NovelToon NovelToon
Menjalani Cinta Terlarang

Menjalani Cinta Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyelamat / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Virgo kelabu

Seorang ayah angkat yang secara terpaksa menikahi putri angkat nya. Dia melakukan hal itu karena memenuhi janjinya kepada almarhumah sahabat nya untuk melindungi nya.
Sebenarnya dia telah gagal memenuhi janjinya karena nasib malang yang menimpa Artika. Ternyata masih memiliki hubungan darah dengan nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEHORMATAN YANG DI AMBIL PAKSA

"Ayah... Tunggu! Tika benerin dulu dasinya. Aduh gini amat nasib single parent"

"Ngomong nya. Awas tidak Ayah kasih uang saku lho."

"Kalau tidak di kasih Tika minta sama Oma. Weeek." Oma Indira hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku putra dan cucu semata wayangnya itu.

"Lha, kalau seperti itu Daddyi pasrah deh." Aldri berpura-pura sedih.

"adudududu kasihan deh Ayah Tika, nih. Sini Tika peluk." Antika memeluk tubuh Aldri dan mencium pipinya. Aldri tersenyum dan mencium pipi Antika.

Aldri memandang wajah putri angkatnya yang sangat cantik ketika tersenyum, terlihat jelas lesung pipi yang menghiasi wajahnya. Sejak memasuki usia remaja Antika semakin mirip dengan sosok almarhumah ibunya. Wanita yang sangat dicintai Aldri, akan tetapi tak mampu ia miliki.

Terkadang timbul rasa aneh yang menjalar di hati Andri. Hatinya terasa berdebar tatkala memandang gadis mungil itu apalagi ketika Antika memeluknya. Kilasan wajah wanita yang ia cintai selalu melintas ketika Putri angkatnya itu bermanja padanya.

Aldri berusaha menepis jauh rasa itu. Ia sama sekali tak pantas memiliki rasa terhadap putrinya sendiri meskipun Antika bukan darah dagingnya. Ia menghela nafas dan menggelengkan kepala sambil memasang sepatu kerjanya.

"Oh iya, Yah. Di sekolah Tika ada murid baru lho! Cowok guanteng buanget pokoknya dah. Dia pindahan dari kota Jakarta. Selain dia ganteng nya kebangetan dia juga pinter olahraga dan....."

"Cukup, Tika. Ayah tidak mau dengar Tika bicara tentang anak laki - laki sampai Tika cukup umur." Aldri berdiri lalu pamit kepada ibunya untuk berangkat ke kantor. Ia mencium kening sang ibu dan putrinya. Kemudian ia meninggalkan Antika yang masih terbengong mendapatkan reaksi Ayahnya.

Antika menoleh pada Oma nya. Indira hanya bisa tersenyum manis.

"Oma, Ayah kenapa sih?" Antika berjalan mendekati sang Oma yang masih berkutat di meja makan.

Hari ini Antika libur sekolah karena para dewan guru sedang rapat. Ia berjanji pada Oma nya akan membantu pekerjaan rumah.

Indira membelai sayang rambut lurus Antika. "Cucu Oma tersayang, jangan terlalu di ambil hati kata - kata Ayah mu. Ayah mu hanya khawatir saja. Itu hal yang wajar, kan, seorang Ayah mengkhawatirkan putrinya? Apalagi masalah percintaan."

"idih, Oma apaan, sih? Siapa bilang Tika jatuh cinta. Orang Tika cuma kagum aja kok, gak lebih. Lagian, nih ya Tika tuh masih belum kenal juga sama anaknya." Antika mengomel ngomel sambil memanyunkan bibirnya.

Di sisi lain Aldri yang sedang mengendarai mobil menuju ke perusahaan miliknya merasa sangat bersalah atas sikap nya tadi. Ia berusaha menenangkan diri ketika sampai di kantor nya.

Sejak kehadiran Antika kehidupan Aldri sangat bergelimang harta. Perusahaan yang di rintis nya sangat maju pesat. Ia menjadi salah satu sosok konglomerat dengan gelar pria mapan dan lajang yang menjadi incaran para wanita. Tak terkecuali wanita - wanita seksi yang menjadi karyawan dan rekan bisnisnya saat ini.

Aldri memandang foto Antika yang terpajang di meja. Gadis itu tampak ceria dengan senyum khas lesung pipinya. Ia memakai seragam putih abu-abu dan rambutnya tergerai indah. Setengah tahun lagi gadis berhidung mancung itu akan lulus sekolah.

"Tidak terasa 18 tahun sudah berlalu. Padahal seolah baru kemarin aku mendengar tangisan bayi perempuan di rumah sakit. Haaah. Ada apa dengan ku? Kenapa aku begitu marah saat mendengar cerita Tika tentang cowok idola nya? Apa aku ini sudah edan karena menganggap Tika sebagai Tiara, ibunya? Huft..."

Aldri bersandar di punggung kursi kerja nya. Ia menengadah dan menghela nafas. Tangan nya memijat pelipisnya. Batin nya berkecamuk mencoba memahami perasaan nya saat ini.

Beberapa bulan telah berlalu. Antika ternyata telah merajut kasih dengan pemuda pindahan yang pernah ia ceritakan pada Ayahnya.

Sejak Antika menyatakan hubungan nya kepada Aldri, pria itu menjadi semakin protektif dan mudah sekali marah. Alih-alih tidak ingin Antika mengalami hal serupa seperti ibunya, yang ditinggal kan begitu saja oleh laki - laki yang menghamilinya. Namun, alasan yang lebih kuat adalah rasa sakit ketika mendengar Antika telah jatuh cinta.

***

"Cukup, Tika! Masuk kamar mu sekarang juga! Suara Aldri menggema di ruang makan rumah nya.

Antika dan Ibu Aldri sangat terkejut mendengar bentakan tersebut. Pasalnya, seorang Aldri Vigoro belum pernah sekalipun marah yang berlebihan apalagi sampai membentak. Antika merasa panik dan ketakutan. Gadis itu langsung menuju kamar nya.

Aldri meremas rambutnya dengan kedua tangannya lalu mengusap wajah nya dengan kasar. Kedua tangannya mengepal mencoba untuk meredam emosi yang meluap-luap tak terkendali.

Setelah beberapa menit Aldri mulai menyadari kekhilafan nya. Ia memandang sang ibu yang masih setia di tempat duduknya.

Ibu Aldri tersenyum. Wanita penyabar itu sangat memahami amarah yang di tunjukkan Aldri adalah wujud dari perhatian dan bentuk kasih sayang putranya terhadap cucu nya.

"Temui dia, Nak! Bicara kan baik- baik. Ibu yakin dia akan mengerti. Saat ini kalian hanya sedang salah faham. Jangan sampai karena masalah dengan orang luar membuat kehangatan keluarga ini menjadi canggung."

Aldri mengangguk. Ia mengecup kening ibunya. Aldri bersyukur memiliki seorang ibu yang sabar, tegar dan lemah lembut. Wanita itu selalu menjadi sosok teladan baginya. Aldri melangkah kan kakinya menuju kamar Antika. Ia mengetuk pelan pintu kamar putri angkatnya itu. Namun, sama sekali tak ada jawaban dari dalam kamar.

Aldri merasa menyesal telah membentak putri nya. Ia bahkan tidak berhak mengatur masa depan nya. Gadis itu bisa melakukan apapun yang dia inginkan asalkan dirinya bahagia. Aldri menghembuskan nafasnya dengan berat menyesali semua yang telah terjadi.

"Tika, ini Ayah, sayang. Ayah minta maaf. Tadi Ayah sudah berkata kasar pada Tika. Tika buka pintu nya,, sayang. Ayah mau bicara dengan Tika."

Beberapa menit menunggu tak juga ada balasan dari Antika, Aldri memutuskan membuka pintu kamar nya. Betapa terkejutnya Aldri mendapati ruang kamar putri nya yang kosong.

"Bu, ibu, dimana Tika?"

Ibu Aldri bergegas mendatangi putranya. "Kenapa, Al? Tadi ibu lihat Tika masuk kamar loh. Kok tidak ada? Duh Gusti... ke mana anak itu malam-malam begini? Al, cepat cari dia sekarang juga! Cepat, Nak! Ibu khawatir terjadi apa-apa sama dia"

Aldri mengangguk dan bergegas keluar rumah mengendarai mobilnya. Aldri sangat yakin gadis itu tidak akan jauh dari rumahnya karena pertengkaran mereka masih belum lama. Setelah beberapa saat berkeliling tak dapat hasil. Akhir nya, Aldri menyerah.

"kemana kamu, Tika? Sudah malam begini."

Di tempat lain.

Antika melangkah perlahan, bola matanya menyisiri sekitar taman sekolah. Ia berjanji untuk berjumpa dengan sang kekasih di sekolahnya setelah mereka berbicara melalui WhatsApp. Sebuah pelukan dari belakang mengagetkannya. Ia pun tersenyum. Namun, ada sesuatu yang aneh. Aroma rokok mengelua menusuk hidung sang gadis. Ia mulai curiga bahwa yang memeluknya saat ini bukanlah sang kekasih. Kepala nya hendak menoleh ke belakang. Tapi tiba-tiba.....

Sebuah tangan membekap mulut Antika dan menyumpalnya dengan sapu tangan. Tangan yang lain mengunci kedua tangan gadis itu dibalik pinggangnya. Gadis itu berusaha memberontak sekuat tenaga, tapi tenaga orang tersebut lebih kuat berkali lipat. Bulu kuduk Antika meremang. Rasa panik mulai menjalani dirinya. Mencoba untuk berteriak pun sia-sia. Suara nya tertutup sumbat sapu tangan.

Antika meronta sekuat tenaga. Kedua kakinya dihentak-hentakan. Salah satu kaki itu mencoba menendang ke belakang. Ia berharap dapat membuat si b******* kesakitan. Namun semua usaha yang ia lakukan berakhir sia-sia hanya semakin menguras tenaga Antika.

Embusan nafas orang yang diyakini Antika sebagai laki-laki itu mulai memburu. Gadis itu mulai ketakutan. Laki - laki yang membekapnya saat ini semakin memperkuat kuncian tangannya. Antika mulai menyesali diri karena tidak mau mendengar nasihat Ayahnya. Ia terlalu egois sehingga tidak dapat memahami rasa sayang dan khawatir yang ditunjukkan sang Ayah kepadanya.

Tangan Antika yang terkunci diikat menggunakan tali. Gadis mungil itu tetap berusaha berteriak dan memberontak, tapi semua yang ia lakukan tiada hasil.

Tubuh nya diseret ke sebuah gudang di belakang sekolah. Bau apek dan debu berbaur menjadi satu. Ruangan yang gelap semakin menakutkan Antika. Air mata nya meluncur deras berpacu dengan detak jantung yang semakin kencang. Tubuh nya gemetar dan mengeluarkan keringat dingin. Ia berdoa semoga semua yang terjadi hanyalah sebuah mimpi. Hingga ia tersadar semuanya nyata adanya ketika tangan laki-laki jahanam itu mulai bergerilya menjamah tubuh Antika.

Antika meraung berharap akan ada seseorang yang datang menolongnya. Namun, semua harapan itu hancur ketika ia merasakan kesakitan luar biasa tepat di alat vitalnya. Laki - laki biadab itu merudapaksa Antika berulang kali hingga gadis itu kehilangan kesadaran.

Aldri mencoba mengingat-ingat ke mana kiranya Antika akan pergi ketika gadis itu sedih atau marah. Bahkan Aldri tidak bisa mengingat Karena semua itu belum pernah terjadi sebelumnya. Perasaan Aldri kembali dirundung rasa bersalah dan penyesalan yang amat sangat.

Aldri mencoba menyisiri semua tempat yang pernah mereka kunjungi bersama tetap saja tanpa hasil. Aldri mulai dilanda rasa khawatir. Waktu telah menunjukkan tengah malam.

Aldri menepikan mobilnya. Ia membenturkan keningnya beberapa kali ke setir mobil. Rasa frustasi mulai melandanya. Ia teringat pertama kali mengetahui kehamilan sahabatnya, ibu Antika saat itu di taman dekat sekolah. Aldri segera membanting setir menuju ke arah sekolah Antika.

"Ya Allah perasaan apa ini? Semoga kamu tidak apa-apa, sayang."

Aldri terus melaju ke sekolah Antika. Aldri bergegas keluar dari mobil menuju taman belakang sekolah yang selalu menjadi tempat favorit putrinya itu.

Antika yang baru sadar dari pingsan merasakan seluruh badannya remuk redam. Seluruh tenaganya seakan-akan terkuras habis tak bersisa. Dengan badan yang lemas dan gemetar Antika mencoba keluar dari gudang sekolah. Tangan dan mulutnya sudah tak lagi diikat dan tersumpal.

Dengan langkah gontai dan terseok-seok, Antika menuju ke taman sekolah. Gadis yang malang itu meraba pohon besar yang ada di tengah taman. Ia meringkuk bersembunyi di dalam akar pohon besar tersebut yang menyerupai sebuah gua kecil. Antika mulai terisak-isak mengingat semua kejadian yang baru saja ia alami. Sekujur tubuhnya menggigil. Kedua tangannya memeluk lutut. Ia membenamkan wajahnya ke lutut diiringi isak tangis.

Aldri yang tiba sesaat setelah Antika meringkuk di bawah pohon bergegas mengelilingi taman. Ia tak dapat menemukan siapapun juga. Lampu taman yang sedikit redup semakin menyulitkan untuk melihat suasana sekitar hingga ia samar-samar mendengar suara tangis seseorang.

Aldri berjalan perlahan mendekati sumber suara. Suara itu semakin dekat ketika ia berada di sekitar akar pohon besar yang rindang di tengah taman sekolah tersebut. Aldri membungkuk dan mencoba memastikan apakah itu benar Antika. Saat ia melihat gaun yang dikenakan gadis yang menangis itu dirinya sangat yakin bahwa gadis itu adalah Antika.

"Tika..." suara Aldri sangat pelan. Ia mengelus lembut kepala Antika.

"Aaaaarghhh......jangaaaaaan!" Aldri sangat terkejut ketika mendapati reaksi Antika. Seketika gadis itu menjerit lalu jatuh pingsan.

Aldri yang panik segera menggendong putrinya dan membawanya ke mobil melalui pintu belakang sekolah. Ia bergegas membawa Antika pulang ke rumah. Selama dalam perjalanan Aldri terus menutupi dirinya Karena lalai menjaga Antika. Ia pun menyesali diri sendiri karena membentak Antika sehingga gadis itu memilih kabur dari rumah.

~ Ya Allah, kalau sampai terjadi apa-apa padanya bagaimana aku harus mempertanggungjawabkan kepada almarhumah sahabatku? Semua ini adalah salahku. Aku sudah teledor. Aku yang tidak becus menjaganya. Aku yang tidak bisa mengontrol emosiku.~

Indira merasa sangat cemas. Tubuh nya dari tadi mondar-mandir menunggu kedatangan putranya di depan rumah.

Sesampainya di rumah Aldri langsung menggendong Antika.

" Aldri apa yang terjadi, Nak?" ibu Aldri sangat terkejut mendapati cucu angkatnya yang pingsan dalam gendongan putra semata wayangnya. Ia pun melihat darah pada rok yang dikenakan Antika.

"Saya juga tidak tahu, Bu. Bu tolong panggil dokter segera!"

"i- iya, Nak." Sang ibu bergegas melaksanakan titah putra nya.

"Tika, bangun sayang. ini Ayah, Nak." Aldri menepuk pelan pipi Antika, tapi tidak ada reaksi apapun juga.

Beberapa saat kemudian dokter vino yang biasa menangani kesehatan keluarga Aldri tiba. Dokter sekaligus sahabat SMA-nya. Ia pun memeriksa kondisi Antika.

Berdasarkan hasil pemeriksaan dan prediksi awal, dokter tersebut menyatakan bahwa kemungkinan terbesar Antika telah menjadi korban kekerasan seksual.

Aldri dan ibunya merasa sangat sok mendengarnya. Ibu Aldri terduduk lemas. Tangan Aldri mengepal dan buku-buku tangannya memerah.

"Brengsek! Bajingan! Siapa yang berani menyentuh Antika ku? Aargh!" Aldri memukulkan tangannya ke dinding sangat keras hingga darah mengucur di tangannya.

"ALDRI!" ibu Aldri dan Vino pun teriak bersamaan karena terkejut.

"Al, sabar, Nak." ibu Aldri mencoba menenangkan meskipun air matanya tak dapat ia sembunyikan.

Setelah mengobati luka di tangan sahabatnya, Aldri. Dokter Vino memberikan saran agar masalah ini segera dilaporkan ke pihak berwenang.

Namun, Aldri menolak keras karena ia tidak ingin masalah ini diketahui oleh khalayak ramai. Ia tidak ingin Putri angkatnya merasa malu dan menjadi bahan perbincangan setiap orang. Ia akan menyelesaikan masalah ini dengan caranya sendiri.

1
Ar-Rasyid Fikri
semangat berkarya Thor 🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!