NovelToon NovelToon
Sumpah Yang Terlupakan Dari Sang Penjahat Wanita

Sumpah Yang Terlupakan Dari Sang Penjahat Wanita

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Fantasi Isekai
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: nadnote

Seorang wanita pekerja kantoran yang rasional bertransmigrasi ke dalam novel romansa tragis sebagai Geneviève de Montmirail, seorang putri Duke yang ditakdirkan dieksekusi karena cintanya yang gila dan obsesif kepada Duke muda, Lucien de Vaudémont.
​Bertekad untuk mematahkan bendera kematiannya (death flag), Geneviève memutuskan untuk menarik diri sepenuhnya dari kehidupan Lucien dan lingkungan istana yang beracun. Alih-alih mengejar cinta fana, ia menggunakan kecerdasannya dalam administrasi keuangan untuk memajukan wilayahnya dan membuka bisnis perhiasan yang mendobrak tren kekaisaran.
​Namun, sikap dingin Geneviève justru memicu retaknya "Sihir Putih" milik Putri Mahkota Camille, sang protagonis asli novel yang tampak suci namun bermuka dua. Saat Lucien mulai mengalami kilasan ingatan yang menyiksa tentang masa lalu yang tak pernah ia ketahui, Geneviève menemukan sebuah perhiasan rahasia peninggalan tubuh aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadnote, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesta Dansa Topeng (Masquerade)

"Tolong katakan pada hamba, Nona, siapa orang bodoh yang pertama kali menciptakan tren pesta topeng ini? Wajah hamba terasa sangat gatal. Bulu merak di topeng ini terus menusuk sudut mata hamba."

​Suara gerutuan Odette terdengar jelas di dalam kabin kereta kuda keluarga Montmirail yang sedang melaju mulus menuju Istana Soleil. Pelayan itu duduk bersungut-sungut sambil berkali-kali mencoba menggaruk pipinya dari balik topeng kain hitam yang menutupi setengah wajahnya.

​Geneviève duduk di seberangnya dengan postur tegak yang sangat elegan. Ia sedang merapikan lipatan gaun sutra berwarna biru malam yang ia kenakan.

​"Pesta topeng diciptakan agar para bangsawan bisa saling bergosip dan menusuk dari belakang tanpa perlu repot-repot menjaga ekspresi wajah mereka, Odette," jawab Geneviève santai. "Tahan sedikit gatal di wajahmu. Kita berada di kandang musuh malam ini. Putri Mahkota Camille secara khusus mengirimkan undangan ini kepadaku dengan tinta emas. Menolaknya hanya akan memberikan alasan bagi faksi kerajaan untuk menyerang bisnis Le C'eow yang baru saja kita mulai."

​Odette mendengus pelan, tangannya akhirnya menyerah dan membiarkan topeng itu berada di tempatnya. Ia menatap majikannya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Rasa bangga menyelimuti hati pelayan materialistis tersebut.

​Malam ini, Geneviève sama sekali tidak terlihat seperti wanita gila yang biasanya menjadi bahan tertawaan ibu kota. Gaun sutra biru malamnya memiliki potongan yang sangat berkelas, tidak terlalu mekar dan tidak dipenuhi renda yang berlebihan. Sulaman benang perak berbentuk sulur daun menghiasi bagian ujung gaun, memantulkan cahaya dengan sangat indah. Sebuah topeng perak elegan menutupi bagian atas wajahnya, menonjolkan sepasang matanya yang berwarna cokelat terang.

​Namun, dari semua penampilan memukau itu, perhatian Odette tertuju pada tangan kanan majikannya. Di jari manis wanita itu, melingkar sebuah cincin dengan batu permata berwarna biru lembut dan ungu muda. Cincin rahasia dari balik dinding.

​"Nona, apakah tindakan yang bijak memakai benda magis itu ke tempat yang dipenuhi oleh penyihir istana?" tanya Odette dengan nada cemas yang jarang ia tunjukkan.

​Geneviève menatap cincin di jarinya. Pendaran cahaya magis dari cincin itu telah lama padam sejak pertama kali ia memakainya. Kini, benda itu terlihat seperti perhiasan biasa, meskipun desainnya sangat luar biasa.

​"Aku membutuhkannya malam ini, Odette," bisik Geneviève pelan. "Cincin ini adalah pengingat. Setiap kali aku melihatnya, logikaku bekerja lebih tajam. Ada bagian dari masa laluku yang dicuri, dan aku tidak akan membiarkan wanita bergaun putih di istana itu merenggut sisa kewarasanku."

​Kereta kuda mereka akhirnya berhenti di depan tangga pualam Istana Soleil. Suara musik orkestra yang meriah sudah terdengar hingga ke halaman depan. Puluhan kereta kuda mewah lainnya berjejer rapi, menurunkan para bangsawan yang mengenakan topeng dengan berbagai bentuk hewan dan makhluk mitologi.

​Geneviève melangkah turun dari kereta, diikuti oleh Odette yang berjalan tepat di belakangnya. Begitu mereka berdua memasuki aula utama istana yang dikenal sebagai Ruang Seribu Cermin, suasana mendadak berubah.

​Beberapa bangsawan yang sedang tertawa dan berdansa langsung menghentikan gerakan mereka. Mata mereka terpaku pada sosok Geneviève. Bisik-bisik mulai menyebar dengan cepat, bagaikan racun yang menetes ke dalam air jernih.

​"Apakah itu putri Duke Montmirail? Penjahat gila itu berani datang ke istana setelah membuat keributan di pengadilan minggu lalu?" bisik seorang pria bertopeng gagak kepada wanita di sebelahnya.

​"Lihatlah pakaiannya. Di mana gaun merah noraknya yang biasa ia pakai untuk mencari perhatian Duke Vaudémont? Dia terlihat terlalu... waras malam ini," sahut sang wanita dengan nada iri yang sangat kentara.

​Rasa frustrasi langsung menyapa Geneviève. Telinganya menangkap setiap kalimat hinaan yang dilontarkan dari balik topeng-topeng mewah tersebut. Inilah lingkungan beracun yang selalu mengelilingi pemilik tubuh aslinya. Publik telah dicuci otaknya untuk mempercayai bahwa Geneviève adalah wanita histeris yang tidak memiliki harga diri.

​Namun, alih-alih menundukkan kepala atau berlari menangis seperti yang diharapkan semua orang, Geneviève justru mengangkat dagunya lebih tinggi. Ia berjalan membelah kerumunan itu dengan langkah yang sangat anggun dan penuh percaya diri. Tatapan matanya menyapu sekeliling, menilai perhiasan yang dipakai para wanita bangsawan tersebut.

​Bongkahan zamrud besar. Kalung rubi yang terlalu berat. Selera mereka benar-benar primitif. Geneviève tersenyum miring di balik topeng peraknya. Orang-orang bodoh ini adalah calon konsumen utamanya bulan depan. Ia akan menguras harta mereka tanpa sisa.

​"Selamat malam, Geneviève temanku sayang."

​Sebuah suara lembut yang sangat memuakkan menghentikan langkah Geneviève.

​Dari arah tangga utama, Putri Mahkota Camille melangkah turun. Wanita itu mengenakan gaun putih yang berkilauan bagaikan debu bintang. Topengnya berbentuk sayap malaikat berwarna emas. Senyumnya terlihat sangat tulus dan polos, sangat kontras dengan niat busuk yang Geneviève ketahui bersembunyi di balik wajah itu.

​Di samping Camille, berdiri Lucien de Vaudémont.

​Pria itu mengenakan pakaian ksatria formal berwarna hitam pekat dengan sulaman perak di bagian dada. Kemeja putih berkerah tingginya tertutup rapi oleh kain cravat berlapis renda. Sebuah topeng berbentuk separuh wajah singa menutupi bagian atas wajahnya, membiarkan rahang tegas dan bibir tipisnya terlihat jelas.

​Lucien menatap Geneviève tanpa berkedip. Mata hijau tuanya memancarkan kebingungan yang sangat pekat. Ia mengharapkan Geneviève akan langsung berlari ke arahnya, menangis, atau setidaknya memandangnya dengan tatapan memuja seperti biasa. Namun, wanita bergaun biru malam di depannya ini hanya menatapnya sekilas sebelum kembali mengalihkan pandangan kepada Camille. Sama sekali tidak ada jejak cinta di sana. Ruang kosong di dada Lucien tiba-tiba terasa semakin menyiksa.

​"Selamat malam, Yang Mulia Putri Mahkota," balas Geneviève. Ia melakukan gerakan hormat yang sangat standar, murni sebagai bentuk formalitas. "Terima kasih atas undangan emas Anda. Pesta ini terlihat sangat meriah."

​Camille tersenyum semakin lebar. Wanita itu melangkah maju, berusaha meraih tangan Geneviève. Namun Geneviève dengan sangat halus memundurkan langkahnya, mengambil gelas sampanye dari nampan pelayan yang lewat untuk menghindari sentuhan fisik tersebut. Ia tidak akan membiarkan sihir halusinasi wanita ini menyentuh kulitnya lagi.

​Mata Camille sedikit menegang melihat penolakan halus itu, tetapi ia segera menguasai dirinya.

​"Aku sangat senang kau bisa hadir, Geneviève," ucap Camille dengan suara yang sengaja dikeraskan agar para bangsawan di sekitar mereka bisa mendengar. "Aku dengar kau sedang sibuk mengurus pengadilan Walikota pesisir. Sungguh tragedi yang menyedihkan. Pamanku, Marquis de Chanteclair, sangat terpukul mengetahui bawahannya berkhianat. Beliau bahkan jatuh sakit karena terlalu sedih."

​Geneviève tertawa pelan. Tawa yang sangat kering dan sinis. "Sampaikan salam simpati saya untuk paman Anda, Yang Mulia. Semoga beliau cepat sembuh dan bisa mengawasi uang pajaknya dengan lebih teliti di masa depan. Kita tentu tidak ingin ada rekening anonim lain yang tiba-tiba disita oleh pengadilan, bukan?"

​Banyak bangsawan yang menahan napas mendengar sindiran tajam tersebut. Camille mengepalkan tangannya kuat-kuat di balik lipatan gaun putihnya. Topeng malaikatnya nyaris tidak bisa menutupi amarah yang mendidih di wajahnya.

​Sementara itu, beberapa langkah di belakang mereka, dinamika yang jauh lebih kaku sedang terjadi.

​Odette berdiri melipat tangan di depan dada. Ia menatap tajam ke arah ksatria bayangan yang berdiri tepat di belakang Lucien. Gaspard mengenakan zirah hitam ringan dan topeng logam sederhana yang menutupi bagian matanya. Pria itu menatap lurus ke arah Odette.

​"Topeng Anda miring lima derajat ke arah kiri, Nona Odette," ucap Gaspard tiba-tiba. Suaranya datar dan mekanis.

​Odette memutar bola matanya. "Hamba tidak peduli, Tuan Ksatria Kaku. Wajah hamba gatal dan hamba ingin segera pulang. Lagipula, mengapa mata Anda terus menatap ke arah rok hamba? Apakah Anda tidak diajarkan sopan santun oleh atasan Anda?"

​Gaspard sedikit tersentak. Telinganya langsung memerah. "Saya tidak bermaksud tidak sopan. Saya hanya mengamati tonjolan besi yang terbentuk di balik celemek Anda. Berdasarkan sudut dan panjangnya, Anda membawa kunci inggris berukuran standar ke dalam pesta istana. Itu melanggar protokol keamanan."

​"Ini adalah tongkat penyangga pinggang hamba yang sakit karena harus mengangkat puing kereta kuda di hutan waktu itu," kilah Odette tanpa rasa bersalah. Pelayan itu memajukan wajahnya sedikit, menantang sang ksatria. "Jika Anda berani melaporkan hamba ke penjaga istana, hamba jamin tongkat penyangga ini akan melayang tepat ke tengah dahi Anda."

​Gaspard terdiam. Ia menatap pelayan yang berani mengancam ksatria elit di tengah istana kekaisaran ini dengan perasaan campur aduk. Anehnya, ia sama sekali tidak berniat melaporkannya. Ia hanya mengangguk pelan dan kembali berdiri tegak.

​Suara dentingan gelas kaca memecah ketegangan di antara mereka semua. Pemimpin orkestra memberikan isyarat bahwa musik dansa utama akan segera dimulai.

​"Tuan Duke, maukah Anda berdansa denganku?" pinta Camille dengan suara manja. Ia menyentuh lengan Lucien dengan sangat lembut. Matanya melirik ke arah Geneviève, berharap melihat kilat kecemburuan atau tangisan histeris dari putri Duke tersebut.

​Geneviève hanya meminum sampanyenya dengan santai. Ia bahkan bergeser sedikit ke samping untuk memberikan jalan kepada pasangan itu menuju lantai dansa.

​Lucien menatap Geneviève untuk terakhir kalinya. Ada dorongan aneh di dalam dirinya untuk menolak Camille dan menarik tangan Geneviève ke tengah ruangan. Namun, Sihir Putih di kepalanya segera beresonansi, memaksanya untuk menunduk dan menerima uluran tangan sang Putri Mahkota.

​"Dengan senang hati, Yang Mulia," jawab Lucien kaku.

​Mereka berdua berjalan ke tengah Ruang Seribu Cermin. Ratusan pasang mata menatap kagum pada keserasian sang ksatria terkuat dan Putri Mahkota yang cantik jelita. Alunan musik waltz klasik mulai menggema. Pasangan-pasangan bangsawan lainnya ikut bergabung, berputar mengelilingi lantai pualam yang mengilap.

​Geneviève mundur ke dekat pilar besar. Ia menyandarkan punggungnya di sana, sama sekali tidak tertarik untuk mencari pasangan dansa. Waktunya jauh lebih berharga jika digunakan untuk mengamati.

​Mata cokelatnya bergerak liar menelusuri setiap sudut ruangan. Ia menghitung jumlah bangsawan wanita yang memakai perhiasan model lama, memprediksi berapa banyak dari mereka yang akan datang ke pembukaan toko Le C'eow bulan depan. Logika bisnisnya bekerja tanpa henti.

​Namun, entah bagaimana, pandangannya selalu kembali terarah ke tengah lantai dansa. Tepatnya, ke arah Lucien de Vaudémont.

​Pria itu berdansa dengan sangat sempurna. Langkahnya tegas dan berwibawa. Namun, Geneviève yang memiliki insting observasi tajam bisa melihat bahwa pikiran pria itu tidak berada di sana. Lucien terus menerus melirik ke arah pilar tempat Geneviève berdiri. Setiap kali mata mereka tidak sengaja bertemu, Lucien akan segera membuang muka dengan rahang mengeras.

​Musik waltz memasuki tempo yang lebih cepat. Pasangan di lantai dansa mulai melakukan gerakan berputar yang cukup intens.

​Lucien meraih pinggang Camille dan memutar wanita itu dengan satu gerakan kuat. Gerakan mendadak itu membuat kain cravat berenda di leher Lucien sedikit bergeser ke samping. Kemeja kerah tingginya sedikit terbuka, memperlihatkan kulit di pangkal lehernya.

​Pada detik itulah, cahaya dari lampu kristal raksasa di atas mereka memantul tepat ke arah leher Lucien.

​Sebuah kilatan cahaya yang sangat spesifik tertangkap oleh mata Geneviève.

​Geneviève menegakkan tubuhnya seketika. Gelas sampanye di tangannya berhenti di udara. Ia memicingkan matanya, berusaha memfokuskan pandangannya menembus kerumunan orang yang sedang berdansa.

​Lucien kembali berputar. Kali ini, kain cravatnya bergeser lebih jauh, mengekspos apa yang selama ini disembunyikan pria itu di balik pakaian ksatria formalnya.

​Sebuah bros logam berukuran sedang tersemat kuat di bagian dalam kerah kemejanya.

​Napas Geneviève terhenti. Darahnya terasa seperti membeku di dalam pembuluh darahnya.

​Ia adalah seorang perancang perhiasan. Ia memiliki ingatan fotografis untuk setiap detail batu permata dan ukiran logam yang pernah ia lihat. Dan benda yang baru saja ia lihat di balik kerah Lucien bukanlah sekadar bros bangsawan biasa.

​Rangka bros itu terbuat dari perpaduan emas putih dan platina. Ukirannya sangat ramai, maksimalis, namun luar biasa elegan, membentuk pola sulur ranting yang melingkar. Dan di tengah-tengah sulur logam tersebut, bertahta susunan batu permata dengan potongan presisi tinggi.

​Batu permata itu berwarna biru lembut dan ungu muda.

​Itu adalah pasangan yang sangat identik dengan cincin rahasia yang saat ini melingkar di jari manis Geneviève.

​Desainnya. Estetika dunia dongengnya. Pemilihan palet warnanya. Semuanya sama persis. Bros itu jelas dibuat oleh tangan pengrajin yang sama, dari bongkahan batu yang sama, dan dirancang sebagai satu set perhiasan yang tak terpisahkan.

​Tangan Geneviève mulai bergetar. Gelas sampanyenya beradu pelan dengan cincin di jarinya, menimbulkan bunyi dentingan samar.

​Mengapa? Pertanyaan itu meledak di dalam kepala Geneviève.

​Mengapa Lucien de Vaudémont, pria yang diyakini oleh seluruh dunia sangat membenci Geneviève, pria yang selalu menatapnya dengan rasa muak, diam-diam menyembunyikan bros pasangannya di balik kerah kemejanya? Mengapa pria itu memakai perhiasan berwarna biru dan ungu lembut yang sangat bertolak belakang dengan karakter kaku ksatrianya?

​Kepingan teka-teki itu akhirnya menyatu di dalam logika Geneviève, menciptakan sebuah lukisan kenyataan yang sangat mengerikan.

​Lucien tidak pernah membencinya. Ingatan tentang taman rumah kaca itu bukanlah halusinasi. Mereka berdua adalah sepasang kekasih. Mereka telah membuat perhiasan itu bersama-sama. Namun seseorang, sesuatu yang sangat kuat, telah merusak ingatan mereka berdua, menghancurkan cinta mereka, dan memanipulasi kenyataan ini demi kekuasaan.

​Geneviève menatap tajam ke arah Putri Mahkota Camille yang sedang tertawa manis di pelukan Lucien. Seringai dingin perlahan terbentuk di bibir Geneviève. Rasa frustrasinya kini telah berubah menjadi niat membunuh yang sangat rasional.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!