengan cara yang berbeda. Dan anehnya, di tengah semua itu yang terus muncul di kepala Aditya justru satu nama, Kemuning.

Sementara itu di tempat lain, Kemuning sedang memasak ikan bakar di halaman samping bersama Aryasatya dan Arkatama. Di hari libur, biasanya mereka menikmati waktu santai bersama.

“Kak, kemarin aku dapat voucher potongan harga untuk tiket bioskop. Nanti malam ajak Mbak Kemuning kencan,” bisik Aryasatya dengan senyum nakal.

“Kursi VVIP?”

“Bisa.”

Arkatama dan Aryasatya saling mengacungkan jempol. Sementara itu, Kemuning yang fokus membakar ikan, tidak tahu dengan rencana oleh kakak dan adik.

“Pokoknya sebelum aku lulus sekolah, Kakak sudah harus menikah dengan Mbak Kemuning. Biar aku tenang di perantauan,” ucap Aryasatya dan membuat Arkatama tertawa kecil.

“Doa kan saja kakak biar secepatnya bisa meminang wanita yang kakak cintai,” ucap Arkatama tersenyum tipis.

1
Aprisya
sukses selalu buat kak santi suki🥰🥰🥰
Ratih Tupperware Denpasar
ceritq ini lomba ya kak thor, ada author lain buat cerita spt ini baru eps 1, 5th menikah dibohongin dr obgyn yg diserir keluarganya selalu dibilang dia mandul padahal sebenernya tdk
🌸Santi Suki🌸: bukan karya lomba, Kak. Tapi misi dari editor. Kita dikasih kerangka cerita yang sama, tapi dikembangkan dengan versi masing-masing.
total 1 replies
Nurlaela
sadarlah Bu,,,
༄⃞⃟⚡R⁹
hati mu kudu di rendem pemutih bu, biar putih bersih tanpa noda
Nurlaela
😂😂😂😂Gusti bukannya sadar dan memperbaiki diri ini malah jatuh lebih jatuh🤦🤪
༄⃞⃟⚡R⁹
mamaaammm tuh jalank.. tempat sampah🤭
wasiah miska nartim
semangat thor
Ma Em
Alhamdulillah Thor , semoga makin n sukses 🤲🤲 , Raditya sekarang baru ingat sama Kemuning setelah hdp nya susah begitu juga dgn Bu Ratih mertua julid sampai sekarang tetap saja msh benci sama Kemuning meskipun hdp nya sdh susah .
Aditya hp/ bunda Lia
pasti bisa dan tetap semangat 💪
Eonnie Nurul
sadar diri itu penting Mak jangan iri dan dengki wong kamu sudah misquen 🤭
Sugiharti Rusli
tapi kalo sudah wataknya kotor yah susah sih, mau si Kemuning punya banyak kebakan juga ga akan ngefek tuh sama dia
Sugiharti Rusli
meski ada saja orang" yang tidak suka sama keberhasilan Kemuning, yah salah satunya mantan ibu mertuanya itu,,,
Sugiharti Rusli
karena bila keuntungan yang didapat dikembalikan kepada para pekerjaan, In Syaa Allah usaha semakin berkah dan maju sih
Sugiharti Rusli
apalagi Kemuning bukan tipikal orang yang suka memiliki segala sesuatu secara berlebihan seperti barang branded meski dia mampu,,,
Sugiharti Rusli
karena bagi Kemuning buat saat ini keluarga terdekatnya yah para pekerja di peternakannya sih yah,,,
Maya
alhamdulillah, selamat ya kak, semangat juga untuk terus berkarya.
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
sadar dong bu😏😏😏
mimief
namanya orang sakit...susah liat orang happy 😒
Nata Abas
alhamdulillah
Ummee
Alhamdulillah kak... selamat kk... semangat teroosss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!