NovelToon NovelToon
Cemara Juga Punya Luka

Cemara Juga Punya Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah / Teen / Balas Dendam
Popularitas:425
Nilai: 5
Nama Author: Sifanursiami

Di balik rumah yang hangat, semua orang memakai topeng paling rapi
Bagi dunia luar, Haseena adalah remaja berprestasi kebanggaan Abah. Namun di balik tawanya, Haseena menderita gangguan kecemasan dan terpaksa meminum obat penenang secara sembunyi-sembunyi selama lima tahun lalu.
Haseena mengira hanya dia yang punya rahasia. Sampai suatu malam, dia menemukan botol obat misterius di saku jaket abangnya, melihat kode lampu senter berkedip tiga kali di kegelapan sawah belakang rumah, dan kakak perempuannya yang bersikeras ingin pergi jauh
"Kini, Haseena terjebak dalam sandiwara sempurnanya. Berpura-pura menjadi gadis ceria untuk menutupi paranoia, sambil diam-diam mengumpulkan kepingan teka-teki yang mungkin akan menghancurkan hidupnya selamanya. Haseena harus memilih: tetap menjadi 'Ahli Ngeles' yang dicintai publik, atau membuka kotak Pandora tentang hilangnya sang kakak—meskipun itu berarti ia harus kehilangan segalanya, termasuk pria yang baru saja ia percayai."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sifanursiami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

sesuatu yang tidak pernah ia ceritakan

Pulpen itu kembali bergerak.

> Sebenernya aku capek, Bu...

Kalimat itu menjadi yang paling sulit ia tulis malam ini.

Haseena menggigit bibir bawahnya. Matanya mulai buram. Ia mengusap air mata yang jatuh sebelum sempat membasahi halaman berikutnya.

Tangannya kembali menulis.

> Tapi aku harus kuat.

Aku mau jadi anak yang ibu banggakan.

Aku juga mau jadi pengusaha seperti yang ibu impikan.

Sekarang setiap habis Magrib aku juga ke masjid gantiin Abah.

Aku belajar semuanya pelan-pelan.

Walaupun kadang aku takut... aku nggak akan pernah bisa sehebat ibu.

Suara detak jam terdengar semakin jelas.

Tik...

Tik...

Tik...

Entah sejak kapan napas Haseena mulai terasa lebih pendek.

Ia berhenti menulis.

Dadanya terasa penuh.

Seolah ada sesuatu yang menekan dari dalam.

"Aneh..."

gumamnya lirih.

Ia mencoba menarik napas panjang.

Namun udara yang masuk terasa begitu sedikit.

Jari-jarinya perlahan mendingin.

Pulpen yang berada di genggamannya mulai bergetar.

Ia memejamkan mata.

"Tenang..."

bisiknya kepada dirinya sendiri.

"Gapapa...."

Namun tubuhnya seperti tidak mau mendengarkan.

Napasnya semakin cepat.

Dadanya semakin sesak.

Ruangan yang semula terasa tenang mendadak terasa begitu sempit.

Pandangannya berputar pelan.

Ia mencoba berdiri, tetapi kedua lututnya melemas hingga kembali terduduk di lantai.

Tangannya meraba meja belajar.

Bukan mencari pegangan.

Melainkan sesuatu yang sudah sangat ia hafal letaknya.

Dengan jemari yang terus bergetar, ia membuka laci paling bawah.

Di sana tersimpan sebuah kotak kecil berwarna putih.

Haseena membukanya tanpa ragu.

Seolah gerakan itu sudah berkali-kali ia lakukan.

Ia mengambil satu butir kecil, lalu segera menelannya.

Tak lama kemudian ia menyandarkan tubuh ke sisi ranjang.

Matanya terpejam.

Ia hanya berusaha mengatur napasnya sedikit demi sedikit.

Satu...

Dua...

Tiga...

Perlahan, dadanya mulai terasa lebih ringan.

Getaran di tangannya ikut mereda.

Ruangan yang tadi terasa sesak kini kembali hening.

Haseena membuka matanya pelan.

Tatapannya kosong.

Bukan karena sedih.

Melainkan karena lelah.

Sangat lelah.

Ia menoleh ke arah buku harian yang masih terbuka.

Masih ada satu kalimat yang belum selesai ia tulis.

Dengan sisa tenaga yang ada, ia mengambil pulpen sekali lagi.

> Bu... kalau suatu hari Haseena berhenti terlihat kuat, jangan marah ya. Haseena cuma pengin istirahat sebentar. Besok... Haseena janji kuat lagi pen itu terlepas dari genggamannya.

Ia meraih ponsel yang berada di atas meja.

Layar menyala.

Sebuah notifikasi muncul memenuhi bagian atas layar.

> Pengingat

Besok, pukul 09.00. Jangan lupa datang sesuai jadwal.

Haseena menatap notifikasi itu cukup lama.

Lalu, tanpa menghapusnya, ia mematikan layar ponsel.

Di luar kamar, suara Rayyan terdengar memanggil pelan.

"Seen... udah tidur, Nak?"

Haseena buru-buru mengusap sisa air mata di pipinya. dia berusaha membuang sisa air mata yang belum sempat hilang

"Iya, Bah... sebentar lagi."

Suaranya terdengar biasa.

Sama seperti setiap hari.

Karena ia tahu...

Ada luka yang lebih mudah disembunyikan daripada dijelaskan.

Beberapa orang mungkin bisa mendengar tapi tak akan pernah ada yang benar-benar mengerti

Semua manusia punya luka masing-masing dan punya cara masing-masing untuk mengatasinya. banyak yang tidak teratasi, tapi jangan pernah pilih jalan terkahir itu ya.

Dengan semua tekaanan yang ada dalam kehidupan ini, semoga kita bisa tetap hidup dan pergi pada waktunya.

Manusia dengan segala luka-luka nya

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!