NovelToon NovelToon
Terikat Janji dengan Mantan Mesum

Terikat Janji dengan Mantan Mesum

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Percintaan Konglomerat / Dark Romance / Mantan / Romansa
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ladies_kocak

Di bawah nama besar Marga Vareksa—keluarga yang dikenal memiliki kekuasaan tak terbatas, koneksi ke segala penjuru, dan hati yang sekeras batu—Areksa Vareksa kini berdiri di puncak kekuasaan sebagai CEO termuda dalam sejarah perusahaan. Dingin, tajam, tak segan menyingkirkan siapa saja yang berani mengganggu jalannya. Bagi dunia luar, ia adalah sosok yang menakutkan; kejamnya mewarisi setiap tetes darah keluarganya, tak ada ruang untuk belas kasih—apalagi cinta.

Namun takdir punya cara paling kejam untuk membalas masa lalu.

Ia dijodohkan dengan putri dari keluarga konglomerat sekelas Vareksa. Dan saat wajah gadis itu terlihat jelas, dunia Areksa seakan berhenti berputar: Zevanna. Mantan kekasihnya—yang pernah ia sakiti, yang pernah ia tinggalkan tanpa kata, yang masih menyimpan luka mendalam akibat sifatnya yang liar dan tak terkendali.

Zevanna juga sama terkejutnya atas perjodohan itu dengan Areksa, si mantan mesum. Salah satu yang Zevanna benci. Akankah mereka bersatu kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 : Kejahilan Areksa

Sabtu pagi di mansion megah milik Areksa biasanya tenang. Zevanna yang memilih libur dan nggak mau ketemu Areksa seharian, sengaja turun ke lantai bawah jam sembilan pagi buat ambil jus jeruk di dapur. Dia pakai dress putih tapi spagetti.

Tapi baru aja Zevanna melangkah keluar dari koridor dapur menuju ruang tengah, langkah kakinya langsung terhenti seketika.

Di sofa ruang tamu, duduk seorang wanita cantik. Sangat cantik. Rambutnya wavy cokelat gelap, kulitnya mulus bersih, dan gayanya effortless chic banget pakai blazer santai. Umurnya kelihatannya masih 20-an akhir atau awal 30-an, pokoknya masih kelihatan sangat muda, modis, dan kinclong.

Yang bikin darah Zevanna langsung naik ke ubun-ubun sampai ke puncak kepala adalah pemandangan di depan matanya.

Wanita itu lagi tertawa lepas sambil nepuk-nepuk lengan Areksa. Dan Areksa? Pria es yang biasanya juteknya minta ampun itu... tersenyum. Bahkan Areksa merangkul pundak wanita itu sebentar.

Deg.

Jantung Zevanna serasa merosot sampai ke jempol kaki. Otaknya langsung overthinking level dewa.

Siapa cewek itu?! Kok berani-beraninya meluk-meluk Areksa di rumah ini?! Mana Areksa diem aja lagi, malah senyum-senyum narsis gitu! Katanya posesif sama aku, tapi sama cewek lain nempel kayak perangko! Dasar cowok bajingan, muka dua, munafik!

Amarah dan rasa cemburu membakar dada Zevanna seketika. Tapi ingat, Zevanna lagi gengsi setengah mati karena mereka masih perang dingin. Dia tak sudi kelihatan cemburu atau melabrak kayak cewek drama di sinetron.

Zevanna memasang raut wajah paling datar dan dingin sejagat raya. Dia berjalan melewati ruang tamu menuju tangga dengan santai, seolah-olah dua manusia di sofa itu cuma potongan dus bekas yang nggak penting.

Areksa yang menyadari keberadaan istrinya langsung menghentikan tawa. "Nana," panggil Areksa singkat.

Zevanna menghentikan langkah, berbalik. "Ya? Ada apa, Pak CEO?"

"Sini sebentar," kata Areksa.

Wanita cantik di samping Areksa ikut menoleh, menatap Zevanna dengan binar mata penasaran dan senyuman manis yang lebar.

Tapi Zevanna yang gengsinya audah menyatu dengan tulang sumsum cuma mengangkat alis. "Maaf, saya sibuk. Mau beres-beres kamar."

Tanpa menunggu balasan, Zevanna langsung melangkah lebar naik ke lantai dua. Langkah kakinya memang kelihatan anggun dan tenang, tapi begitu masuk ke dalam kamar tamu...

Brak!

Zevanna menutup pintu kamar agak kencang. Begitu pintu terkunci, pertahanan "sok cuek"-nya runtuh total. Muka Zevanna merah padam, napasnya ngos-ngosan menahan kesal.

"Ih! Dasar Areksa gila! Cowok sinting! Brengsek!" misuh Zevanna sambil meninju-ninju bantal sofa kamar mandi tanpa ampun.

"Kemarin sok-sokan bikin aturan jarak satu meter! Sok cemburu sama Pak Rendy sampai mau mutasiin orang! Sekarang apa?! Di rumah sendiri malah mesra-mesraan sama cewek lain! Muka dua! Bikin enek! Dasar gatel!"

Zevanna bolak-balik di dalam kamar kayak cacing kepanasan. Dia mengacak-acak rambutnya sendiri gara-gara kesal. Rasa panas di dadanya bener-bener nggak bisa ditahan. "Mana ceweknya cantik lagi... muda lagi... iuh, seleranya yang bening-bening gitu?! Terus ngapain nikahin aku kalau masih mau gelendotan sama cewek lain?! Awas ya kamu Areksa, aku aduin ke Mama biar kamu dicoret dari silsilah keluarga!"

Sementara itu di lantai bawah, wanita cantik yang tak lain adalah Aruna, kakak kandung Areksa Cuma bisa melongo menatap tangga tempat Zevanna menghilang.

"Sa..." panggil Aruna heran, lalu melirik adiknya. "Itu istri kamu? Kenapa mukanya jutek banget kayak mau nelan orang hidup-hidup? Kamu ngutang sama dia ya?"

Areksa cuma bisa menghembuskan napas berat. Pria itu menyisir rambutnya kasar. "Kita lagi... ada masalah sedikit."

Aruna langsung paham. Dia terkekeh pelan sambil menepuk bahu adiknya. "Masalah sedikit tapi mukanya kayak mau membakar rumah gini? Kamu apain itu anak orang? Lagian ya, waktu kamu nikah tahun lalu kan Mbak lagi di London, urus pameran art. Baru sempat pulang sekarang. Kenapa nggak mengenalkan Kakak dengan benar tadi?"

"Dia lagi ngambek, Kak," gumam Areksa lesu. "Gara-gara kemarin aku kelepasan posesif di kantor."

"Ha! Posesif?" Aruna tertawa makin kencang. "Pantesan! Muka dia tadi bukan cuma ngambek, Sa. Itu muka cewek lagi cemburu berat!"

Areksa mendongak, matanya agak membelalak. "Cemburu? Sama Kakak?"

"Iya lah, bego!" Aruna menggeplak lengan Areksa gemas. "Kamu tadi meluk Kakak. Pasti dia kira kakak ini selingkuhan kamu atau sugar baby kamu!"

Areksa tertegun. Otaknya yang biasanya encer buat urusan bisnis bernilai triliunan mendadak butuh waktu lima detik buat mencerna kata-kata kakaknya.

Zevanna... cemburu?

Secercah senyum miring yang tipis dan penuh kemenangan perlahan terukir di bibir Areksa. Rasa frustrasinya selama lima hari perang dingin mendadak hilang terbang ke langit.

"Kakak Aruna," panggil Areksa dengan ide jahat yang mendadak muncul di kepalanya. "Mau bantuin aku nggak?"

Aruna mengernyit curiga. "Bantu apa?"

"Pura-pura jadi 'ancaman' buat dia sebentar aja. Aku mau lihat sejauh mana gengsinya bertahan."

Aruna menatap adiknya dengan geleng-geleng kepala. "Kamu bener-bener agak gila ya, Sa. Tapi oke deh, Kakak juga penasaran sama adik ipar kakak yang katanya nggak bisa buat adik kakak ini mencintai perempuan lain."

"Kakak bakal tahu gimana aku tergila-gila sama dia dulu"

Satu jam berlalu. Zevanna yang udah kelaparan akhirnya terpaksa keluar kamar. Dia berniat ke dapur cuma buat ambil roti, lalu mengurung diri lagi.

Tapi saat turun ke lantai bawah, pemandangan di ruang makan makin bikin panas dingin.

Areksa dan wanita itu—Aruna—lagi duduk berdua di meja makan. Di atas meja udah tersaji makan siang mewah buatan para pelayan. Yang bikin Zevanna makin kram otak, Aruna lagi menyodorkan sendok berisi sup ke arah Areksa!

"Ayo dong, Sa, dicoba supnya. Kakak yang racik bumbunya tadi," kata Aruna dengan suara yang disengaja manis-manis manja.

Areksa yang sadar Zevanna sedang berjalan mendekat di koridor, sengaja membiarkan Aruna menyuapinya satu sendok. "Lumayan," sahut Areksa datar tapi matanya melirik ke arah Zevanna.

Zevanna yang melihat adegan suap-suapan itu serasa mau meledak di tempat. Tangannya mengepal di dalam saku celana.

OH MY GOD! SUAP-SUAPAN?! DI MEJA MAKAN RUMAH AKU?! INI RUMAH APA LAPAK MASET?! Zevanna berteriak histeris... tentu saja cuma di dalam hatinya.

Di luar, Zevanna tetap berjalan dengan anggun dan muka tembok. Dia melewati meja makan menuju kulkas, mengambil kotak susu dingin, lalu menuangkannya ke gelas dengan gerakan sangat tenang.

"Nana," panggil Areksa pura-pura santai. "Makan dulu."

Zevanna meneguk susunya perlahan, lalu menatap Areksa dan Aruna bergantian dengan tatapan paling merendahkan yang dia punya.

"Nggak usah, Pak CEO," sahut Zevanna santai, suaranya halus tapi tajem kayak silet. "Saya nggak mau mengganggu 'waktu berkualitas' Bapak sama... tamu cantiknya. Takutnya saya jadi nyamuk."

Aruna menahan tawa setengah mati sampai harus menutup mulutnya pakai serbet, sementara Areksa bersandar di kursinya sambil menyilangkan tangan.

"Kamu yakin nggak mau bergabung?" goda Areksa lagi, alisnya terangkat sebelah. "Kenalkan, ini—"

"Nggak perlu kenalan," potong Zevanna cepat, gengsinya langsung meloncat ke tingkat tertinggi. "Saya nggak tertarik tahu soal kehidupan pribadi Bapak di luar urusan pekerjaan. Mau Bapak bawa tamu tiap hari ke sini juga terserah. Saya mau ke kamar lagi. Permisi."

Zevanna berbalik dan melangkah pergi dengan tegas. Tapi begitu sampai di belokan tangga yang agak tersembunyi, Zevanna menyandarkan punggungnya ke dinding, menarik napas dalam-dalam, dan kembali misuh-misuh tanpa suara.

"Sialan! Brengsek! Bangsat!" maki Zevanna sambil menyentil-nyentil tembok. "Bisa-bisanya dia nyuruh aku join makan bareng selingkuhannya?! Gila! Emang cowok nggak tahu diri! Awas kamu ya Areksa, nanti malam tak kunci pintu kamar mandi dari luar biar kamu tidur di luar sekalian!"

Tanpa Zevanna sadari, di bawah tangga, Aruna udah tertawa terbahak-bahak tanpa suara sampai memegang perutnya.

"Gila, Sa! Istri kamu gengsiannya parah banget!" bisik Aruna sambil menepuk meja. "Padahal matanya udah kayak mau menyemburkan api pas liat aku menyuapi kamu tadi! Lucu banget!"

Areksa cuma tersenyum tipis, matanya menatap ke arah tangga tempat istrinya baru saja menghilang. Rasa percaya diri sang CEO kembali seratus persen.

"Dulu dia pendiam kak, dia tipe perempuan yang nggak bisa ekspresi kan wajahnya. Tapi sekarang dia berbeda, malah sangat berbeda"

"Kadang seseorang akan berubah saat sesuatu besar terjadi dalam hidupnya" Kata Aruna.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!