Bagi Kirana, kesetiaan dalam pernikahan adalah impian mutlak. Namun, kebahagiaan yang ia bangun bertahun-tahun runtuh seketika saat sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa suaminya, Rendra. Di saat yang sama, rahasia besar terungkap, Rendra meninggal bersama istri keduanya, meninggalkan seorang putri berusia dua tahun bernama Aura.
Melalui pesan terakhirnya, Rendra memohon agar Kirana sudi mengasuh Aura sebagai anak sendiri. Kirana hancur dan berada di persimpangan jalan yang menyiksa batin. Di satu sisi, ia sangat terluka oleh pengkhianatan suaminya. Di sisi lain, ia sudah memiliki seorang putri kandung berusia empat tahun yang harus ia jaga perasaannya dari kehadiran anak madunya tersebut.
Kini, di bawah satu atap, Kirana harus berjuang menekan rasa sakit hati demi membesarkan dua anak perempuan yang hanya terpaut usia dua tahun tersebut.
Mampukah Kirana berdamai dengan masa lalu dan bersikap adil, ataukah kehadiran Aura justru menjadi luka abadi yang terus mengingatkann
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 20- Rumor
Ep. 20- Rumor
Sejak insiden penolakan tegas di halaman rumah itu, topeng keramahan Bu Siska tanggal sepenuhnya. Rasa malu yang dipermalukan secara terang-terangan di depan para ART Kirana berubah menjadi dendam kecil yang berbisa.
Kini, Bu Siska tidak lagi menyapa Kirana saat berpapasan di jalan komplek. Ia memilih memalingkan muka dengan dagu terangkat tinggi, atau melemparkan tatapan sinis yang penuh permusuhan.
Namun, balasan Bu Siska tak berhenti pada aksi bungkam semata. Lidah tetangga tak tau diri itu mulai bekerja bagaikan angin yang menyebarkan percikan api di atas padang rumput yang kering.
Dari satu tukang sayur keliling ke tukang sayur lainnya, dari obrolan teras rumah yang satu ke perkumpulan arisan yang lain, Bu Siska menyebarkan cerita dengan bumbu-bumbu yang di dramatatisasi.
Ia tak hanya menceritakan betapa "sombong dan angkuhnya" Kirana, tetapi juga melemparkan prasangka paling liar, bahwa Aura adalah anak kandung almarhum Rendra dari istri simpanan atau istri kedua yang disembunyikan selama bertahun-tahun.
"Saya ini cium bau tak sedap sejak awal, Jeng!" seru Bu Siska suatu pagi di depan pagar rumah Bu RT, dikelilingi tiga ibu-ibu kompleks yang memegang kantong plastik belanjaan.
"Kalau bukan anak almarhum pak Rendra, mana mungkin Kirana mau menampung anak kecil itu? Mukanya saja jiplakan almarhum Pak Rendra! Hidungnya, bentuk matanya! Kirana itu sok suci di depan kita, padahal rumah tangganya berantakan. Pak Rendra punya istri kedua di luar, dan sekarang setelah mereka mati kecelakaan, anak haramnya ditelantarkan di sana!"
Kabar burung itu merambat cepat luar biasa. Hanya dalam hitungan hari, hampir satu kompleks perumahan membicarakan Kirana. Desas-desus itu merajalela dan berkembang menjadi spekulasi-spekulasi yang kian kejam dan tak terkendali.
**
Seperti halnya pada pagi itu, saat Kirana berniat mengajak Keisya membeli beberapa kebutuhan sekolah dan camilan di minimarket yang terletak di depan gerbang utama kompleks, ia mencoba menjalani harinya seperti biasa dan berusaha mengabaikan firasat buruk yang mengganjal di hatinya.
Namun, begitu Kirana dan Keisya melangkah keluar dari gerbang perumahan, atmosfer di sekitar mereka terasa berubah drastis.
Beberapa ibu-ibu yang sedang menyiram tanaman atau mengobrol di pinggir jalan mendadak menghentikan pembicaraan mereka begitu melihat Kirana mendekat.
Suasana yang tadinya ramah seketika berubah kaku dan diwarnai bisik-bisik yang tak lagi disembunyikan.
Tuk... tuk... tuk...
Langkah sepatu Kirana terasa sangat berat. Dari sudut matanya, ia melihat Bu Endang dan Bu Yayuk saling memajukan kepala dan berbisik di balik telapak tangan mereka seraya menatap Kirana dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan menilai, prihatin yang dibuat-buat, dan cemoohan yang terselubung.
"Itu lho... Bu Kirana," bisik Bu Endang dengan suara yang sengaja dipelankan namun masih terjangkau oleh pendengaran Kirana. "Kasihan ya... kelihatan tegar, padahal suaminya simpan wanita lain sampai punya anak. Katanya anak yang di rumahnya itu anak istri kedua Pak Rendra."
"Iya, denger-denger Pak Rendra juga beli rumah buat istri mudanya," sahut Bu Yayuk menimpali, sedangkan matanya tak lepas dari sosok Kirana. "Duh, kasihan Keisya ya... punya papa ternyata main gila di belakang ibunya."
DEG.
Dada Kirana serasa dihantam telak. Jantungnya berdegup kencang secara tak beraturan, darahnya mendidih, tangan Kirana yang menggenggam jemari Keisya perlahan mengetat tanpa sadar.
Keisya yang merasakan cengkraman ibunya yang mengencang langsung mendongak bingung. "Mama... tangan Keisya sakit," bisik anak itu polos.
Kirana tersentak. Ia cepat-cepat melonggarkan genggamannya dan menunduk menatap sang putri dengan senyuman kaku yang dipaksakan. "Maaf ya, Sayang... Mama tidak sengaja."
"Mama... kenapa tante-tante itu ngelihatin kita terus?" tanya Keisya lagi sambil menunjuk ke arah kerumunan ibu-ibu di sebrang jalan. "Keisya nggak suka ditatap begitu..."
"Tidak apa-apa, Sayang. Jangan dipikirkan. Ayo kita jalan cepat," cicit Kirana, suaranya bergetar karena menahan malu dan amarah yang membuncah.
Ia lantas mempercepat langkah kakinya dan menuntun Keisya menjauh dari tatapan-tatapan menghakimi itu. Namun, ke mana pun ia melangkah di dalam kompleks tersebut, rasanya ribuan pasang mata sedang mengintip dari balik jendela, membicarakan kemalangan rumah tangganya, dan menjadikan penderitaannya sebagai bahan konsumsi gosip yang murah.
Setibanya kembali di rumah, Kirana langsung mengunci pintu depan rapat-rapat. Ia bersandar di balik daun pintu kayu yang tebal, dan memejamkan matanya rapat-rapat seraya mengatur napasnya yang memburu.
Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes membasahi pipinya yang pucat.
Rasa sesak di dadanya begitu hebat, hingga ia merasa kesulitan untuk bernapas. Rumah yang dulu menjadi benteng kedamaian dan tempat perlindungannya bersama Rendra kini berubah menjadi sangkar besi yang menyiksa.
Setiap sudut kompleks perumahan itu kini terasa beracun. Ia tidak sanggup lagi jika harus menghadapi tatapan sinis, bisik-bisik beracun, dan pertanyaan tak kasat mata dari para tetangga setiap kali keluar rumah.
Ia merasa sangat tidak betah lagi tinggal di daerah sana.
Adapun Mbok Darmi yang sedang merapikan meja makan terperanjat melihat Kirana yang bersandar di pintu sambil menangis dalam keheningan. Lalu, Mbok Darmi bergegas menghampirinya dengan raut wajah yang cemas.
"Bu Kirana... Ibu kenapa, Bu?" tanya Mbok Darmi prihatin, sambil menyodorkan saputangan. "Ada apa di luar?"
Kirana menyapu air matanya dengan kasar. Ia menatap Mbok Darmi dengan mata yang merah dan dipenuhi keputusasaan serta keteguhan yang nekat.
"Mbok..." suara Kirana terdengar parau dan gemetar. "Saya tidak bisa tinggal di sini lagi. Saya sudah tidak tahan, Mbok..."
Mbok Darmi tertegun. "Maksud Ibu bagaimana?"
"Orang-orang di luar sana... mereka membicarakan kita. Mereka membicarakan almarhum Mas Rendra, membicarakan Aura, dan menatap saya seolah-olah saya ini wanita malang yang patut dikasihani atau dihina!" seru Kirana, luapan emosinya meledak dalam bisikan yang tegas. "Saya tidak mau Keisya tumbuh di lingkungan beracun ini! Saya tidak mau Keisya mendengar gosip-gosip miring tentang papanya dari anak-anak tetangga!"
"Tapi Bu... kalau mau pindah, kita mau ke mana?" tanya Mbok Darmi cemas. "Rumah ini kan rumah utama Ibu dan almarhum..."
Kirana mengepalkan kedua tangannya. Pikirannya berputar cepat dan mencari jalan keluar dari himpitan rasa sesak yang mengurungnya.
"Kita jual rumah ini, Mbok," ucap Kirana. "Saya akan urus penjualannya lewat agen properti secepatnya. Kita cari rumah baru di daerah lain, tempat di mana tidak ada satu orang pun yang mengenal masa lalu kita, tempat di mana Keisya dan saya bisa memulai hidup baru tanpa bayang-bayang bisikan tetangga!"
Mbok Darmi menatap majikannya dengan iba. Ia pun mengangguk karena menyadari betapa berat beban mental yang dipikul Kirana setelah kepergian Rendra dan terungkapnya keberadaan Aura.
"Baik, Bu... Apapun keputusan Ibu, Mbok dan yang lain bakal ikut dan dukung Ibu," tutur Mbok Darmi.
Kirana lalu menatap ke arah koridor belakang, di mana terdengar suara tawa kecil Aura yang sedang bermain air bersama Mpok Yem di kamar mandi.
Pandangan Kirana menggelap sejenak. Keputusan untuk pindah rumah bukan hanya sekadar melarikan diri dari gosip Bu Siska dan tetangga kompleks, tetapi juga langkah awal baginya untuk menyusun kembali garis kehidupan yang telah berantakan, membawa Keisya jauh dari lingkungan beracun, meski itu berarti ia harus membawa serta rahasia hidup Rendra yang berwujud balita mungil bernama Aura ke tempat yang baru.
Bersambung...
Enak banget si Hendra sama si ayu
Yg gk sala Karina nanggung sesak seumur hidup
Tapi emang lukanya belum sembuh...🤗