Selama 10 tahun, Inspektur REYHAN tidak pernah bisa melupakan kasus pembunuhan berantai yang membuat rekannya mati mengenaskan. Ciri khas pembunuhnya: selalu meninggalkan genangan darah segar, tapi TIDAK ADA JENAZAH, TIDAK ADA JEJAK, DAN TIDAK ADA MAYAT — seolah darah itu mengalir dan lenyap begitu saja ke dalam udara. Kasus itu ditutup sebagai misteri tak terpecahkan, sampai Reyhan menemukan petunjuk yang mengarah ke desa terpencil bernama DESA KELAM — tempat di mana rahasia paling mengerikan disembunyikan selama ratusan tahun. Di sana ia sadar: ini bukan sekadar pembunuhan biasa, tapi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar dan mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Caesarius A Enda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PILIHAN TERAKHIR
Langit di atas Perpustakaan Darah berubah warna menjadi merah darah pekat, seolah seluruh udara di sana telah berubah menjadi cairan yang kental dan berat. Aroma yang menguar bukan lagi sekadar bau besi atau tanah basah — melainkan bau daging busuk yang sudah lama dikubur, bau keringat ketakutan ribuan orang, dan sesuatu yang lebih mengerikan: bau diri sendiri yang sudah mati lama.
Tanah di bawah kaki Raka berguncang hebat, retakan-retakan panjang menjalar ke segala arah, dan dari celah-celah itu keluar bukan lagi darah cair seperti dulu — melainkan tangan-tangan kering yang kulitnya menempel erat pada tulang, jari-jarinya panjang dan tajam seperti cakar, bergerak liar mencoba meraih apa saja yang ada di dekatnya. Suara yang terdengar sekarang bukan hanya satu atau dua suara — melainkan ribuan, jutaan suara yang serempak berteriak, menangis, tertawa, dan memaki, bercampur menjadi satu gemuruh yang membuat kepala Raka terasa mau pecah.
“KAMU TAHU KEBENARANNYA SEKARANG… KAMU TAHU KITA ADALAH SATU… KITA ADALAH BAGIAN DARI DARAHMU, BAGIAN DARI TULANGMU, BAGIAN DARI SETIAP DETAK JANTUNGMU… KAMU TIDAK BISA LARI… KAMU TIDAK BISA MENOLAK DIRIMU SENDIRI…”
Sri berdiri di samping Raka, tubuhnya gemetar hebat, wajahnya yang dulu tenang sekarang pucat pasi penuh ketakutan. Ia menunjuk ke arah retakan yang semakin lebar, dan di dalam kegelapan yang terbuka itu, mereka melihat pemandangan yang membuat nyali mereka hancur berkeping-keping.
Di sana tidak ada lagi makhluk raksasa yang terbuat dari darah. Di sana ada RIBUAN TUBUH MANUSIA YANG MENYATU MENJADI SATU BENDA RAKSASA. Tubuh-tubuh itu masih hidup — mata mereka berkedip-kedip, mulut mereka bergerak seolah bicara, tangan mereka saling memegang dan menancap ke tubuh tetangganya, kulit mereka menyatu sempurna sehingga tidak terlihat batas antara satu orang dengan orang lain. Dan yang paling mengerikan: SEMUA WAJAH MEREKA ADALAH WAJAH KELUARGA RAKA. Ada wajah Dara, ada wajah leluhur lain, ada ayah Reyhan, ada Reyhan sendiri, bahkan ada wajah Sri yang lebih muda, wajah Bara, wajah Damar — semuanya ada di sana, terperangkap selamanya dalam tubuh besar itu, mata mereka penuh rasa sakit dan kemarahan yang tidak pernah habis.
“Ini… ini bukan bagian yang dibuang,” bisik Sri dengan suara yang hampir tidak terdengar, air mata mengalir deras di pipinya. “Ini adalah SEMUA KETURUNAN KITA YANG GAGAL. Setiap kali ada yang menolak tugas Penjaga Jejak, setiap kali ada yang mencoba melawan atau lari… mereka tidak mati. Mereka ditangkap, diambil seluruh darah dan ingatannya, lalu dimasukkan ke dalam tubuh ini. Dara tidak membuang bagian jahatnya… dia membuang SEMUA ORANG YANG TIDAK MAKA IKUT KEMAUANNYA. Dan dia sendiri adalah kepala dari makhluk ini.”
Seketika itu juga, wajah di bagian paling atas tubuh raksasa itu berubah menjadi wajah Dara — tapi wajah itu tidak lagi tampak mulia atau bijaksana seperti dalam cerita lama. Wajah itu bengkok, matanya merah menyala penuh nafsu, mulutnya lebar penuh gigi tajam yang berlumuran darah segar.
“Kamu pintar sekali, Cucu Kecil,” suara Dara terdengar langsung di dalam otak Raka, membuatnya meringis kesakitan. “Kamu berhasil menemukan apa yang aku sembunyikan selama ratusan tahun. Aku tidak membuat perjanjian dengan makhluk asing. Aku MEMBUAT MAKHLUK ITU SENDIRI dari darah dan daging keluargaku sendiri. Aku ingin menciptakan sesuatu yang tidak bisa mati, tidak bisa dihancurkan, sesuatu yang akan menguasai segalanya selamanya. Tapi aku butuh satu bagian terakhir — JIWA YANG SUCI, JIWA YANG TIDAK PERNAH TERKOTORI OLEH RASA TAKUT ATAU KEMARAHAN. Dan kamulah orang itu, Raka. Kamu adalah yang paling sempurna dari semua keturunan. Kalau kamu masuk ke dalam sini, tubuh ini akan menjadi sempurna total. Kita akan menjadi TUAN SEGALA INGATAN, TUAN SEGALA DARAH, dan tidak ada satu pun makhluk di dunia ini yang bisa menyembunyikan apa pun dari kita.”
Raka mundur perlahan, napasnya tersengal-sengal. Ia melihat ke sekelilingnya — Perpustakaan Darah yang dulu suci dan aman sekarang mulai hancur. Botol-botol kecil yang berisi ingatan orang-orang pecah satu per satu, dan cairan di dalamnya mengalir keluar, tidak lagi menyimpan cerita yang indah melainkan berubah menjadi racun yang menghitam. Semua hal yang dulu ia percayai, semua tugas yang dulu ia banggakan, ternyata hanyalah jebakan panjang yang disiapkan Dara selama ratusan tahun hanya untuk menangkapnya.
“Kamu bohong!” teriak Raka lantang, suaranya bergetar tapi penuh kemarahan. “Kamu tidak ingin melindungi ingatan! Kamu ingin MEMILIKINYA SEMUA! Kamu tidak ingin ada yang punya pikiran sendiri, tidak ingin ada yang punya keinginan sendiri, kamu ingin semua orang menjadi bagian dari dirimu yang patuh!”
“MEMANG BENAR!” teriak Dara balik, suara gemuruhnya membuat batu-batu besar jatuh dari langit-langit gua. “KEBEBASAN ITU PENYAKIT! KEINGINAN SENDIRI ITU KEBURUKAN! DENGAN MENJADI SATU, KITA AKAN SELALU ADA, SELALU KUAT, TIDAK AKAN PERNAH SAKIT ATAU MATI! KENAPA KAMU MENOLAK KESENANGAN ITU?!”
Saat itu juga, tubuh-tubuh yang menyatu itu mulai bergerak maju, semakin dekat ke arah Raka. Tangan-tangan kering itu meraih semakin panjang, jari-jarinya tajam hampir menyentuh kulitnya. Wajah-wajah di tubuh itu sekarang berubah menjadi wajah orang yang ia kenal — tetangga, teman, orang yang pernah ia bantu, bahkan orang yang sudah lama mati — semuanya menatapnya dengan mata yang sama: mata Dara yang penuh nafsu.
“MASUKLAH… MASUKLAH PADA KAMI… KAMU TIDAK AKAN MERASA SENDIRI LAGI…” bisik ribuan mulut serempak, napas panas dan busuk mereka menerpa wajah Raka.
Sri tiba-tiba melompat maju, berdiri di depan Raka melindunginya. Matanya yang dulu lembut sekarang tajam penuh tekad yang menyakitkan.
“Aku tahu rahasia lain yang Dara sembunyikan,” kata Sri cepat, suaranya tergesa-gesa karena waktu yang sedikit. “Dia tidak sekuat yang dia katakan. Tubuh besar ini memang kuat, tapi dia punya satu titik lemah yang paling berbahaya. Dia tidak bisa menghapus RASA CINTA YANG TULUS. Selama masih ada satu orang yang mengingat seseorang dengan cinta dan bukan karena takut atau paksaan, orang itu tidak akan pernah bisa dimakan atau diambil olehnya. Reyhan tahu ini… itu sebabnya dia tidak pernah benar-benar lenyap. Karena ada orang yang mengingatnya dengan cinta sejati.”
Sri mengeluarkan sebilah pisau kecil dari saku bajunya — pisau yang sama persis dengan yang Reyhan pakai dulu, tapi warnanya bukan hitam melainkan PUTIH BERSIH, BERCAHAYA LEMBUT SEOLAH TERBUAT DARI CAHAYA.
“Pisau ini dibuat dari tulang orang pertama yang melawan Dara ratusan tahun lalu,” kata Sri sambil menyerahkannya ke tangan Raka. “Ini satu-satunya benda yang bisa melukainya. Tapi untuk menggunakannya, kamu harus melakukan hal yang paling menyakitkan di dunia ini. Kamu harus memotong ikatan darahmu sendiri. Kamu harus melepaskan semua warisan, semua kekuatan, semua ingatan leluhur yang ada di dalam tubuhmu. Harganya adalah kamu akan melupakan segalanya — siapa dirimu, siapa orang yang kamu cintai, semua kenangan indah yang pernah kamu miliki. Kamu akan menjadi orang baru yang kosong, tidak punya masa lalu, tidak punya nama, tidak punya apa-apa. Tapi dengan begitu, kamu akan menjadi sesuatu yang tidak bisa dia kendalikan, sesuatu yang tidak ada dalam daftar ingatannya, sesuatu yang asing baginya. Dan hanya dengan itu kamu bisa masuk ke dalam tubuhnya dan menghancurkan jantungnya.”
Raka memegang pisau itu erat-erat. Cahaya putihnya menyilaukan mata, dan ia bisa merasakan kehangatan yang tulus dari benda itu — berlawanan dengan dinginnya darah yang mengalir di tubuhnya sekarang. Ia menatap ke arah makhluk raksasa yang semakin dekat, menatap wajah Reyhan yang terperangkap di sana, menatap wajah Bara, Damar, dan ribuan orang lain yang menatapnya dengan mata penuh harapan.
Ia tahu pilihan ini bukan sekadar antara hidup dan mati. Ini pilihan antara menjadi besar dan kuat tapi jahat… atau menjadi kecil dan tidak dikenal tapi bebas dan jujur.
“Aku memilih,” kata Raka tegas, suaranya tidak lagi gemetar. “Aku lebih baik menjadi orang yang kosong tapi jujur, daripada menjadi tuan segalanya tapi jahat seperti kamu.”
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Raka mengayunkan pisau itu ke arah dadanya sendiri.
Saat bilah yang bercahaya itu menyentuh kulitnya, rasa sakit yang luar biasa menyebar ke seluruh tubuhnya — jauh lebih sakit daripada luka biasa, karena rasa sakit itu bukan pada dagingnya, tapi pada ingatannya. Ia merasa seperti ribuan paku menancap ke otaknya, merasa seperti semua hal yang pernah ia tahu ditarik keluar satu per satu dengan paksa. Nama ayahnya, nama ibunya, wajah orang yang ia cintai, semua cerita yang pernah ia baca, semua rahasia yang pernah ia ketahui — semuanya menghilang satu per satu, digantikan oleh kekosongan yang sunyi dan dingin.
Darah yang keluar dari lukanya bukan lagi merah atau hitam — warnanya PUTIH BERSIH, BERCAHAYA TERANG SEPERTI MATAHARI. Saat darah itu menyentuh tanah, semua tangan kering yang meraih tadi seketika terbakar dan hancur menjadi debu. Saat darah itu menyentuh dinding gua, semua botol yang pecah tadi kembali utuh, dan ingatan di dalamnya kembali bersinar indah dan aman.
“APA YANG KAMU LAKUKAN?! BERHENTI! KAMU MERUSAK SEGALANYA!” teriak Dara panik, wajahnya penuh ketakutan yang pertama kali terlihat. “JIKA KAMU MELEPAS IKATAN DARAH, KAMU AKAN HILANG SELAMANYA! TIDAK ADA YANG AKAN MENGINGATMU, TIDAK ADA YANG AKAN TAHU NAMAMU!”
“ITU LEBIH BAGUS DARIPADA DIINGAT SEBAGAI PENJAHAT SEPERTIMU!” teriak Raka balik, matanya sekarang kosong tapi penuh cahaya putih yang menyilaukan.
Dengan tubuh yang semakin ringan dan semakin tidak terasa beratnya, Raka berlari secepat kilat menuju tubuh raksasa itu. Darah putihnya menyebar cepat ke mana-mana, membakar setiap bagian tubuh yang disentuhnya. Wajah-wajah yang terperangkap mulai terlepas satu per satu, tubuh mereka menjadi kabut cahaya yang bebas, dan mereka semua tersenyum terima kasih padanya sebelum menghilang ke langit.
Sampai akhirnya Raka mencapai bagian paling tengah — jantung makhluk itu, tempat Dara bersembunyi.
Dara mencoba meraihnya dengan ribuan tangan, mencoba memasukkan semua ingatan jahatnya ke dalam kepala Raka, mencoba membuatnya takut dan menyesal. Tapi karena Raka sudah kosong, tidak ada tempat di dalam pikirannya untuk rasa takut atau penyesalan. Ia seperti kaca bening yang tidak bisa menampung noda apa pun.
“SEKARANG KITA AKAN SELESAI,” kata Raka pelan, lalu menusukkan pisau putih itu tepat ke tengah jantung Dara.
Seketika itu juga, cahaya putih yang menyilaukan meledak dari dalam sana, menerangi seluruh gua, seluruh bukit, seluruh langit di atasnya. Suara teriak yang mengerikan terdengar satu kali saja, lalu seketika segalanya menjadi sunyi senyap.
Ketika cahaya itu mereda, tidak ada apa-apa yang tersisa di sana. Tidak ada makhluk raksasa, tidak ada tubuh-tubuh yang menyatu, tidak ada darah atau tulang. Tanah kembali rata, rumput hijau tumbuh subur, dan udara kembali segar dan bersih.
Di tengah lapangan itu hanya ada satu orang yang terbaring — seorang pemuda yang wajahnya bersih, matanya kosong tanpa ingatan apa pun, dan tidak ada satu benda pun yang menyertainya kecuali sepotong benang kain hitam yang bersih tergeletak di sampingnya.
Orang itu bangkit perlahan, melihat sekelilingnya dengan tatapan bingung. Ia tidak tahu siapa dirinya, tidak tahu di mana ia berada, tidak tahu apa yang terjadi. Ia hanya merasa ada rasa damai yang besar di dalam hatinya, dan rasa ringan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Ia berjalan pergi menjauh dari tempat itu, masuk ke dalam hutan, menghilang perlahan di antara pepohonan. Tidak ada yang tahu ke mana ia pergi, tidak ada yang tahu siapa dia. Ia tidak ada di catatan mana pun, tidak ada di ingatan siapa pun. Ia benar-benar menjadi JEJAK YANG TIDAK PERNAH ADA.