Belle Ursula yang waktu itu masih pelajar di sekolah menegah atas kelas dua belas di sukai oleh Lettu Harrel Jitro karena kecantikan dan kelincahan Belle di lapangan voli. Pertemuan itu, membuat Harrel berusaha mendekati Belle yang masih duduk di kelas dua belas. Mereka perpacaran. Ketika Belle lulus seleksi kuliah di fakultas kedokteran pada salah satu universitas negeri di Jogja. Cinta mereka di uji waktu dan jarak. Apakah cinta pertama Belle akan abadi??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Syok Terapi Pertama
Didalam mobil, Belle yang duduk di belakang sibuk berbicara dengan Sertu Beni. Hal ini membuat Beni riskan kepada komandannya. Karena semua pertanyaan komandannya tidak di tanggapi oleh Belle.
Sampai mereka tiba di toko yang lumayan besar. Belle mulai membelanjakan beberapa snack dan begitu kagetnya melihat harga barang itu. Hugo langsung mengambil semua barang yang Belle mau dimasukan ke dalam keranjang belanjaannya Belle.
"Ini mahal, saya tidak jadi beli."
"Kalau ko berharap harga sama seperti warung ibu nita di kompleks tidak akan ada. Ini puncak jaya." Hugo mengambil keranjang belanja Belle.
"Apa lagi yang mau kamu beli."
"Ngak ada."
Hugo mulai mengambil setiap snack yang Belle suka sebanyak lima bungkus. Dan juga beberapa snack yang di suka, yang Hugo tahu. Belle hanya bisa menatap. Setelah itu dia membayar. Dalam perjalanan pulang, Belle memperhatikan banyak sekali penjual makanan.
"Ada warung makan padang juga ya."
"Sore mandi dandan yang cantik, kita berdua keluar makan di warung padang. Tidak ada penolakan adek."
Belle langsung kaget dan mukanya memerah. Beni tersenyum. Dia tidak menyangka bahwa komandannya berani sekali.
"Kamu senyum - senyum apa Ben."
"Siap komandan. Siap salah."
Sore hari, apa yang di ingkan Belle akan terkabul, setelah hampir tiga bulan di kota Mulia, dia bisa akan menikmati masakan padang kesukaannya. Selama tiga bulan dia hanya di markas tidak perna keluar kompleks, karena takut. Baru sekali ini dia pergi ke toko. Biasanya Hugo yang membeli semua kebutuhan Belle. Dia masih ingat apa saja snack kesukaan Belle. Dan selalu mau di ganti uangnya dia tidak mau.
"Kita naik motor??"
"Kamu takut??"
"Sedikit."
"Tetapi mau naik motor kan??"
"Iya."
Hugo menggunakan rompi anti peluru pada Belle kemudian memberi Jaket untuk dia gunakan. Sedangkan Hugo jelas sudah menggunakan rompi itu. Dia meminta empat anggotanya ikut. Mengawal dia dengan senjata lengkap.
"Peluk kakak."
"Nanti ada yang marah??"
"Siapa pacar kamu??" Hugo tahu, bahwa Belle menjaga jarak karena kabar lima tahun lalu, rencana saya menikah dengan sertu Natalia almarhumah. Saat berita itu, Belle menghapus semua media sosialnya. Dan membatasi pertemanannya. Hanya orang - orang tertentu yang bisa menghubunginya atau yang dia hubungi.
"Pacar kamu marah??"
"Masih kecil saya, belum berpikir buat punya pacar??"
"Dua puluh dua tahun?? Ngak punya pacar." Hati Belle sakit sekali mendengar Hugo laki - laki yang sudah menyakitinya berkata demikian.
"Emang ada undang - undang mengatur usia berapa harus punya pacar."
"Ngak sih. Ngak usah ngambek nanti cantiknya hilang. Dan sekarang peluk kakak."
Belle pun mengikuti. Dalam hatinya dia berkata, bahwa dia tidak bertanggung jawab jika istrinya tahu. Bella cuek saja. Hugo senang sekali, bisa di peluk kembali oleh Belle. Sementara empat anggotanya yang ada di belakang motor mereka hanya tersenyum.
Hugo sengaja membawa Belle lewat jalan yang agak jauh, karena dia tahu selama tiga bulan Belle tidak perna keluar markas. Belle merasa jalan yang dia lalui siang dan sore menjelang malam ini berbeda.
"Kak, kamu niat jahat sama saya kah??"
"Kenapa berpikir begitu."
"Aku ngak bodoh ya. Tadi siang jalannya berbeda dengan jalan sekarang."
"Kamu takut."
"Iya lah. Kamu niat jahat ya sama aku."
"Pikirannya selalu negatif. Kenapa??"
"Ini jalan yang berbeda sedikit jauh, tetapi menurutku saat ini lagi aman. Sekalian biar kamu bisa lihat pemandangan di malam hari."
Tidak lama mereka sampai di pusat kota Mulia. Tepat di depan warung makan. Hugo melihat banyak sekali orang berkumpul. Dan sudah ada polisi disana. Hugo lalu memesan nasi padang dan memesan lauk kesukaan Belle.
"Apa sudah berubah??"
"Tidak, itu yang mau saya pesan." Hugo tersenyum. Hati kecil Belle berkata masih ingat saja. Mereka pun berenam menikmati nasi padang.
Tim polisi yang pengamanan juga datang makan di tempat yang sama. Hugo pun menanyakan keamanan dan kejadian kecelakaan tadi.
"Ting, siapa yang kecelakaan??"
"Ojek dan warga setempat."
"Bagaimana kondisi??"
"Dua - dua kritis dan di larikan ke rumah sakit daerah."
"Sepertinya situasi bahaya ini."
Tidak lama Belle mendapat telepon dari dokter Joe Timotius. Bahwa pasien darurat dari rumah sakit daerah akan pindah ke klinik nusantara. Hugo langsung membayar dan membawa Belle kembali ke markas. Polisi yang tadi makan juga di minta bantuan untuk mengevakuasi korban ke markas tentara. Karena disana ada dokter bedah.
Belle sudah diantar oleh Hugo kembali ke markas. Dan sudah bersiap untuk menerima pasien darurat. Namun informasi yang diterima oleh Hugo warga lokal sudah meninggal jadi mereka kesulitan membawa korban kritis yang satu yang adalah tukang ojek. Setelah sesama dokter berkomunikasi dokter Joe dan dokter Belle akan di bawa ke rumah sakit daerah untuk menolong pasien kritis itu. Namun waktu mereka tiba di rumah sakit tukang ojek, pasien kritis pun sudah meninggal. Dan sudah banyak sekali masa berkumpul dengan alat - alat perang mereka.
Negosiasi antara aparat keamanan dengan warga mengalami jalan buntu, karena mereka tetap meminta ganti rugi. Dan lebih payahnya mereka tidak mengijinkan jenasah tukang ojek pindah sebelum bayar denda. Hugo sudah membawa kembali Belle dan dokter Joe ke markas.
Siaga satu di markas pun diperintahkan. Hugo sudah memerintahkan anggota satgas terdekat untuk siaga di pusat kota.
"Jangan perna kepo, baru mau keluar markas. Ingat adek."
"Iya."
"Kamu disini aman." Hugo melihat wajah pucat Belle. Setelah menenangkan Belle dan menginstruksikan anggotanya untuk siaga di markas. Hugo kembali ke pusat kejadian. Membantu aparat lain, untuk negosiasi. Mendengar dan memberi pengertian, akhirnya masa pulang.
Pagi - pagi atas permintaan keluarga, Jenasah mau di pulangkan ke Jawa untuk di makamkan dikampung halamannya. Namun kembali lagi warga memalang bandara, karena urusan adat belum selesai. Dan atas kesepakatan paguyuban yang berjanji akan memberikan denda, pesawat pun membawa jenasah ke Jayapura dan dari sana ke Jawa.
Denda yang di janjikan oleh ketua paguyuban dibayarkan didepan aparat dan warga. Bukan uang sedikit, denda atas meninggalnya kerabat mereka itu di nilai sangat mahal dana satu miliar pun terkumpul dan diberikan kepada keluarga korban.
"Itu adat."
"Kamu tahu dokter."
"Ya saya besar di Papua, sedikit tahu. Tetapi di setiap daerah beda - beda adatnya."
"Iya."
Karena fasilitas dan kesediaan tenaga medis yang kurang membuat korban kecelakaan itu terjadi. Namun jika mengingat kembali bahwa hidup dan mati orang itu sudah di atur oleh Tuhan. Jadi sebagai manusia harus berhati - hati.
Syok terapi pertama bagi tim medis nusantara melihat peristiwa itu. Ali, Rusman dan Jefry langsung memiliki nyali yang kecil.
"Pantas kita fisiknya dilatih seperti tentara karena ini maksud di lapangan."
"Sabar bro masih sembilan bulan lagi kontrak kita dan bisa saja di perpanjang."
Belle kembali menakuti ketiga rekan medisnya. Sehingga membuat dokter Joe dan Lettu dokter Julius dan dua ners tentara lainnya tersenyum melihat jailnya seorang Belle. Ternyata bukan hanya mereka Hugo juga melihat tingkah Belle menakuti ketiga rekannya. Hugo geleng - geleng kepalanya.