"Ahh!"
"Kamu harus melahirkan pewarisku, Amoera ... untuk menebus dosa ayahmu!"
Perang berdarah antar-organisasi memaksa Amoera, putri tunggal mafia Blood Dominion, jatuh ke tangan Leon D'Alterio. Pemimpin kejam Cosa Nero itu menuntut balas dendam atas kematian orang tuanya, dan Amoera harus melahirkan pewarisnya.
Namun takdir berjalan brutal. Amoera melahirkan bayi kembar laki-laki, tetapi Leon merebut bayi yang hidup dan mengusir Amoera bersama bayinya yang dianggap telah mati.
Empat setengah tahun berlalu. Amoera kembali sebagai pembunuh bayaran dingin dengan misi mutlak. menghabisi pewaris Cosa Nero, yang tak lain adalah putranya sendiri.
Saat laras pistol telah membidik target, kebenaran fatal terkuak. Leon tertegun melihat bocah di samping Amoera yang sangat mirip dengan putranya.
"Kamu mau membunuh putramu sendiri, Amoera?"
Ketika rahasia masa lalu terbongkar, siapakah yang akan hancur dalam lingkaran balas dendam ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjalankan Misi
Hari yang dinantikan akhirnya tiba. Di dalam kamar utamanya yang luas dan sunyi, Leon D'Alterio tampak sudah rapi dengan pakaian formalnya. Selama tiga hari ke depan, ia akan berada di pusat kota untuk menghadiri sebuah pesta pertemuan bisnis kelas atas yang sekaligus menjadi kedok sempurna untuk beberapa keperluan rahasia organisasi Cosa Nero yang tidak boleh diketahui publik. Untuk itu, sang pemimpin tertinggi dipastikan tidak akan menampakkan batang hidungnya di mansion selama beberapa hari ke depan.
Leon berjalan keluar dari kamarnya sembari bergerak menautkan kancing di pergelangan lengan kemeja putihnya. Langkah kakinya yang berat dan penuh wibawa semula terarah menuju kamar tidur sang putra sulung. Namun, di tengah koridor yang remang, ia justru berpapasan dengan Lula yang baru saja keluar dari arah sana.
"Tuan," sapa Lula sembari menundukkan kepalanya dalam, memberikan penghormatan mutlak pada sang majikan.
"Dimana Enzo? Aku harus berpamitan dengannya sebelum berangkat," ucap Leon dengan nada suara yang datar dan dingin, tanpa ekspresi.
Lula mengangguk pelan, jemarinya bertaut di depan apron pelayannya. "Tuan Kecil baru saja terlelap untuk tidur, Tuan. Apa perlu saya masuk ke dalam dan membangunkan beliau sekarang?"
Mendengar hal itu, Leon segera mengangkat sebelah tangan kanannya di udara, memberi isyarat penolakan mutlak. "Tidak perlu, Lula. Biarkan saja dia beristirahat. Baguslah kalau anak nakal itu sudah tidur, jadi aku tidak perlu repot-repot menyaksikan drama teriakannya yang pasti akan mengamuk meminta ikut ke kota," ucap Leon acuh tak acuh.
Pria itu langsung membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi begitu saja, meninggalkan Lula yang hanya bisa berdiri mematung sembari menghela napas panjang menatap punggung sang majikan.
"Sejak masih bayi jaring-jaring kebebasannya dikurung rapat di dalam rumah ini, bagaimana bisa anak sekecil itu tidak stres?" gumam Lula lirih setelah memastikan langkah kaki Leon sudah menjauh.
"Aku pun kalau berada di posisi Tuan Kecil Enzo, jangankan hanya berteriak protes setiap hari, aku pasti juga akan memikirkan cara untuk kabur dari sini. Untungnya, Tuan Kecil masih tergolong anak yang baik dan penurut," lanjut Lula menggelengkan kepala pelan sebelum akhirnya melangkah kembali menuju kamarnya sendiri untuk melanjutkan pekerjaan.
Leon melangkah menuruni undakan tangga marmer megah menuju lobi utama mansion. Di sepanjang jalan, para anak buah dan pengawal setianya sudah berdiri berbaris rapi dengan kepala tertunduk guna menyambut keberangkatan sang bos besar. Salah seorang kepercayaan Leon melangkah maju, menyodorkan sebuah pistol hitam jenis Glock berperedam. Leon meraih senjata api tersebut tanpa banyak bicara, memeriksa magasinnya sejenak dengan lihai, lalu menyelipkannya ke balik ikat pinggang celana bagian belakang. Sesaat kemudian, ia meraih jas hitam formalnya dari tangan pelayan lain dan mengenakannya dengan sekali hentakan anggun.
"Tuan, mungkin kepergian Anda ke kota kali ini akan terasa jauh lebih berbahaya dari biasanya. Informasi terbaru menyebutkan bahwa Phantom of Ravenna diprediksi akan kembali bergerak untuk mematikan satu mangsa penting lagi dalam waktu dekat," ucap Black dengan suara rendah yang penuh kewaspadaan, membantu merapikan kerah jas yang dikenakan Leon.
Leon menatap lurus ke depan, sepasang manik matanya berkilat tajam memancarkan arogansi seorang penguasa dunia bawah yang tak tertandingi.
"Aku tidak takut, Black. Intuisi dan insting membunuhku terlalu kuat untuk bisa dikelabui oleh seorang tikus got. Lagipula, siapa pun pembunuh bayaran itu, dia bukanlah lawan yang sepadan untuk bersanding denganku," ucap Leon dingin penuh rasa percaya diri. Ia kemudian melangkah lebar mendekati mobil sedan antipeluru miliknya yang sudah terparkir gagah di depan teras.
Seorang pengawal dengan sigap membukakan pintu penumpang bagian belakang untuknya. Tadinya, Leon sudah bersiap untuk melangkahkan kakinya masuk ke dalam kabin mobil. Namun, secara mendadak, bulu kuduknya meremang pelan. Tumpuan langkahnya terhenti secara instan. Leon merasa ada sepasang mata tersembunyi yang tengah mengawasi pergerakannya dari jarak dekat. Matanya bergerak tajam, menolehkan kepalanya ke arah samping tempat sebuah pilar beton besar berdiri kokoh. Namun, setelah beberapa detik mengamati dengan saksama, dirinya tidak melihat tanda-tanda pergerakan apa pun di sana. Mengira itu hanyalah angin yang berembus, Leon pun melanjutkan langkahnya naik ke dalam mobil tanpa menyimpan rasa curiga lebih lanjut.
Sementara itu, di bagian belakang mobil, Black tampak sedang membuka pintu bagasi yang luas. Ia mulai memasukkan beberapa koper pakaian milik Leon serta beberapa kotak kayu berisi senjata cadangan yang dirasa perlu untuk dibawa sebagai bentuk antisipasi.
"Sudah masuk semua koper milik Tuan Leon?" tanya Black dengan nada tegas pada salah satu anak buahnya yang berjaga di dekat bumper.
Namun, rekannya itu justru malah menggelengkan kepalanya dengan raut wajah bingung, membuat Black berdecak kesal karena ketidakbecusan bawahannya.
"Biar aku periksa sendiri ke dalam," gerutu Black kesal.
Ia membalikkan tubuhnya dan kembali melangkah masuk ke dalam area kediaman untuk mengambil barang yang tertinggal, sementara pintu bagasi mobil dibiarkan terbuka lebar begitu saja tanpa ada yang menjaga.
Hanya berselang beberapa detik setelah Black menghilang di balik pintu lobi, sebuah siluet kecil tampak bergerak dengan sangat gesit dari balik semak-semak. Tanpa disadari oleh siapa pun, sosok bocah menggemaskan dengan sebuah ransel kecil di punggungnya itu melompat ringan, menyusup masuk ke dalam ruang bagasi mobil yang gelap, lalu meringkuk sempurna di balik tumpukan koper-koper besar.
Tidak lama kemudian, Black kembali datang dengan membawa sisa barang yang diperlukan. Pria kekar itu sama sekali tidak menyadari jika kini ada seorang penumpang gelap yang sedang menahan napas di dalam bagasi mobilnya.
"Sudah semua," ucap Black pendek sembari meletakkan barang terakhir, lalu dengan sekali sentakan kuat, ia menutup pintu bagasi mobil hingga mengunci rapat.
Black kemudian berpindah berjalan ke arah depan mobil, membuka pintu kemudi, dan duduk bersanding di sebelah sopir. Detik berikutnya, mesin mobil mewah itu menderu halus, mulai melaju perlahan mengikuti pergerakan dua mobil pengawal lainnya yang sudah lebih dulu bergerak membelah jalanan, meninggalkan area mansion yang kian menjauh.
Sementara itu, di dalam ruang bagasi yang gelap gulita dan pengap, sosok bocah mungil yang berhasil menyelundupkan dirinya itu tengah meremas liontin bintang hitam di dadanya sembari menahan rasa bahagia yang luar biasa membuncah di dalam hati kecilnya. Rencana gilanya berjalan dengan sangat sempurna tanpa cacat.
"Beginiii lacanya naik mobil ... belgoyang-goyang kita di dalam cini, babaii Olang Tuaaaa!" bisik Enzo dengan suara yang teramat pelan, terkekeh geli merasakan guncangan mobil yang mulai melaju membelah jalanan kota demi menemukan sang Mommy.
____________