Dibuang dan dicap sebagai ancaman oleh militer korup karena membangkitkan Morthas—Malaikat Maut Kelas Misterius yang arogan dan ditakuti sejarah—Kael Ardyn diselamatkannya oleh guild terlarang di luar dinding peradaban. Bersama tiga jiwa abnormal lainnya, Kael harus melatih ranah jiwanya di Lapisan Kedua yang mematikan. Ini adalah kisah persekutuan empat jiwa yang siap mengguncang hukum dunia yang korup!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DETIK DETIK KEHANCURAN VOLCANIA
BAB 18: DETIK DETIK KEHANCURAN VOLCANIA
Di gerbang benteng Kerajaan Volcania, pertempuran telah bertransformasi menjadi neraka di bumi. Bau amis darah bercampur uap panas membumbung tinggi, menutupi langit fajar yang memerah.
Sang Jenderal—satu-satunya petarung Ranah Emas di kerajaan kecil itu—mulai menguraikan napasnya yang berat. Pelipisnya dibasahi keringat dingin dan darah kental yang mengering di zirah besinya.
Di belakang punggung sang Jenderal, Anima Kelas Tinggi berwujud Serigala Zirah Besi melolong parau. Taring-taring energinya menerkam dua ekor Beast bertanduk tunggal, namun ribuan Beast lainnya terus merangsek tanpa henti dari celah utama.
Di sekelilingnya, puluhan prajurit membentangkan perisai dengan memanggil Anima Kelas Rendah dan Menengah mereka. Ada yang memanifestasikan Beruang Pelindung Batu, Babi Hutan Berzirah, hingga Elang Angin.
Brakkk! Cringgg!
Benturan cakar dan tanduk Beast menghantam perisai Anima para prajurit dengan daya hancur luar biasa. Gelombang monster itu terus menabrakkan diri bagai gelombang pasang, merobohkan barisan depan hingga beberapa prajurit terlempar menghantam dinding batu dan tewas seketika.
Bruuushhhh!
Dengan satu tebasan horizontal yang bertenaga, pedang besar sang Jenderal membelah udara, memotong tiga Beast yang mencoba melompati tembok benteng.
Seorang pengintai berdarah-darah berlari kencang dari arah ngarai samping, menerobos tumpukan bangkai seraya berteriak di tengah gemuruh tebasan.
"Lapor, Jenderal!" teriak pengintai itu seraya berlutut di sela deru pertarungan. "Celah labirin di ngarai barat sepenuhnya telah disegel! Salah satu petarung Scar Horizon memiliki Anima Kelas Mitologi berelemen tanah!"
Sang Jenderal menebas seekor Beast lagi hingga terbelah dua sebelum menoleh dengan mata terbelalak. Anima Mitologi berelemen tanah?! bisiknya tak percaya.
Pengintai itu melanjutkan dengan napas memburu, "Dan tim bantuan dari Scar Horizon saat ini sedang memulihkan diri dan segera bergerak ke tempat ini!"
"Bagus..." sang Jenderal mengusap darah di pipinya. Harapan baru membakar dadanya. "Ini kesempatan kita!"
Sang Jenderal memicu aura keemasan Serigala Zirah Besi miliknya, memutar tubuh dan melompat ke atas pilar benteng yang retak, mengangkat pedang besarnya tinggi-tinggi.
"Dengarkan aku, para prajuritku! Demi kerajaan, demi tanah air kita, demi anak-anak kita, demi saudara-saudara kita... demi Volcania!" serunya dengan nada yang menggetarkan jiwa. "Sekarang, lampaui batas kalian!"
"Ya! Untuk Volcania!" seru ratusan prajurit di gerbang benteng secara serentak. Pendaran Anima para prajurit yang tadinya meredup kembali membara hebat, menahan terjangan kawanan Beast dengan sisa-sisa tenaga terakhir mereka.
Sementara itu, di celah ngarai barat yang telah tenang, kondisi Kael perlahan-lahan mulai membaik seiring berjalannya waktu.
"Bagaimana keadaanmu, Kael?" tanya Kapten Gareth seraya melangkah mendekat.
"Aku merasa jauh lebih baik, Kapten," jawab Kael tenang, menyapu sisa darah di sudut bibirnya. "Hanya perlu beristirahat sebentar lagi, wadah jiwaku akan pulih sepenuhnya."
Kapten Gareth mengangguk pelan. "Bagus, tapi jangan memaksakan dirimu."
Di sisi lain, Elena melipat tangannya di dada sambil mendengus pelan. "Hmph, ya begitulah kalau bertindak ceroboh..." ucapnya ketus. Walaupun kata-katanya terdengar dingin, pendaran khawatir di mata merahnya yang menyala tidak bisa disembunyikan.
Ren, yang kini tampak membaik meski seluruh tubuhnya dipenuhi luka goresan akibat aksi nekatnya sebelumnya, melangkah santai menghampiri Kael.
"Hei! Bagaimana rasanya menerobos barisan musuh bersama Kapten tadi? Pasti seru sekali, kan?" tanya Ren dengan cengiran lebarnya.
Kael hanya tersenyum tipis membalas antusiasme temannya itu. "Ya, begitulah, Ren."
Hugo yang duduk tidak jauh dari sana langsung menimpali dengan wajah polosnya. "Seru dari mana, Ren? Aku sih lebih baik tinggal di markas guild, makan roti kering sambil bercanda bersama kalian."
Suna yang berdiri bersandar pada dinding batu hanya mengembuskan napas panjang. Wajahnya tetap waspada mengamati sekitar, meski senyum tipis terukir samar di bibirnya.
Dalam batinnya, Suna bergumam pelan. Benar... medan perang sama sekali tidak ada indahnya dibanding rumah sendiri. Tapi inilah dunia yang harus kita tempati.
Kapten Gareth tersenyum kecil memperhatikan interaksi para generasi muda di depannya. Meskipun berada di tengah kekacauan perang yang mengerikan, masih ada kehangatan dan kebersamaan di mata mereka—sebuah bukti nyata bahwa Guild Scar Horizon telah menjadi rumah tempat mereka pulang. Sebagai veteran guild, rasa bangga merayap hangat di dada sang Kapten.
Waktu berlalu singkat, dan Kael akhirnya bangkit berdiri. Energi di dalam wadah jiwanya telah kembali mengalir lancar dan stabil.
Melihat seluruh anggotanya telah siap, Kapten Gareth menegakkan tubuhnya dan melepaskan wibawa kepemimpinannya.
"Anak-anak, persiapkan diri kalian!" seru Kapten Gareth tegas. "Kita berangkat menuju gerbang timur Volcania sekarang!"
Wush! Wush! Wush!
Tanpa membuang waktu sepersekian detik pun, Kapten Gareth memimpin di posisi terdepan dengan pendaran Ranah Emas yang membelah kabut.
Di belakangnya, Kael, Elena, Ren, Hugo, dan Suna melesat sejajar, membentuk formasi tempur utuh yang meluncur dengan kecepatan penuh melintasi daratan berdebu—membawa badai bantuan yang siap menerjang dan mengunci celah utama benteng Volcania.
Namun waktu tak pernah menunggu siapa pun.
Tiba-tiba, dua sosok raksasa melangkah keluar dari celah utama yang menganga lebar. Diikuti puluhan Beast peringkat menengah yang bergerak serempak bagaikan pasukan yang teratur.
Tanah berguncang hebat seiring setiap langkah mereka. Aura yang memancar menekan seluruh penjuru benteng, setara dengan kekuatan Ranah Emas sang Jenderal sendiri.
Itu adalah sepasang Beast Peringkat Tinggi berwujud beruang kembar. Taring mereka menjulur panjang melengkung ke bawah, matanya menyala merah darah penuh amarah purba.
Sang Jenderal terpaku diam di tempat.
Pikirannya mendadak tertuju pada celah barat yang baru saja disegel.
Bagaimana mungkin mereka bisa muncul secepat ini?!
Keringat dingin bercucuran deras di dahi para prajurit. Sebagian besar bahkan belum pernah melihat langsung wujud Beast Peringkat Tinggi sekalipun. Tekanan masif itu meremas dada mereka, membuat napas terasa berat bagaikan tertimpa bebatuan.
Harapan yang baru saja menyala di hati mereka kini diuji kembali oleh ancaman yang jauh lebih mengerikan.
Belum sempat mereka pulih dari keterkejutan, dua Beast Peringkat Tinggi itu mulai mengamuk tanpa ampun.
ROOOOOOARRRRR!
Raungan gemuruh itu membelah udara, meruntuhkan sebagian tembok benteng yang sudah rapuh. Mereka mencengkeram bongkahan batu raksasa di mulut celah labirin, lalu melemparkannya dengan kekuatan dahsyat ke arah barisan ribuan prajurit.
BOOOOOOM! BRAAAKKK!
Ratusan nyawa melayang seketika tertimbun reruntuhan, sementara ratusan lainnya terluka parah dan menjerit kesakitan di tengah kepungan debu.
Sang Jenderal meraup napas dalam, lalu merapatkan giginya hingga berbunyi. Pandangannya memburam oleh darah yang mengalir dari luka di pelipis. Ia benar-benar tak mampu lagi berpikir jernih di tengah kekacauan yang merenggut nyawa pasukannya sedemikian rupa.
Harapan yang baru saja menyala kini nyaris padam tertimpa keputusasaan yang datang begitu cepat.