Di Karang Wetan, hukum punya pintu belakang — dan orang-orang seperti Rangga tidak pernah diundang lewat situ. Setelah menjadi korban kejahatan yang pelakunya berlindung di balik kekuasaan, Rangga bersumpah tidak akan pernah lagi menunggu keadilan datang dari atas. Dari gang sempit dan bantaran kali, ia membangun Lentera — perkumpulan orang-orang tertindas yang saling melindungi ketika negara menutup mata. Namun setiap cahaya yang menyala akan menarik perhatian kegelapan yang lebih besar: Komisaris Yusuf Baskoro dan Bupati Hardian Wibowo, dua penguasa yang saling melindungi demi mempertahankan takhta mereka. Ini kisah tentang seorang anak miskin yang menjelma jadi pemimpin yang ditakuti — dan pertanyaan yang terus menghantuinya: apakah ia masih pelindung, atau sudah jadi seperti yang dulu ia lawan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Areka Leywin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bocor
Kabar buruk itu datang lewat Bu Inah, yang wajahnya pucat waktu mendatangiku pagi-pagi sekali.
"Dedi hilang, Rangga. Dari kemarin sore nggak pulang, nggak bisa dihubungi. Kakaknya udah nyariin ke mana-mana."
Perutku langsung terasa dingin. Aku segera mengumpulkan Yanto dan Ujang, dan dalam hitungan jam, jaringan informasi kami—Pak Darto dan para tukang ojek, pedagang di pasar, siapa pun yang biasa jadi mata dan telinga kami—mulai bergerak mencari petunjuk.
Ujang yang akhirnya menemukan sesuatu, meski beritanya jauh dari melegakan. "Katanya, dua hari lalu ada yang lihat Dedi dipanggil ke ruangan atasannya, lama banget di dalam. Terus kemarin pagi dia kelihatan beda—gugup, buru-buru pulang lebih cepat dari biasa. Setelah itu, nggak ada yang lihat dia lagi."
"Berarti mereka udah curiga," kata Yanto, suaranya berat. "Atau malah udah tahu."
---
Aku menghabiskan siang itu dengan perasaan campur aduk—rasa bersalah yang familiar, sama seperti waktu Sari ditahan, bercampur dengan ketakutan baru yang lebih tajam. Dedi bukan bagian dari Lentera dalam artian formal. Ia orang biasa yang memilih membantu karena nuraninya, dan sekarang mungkin harus membayar mahal untuk pilihan itu.
"Kita harus cari dia," kataku pada Yanto dan Salim. "Sebelum mereka yang nemuin dia duluan, atau sebelum dia dipaksa ngomong lebih dari yang seharusnya."
Salim mengerutkan kening. "Kalau dia ditahan resmi kayak Sari, kita masih bisa lacak. Tapi kalau ini... kalau ini cara yang beda—"
Ia tidak melanjutkan kalimatnya, tapi aku tahu apa yang ia maksud. Ada perbedaan antara ditahan secara resmi, seburuk apa pun itu, dengan cara-cara yang tidak pernah tercatat di mana pun.
---
Petunjuk pertama datang dari Pak Darto, yang mendengar dari salah satu sopir taksi gelap bahwa ada mobil dengan ciri-ciri mencurigakan terlihat di dekat sebuah gudang tua di pinggir kota—bukan gudang yang biasa kami pakai, melainkan properti yang menurut catatan Sari sebelumnya, juga terkait dengan jaringan bisnis di sekitar Broto.
Malam itu, aku, Yanto, Salim, dan tiga orang dari jaringan kampung nelayan yang kebetulan sedang berada di Karang Wetan, bergerak menuju gudang itu dengan hati-hati, mengintai dari kejauhan sebelum memutuskan langkah berikutnya.
Dari balik tumpukan drum bekas, kami melihat dua orang berjaga di pintu gudang—bukan polisi berseragam, melainkan orang-orang yang wajahnya familiar bagi Ujang, yang mengenali salah satunya sebagai anak buah Broto yang lain.
"Kalau ini bukan operasi resmi polisi," bisik Ujang, "berarti ini di luar hukum sepenuhnya. Bahaya buat Dedi, tapi juga berarti mereka nggak bisa teriak minta bantuan polisi kalau kita gerak."
Aku menimbang situasi itu cepat. Menyerbu langsung terlalu berisiko—kami tidak tahu pasti berapa orang di dalam, atau kondisi Dedi. Tapi menunggu terlalu lama juga bisa berakibat fatal.
Kami memutuskan mengikuti rencana yang lebih hati-hati: Ujang menyusup dari sisi belakang gudang yang jarang dijaga, sementara aku dan yang lain bersiap di depan sebagai pengalih perhatian jika dibutuhkan.
---
Ujang kembali setelah waktu yang terasa seperti selamanya, meski sebenarnya tidak sampai setengah jam. Wajahnya tegang tapi matanya menyala dengan kelegaan.
"Dia di dalam. Diikat, dipukulin dikit, tapi masih hidup, masih sadar. Mereka kayaknya lagi nunggu perintah soal mau diapain."
Malam itu, dengan bantuan kegelapan dan kelalaian penjaga yang mulai lengah karena bosan, kami berhasil membawa Dedi keluar tanpa harus terjadi bentrokan besar—satu penjaga sempat berteriak, tapi kami sudah cukup jauh sebelum bantuan lain datang.
Dedi terluka, gemetar hebat, tapi selamat. Ia dibawa ke rumah salah satu warga di kawasan bantaran kali timur yang jarang dicurigai, untuk diobati dan disembunyikan sementara sampai keadaan lebih aman.
"Maaf," katanya berulang kali, suaranya nyaris tidak terdengar. "Saya... saya nggak sengaja ninggalin jejak. Saya kira udah hati-hati."
"Yang penting kamu selamat," kataku, mencoba menenangkannya meski di dalam hati aku juga menyalahkan diriku sendiri karena mungkin belum cukup hati-hati melindunginya.
---
Kejadian itu mengajarkan kami pelajaran pahit: semakin dekat kami dengan bukti nyata soal korupsi mereka, semakin berbahaya juga cara mereka membalas—dan kali ini, mereka sudah menunjukkan kesediaan untuk bertindak di luar hukum sepenuhnya, bukan lagi lewat cara-cara yang "sah" seperti penahanan Sari.
Malam itu, duduk mengawasi Dedi yang akhirnya bisa tidur meski gelisah, aku menyadari sesuatu yang membuat dadaku terasa berat. Sejauh ini, kami selalu berusaha menjaga tiga aturan awal Lentera—melindungi, bukan memeras, tidak menyentuh orang biasa, menjaga rahasia sesama. Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, aku menyadari ada aturan keempat yang diam-diam mulai terbentuk dalam diriku, meski belum pernah kuucapkan pada siapa pun.
*Kalau mereka menyerang duluan dengan cara yang tidak lagi mengenal hukum, kami juga tidak akan lagi terikat sepenuhnya pada batasan yang selama ini kami jaga.*
Aku belum tahu seberapa jauh aku bersedia melangkah dengan pikiran itu. Tapi aku tahu, cepat atau lambat, aku akan diuji untuk menjawabnya.
---
*(Bersambung ke Bab 14)*