NovelToon NovelToon
Penyihir Sampah Naik Level Jadi Archmage

Penyihir Sampah Naik Level Jadi Archmage

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Akademi Sihir
Popularitas:305
Nilai: 5
Nama Author: Benhard Ayub Simanjuntak

Aku dilahirkan tanpa mana. Dijuluki "Sampah Magic" dan dikeluarkan dari Akademi Sihir Kerajaan.

Saat hampir mati di hutan iblis, aku mendapatkan [Sistem Archmage].

Setiap mengalahkan monster = dapat skill sihir baru.
Api, Petir, Ruang, Waktu... semua sihir bisa kupelajari!

Sekarang, aku akan kembali ke akademi itu.
Dan membuat mereka semua berlutut di hadapanku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benhard Ayub Simanjuntak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 Perjalanan ke Ibukota dan Rahasia Goblin

Hujan rintik jatuh sejak sore.

Jalanan menuju Ibukota Eldras becek dan licin. Tiga sosok berjalan dalam diam, diterangi cahaya redup dari lentera yang digenggam Kael.

Tiga hari. Itu waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke kota terbesar di Kerajaan Luminar.

Kael berjalan paling depan. Jubah hitamnya basah kuyup. Di punggungnya, dibungkus kain tebal, ada tiga pecahan batu mata. Benda itu dingin. Terlalu dingin. Setiap kali disentuh, Kael seperti mendengar bisikan. Jeritan.

Di belakangnya Luna. Gadis itu memeluk dirinya sendiri. Luka bakar di lengannya akibat pertarungan dengan Penyihir Bayangan belum pulih. Tapi dia menolak untuk mengeluh.

Paling belakang, Grom.

Goblin itu diam. Hanya suara langkahnya dan ujung tombaknya yang sesekali menyeret tanah. Sejak keluar dari Hutan Kabut Hitam, dia jadi lebih pendiam dari biasanya.

Suasana di antara mereka berat.

*Malam Pertama*

Mereka mendirikan tenda di bawah pohon ek besar. Api unggun kecil menyala, mengusir dingin.

Luna langsung masuk tenda dan tertidur karena kelelahan. Kael menawarkan diri untuk jaga pertama.

Grom mengangguk sekali. Lalu dia duduk jauh dari api. Sekitar sepuluh meter. Di bawah naungan bayangan pohon.

Jam berganti.

Tengah malam.

Suara rendah memecah keheningan.

"Ghh... jangan... jangan..."

Kael langsung membuka mata. Dia menoleh cepat.

Grom duduk dengan posisi meringkuk. Seluruh tubuhnya gemetar hebat. Keringat dingin membasahi bulu di tengkuknya. Dari bibirnya keluar gumaman dengan bahasa asing. Bahasa Goblin. Nadanya panik, marah, dan penuh ketakutan.

Tiba-tiba, tinju Grom menghantam tanah. Sekali. Dua kali.

_Duk! Duk!_

Tanah penyok. Darah mengalir dari buku jarinya.

Kael berdiri. Ingin mendekat. Tapi dia berhenti.

Dia tahu. Beberapa luka tidak bisa disembuhkan dengan kata-kata.

Kael hanya melemparkan selimutnya ke arah Grom. Lalu dia duduk kembali, punggung menghadap Grom, menjaga.

Pagi datang.

Grom sudah bangun lebih dulu. Dia mencuci luka di tangannya di sungai. Wajahnya datar. Tidak ada ekspresi.

Luna keluar dari tenda dan langsung melihatnya. "Kamu luka? Berantem sama siapa?"

Grom mengangkat bahu. Menunjuk ke atas pohon. "Jatuh."

Luna melirik Kael. Kael menggeleng pelan. Isyarat untuk tidak bertanya lebih lanjut.

*Hari Kedua - Reruntuhan*

Perjalanan dilanjutkan. Kabut mulai turun, membuat jarak pandang hanya lima meter.

Tiba-tiba Grom berhenti. Hidungnya berkedut.

"Berhenti." Suaranya serak.

Kael dan Luna langsung siaga.

Di depan, sekitar dua ratus meter, ada sesuatu.

Reruntuhan.

Bukan desa. Bukan benteng. Hanya kumpulan tenda yang robek, tiang-tiang kayu yang patah, dan lingkaran batu yang gosong menghitam.

Bau menyengat langsung menyerang indra penciuman. Bau darah kering. Bau abu. Bau kematian.

Dada Kael sesak. Urat hitam di lengannya berdenyut sakit. _'Ini... sama...'_

Mereka mendekat dengan hati-hati.

Tanah dipenuhi tulang-tulang kecil. Ada gelang manik-manik yang patah. Ada boneka kayu tanpa kepala. Ada sisa api unggun yang sudah menjadi arang hitam.

Luna menutup mulutnya dengan tangan. Matanya berkaca-kaca. "Ini... ini kamp..."

Tidak ada yang menjawab.

Grom berjalan paling depan. Langkahnya sangat lambat. Matanya menelusuri setiap sudut reruntuhan.

Dia berhenti di tengah. Di sana ada sebuah tiang kayu yang ditancapkan. Di atasnya tergantung kalung yang terbuat dari tulang dan gigi-gigi kecil.

Tangan Grom bergetar hebat saat mengambil kalung itu. Dia menggenggamnya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Kael melihat dari belakang. Dia tidak perlu bertanya.

Ini adalah kamp Goblin.

Tempat yang sama. Dihancurkan dengan cara yang sama. Oleh orang yang sama.

Angin bertiup. Membawa suara desiran seperti ratapan dari kejauhan.

Grom menunduk. Bahunya naik turun satu kali. Hanya satu kali.

Lalu dia berjalan ke tepi reruntuhan. Dia mulai menggali tanah dengan tangan kosong dan dengan tombaknya.

Kael mengerti. Dia ikut menggali. Luna juga.

Mereka bertiga bekerja dalam diam selama dua jam. Mengubur setiap tulang yang mereka temukan.

Saat selesai, Grom menancapkan tombaknya di tengah tanah yang baru. Sebagai nisan.

Dia berdiri di sana. Diam. Selama sepuluh menit penuh.

Lalu dia berbalik dan berjalan pergi tanpa menoleh.

Tapi sejak saat itu, posisinya berubah.

Dia tidak lagi berjalan di belakang. Dia berjalan di samping Kael. Setengah langkah di depan. Seperti perisai hidup.

Malamnya, di tenda, Luna berbisik pada Kael. "Kamu tahu apa yang terjadi di sana, kan?"

Kael menatap api unggun. "Dia kehilangan rumahnya."

*Hari Ketiga - Gerbang Eldras*

Gerbang Ibukota terlihat megah di kejauhan. Tingginya tiga puluh meter. Dijaga oleh sepuluh prajurit dengan baju besi lengkap.

Keramaian luar biasa. Pedagang berteriak. Kereta kuda berlalu lalang. Bau roti dan kotoran kuda bercampur jadi satu.

Begitu mereka bertiga mendekat, seorang penjaga langsung mengangkat tombaknya.

"BERHENTI!" teriaknya. "DILARANG MEMBAWA GOBLIN MASUK KOTA!"

Orang-orang di sekitar langsung mundur. Beberapa ibu menarik anaknya. Seorang pedagang melemparkan tatapan jijik.

Grom berhenti. Dia tidak melawan. Dia hanya mengepalkan tangannya hingga bergetar.

Kael maju satu langkah. Memasang badan di depan Grom.

"Dia anggota timku." Suara Kael tenang, tapi mengandung tekanan. "Rank D. Punya misi resmi dari Guild Penyihir. Ada masalah?"

Penjaga itu melirik lencana Rank D di dada Kael. Lalu melirik Grom.

"Aturan kota. Semua ras monster harus dirantai dan dikandangkan saat di dalam kota."

"Kalau begitu aku yang akan merantai dia."

Kael mengeluarkan seutas rantai dari tasnya. Bukan untuk mengikat Grom. Tapi dia melingkarkannya di pergelangan tangannya sendiri. Ujung rantai yang lain dia pegang erat.

"Lihat? Dia tawananku. Dia di bawah pengawasanku 24 jam. Puas?"

Para penjaga saling pandang. Akhirnya salah satu mengangguk enggan.

"...Masuk. Tapi kalau dia bikin keributan sedikit saja, kami akan memenggal kepalanya."

Begitu melewati gerbang, bisik-bisik langsung terdengar.

"Goblin itu serem banget."

"Pasti budak."

"Kasihan tuannya, harus bawa monster."

Grom menunduk lebih dalam. Tapi punggungnya tetap tegak.

Luna berjalan di sisi Grom. "Abaikan saja. Mereka bodoh dan pengecut."

Grom melirik Luna sekilas. Lalu dia mengangguk kecil.

*Malam di Penginapan*

Mereka menyewa kamar paling murah. Sempit. Hanya ada satu ranjang dan jerami di lantai.

Kael mengeluarkan tiga pecahan batu mata. Meletakkannya di atas meja kayu yang reyot.

"Lihat." Kata Kael, suaranya pelan. "Api hitam. Portal. Penculikan massal. Ini persis sama dengan yang terjadi di..." Kael melirik Grom. "...di tempat itu."

Luna langsung paham. "Jadi pelakunya sama."

Grom duduk di lantai. Dia mengambil salah satu pecahan batu. Mengusapnya dengan jempol kasarnya. Matanya menatap batu itu dalam waktu yang lama.

Di dalam mata merahnya, ada sesuatu yang menyala. Bukan air mata. Tapi api. Api dendam.

Kael mengulurkan tangan. Menepuk bahu Grom dengan keras.

"Kita akan membalas. Bersama."

Grom mendongak. Untuk pertama kalinya dalam tiga hari, sudut bibirnya terangkat. Sedikit. Itu adalah sebuah senyum.

[Notifikasi Sistem]

[Ikatan Tim: Lv.2 - Sumpah Darah Terbuka]

[Efek: Saat bertarung bersama anggota tim, Pertahanan seluruh anggota +15%. Saat melindungi anggota tim, Pertahanan +30%]

Di luar jendela, hujan mulai turun lagi.

Perjalanan mereka di Ibukota... baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!