Demi membiayai pengobatan rumah sakit ibunya, Alya terpaksa mengambil keputusan paling nekat dalam hidupnya: menerima tawaran menjadi pengasuh sekaligus "Ibu Pengganti" rahasia. Tugasnya tidak mudah, ia harus menjinakkan Leon dan Lulu, sepasang anak kembar jenius berusia empat tahun yang terkenal super rewel dan selalu berhasil mengusir puluhan pengasuh sebelumnya.
Namun, sebuah keajaiban terjadi. Di hari pertama mereka bertemu, si kembar langsung memeluk Alya dan memanggilnya "Mama".
Hal itu membuat Adrian Vasillo, seorang CEO dingin, kejam, dan tidak tersentuh, terkejut setengah mati. Adrian yang selama ini menutup hatinya dari wanita, akhirnya menawarkan kontrak pernikahan demi kebahagiaan anak kembarnya. Alya mengira tugasnya hanya berpura-pura menjadi ibu yang baik di depan si kembar. Namun, ia keliru.
Di balik tatapan dingin Adrian, pria itu mulai menuntut hak-haknya sebagai seorang suami nyata. Di saat perasaan Alya mulai goyah, satu per satu rahasia masa lalu mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bbsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Dua Ibu
"Lepaskan saya!" teriak Alya, meronta sekuat tenaga saat cengkeraman kasar pengawal itu mengunci lengannya.
Di dalam saku celananya, jemari Alya yang bergetar hebat meraba-raba layar ponsel secara membabi buta. Ia tahu ia telah mengatur tombol volume bawah yang ditekan tiga kali sebagai panggilan darurat darurat ke nomor Adrian.
Klik. Klik. Klik.
Alya berdoa dalam hati agar sistem ponselnya bekerja di balik kain saku celananya yang tebal.
"Diam kamu, Nyonya Pajangan!" bentak Tiffany. "Seret mereka lewat tangga darurat belakang! Cepat, sebelum manajer hotel ini memanggil polisi!"
"Tidak! Lepaskan Alya! Dia tidak tahu apa-apa!" jerit Elena, berusaha memukul pengawal yang kini merangkul tubuh ringkihnya dengan paksa. Bekas luka di wajah Elena tampak memerah, memancarkan kepedihan yang mendalam.
"Bawa mereka!" perintah Tiffany ketat, matanya berkilat penuh kemenangan. "Adrian boleh saja memenangkan saham di papan bursa, tapi di depan pengadilan besok, kita lihat bagaimana dia mempertahankan anak-anaknya saat istri pertama yang dikira mati tiba-tiba menuntut hak asuh bersama istri barunya yang ternyata seorang kaki tangan!"
Alya terus mencoba menahan langkah kakinya, membuat tubuhnya seberat mungkin di lantai semen koridor darurat. "Tiffany, kamu tidak akan lolos dari ini! Adrian pasti melacak keberadaanku!"
"Oh, silakan biarkan dia melacakmu," tawa Tiffany terdengar parau dan puas saat mereka menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. "Begitu dia menemukanmu, kamu sudah berada di dalam penguasaan kami, dan persidangan besok pagi akan menjadi panggung eksekusi terakhir untuk Vasillo Group!"
Di kantor pusat Vasillo Group, Adrian sedang meninjau dokumen terakhir persiapan keberangkatan mereka ke Bali bersama Malik. Pena di tangannya mendadak berhenti bergerak saat ponsel pribadinya yang diletakkan di atas meja kerja bergetar panjang.
Layar ponselnya tidak menampilkan nama pemanggil biasa, melainkan sebuah sinyal peringatan berwarna merah: PANGGILAN DARURAT - ALYA.
Adrian langsung menyambar ponsel tersebut dan menggeser tombol hijau.
"Alya?!" panggil Adrian setengah berteriak, jantungnya seketika mencelos.
Tidak ada jawaban langsung dari seberang telepon. Yang terdengar hanyalah suara gesekan kain yang kasar, deru angin yang tergesa-gesa, dan... suara jeritan histeris yang sangat familier di telinga Adrian.
"Lepaskan saya! Tiffany, kamu tidak akan lolos dari ini! Adrian pasti melacak keberadaanku!"
Itu suara Alya.
Lalu, terdengar suara lain yang membuat Adrian membeku di tempat, seolah seluruh pasokan oksigen di ruang kerjanya yang luas mendadak menguap habis.
"Tidak! Lepaskan Alya! Dia tidak tahu apa-apa!"
Rahang Adrian mengeras hingga sendi-sendinya memutih. Matanya melebar menatap kekosongan di depannya. Suara itu...
"Elena?" bisik Adrian dengan suara yang mendadak serak dan dipenuhi getaran ketidakpercayaan yang luar biasa. "Bagaimana bisa..."
"Tuan Adrian? Ada apa?" tanya Malik yang langsung berdiri dari kursinya melihat perubahan drastis pada wajah sang CEO.
"Malik..." Adrian berdiri dengan sangat cepat hingga kursi kerjanya terdorong ke belakang dan jatuh menghantam lantai marmer. "Lacak posisi ponsel Alya sekarang juga! Gunakan semua satelit koordinat yang kita miliki! Cepat!"
"Baik, Tuan!" Malik tidak membuang waktu untuk bertanya. Jemarinya langsung menari dengan kecepatan tinggi di atas keyboard laptop khususnya, meretas sinyal GPS pribadi yang tertanam di dalam ponsel Alya.
"Sinyalnya bergerak cepat di kawasan Menteng, Tuan!" lapor Malik dalam waktu kurang dari tiga puluh detik. "Bergerak menuju arah bypass Jakarta Timur. Mereka menggunakan mobil dengan kecepatan tinggi."
Adrian langsung menyambar jasnya, matanya menyala dengan amarah yang begitu mengerikan hingga sanggup membuat siapa saja yang melihatnya gemetar ketakutan. "Siapkan tim keamanan cadangan. Kita potong jalur mereka sekarang juga."
"Tuan, apakah kita perlu menghubungi kepolisian?" tanya Malik sambil menyusul langkah lebar Adrian menuju lift pribadi.
"Tidak ada waktu untuk prosedur polisi," desis Adrian, rahangnya mengatup rapat hingga urat-urat di lehernya menegang. "Jika Tiffany berani menyentuh sehelai saja rambut istriku... aku sendiri yang akan memastikan dia dan seluruh keluarganya membusuk di dasar neraka."
Mobil SUV hitam besar milik Adrian melaju membelah jalanan Jakarta yang mulai merayap padat sore itu. Adrian sendiri yang memegang kemudi, mengabaikan semua rambu lalu lintas dengan kecepatan yang sangat membahayakan. Di sampingnya, Malik terus memantau titik merah koordinat ponsel Alya pada tablet di pangkuannya.
"Mereka masuk ke kawasan pergudangan terbengkalai di daerah Cakung, Tuan," ujar Malik tenang namun fokus. "Sinyalnya berhenti di sana. Tampaknya itu adalah salah satu properti milik Anggoro Group yang sudah tidak beroperasi lagi."
"Sempurna," ucap Adrian dingin, menekan pedal gasnya lebih dalam lagi hingga deru mesin mobil sport SUV-nya meraung keras di jalan tol.
Sementara itu, di dalam sebuah gudang tua yang berdebu dan remang-remang di kawasan Cakung, Alya dan Elena didorong masuk ke dalam sebuah ruangan bekas kantor administrasi yang sempit. Pintu besi ruangan itu langsung dikunci dari luar oleh kedua pengawal Tiffany.
Alya terduduk di atas lantai semen yang dingin, mencoba mengatur napasnya. Di sampingnya, Elena menangis tersedu-sedu sambil memeluk lututnya, seluruh tubuhnya bergetar hebat akibat trauma masa lalu yang kembali menyerangnya.
"Elena... kamu tidak apa-apa?" tanya Alya lembut, mengesampingkan rasa sakit di pergelangan tangannya sendiri untuk merangkul bahu wanita itu.
Elena mendongak, menatap Alya dengan mata yang sembap dan penuh keputusasaan. "Alya... maafkan aku. Ini semua salahku. Jika saja aku tidak menghubungimu, kamu tidak akan terseret ke dalam kegilaan keluargaku lagi."
"Ini bukan salahmu, Elena," sahut Alya tulus, menyeka air mata di pipi wanita yang memiliki bekas luka parut tersebut. "Kita berdua adalah korban di sini. Tapi kamu harus kuat. Kita harus bertahan demi Leon dan Lulu."
Mendengar nama anak-anaknya, ada binar kekuatan kecil yang mendadak muncul di mata Elena. "Leon... Lulu... apakah mereka tumbuh dengan baik, Alya? Apakah mereka merindukanku?"
Alya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sarat akan kehangatan seorang ibu. "Mereka tumbuh menjadi anak-anak yang sangat pintar dan manis. Mereka merindukanmu, Elena... tapi alam bawah sadar mereka selalu tahu bahwa ibu mereka adalah wanita yang luar biasa yang pernah melindungi mereka."
Sebelum Elena sempat membalas, terdengar suara deru mesin mobil yang sangat keras dari arah luar gudang, disusul oleh suara hantaman besi yang luar biasa kencang.
BUMMM!!!
Gerbang seng gudang tua itu hancur berantakan akibat ditabrak paksa oleh moncong SUV hitam besar milik Adrian.
Alya dan Elena otomatis berdiri, menatap ke arah jendela kaca buram ruangan kantor tempat mereka dikurung.
Dari balik kepulan debu dan serpihan seng yang runtuh, Adrian melangkah keluar dari mobilnya. Ia tidak membawa senjata, namun kehadirannya sendiri sudah cukup untuk memancarkan aura kematian yang nyata bagi siapa saja yang berani menghalangi jalannya.
"Adrian..." bisik Alya, air mata kelegaan akhirnya menetes di pipinya.
Dua pengawal Tiffany yang bersiaga di dalam gudang langsung mencoba menghadang Adrian dengan tongkat besi di tangan mereka. Namun, sebelum mereka sempat mengayunkan senjata tersebut, tim keamanan pribadi Vasillo Group yang dipimpin oleh Malik telah merangsek masuk melalui pintu samping, melumpuhkan kedua pengawal itu dalam hitungan detik dengan gerakan taktis yang sangat rapi.
Adrian melangkah melewati kekacauan itu tanpa melirik sedikit pun. Sepasang matanya hanya terkunci pada pintu besi ruangan kantor di ujung gudang.
KREEEKKK!
Adrian menghantam pintu besi tersebut menggunakan linggis yang ia ambil dari sela reruntuhan pintu gudang hingga engselnya jebol berantakan.
Begitu pintu terbuka, Adrian langsung menerobos masuk. Tatapan pertamanya langsung jatuh pada Alya. Ia menarik tubuh istrinya ke dalam pelukan erat yang sangat posesif, menghirup aroma rambut Alya seolah ingin memastikan wanita itu benar-benar aman dalam dekapannya.
"Kamu tidak apa-apa?" bisik Adrian, suaranya terdengar sangat bergetar oleh rasa cemas yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Aku tidak apa-apa, Adrian... aku aman," sahut Alya, memeluk erat pinggang suaminya.
Perlahan, Adrian melepaskan pelukannya. Pandangannya kini beralih pada sosok wanita yang berdiri gemetar di sudut ruangan remang-remang itu.
Suasana mendadak hening seketika. Dua orang yang pernah berbagi janji pernikahan empat tahun lalu itu kini saling menatap dalam keheningan yang mencekam.
Elena menatap Adrian dengan pandangan yang dipenuhi oleh rasa bersalah, ketakutan, dan sisa-sisa cinta masa lalu yang rumit. Sementara Adrian... menatap wanita yang dikira telah tewas itu dengan tatapan yang sangat datar, dingin, namun tidak lagi dipenuhi oleh amarah yang membakar. Badai emosinya tampaknya telah diredam sepenuhnya oleh keberadaan Alya di sisinya.
"Elena..." ucap Adrian pelan, suaranya terdengar sangat dingin namun stabil. "Jadi... kamu benar-benar masih hidup."