Altair seorang eksekutor miskin di rumah Andrea's. Motifnya untuk balas dendam kepada kepala keluarga itu karena sudah menghilangkan nyawa kedua orang tuanya. Tapi dia malah jatuh cinta kepada anak kesayangan keluarga itu membuatnya dijebak dan mati di tangan mereka.
Dia di beri kesempatan kedua untuk tidak menjadi bodoh dan jatuh cinta. Di kehidupan ini dia menuntaskan dendamnya. Dan siapa sangka dia malah berhubungan dengan anak angkat keluarga itu, Aquilla.
Akankah dendamnya terbalaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 : Aquilla juga tahu
Jam 20.10. Markas Black Hounds.
Bangunan gudang tua di pinggir rel kereta. Catnya mengelupas. Lampunya kuning. Di luar ada 6 motor gede parkir berantakan. Suara musik rock pelan dari dalam.
Altair turun dari Ducati. Di tangannya masih ada Aquilla. Ia mengenggam tangan itu tanpa sedikitpun ia lepas.
Aquilla tidak protes. Ia malah membalas genggaman tangan itu lebih erat. Kepalanya sesekali ia kubur di lengan Altair. Tangannya mencengkeram jaket Altair kuat. Tidak mau lepas.
"Al, kok lo bawa gue ke tempat cowok-cowok," bisik Aquilla. Suaranya kecil.
"Lo aman sama gue," jawab Altair singkat.
Begitu pintu gudang dibuka, 8 pasang mata langsung menoleh. Dika, Rio, Bara, dan anak geng lain. Semua cowok. Bau rokok. Bau oli. Dan satu lagi yang baru datang, Ryan. Ia sepertinya baru saja tiba dengan wajah panik dan khawatir. Ia sedikit menyesal karena tidak bisa menunggu lebih lama di sana. Mungkin kejadian ini tidak akan terjadi. Belum juga 24 jam, dia sudah gagal jadi adik bagi kakak angkatnya.
"Pada ngapain liatin?" bentak Altair. Suaranya dingin. "Tundukkan kepala kalian."
Anak geng langsung pura-pura sibuk. Ada yang ngelap motor. Ada yang main HP. Tapi matanya tetap lirik-lirik.
Altair mendudukkan Aquilla di sofa kulit tua. Sofa itu bekas. Tapi bersih. Ia jongkok di depan Aquilla.
"Di sini aja ya," kata Altair lembut. "Gue nggak akan jauh."
Aquilla mengangguk kecil. Tangannya tidak lepas dari lengan Altair. Jemarinya dingin. Gemetar.
Di tengah ruangan, tiga preman tadi diikat di kursi. Mulutnya disumpal kain. Hidungnya berdarah. Kaki si gondrong patah.
Altair berdiri. Aura ketua gengnya kembali. Aura dingin. Aura pembunuh.
Ia jalan ke si gondrong. Ia mencabut sumpalan mulutnya.
"Siapa yang nyuruh kalian?" tanya Altair. Suaranya datar.
Si gondrong meludah. "Ngapain gue kasih tau?"
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi si gondrong. Bukan dari Altair. Dari Ryan.
"Jawab pertanyaan Bang Al," kata Dika.
Si gondrong kesakitan. Ia menoleh ke Aquilla. Lalu ia senyum sinis. "Suruhan Daniel Andrea's. Dia bayar kita 50 juta buat bikin neng itu mati."
Dunia Aquilla berhenti.
Ia mendongak dari bahu Altair. Matanya melebar. Tidak percaya.
"Papa... Daniel?" suaranya berbisik. Patah.
Ia tidak menyangka. Sebegitu bencinya Daniel ke dia. Sebegitu ingin menghancurkannya. Hanya karena Ruby. Hanya karena iri. Apa kasih sayang mereka selama ini tidak berarti apa-apa? Ah ia hampir lupa... Dia hanya tumbal untuk anak kandung mereka.
Air mata Aquilla jatuh lagi. Kali ini bukan karena takut. Karena sakit hati.
Altair langsung jongkok lagi di depan Aquilla. Ia menggenggam tangan Aquilla yang dingin dan bergetar. Ia remas pelan. Hangat.
"Illa, denger gue," kata Altair. "Denger gue ya."
Aquilla menatap Altair. Matanya kosong.
"Lo nggak sendiri," kata Altair. "Lo punya gue. Daniel nggak ada apa-apanya. Kita beresin dia nanti."
Lalu Altair berdiri. Ia menoleh ke si gondrong. Matanya kosong. Lebih kosong dari tadi.
"Keputusan gue," kata Altair. Suaranya pelan. Tapi semua anak geng diam.
"Kalian mau bikin istri gue trauma. Kalian mau dia nggak bisa hidup tenang. Kalian punya rencana bunuh dia. Jadi gue kasih kalian rasa yang sama."
Ia memberi kode ke Dika. Dika melempar rantai besi ke Altair.
"Putusin urat kaki kalian," kata Altair. "Biar kalian nggak bisa lari lagi. Nggak bisa kejar cewek lagi. Nggak bisa ganggu orang lagi. Sama kayak kalian mau bikin istri gue nggak bisa tenang lagi. Sepadan."
Si gondrong langsung teriak. "GILA LU!"
"Ya," kata Altair datar. Ia jongkok di depan si gondrong. "Gue gila kalau ada yang nyentuh istri gue."
Ia tidak melakukannya sendiri. Ia beri ke Ryan. Ia tidak mau tangannya kotor di depan Aquilla. Tapi ia mengawasi. Ia memastikan. Walaupun Aquilla tahu seburuk apa perkerjaan yang ia punya selama ini.
Teriakan si gondrong menggema. Teriakan dua temannya juga.
Aquilla menutup matanya. Ia tidak melihat. Tapi ia dengar. Ia memeluk lengan Altair lebih erat.
"Udah," kata Altair pelan. Ia menutup telinga Aquilla dengan tangannya. "Jangan denger."
Setelah selesai, ia suruh anak buahnya buang mereka di pinggir kota. "Kasih pesan ke Daniel. Kalau nyentuh Aquilla lagi, gue yang datang sendiri. Gue nggak peduli biarpun dia bos gue sekarang"
Gudang kembali hening. Hanya suara Aquilla yang sesenggukan pelan.
Altair membawa Aquilla ke ruangan belakang. Ruangan kecil. Ada kasur, meja, dan kipas angin. Ini ruang istirahatnya.
Ia mendudukkan Aquilla di kasur. Ia duduk di lantai. Di depan Aquilla. Lututnya sejajar dengan lutut Aquilla.
Ia masih menggenggam tangan Aquilla. Tidak dilepas.
"Illa," panggil Altair pelan.
Aquilla tidak menjawab. Ia menatap lantai.
"Kenapa reaksi lo tadi begitu?" tanya Altair. Hati-hati. "Sampai teriak. Sampai nutup telinga. Sampai nggak mau disentuh."
Aquilla diam lama. Bahunya naik turun.
Lalu ia menangis. Bukan sesenggukan. Tapi tangis pecah.
"Dulu..." kata Aquilla. Suaranya putus-putus. "Dulu waktu gue 16 tahun... gue pernah..."
Ia tidak sanggup lanjut. Ia menutup wajahnya dengan tangan yang bebas.
"Gue pernah hampir dilecehkan," kata Aquilla sambil menangis. "Dia... Dia... Dia..."
Ia tidak bisa lanjut. Napasnya tercekat lagi.
Altair langsung menarik Aquilla ke pelukannya. Ia tidak tanya detail. Ia tidak maksa.
"Udah. Jangan cerita lagi kalau lo nggak sanggup," kata Altair. Ia mengusap punggung Aquilla. "Kayaknya gue tahu siapa dia."
Ia memeluk Aquilla lama. Sampai tangisnya mereda.
"Lo tahu darimana? Kejadian itu nggak ada yang tahu kecuali Saira, Maya dan Rania. Bahkan orang tua angkat gue saja nggak tahu. Mereka cuman tahu gue nginep di tempat Rania. Mereka bahkan nggak cari gue waktu itu. Gue pikir mereka sibuk. Tapi ternyata emang mereka nggak sayang sama gue" jelas Aquilla panjang lebar. Dia belum bisa menyebut nama cowok bejat itu.
"Gue tahu. Dia sering deketin lo masa SMA" kata Altair. Ia mundur sedikit. Menatap mata Aquilla. "Jadi itu kenapa lo teriak tadi."
Aquilla mengangguk. Ia tidak berani tatap mata Altair. Malu.
Altair mengusap air mata Aquilla dengan ibu jarinya.
"Denger ya," kata Altair. "Mulai besok lo harus konsultasi ke dokter. Psikolog. Psikiater. Siapa aja yang bisa bantuin lo sembuh."
Aquilla menggeleng. "Nggak mau. Malu."
"Malu kenapa?" tanya Altair. "Sakit gigi aja ke dokter. Masa sakit hati nggak boleh?"
"Terus... belajar bela diri," lanjut Altair. "Gue nggak mungkin 24 jam di samping lo. Gue ada kerjaan. Gue ada urusan. Gue mau lo bisa lindungin diri lo sendiri."
Aquilla menunduk. "Pasti mahal ke dokter, Al. Ke psikiater. Gue nggak mau ngerepotin."
Altair tertawa kecil. Tapi matanya tidak ketawa.
"Nggak kok," kata Altair. Ia mengangkat dagu Aquilla biar Aquilla menatapnya. "Gue punya uang. Banyak.. Lo cukup datang. Lo cukup mau sembuh. Itu aja."
"Gue nggak mau jadi beban," bisik Aquilla.
"Baru nyadar lo," nyindir Altair yang ingin mencairkan suasana.
"Ish... Nyebelin banget sih lo!" Aquilla mendorong kuat dada Altair.
Ia mengusap rambut Aquilla yang berantakan.
"Lo kuat, Illa. Tunjukin ke mereka lo nggak selemah yang mereka pikir. Lo bisa lawan dengan kekuatan yang lo punya. Gue bantu. Gue bisa buat lo tumbuh jadi Aquilla yang kuat dan bisa berdiri dengan kaki sendiri"
Aquilla tersenyum kembali. "Kalo ada yang tanya siapa orang yang berjasa di hidup gue, gue pasti bakal jawab lo orangnya"
"Kenapa gitu?"
"Di saat gue pengen nyerah, lo orang pertama yang buat gue bangkit lagi. Makasih Altair Reyn" ucap Aquilla tulus.
Altair menaikan sebelah alisnya saat Aquilla menyebut marga keluarganya yang sebenarnya."Kok tahu?"
"Karena gue tahu maksud lo masuk ke keluarga itu. Si Daniel telah membunuh papa dan mama lo kan? Gue pernah denger dulu. Diam-diam"
"Kapan lo tahu?"
"Pas kita masih SMA. Gue benar kan, Al?" tanya Aquilla mendapat anggukan dari Altair.
"Gue bisa bantu lo buat hancurin Daniel"