Kanara gadis berusia 27 tahun dengan penampilan cupu, pulang ke kampung halamannya sebagai cara untuk melarikan diri dari rasa sakit akibat dikhianati kekasihnya yang merupakan aktor papan atas. Ia bersumpah untuk menolak cinta, tetapi takdir justru mempermainkannya. Nara terjebak dalam pernikahan kilat dengan Sagara, seorang pemuda asing berpenampilan berandal yang datang ke desanya.
Menghadapi Nara yang menutup rapat hatinya, Sagara justru hadir membawa sejuta kejutan yang menjungkirbalikkan dunia gadis itu. Kini, Nara dihadapkan pada pilihan sulit. Sanggupkah ia membuka lembaran baru dan menerima kehadiran Sagara di hidupnya? Ataukah Nara akan memilih melangkah mundur, membiarkan dirinya tenggelam dalam rencana besar untuk membalas rasa sakit hatinya pada sang mantan?
📌 Update setiap hari! Jangan lupa pasang notifikasi dan masukin ke library kalian ya! 😉✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anvika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Karena Kamu Istimewa
"Hahahha, tolong hentikan. Aku minta maaf ... Aa ... geli ... hhhh ...." Nara berusaha menghindar dan melepaskan diri dari Sagara yang terus saja menggelitiknya. Lupakan mengeringkan rambut, bahkan handuknya teronggok begitu saja di sudut sofa.
"Maaf? Maaf karena apa, perempuan kan tidak pernah salah," ujar Sagara yang sama sekali tidak berniat menghentikan aksinya. Tawa Nara menggema di ruang tamu, saling bersahutan dengan suara televisi yang bermain sendiri.
"Sagaraaa, tolong hentikan!!!" rintih Nara di sela-sela tawanya. Memohon dengan sangat.
Suaranya itu, haiss. Sagara sampai memejamkan mata. Suara rintihan Nara mengacaukan pikirannya. Tanpa berkata-kata, pria itu segera menjauhkan dirinya dari Nara. Jika tidak, sesuatu yang dalam pikirannya akan terjadi dengan penuh paksaan.
"Ha ... hah ...!" Napas Nara terdengar ngos-ngosan. Manik coklatnya yang penuh permohonan agar Sagara mengehentikan aksinya, kini berubah tajam penuh dendam.
"Apa? Mau lagi?!" Sagara membalas tatapannya dengan kerlipan nakal, membuat gadis itu semakin emosi saja.
Baru saja Nara ingin membalas perbuatan Sagara, suara dari sinetron televisi menyita perhatiannya.
'Sebenarnya apa salahku? Dari awal hubungan ini memang terlalu dipaksakan. Aku sudah memberitahukan bahwa aku sudah memiliki kekasih, tapi kamu dan keluargamu terlalu memaksakan kehendak!' ujar sang aktor pada lawan mainnya.
'Hah! Kamu masih mempertanyakan kesalahanmu?! Kesalahan kamu itu banyak Darian! Banyak!' Sang artis menunjuk-nunjuk aktor tersebut dengan penuh emosi. 'Kamu sudah menyetujui untuk bertunangan dengan ku, tetapi kenapa kamu masih berhubungan dengan wanita itu? Itu namanya kamu selingkuh! Belum lagi uangku yang kamu habiskan, apakah untuk wanita itu juga? Aku tidak terima.'
Terdengar dengusan keras dari Nara. Wajahnya pun begitu amat emosi melebihi sang artis yang kini menangis meraung, memukul sang aktor. Tangan gadis itu bahkan sampai mengepal. "Dasar bajingan, brengsek, tai kuda, tukang selingkuh ...." Bla ... bla ... bla ... makian Nara tak berujung, bahkan setelah iklan terjadi.
Sagara sampai tidak mengingat apa saja makian yang keluar dari mulut mungil gadis itu. "Heiiii ... bukankah kamu terlalu terbawa emosi? Itu hanya sinetron," ujar Sagara mengingatkan, tapi dirinya malah kena semprot.
"Kamu itu tidak tahu apa-apa, jadi diem deh!!!" Nara rasanya ingin mencabik-cabik aktor tadi, yang tak lain mantan sialannya.
"Memang tidak tahu apa-apa. Tapi, aktor itu hanya memainkan perannya," ujar Sagara mengangkat bahu.
Nara mendelik. "Kamu membelanya?!" suaranya amat serius dengan tubuh yang bertanya penuh intimidasi pada Sagara.
Pria itu meneguk ludah. Wajah serius Nara, apalagi dengan rambut yang terurai belum kering seperti ini terlihat amat seksi. "N-nara, sebaiknya kamu keringkan rambutmu dulu. Nanti kamu sakit."
Tak!
Nara memukul sofa, mempersempit ruang pergerakan Sagara. Tatapannya semakin tajam. "Jangan mengalihkan pembicaraan!" ujarnya, mengembalikan perkataan pria itu tadi.
Sagara menggeleng pelan, menyadarkan diri. Wangi sampo yang dipakai Nara menusuk hidungnya.
"Bisakah kamu menjauh sedikit atau kamu nanti akan menyesal Nara. Dan saat itu, jangan salahkan aku. Karena aku sendiri tidak lagi bisa mengendalikan diriku."
Suara dalam Sagara sedikit membuat gadis itu terpaku, mencerna baik-baik kata-katanya. "Kamu mau menakutiku, ya?!"
"Tidak," ujar Sagara pendek, menaikkan punggungnya sedikit ke sandara sofa. Tangannya terulur, mengusap pipi Nara dengan lembut. "Tapi aku memperingatimu." Tatapan pria itu mulai berbeda, sedikit berkabut.
Nara menyadarinya, mulai ketar-ketir. Keberaniannya yang membumbung tinggi, menguap seketika. Sekarang, bahkan ia ingin lari.
Sagara tersenyum dengan reaksi gadis itu, diraihnya tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Pelukan yang membuat tubuh gemetar Nara menjadi membeku.
"Aku tidak seperti ini dengan perempuan lain, tapi denganmu ... semuanya terasa berbeda." Sagara menghirup wangi di ceruk leher Nara dalam-dalam. Sangat menenangkan sekaligus menyenangkan.
Nara dalam pelukan pria itu hanya mendengarkan, tidak berani bergerak barang seinci pun. Cukup lama pria itu memeluknya, sampai beberapa saat kemudian baru dilepaskan.
"Rambutmu benar-benar masih basah, balik belakang biar aku bantu keringkan."
Nara menurut saja, dilihatnya pria itu meraih handuk yang ia gunakan tadi. Kemudian duduk di belakangnya dan mulai menggosok rambutnya dengan gerakan lembut.
Rasanya sedikit aneh diperlakukan seperti ini, tetapi rasa hangat yang tiba-tiba menjalar di hatinya lebih besar. Membuatnya menerima perlakuan Sagara tanpa penolakan.
"Kamu nggak ada hairdryer?" tanya pria itu dengan tangan yang masih fokus dengan kegiatannya—mengeringkan rambut Nara.
"Ada, tapi tertinggal di Jakarta." Bahkan barang-barangnya masih banyak di apartemen sewaannya, ia belum sempat mengemasnya karena saat itu hanya ingin lari dan jauh dari pria yang telah mengkhianatinya.
"Sejak kapan di sana?" tanya Sagara tertarik.
"Delapan tahun lalu. Aku kuliah, terus langsung kerja. Baru pulang dua bulan lalu," jelas Nara. Mulutnya memang berucap, tetapi pikirannya masih memikirkan maksud Sagara yang mengatakannya berbeda.
"Lama juga, berarti kamu betah di sana. Tidak masalah dong kalau—"
"Kenapa aku berbeda dari perempuan lain?" ucapan Sagara terpotong oleh Nara, rasa penasarannya membuatnya langsung menanyakan maksud pria itu.
Tangan Sagara yang bergerak menggosok rambut Nara seketika terhenti. Namun, hanya sepersekian detik saja, pria itu kembali melanjutkan kegiatannya. "Karena kamu istimewa, lain dari yang lain."
Nara mengernyit mendengar jawaban tersebut. "Kenapa terdengar seperti hinaan?" Ia berbalik menghadap Sagara dengan wajah masam.
"Mulai lagi kamu, ya! Pujianku kamu ubah jadi hinaan." Pria itu memutar bola mata.
"Ya, memang begitu, kan?" Nara menunduk, rasa percaya dirinya turun drastis.
"Heiii ...." Sagara mengangkat wajah Nara dengan kedua telapak tangan besarnya. Membuat kedua telapak tangannya terlihat membungkus wajah tirus gadis itu.
"Kamu itu memang istimewa. Istimewa karena kamu adalah istriku."
Tatapan keduanya bertemu, begitu dalam dan saling menyelami.
"Benarkah? Berarti pacarmu dulu juga istimewa?" Nara bertanya murni karena penasaran, tidak ada maksud lain sama sekali.
"Berpacaran, aku tidak pernah. Sekalinya, langsung menikah denganmu," ungkapnya dengan wajah yang lurus, lempeng, tanda pria itu tengah berkata jujur.
Kelopak mata Nara berkedip beberapa kali. "Kenapa, apakah kamu tidak laku?" Ya, hanya itu yang ada dalam pikirannya, jika tampang seperti Sagara tidak memiliki mantan.
Wajah Sagara tampak shock mendengar pertanyaan tersebut. "Heiii, ayolah ... apakah kamu tidak melihat wajah tampan ku ini?" Pria itu lanjut memamerkan wajahnya, memperlihatkan sisi kiri dan kanan kepada Nara.
Nara akui wajah Sagara memang sesuai dengan perkataannya, tak kalah tampan dengan aktor-aktor yang berseliweran di drama-drama aksi. Tetapi, bisakah tidak senarsis ini juga?! Bibir gadis itu mencebik.
"Asal kamu tahu, tampang begini, suami mu ini banyak juga yang mengejar." Pria itu membanggakan diri, membusungkan dada dengan bibir yang tersenyum lebar.
Bibir Nara semakin mencebik. "Aku tidak yakin mereka mengejar hanya karena tertarik akan wajahmu. Mereka pasti menginginkan sesuatu." Ia terdiam sejenak. "Tidak ada yang benar-benar tulus di dunia ini. Semuanya serba dengan kepentingan!" lanjutnya dengan suara yang semakin lirih di akhir.
Termaksud hubungan pernikahan mereka tentunya.
Bahu Sagara merosotnya, senyum di bibirnya pun sirna. "Kamu benar, maka dari itu aku tidak pernah memilih salah satu pun dari wanita-wanita itu."
Keduanya sama-sama termenung.
***
Bersambung ...
lanjut kak
wuih bau baunya ibu mertua bakal ketagihan masakan nara nih
lanjut kak 😍/Coffee//Rose/
mereka dekat dengan cara yg lucu
makasih upnya kak😍/Coffee//Rose/
dan suami juga seneng
hati hati menhaga istri ya sagara
lanjut /Coffee//Rose/
balas dendam yg elegan dengan suami sah ya nara
yg akhirnya tumbuh rasa cinta
lanjut kam
hayo pilih mana kak othornya
atau jangan jangan nanti pas gara pulang dari kantor melihat nara naik motor sagara
lanjut kak 😍
libatkan sagara semua akan bere
lanjut kak😍
tenang aj bang... nara juga mulai suka lho..
lanjut A saga ma neng nara
semangat kak😍