Sìang itu pesawat Bomber Martin B-10 Belanda terbang rendah di langit RANCAGAOK
BOOOOM!!!
Cahaya putih menyilaukan membelah malam. Tanah terlempar ke udara. Atap rumah Pak Lurah terangkat lalu hancur berkeping-keping.
"Turun!" teriak Bayu.
Semua menjatuhkan diri ke tanah. Debu dan pecahan bambu menghujani punggung mereka. Bau mesiu dan kayu terbakar memenuhi udara.
*TAT... TAT... TAT...*
Suara tembakan dari udara menyisir tanah. Peluru menancap ke batang pisang dan pematang sawah. Bayu menarik Astri ke bawah parit.
Bayu, Karta, Ningsih, Astri bertekad untuk merebut kampung halaman mereka dari tangan belanda hanya bermodal tekad berjuang dan senjata seadanya.
Kisah perjuangan anak muda melawan penjajah, semoga jadi pengibar semangat anak muda Indonesia" MERDEKA"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 : RENCANA DALAM BAYANGAN
Malam sebelum Cikadu berubah menjadi lautan api dan jeritan kepanikan Belanda, Bayu berdiri di atas sebuah bukit kecil yang menghadap ke desa. Di belakangnya, Karta, Jaka Kelitik, Embek Gombloh, dan Sukria mengamati setiap gerak-geriknya. Udara dingin menyusup lewat dedaunan, membawa bisikan angin yang seolah bersekutu dengan rencana mereka. Bukan bisikan ketakutan, melainkan bisikan keyakinan.
Bayu mengangkat tangannya, memberi isyarat agar mereka mendekat. Cahaya bulan yang samar memantulkan bayangan panjang dari pohon-pohon besar, menciptakan suasana sakral namun penuh perhitungan. Wajah Bayu tenang, namun matanya memancarkan ketegasan yang tak terbantahkan.
"Saudara-saudaraku," Bayu memulai, suaranya pelan namun terdengar jelas di antara keheningan malam.
"Malam ini, kita akan memulai babak baru dalam perjuangan kita. Tentara Belanda sudah terdesak, frustrasi, dan lapar. Mereka akan datang ke Cikadu. Dan kita harus siap menyambut mereka."
Karta maju selangkah. "Kami sudah siap, Yu. Jebakan sudah terpasang, pasukan sudah diatur. Tapi bagaimana dengan penduduk desa? Mereka masih banyak di sana."
Bayu menghela napas. Ini adalah bagian tersulit dari setiap rencananya: melindungi rakyatnya. "Dua hari yang lalu, aku sudah mengirimkan pesan kepada Lurah Karta dan para tokoh masyarakat. Aku meminta mereka untuk mempersiapkan evakuasi."
Jaka Kelitik menyela, "Apakah mereka akan mau, Yu? Mereka sangat mencintai tanah mereka. Beberapa dari mereka keras kepala."
"Mereka akan mengerti, Jaka," jawab Bayu yakin.
"Aku tidak meminta mereka untuk meninggalkan tanah ini selamanya. Aku meminta mereka untuk mundur sejenak, agar kita bisa melawan musuh tanpa membahayakan mereka. Lagipula, Cikadu yang ini akan kita jadikan umpan. Cikadu yang sesungguhnya, kamp pengungsian kita yang baru, harus tetap aman."
Sukria mengangguk. "Pasukan keamanan dari kita sudah mengawal sebagian besar penduduk yang bersedia, Yu. Mereka membawa anak-anak dan wanita ke tempat yang sudah kita siapkan di lembah sebelah timur. Lembah itu tersembunyi dari jalur yang biasa dilalui Belanda."
Bayu mengalihkan pandangannya ke Cikadu. Di sanalah, beberapa keluarga sederhana masih tinggal, enggan meninggalkan rumah mereka.
"Kita tidak bisa memaksa mereka, tapi kita harus memastikan mereka mengerti risikonya. Siapa yang terakhir bertugas memastikan semua warga sudah diberitahu?"
"Aku, Yu," jawab Karta.
"Tadi sore aku bersama beberapa pemuda berkeliling lagi. Memberi tahu agar mereka segera mengungsi. Memberi tahu bahwa Cikadu akan kita bakar untuk jebakan. Ada beberapa yang masih enggan, Yu, tapi aku sudah meyakinkan mereka bahwa ini demi kebaikan mereka sendiri. Mungkin ada beberapa yang masih tersisa, tapi jumlahnya tidak banyak."
"Baiklah. Pastikan tidak ada satupun yang tertinggal di area bahaya, Ta," tegas Bayu.
"Keselamatan rakyat adalah yang utama. Kita tidak boleh membiarkan Belanda punya alasan untuk mengklaim bahwa kita yang menyakiti rakyat sendiri."
Embek Gombloh menepuk tongkat besinya ke tanah.
"Bagaimana dengan pasokan, Yu? Kita sudah memindahkan semua yang kita bisa dari Cikadu yang lama."
"Tepat," kata Bayu, mengamati para pejuangnya.
"Ini bukan hanya tentang evakuasi manusia. Ini tentang evakuasi kehidupan. Kita sudah memastikan bahwa cadangan makanan yang cukup, benih-benih, alat pertanian dasar, dan persediaan obat-obatan sudah dipindahkan ke kamp pengungsian yang baru. Kita juga sudah menyembunyikan beberapa pasokan di tempat-tempat rahasia di hutan, untuk berjaga-jaga jika kamp baru kita ditemukan."
Ia beralih ke Jaka Kelitik. "Jaka, pastikan pasukan inti kita, terutama yang bersenjatakan senapan, sudah siap. Senjata-senjata warisan dari kakek-kakek kita itu harus dijaga baik-baik. Kita tidak punya banyak amunisi. Setiap tembakan harus mematikan. Dan senapan bambu yang sudah kita buat, pastikan itu sudah terdistribusi dengan baik kepada para pejuang."
"Sudah, Yu. Mereka sudah siap di posisi masing-masing. Peluru bambu sudah diasah dan diolesi getah pohon gatal yang bisa membuat kulit mereka gatal-gatal selama berhari-hari. Beberapa pejuang juga sudah menyiapkan busur dan panah, beberapa ujungnya kita beri racun dari getah tanaman hutan," lapor Jaka, matanya berbinar.
"Mereka tidak akan bisa menebak dari mana serangan itu datang."
Bayu mengangguk puas. "Bagus. Kita akan menggunakan setiap kelemahan mereka. Keangkuhan mereka, ketidakpahaman mereka tentang hutan ini, dan ketidakmampuan mereka untuk membedakan antara musuh dan rakyat sipil."
"Bagaimana dengan jebakan, Yu?" tanya Sukria.
"Kita sudah memasang ranjau-ranjau sederhana, lubang-lubang beracun, dan tali-tali yang akan menjatuhkan batu. Tapi apakah itu cukup untuk membuat mereka panik?"
Bayu tersenyum tipis. "Cukup, Sukria. Kita tidak perlu membunuh semua dari mereka. Kita perlu menanamkan ketakutan dan kebingungan. Kita perlu menguras moral dan logistik mereka. Ingat, perang ini bukan hanya tentang siapa yang punya senjata lebih banyak. Tapi siapa yang punya semangat dan akal lebih cerdik."
Ia menunjuk ke arah Cikadu. "Malam ini, beberapa pejuang akan menyulut api di beberapa titik desa yang kosong. Bukan seluruh desa, hanya beberapa rumah strategis. Kita ingin menciptakan kekacauan, membuat Belanda berpikir bahwa kita panik dan membakar desa sebelum melarikan diri."
"Dan tulisan di dinding itu, Yu?" Karta bertanya sambil tersenyum.
"Ide yang brilian."
"Ya," jawab Bayu.
"Pesan itu harus jelas. Ini adalah tanah kita, dan kita yang berkuasa di sini. Kita akan membuat mereka merasa seperti tamu tak diundang yang tersesat di pesta yang mematikan."
"Dan perang saraf lewat suara, Yu?" Embek Gombloh bertanya.
"Nyanyian itu... itu akan membuat mereka gila."
"Tepat sekali, Embek," kata Bayu.
"Nyanyian sedih dari para wanita, suara-suara aneh yang memantul di hutan, teriakan yang sengaja diubah oleh gema. Itu akan bermain-main dengan pikiran mereka. Membuat mereka melihat hantu di setiap bayangan, mendengar musuh di setiap desiran angin. Kita akan membuat mereka menembak bayangan mereka sendiri."
Rencana itu sudah disusun matang, setiap detail diperhitungkan. Bayu tidak hanya memikirkan serangan, tetapi juga pertahanan, dan yang terpenting, keselamatan rakyatnya. Ia adalah pemimpin yang memahami bahwa kekuatan sejati bukan hanya terletak pada kekerasan, tetapi pada kecerdasan dan dukungan rakyat.
Beberapa jam kemudian, saat fajar mulai menyingsing, Bayu dan pasukannya sudah berada di posisi masing-masing, mengawasi Cikadu dari bukit. Mereka melihat asap pertama mulai mengepul, dan tak lama kemudian, api mulai menjalar.
Mereka melihat pasukan Belanda yang kelelahan dan frustrasi, dengan jelas terlihat dari pergerakan mereka. Mereka mendengar suara telegraf dari kejauhan, nada-nada yang terburu-buru dan penuh amarah yang menunjukkan betapa tekanan dari markas juga menggerogoti mental komandan Belanda.
Saat pasukan Belanda akhirnya tiba di Cikadu, Bayu dan pasukannya melihat kekacauan yang terjadi. Api yang berkobar, penduduk desa yang masih panik (beberapa dari mereka mungkin memang belum sempat dievakuasi atau memilih untuk tinggal, menambah elemen kejutan), dan kemudian, ranjau-ranjau sederhana yang mulai meledak.
"Lihat mereka," bisik Bayu kepada Karta, dengan senyum puas.
"Mereka masuk perangkap kita. Persis seperti yang kita rencanakan."
Mereka melihat bagaimana Kapten De Vries yang sombong, mencoba mengendalikan situasi, namun sia-sia. Setiap langkah Belanda adalah kesalahan. Setiap kepanikan mereka adalah kemenangan kecil bagi Bayu.
Suara senapan bambu Jaka Kelitik dan para pejuang lainnya mulai terdengar, menembak dari posisi tersembunyi. Bukan untuk membunuh secara massal, tetapi untuk menekan, untuk menambah ketakutan, untuk membuat mereka merasa tidak aman di mana pun.
" De verraderlijke honden! Ik zal ze laten boeten voor dit! " (Anjing-anjing pengkhianat itu! Aku akan membuat mereka membayar untuk ini!) mereka mendengar Kapten De Vries berteriak, suaranya putus asa.
Bayu hanya tersenyum. "Dia bilang dia akan membuat kita membayar. Tapi siapa yang membayar sekarang, Kapten?" gumamnya pada diri sendiri.
Melihat pasukan Belanda mundur dengan panik, meninggalkan Cikadu yang terbakar dan beberapa korban yang mereka tinggalkan, Bayu merasakan campuran kepuasan dan kesedihan. Kepuasan karena rencana mereka berhasil, kesedihan karena tanahnya harus terbakar demi kebebasan.
"Ini baru awal," kata Bayu kepada pasukannya.
"Mereka akan kembali. Tapi kali ini, mereka akan tahu siapa yang mereka hadapi. Mereka akan tahu bahwa hutan ini bukan hanya tempat, tapi juga pejuang."
Matahari bersinar terang di atas desa yang hangus, namun di balik asap, Bayu dan pasukannya merasa semakin kuat. Mereka telah menunjukkan kepada kolonial bahwa perlawanan tidak hanya membutuhkan kekuatan fisik, tetapi juga kecerdikan, strategi, dan yang terpenting, cinta terhadap tanah air yang tak tergoyahkan.