"Abi, tolong lamarin Kak Kafa untuk aku."
"Dara, kamu sadar gak kalau kamu itu perempuan?"
"Sadar, kenapa memang?"
"Ya mana ada perempuan yang meminta ayahnya untuk melamar seorang laki-laki untuk dirinya sendiri seberani itu?"
"Ada, dan itu aku."
***
"Kak Kafa, nikah yuk!"
"Kamu belum capek?"
"Tidak akan pernah capek."
Andara (20) si gadis cegil yang selalu terang-terangan mengatakan bahwa ia mencintai Kafa (30). Ia tidak akan berhenti sampai mendapatkan cinta sang Kakak.
Kafa adalah anak angkat dari Azzam dan Aira, orang tua kandung Andara.
Apakah Andara bisa mendapatkan hati dan cinta Kafa?
Awalnya tidak, namun takdir memihak Dara.
***
"Abi, aku akan menikahi Andara. Aku akan menyembuhkan segala traumanya."
Baca terus kisah mereka... Novel ini spin off dari buku 'Penawar Luka Aira'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Giska
"Berharap pada seseorang yang sampai hari ini belum bisa membalas perasaan kamu."
Andara terdiam. Beberapa detik kemudian, ia menggeleng pelan.
"Nggak, Bi."
"Kenapa?"
Andara tersenyum tipis. "Karena menurutku, mencintai itu nggak selalu harus dibalas."
"Terus kenapa masih bertahan?"
"Karena aku gak pernah menyesal mencintai Kak Kafa."
Mata Azzam melembut. "Tapi Abi takut. Tidak takut kamu mencintai Kafa. Abi takut kamu yang nanti terluka."
Andara menunduk, lalu menggenggam tangan ayahnya erat.
"Kalau suatu hari nanti aku benar-benar harus terluka, setidaknya aku terluka karena pernah memperjuangkan sesuatu yang baik."
Azzam mengusap lembut punggung tangan putrinya. "Abi cuma ingin kamu bahagia."
"Aku juga, Bi."
"Lalu kenapa tetap memilih jalan yang mungkin akan menyakitimu?"
Andara tersenyum kecil. "Karena hati nggak pernah memilih kepada siapa ia jatuh. Kalau hati memang sudah memilih yang bisa kita lakukan hanya memilih bagaimana cara mencintainya."
Azzam terdiam beberapa saat.
"Apa kamu benar-benar yakin kalau perasaan itu adalah cinta?"
"Yakin."
"Yakin sekali?"
Andara mengangguk mantap.
"Perasaan ini sudah ada sejak sepuluh tahun lalu, Bi. Dulu aku sempat mengira ini cuma rasa kagum. Atau mungkin karena aku terlalu nyaman sama Kak Kafa. Atau cuma rasa sayang seorang adik kepada kakaknya."
Ia tersenyum tipis mengingat masa-masa itu. "Tapi sekarang aku memasuki usia 20 tahun. Aku merasa diri aku sudah dewasa. Aku sudah mengenal diriku sendiri. Aku tau mana rasa kagum dan mana rasa cinta."
Azzam hanya mendengarkan.
"Aku yakin ini bukan sekadar kasih sayang seorang adik. Lalu..."
Andara menarik napas pelan. "...aku juga yakin, sebenarnya Kak Kafa punya perasaan yang sama."
Azzam menatap putrinya lekat-lekat. "Kamu sungguh yakin sekali."
Andara mengangguk. "Yakin itu harus, Bi."
"Tapi keyakinanmu belum tentu sama dengan kenyataannya."
"Iya. Makanya aku juga terus berdoa."
Azzam kembali bertanya dengan hati-hati. "Kalau suatu hari nanti Kafa menikah dengan perempuan lain, gimana?"
Andara terdiam sejenak. Lalu ia tertawa kecil.
"Ya nangis. Galau. Hahaha..."
Azzam tidak ikut tertawa. Melihat wajah ayahnya tetap serius, tawa Andara perlahan menghilang.
"Abi serius, Nak."
"Loh aku juga serius, Abi."
"Abi hanya takut..."
"Takut aku kecewa? Takut aku sakit hati? Takut aku terluka?"
Andara tersenyum, tetapi kali ini senyumnya menyimpan ketenangan. "Bukankah itu memang kemungkinan yang selalu ada ketika kita mencintai seseorang, Bi?"
Azzam terdiam.
"Mencintai seseorang tidak pernah datang bersama jaminan untuk dimiliki. Tidak ada yang bisa memastikan akhir dari sebuah perasaan. Bahkan orang yang saling mencintai pun belum tentu berjodoh."
Andara menatap ayahnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Aku tau risikonya dan aku sadar soal itu. Dan aku nggak pernah meminta Abi atau Bunda untuk menjamin kalau aku pasti akan menikah sama Kak Kafa. Aku cuma meminta, izinkan aku memperjuangkan perasaan ini dengan cara yang baik. Bukan dengan memaksa. Bukan dengan melanggar batas. Tapi dengan doa, ikhtiar, dan menjaga adab."
Suara Andara mulai bergetar. "Kalau pada akhirnya Allah menuliskan nama perempuan lain di samping nama Kak Kafa, aku pasti akan sedih. Pasti akan menangis. Bahkan mungkin butuh waktu lama untuk mengikhlaskan."
Ia mengusap pelan air mata yang mulai menggenang di sudut matanya. "Tapi aku percaya, Allah tidak akan meminta hamba-Nya mengikhlaskan sesuatu tanpa menggantinya dengan sesuatu yang juga baik."
Azzam merasakan dadanya menghangat. Ia bangga melihat kedewasaan putrinya. Meski keras kepala dalam memperjuangkan cintanya, Andara tetap memahami bahwa hasil akhirnya bukan berada di tangannya. Melainkan di tangan Allah.
Azzam kemudian mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Kalau begitu, kamu harus janji satu hal sama Abi."
"Apa, Bi?"
"Kalau nanti takdirnya tidak sesuai dengan harapanmu, jngan pernah menyalahkan Allah."
Andara langsung menggeleng. "Nggak akan pernah."
"Kenapa?"
Karena sejak kecil Abi selalu ngajarin aku bahwa takdir Allah boleh jadi tidak sesuai dengan keinginan kita, tapi pasti sesuai dengan kebutuhan kita."
Mendengar jawaban itu, Azzam tersenyum haru.
"Alhamdulillah." Ia kemudian memeluk putrinya erat. "Abi akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu."
Andara membalas pelukan itu sambil berbisik pelan, "Aamiin... semoga yang terbaik itu tetap bernama Muhammad Kafa Athalla."
Azzam hanya menghela napas pelan, lalu tersenyum tipis. Putrinya memang belum berubah. Masih tetap Andara yang sama. Perempuan yang mencintai dengan sepenuh hati, tetapi juga sedang belajar menyerahkan hasilnya kepada Sang Pemilik Hati.
***
Keesokan harinya...
Sejak pagi, Kafa sudah bersiap berangkat. Hari ini ia memiliki janji dengan seorang teman lama semasa kuliah, Giska.
Rumah impian perempuan itu akhirnya memasuki tahap akhir pembangunan. Sebagai arsitek yang merancang rumah tersebut, Kafa ingin memastikan seluruh hasil pekerjaan sesuai dengan gambar kerja dan keinginan kliennya.
Tak lama kemudian, mobil Kafa memasuki kawasan perumahan.
Dari kejauhan, seorang gadis sudah berdiri di depan rumah sambil melambaikan tangan.
"Gis."
"Kaf!"
Kafa turun dari mobil sambil tersenyum. "Udah lama nunggu?"
"Nggak kok."
"Maaf ya kalau aku telat."
"Gapapa."
Tatapan Giska langsung beralih ke rumah dua lantai yang berdiri megah di hadapan mereka.
"Kaf..."
"Hm?"
"Desain kamu benar-benar keren."
Kafa ikut memandangi bangunan itu. "Aku cuma mengikuti apa yang kamu ceritakan waktu awal konsultasi."
Giska tertawa kecil. "Berarti aku yang keren, ya?"
Kafa ikut terkekeh. "Iya. Kamu klien yang detail banget."
"Ya iyalah." Giska mengangguk bangga. "Ini kan rumah impian aku. Jadi aku pengin semuanya sesuai sama yang aku bayangin."
Kafa tersenyum. "Dan untungnya kamu bisa menjelaskan semuanya dengan jelas. Makanya hasilnya juga sesuai."
Giska menatap Kafa dengan wajah puas. "Jujur ya... Aku nggak nyangka rumah yang dulu cuma ada di kepala aku, sekarang benar-benar berdiri. Terima kasih ya, Kaf."
Kafa menggeleng pelan. "Jangan terima kasih ke aku."
"Kenapa?"
"Karena rumah ini berdiri bukan cuma karena desain. Tapi juga karena kerja keras kamu yang mengumpulkan semuanya sampai bisa membangunnya."
Mendengar itu, Giska tersenyum haru. "Masih sama ya."
"Apa?"
"Kamu."
"Dari dulu selalu lebih senang menghargai usaha orang lain daripada dipuji."
Kafa hanya tersenyum kecil. "Yuk. Kita lihat satu per satu. Siapa tau masih ada yang perlu diperbaiki sebelum serah terima."
Giska mengangguk antusias. "Oh iya. Untuk desain interiornya..."
Ia menoleh kepada Kafa. "Kamu masih mau bantu aku, kan?"
Kafa menganggukkan kepala tanpa ragu. "Siap. Kalau kamu masih percaya sama aku, aku akan bantu sampai rumah impian kamu benar-benar selesai."
Senyum Giska pun mengembang. "Kalau urusan rumah ini, aku emang percayanya sama kamu, Kaf."
Keduanya kemudian melangkah masuk ke dalam rumah, mulai memeriksa setiap sudut bangunan sambil mendiskusikan tahap akhir sebelum proses desain interior dimulai.
Giska mengedarkan pandangannya ke setiap sudut rumah. Semua yang selama ini hanya menjadi gambar di atas kertas kini berdiri nyata di hadapannya.
Ia benar-benar puas. Mulai dari tata letak ruangan, pencahayaan alami, sirkulasi udara, hingga detail-detail kecil yang pernah ia sampaikan kepada Kafa, semuanya diwujudkan dengan sangat baik.
"Keren banget..." gumamnya lirih.
Sementara itu, Kafa masih menjelaskan beberapa hal dengan profesional.
"Untuk area ruang keluarga ini nanti tinggal ditambah furnitur. Kalau dinding sebelah sana, sesuai permintaan kamu, lebih cocok pakai panel kayu supaya terasa lebih hangat. Terus pencahayaan malamnya kita pakai lampu warm white, jadi suasananya tetap nyaman."
Giska mengangguk pelan. Namun, entah mengapa, hari ini ia justru lebih sering memperhatikan sosok Kafa daripada penjelasan yang diberikan.
Laki-laki itu berbicara dengan tenang. Sesekali tersenyum saat menjelaskan konsep desain. Sikapnya tetap sama seperti yang ia kenal sejak masa kuliah.
Profesional. Rendah hati. Dan tidak pernah membanggakan dirinya sendiri.
Dulu... Hati Giska pernah jatuh kepada Aryan, sahabat Kafa.
Namun perasaan itu telah lama ia kubur dalam-dalam setelah mengetahui Aryan telah menikah.
Kini, tanpa ia sadari, kekagumannya perlahan beralih kepada Kafa. Bukan semata karena wajahnya. Melainkan karena cara laki-laki itu menjalani hidup.
Giska tau Kafa merupakan putra dari keluarga Malik yang sangat berkecukupan. Namun Kafa tidak memilih bergantung pada nama besar keluarganya.
Ia membangun perusahaan arsitektur dan desain interiornya sendiri dari nol. Merintis sedikit demi sedikit. Menghadapi kegagalan dan tantangan dengan usahanya sendiri. Hal itulah yang membuat Giska semakin menghormatinya.
"Kamu kenapa?" Suara Kafa membuyarkan lamunannya.
"Hah?"
"Kok malah bengong?"
"Oh..." Giska tertawa kecil sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Nggak apa-apa."
Kafa tersenyum tipis. "Kalau pengecekan rumahnya sudah selesai, kita bisa langsung pergi beli barang-barang untuk mengisi rumah ini. Jadi sekalian kita sesuaikan sama konsep interior yang tadi kita bahas."
Giska mengangguk antusias. "Eh iya, ayo."
"Naik mobil aku aja ya."
"Baiklah."
Mereka pun berjalan menuju area parkir. Di tengah perjalanan, Kafa sempat bertanya,
"Kamu lagi nggak ngajar?"
Giska menggeleng. "Nggak. Ada jam dua sih."
"Berarti masih ada waktu."
"Iya."
Kafa mengangguk. "Kalau begitu kita manfaatkan waktu ini buat pilih furnitur dulu. Supaya nanti proses desain interiornya bisa langsung berjalan."
"Siap, Pak Arsitek."
Kafa terkekeh pelan. "Jangan panggil begitu."
"Kenapa?"
"Berasa tua."
Giska ikut tertawa. "Yaudah... Kafa aja. Kayak zaman kuliah dulu."
Mendengar itu, Kafa hanya mengangguk sambil tersenyum kecil. "Lebih enak begitu."
Bagi Kafa, pertemuan hari itu hanyalah pertemuan antara arsitek dan klien yang juga merupakan teman lama.
Sementara bagi Giska... Pertemuan itu perlahan menumbuhkan kembali kekaguman yang tak pernah ia duga akan hadir untuk sosok yang berbeda.
***
Jam di dashboard mobil menunjukkan pukul 12.50. Mereka baru saja selesai memilih beberapa furnitur untuk rumah Giska.
Kafa melirik jam tangannya sejenak. "Gis."
Giska menoleh. "Hm?"
"Makan dulu aja, yuk. Habis itu aku anter kamu ke kampus. Kan jam ngajar kamu jam dua, ya? Kita cari cafe dekat kampus aja."
"Iya. Masih sempat. Tapi apa gak ngerepotin kamu?"
Kafa menggeleng. "Enggak. Aku sekalian mau jemput adik aku."
Giska tampak sedikit terkejut. "Adik?"
"Iya."
"Kamu punya adik yang kuliah di kampusku?"
"Iya."
"Wah..." Giska tertawa kecil. "Aku baru tau. Adik kamu berapa sih emang?"
"Dua." Kafa melirik sekilas sambil tersenyum. "Masa iya kamu nggak tau?"
Giska menggeleng. "Yang aku tau cuma Azra. Soalnya perusahaan papaku kerja sama sama perusahaan Abi kamu."
"Oh..." Kafa mengangguk paham. "Iya, sekarang Azra memang mulai ikut mengelola perusahaan."
Giska kembali menatap Kafa. "Kenapa bukan kamu, Kaf?"
"Kenapa harus aku?"
"Lah, kamu kan anak pertama. Biasanya perusahaan keluarga diwariskan ke anak pertama."
Kafa tersenyum tipis. "Memang."
"Lalu?"
"Aku merasa nggak pantas."
Giska mengernyit. "Kenapa nggak pantas? Menurutku kamu pintar, pekerja keras, bertanggung jawab. Pokoknya kamu punya semua kriteria buat memimpin perusahaan sebesar Malik."
Kafa terkekeh pelan. Ia tau, Giska belum mengetahui cerita hidupnya. Memang tidak banyak orang yang tau bahwa dirinya bukan anak kandung Azzam dan Aira.
"Aku memang nggak pantas, Gis. Meskipun Abi dan Bunda pernah memberikan kesempatan itu."
Giska menatapnya penuh perhatian. "Mereka pernah menawarkan?"
"Iya. Tapi aku yang menolak."
"Kenapa?"
"Karena aku ingin berdiri di atas kakiku sendiri." Kafa tersenyum kecil. "Aku ingin membuktikan kalau semua yang mereka berikan kepadaku tidak sia-sia. Aku ingin mereka bangga bahwa mereka telah membesarkan seorang anak yatim piatu hingga bisa hidup mandiri."
Giska spontan menoleh. "Maksud kamu..."
Kafa mengangguk pelan. "Aku bukan anak kandung Abi dan Bunda. Mereka mengangkat aku saat usiaku lima tahun."
Mobil seketika dipenuhi keheningan. Giska benar-benar tidak menyangka.
"Ya Allah... Aku baru tau. Maaf ya, Kaf."
Kafa tersenyum menenangkan. "Nggak apa-apa. Aku juga nggak pernah menyembunyikannya. Hanya saja memang nggak banyak yang bertanya. Dan Abi sama Bunda aku selalu mengatakan bahwa aku adalah putra mereka. Tidak ada embel-embel anak angkat."
Giska menghela napas pelan. "Padahal kamu mirip banget sama Om Azzam."
Kafa tertawa kecil. "Ya gimana... Aku memang selalu menjadikan Abi sebagai teladan. Dari cara beliau memimpin. Cara beliau memperlakukan keluarga. Sampai cara beliau menghargai orang lain. Kalau ada orang yang bilang aku mirip Abi, itu justru pujian terbesar buat aku."
Mendengar jawaban itu, Giska tersenyum hangat. Kini ia mengerti. Kemiripan Kafa dengan Azzam bukan terletak pada wajah atau hubungan darah. Melainkan pada nilai-nilai yang diwariskan melalui kasih sayang, didikan, dan keteladanan. Dan bagi Kafa, itulah warisan paling berharga yang pernah ia terima.
mntapkn hti kamu dar,kamu juga brhak bhgia
selicik itu mmang Tristan ya ,dia lbih dulu mngmbil hati Azzam untuk mlncarkn rncan nya .smoga aja sellu DLAM lindungan Allah SWT 🥰