Bagi Aura, mahasiswa tingkat akhir penerima beasiswa penuh, hidup ini sederhana: belajar keras, lulus cepat, dan dapat kerja bagus demi menyembuhkan ibunya yang sakit. Dunia Aura diatur oleh jadwal kuliah yang ketat dan nilai IPK yang sempurna. Ia menjauhi segala bentuk masalah, termasuk Devan, mahasiswa jurusan hukum yang terkenal arogan, kerap bolos, dan selalu dikelilingi aura berbahaya. Devan adalah definisi nyata dari bad boy kampus yang harus dihindari.
Permusuhan mereka dimulai dari hal sepele—rebutan buku referensi langka di perpustakaan dan insiden kopi tumpah yang membuat Devan bersumpah akan membuat hidup Aura di kampus seperti neraka. Aura menganggap Devan tak lebih dari berandalan kaya yang manja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Langkah kaki mereka menggema cepat di atas lantai beton yang basah saat melintasi sisa-sisa labirin kontainer. Suara sirine polisi yang meraung-raung di kejauhan berbaur dengan deru angin laut yang kencang, menandakan bahwa mereka sudah semakin dekat dengan ujung gudang yang berbatasan langsung dengan laut lepas.
Kenzo mendorong sebuah pintu tripleks tebal yang menjadi pembatas terakhir menuju area luar dermaga. Hujan masih turun, tetapi tidak sederas sebelumnya, menyisakan rintik-rintik dingin yang langsung menyapu wajah Aura. Di depan mereka, terbentang pemandangan Dermaga Tiga yang temaram. Sebuah kapal cepat (speedboat) berukuran sedang dengan mesin yang sudah menyala tampak bergoyang-goyang pelan dihantam ombak kecil. Di atas kapal, seorang pria muda berambut rapi dengan setelan jas abu-abu—Marco—tampak bersiap di balik kemudi.
"Dev! Cepat naik!" seru Marco setengah berteriak menembus bising angin laut.
Devan tidak membuang waktu. Ia menuntun Aura menuruni tangga besi dermaga yang licin. Genggaman tangannya pada jemari Aura sama sekali tidak melonggar, justru semakin mengerat seolah memastikan gadis itu tidak akan terpeleset sedikit pun. Devan melompat lebih dulu ke atas dek kapal, lalu berbalik dan menangkap pinggang Aura, mengangkat tubuh gadis itu dengan mudah untuk membantunya naik.
Begitu kaki Aura menapak di dek kapal yang stabil, Devan langsung membawanya masuk ke dalam kabin kapal yang tertutup dan hangat. Bram dan Kenzo menyusul dengan cepat di belakang mereka, langsung menutup pintu kabin dengan rapat.
"Jalan, Mar! Jauhkan kita dari area ini sebelum orang-orang Gavin menyadari mereka ditipu sirine polisi palsu," perintah Devan tegas.
Marco mengangguk, menarik tuas kendali, dan dalam sekejap kapal cepat itu melesat membelah ombak malam Distrik Utara, meninggalkan kompleks pergudangan yang kini tampak menjauh dalam kegelapan.
Suasana di dalam kabin kapal terasa begitu kontras dengan ketegangan di luar. Lampu interior yang kuning temaram memberikan kesan hangat. Aura duduk di salah satu kursi kulit, tubuhnya masih sedikit bergetar bukan lagi karena takut, melainkan karena efek dingin sisa air hujan yang membasahi pakaiannya. Ia merapatkan jaket denim besar milik Devan yang masih tersampir di bahunya, mencari sedikit kehangatan dari kain tebal tersebut.
Devan berdiri di dekat jendela kabin, memperhatikan situasi di luar melalui kaca yang berembun sebelum akhirnya berbalik. Ia berjalan mendekati Aura, lalu duduk di kursi yang berada tepat di hadapan gadis itu. Jarak mereka dekat, namun kali ini tidak ada intimidasi fisik seperti di gedung laboratorium kampus.
"Kenzo," panggil Devan tanpa mengalihkan pandangannya dari Aura. "Gimana situasi di rumah Aura?"
Kenzo yang sedang memeriksa tabletnya mendongak. "Aman, Dev. Dua orang kita yang berjaga di sekitar sana melaporkan gak ada pergerakan mencurigakan dari klan Mahendra. Mereka gak tahu alamat rumah Aura. Fokus Gavin malam ini cuma menyerang gudang logistik."
Aura mengembuskan napas lega yang teramat panjang, menyandarkan punggungnya yang tegang ke sandaran kursi. "Syukurlah..." bisiknya lirih. Pikiran tentang ibunya adalah satu-satunya hal yang sempat membuatnya hampir kehilangan kendali di tengah baku tembak tadi.
Devan memperhatikan ekspresi lega di wajah Aura. Ada keheningan sejenak di antara mereka sebelum Devan akhirnya membuka suara dengan nada yang jauh lebih serius dan tenang.
"Gisela Aura," panggil Devan, menggunakan nama lengkap gadis itu dengan penekanan yang dalam. "Gue rasa sekarang lo udah paham kalau situasi ini bukan lagi sekadar urusan anak kuliahan yang hobi berantem di parkiran."
Aura mendongak, menatap mata elang Devan dengan berani. "Aku tahu. Kalian... benar-benar bagian dari sindikat itu, kan?"
Devan tidak membantah. Ia menyandarkan punggungnya, melipat tangan di dada. "Keluarga gue menguasai jalur logistik legal dan beberapa bisnis sekunder di kota ini. Klan Mahendra adalah rival lama yang selalu mencari celah untuk menjatuhkan kami. Dokumen laporan magang yang lo edit semalam... sebenarnya adalah draf audit internal yang sengaja gue samarkan sebagai tugas kampus agar tidak memancing perhatian mata-mata di firma hukum bokap gue."
Aura tertegun. Jadi itu alasannya, pikir Aura. Pantas saja dokumen itu terasa begitu janggal dan penuh dengan istilah hukum yang terlalu spesifik untuk ukuran mahasiswa magang biasa.
"Lo punya otak yang terlalu tajam untuk ukuran cewek yang cuma menghabiskan waktu di perpustakaan," lanjut Devan, ada binar kekaguman yang samar di matanya yang dingin. "Gavin Mahendra tahu ada orang yang membantu gue merapikan celah hukum itu dalam semalam. Kalau lo kembali ke kampus besok seolah-olah gak terjadi apa-apa, lo bakal jadi sasaran empuk. Mereka akan mengira lo adalah bagian dari klan Bratadikara."
"Tapi aku bukan bagian dari kalian!" seru Aura, suaranya sedikit meninggi karena frustrasi. "Aku cuma mahasiswa beasiswa yang sialnya menumpahkan kopi ke bajumu!"
"Gavin gak peduli soal kopi tumpah, Aura," potong Devan tajam namun tenang. "Yang dia peduli adalah lo tahu cara mengunci celah hukum yang bisa merugikan bisnis mereka jutaan dolar. Di mata dunia luar, lo sekarang adalah aset gue. Dan di dunia gue, aset yang berharga harus dilindungi... atau dihancurkan oleh musuh."
Kata 'dihancurkan' membuat Aura meremang. Ia menyadari bahwa hidupnya yang tenang, jadwal kuliahnya yang teratur, dan rencana masa depannya yang sederhana telah bergeser dari porosnya secara permanen.
"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Aura, suaranya melemah, tersirat rasa pasrah yang jarang ia perlihatkan. "Aku tidak bisa berhenti kuliah. Beasiswaku..."
"Beasiswa lo aman. Gak akan ada yang berani menyentuhnya, gue jamin itu," kata Devan tegas, memberikan kepastian yang selama ini Aura ragukan. "Tapi aturan main kita berubah mulai malam ini."
Devan condong ke depan, menumpu kedua tangannya di lutut, menatap Aura dengan intensitas yang mengunci seluruh perhatian gadis itu.
"Perjanjian pertama kita di lab tua batal," ucap Devan. "Gue gak akan jadiin lo budak akademik gue lagi. Sebagai gantinya, gue butuh otak lo. Gue butuh lo tetap mengedit dan memeriksa dokumen-dokumen hukum yang gue bawa dari firma. Secara resmi di kampus, lo akan tetap terlihat sebagai cewek yang terpaksa mengikuti kemauan gue karena ancaman beasiswa. Itu untuk menyamarkan posisi lo dari mata-mata Mahendra."
Aura mengernyitkan dahi. "Jadi... kita berpura-pura masih bermusuhan di kampus?"
"Ya. Di depan umum, gue tetaplah bad boy arogan yang mengintimidasi lo, dan lo tetaplah good girl yang tertekan," seringai miring Devan kembali muncul, namun kali ini terasa memiliki fungsi taktis, bukan lagi ejekan kosong. "Tapi di balik layar, lo berada di bawah perlindungan penuh klan Bratadikara. Ke mana pun lo pergi, orang-orang gue akan mengawasi dari jauh untuk memastikan keselamatan lo dan ibu lo."
Aura terdiam, menimbang-nimbang tawaran—atau lebih tepatnya perintah terselubung—dari Devan. Ini adalah aliansi yang berbahaya. Ia berteman dengan monster untuk menghindari monster yang lain. Namun, melihat tidak adanya jalan keluar lain yang logis, Aura tahu ia harus menerima skenario ini.
"Baik," ucap Aura akhirnya, suaranya terdengar mantap. "Aku terima aturan mainmu, Devan. Tapi aku punya satu syarat."
Devan mengangkat sebelah alisnya. "Syarat?"
"Jangan pernah bawa masalah dunia gelapmu ini ke lingkungan rumahku. Ibuku tidak boleh tahu sedikit pun tentang hal ini. Dia sedang sakit, dan dia tidak akan kuat menahan tekanan seperti ini," tuntut Aura dengan mata yang berkaca-kaca namun sarat akan ketegasan seorang anak yang melindungi ibunya.
Devan menatap mata cokelat Aura yang berair. Untuk pertama kalinya, ada rasa hangat yang aneh menjalar di dada cowok yang terkenal tak punya hati itu. Keteguhan Aura untuk melindungi keluarganya di tengah ancaman nyawa membuat Devan merasakan sesuatu yang sudah lama hilang dari dirinya: rasa hormat pada seseorang.
"Gue janji," jawab Devan, suaranya melembut, tanpa ada nada paksaan sama sekali. "Rumah lo adalah area netral. Gak akan ada satu pun orang Mahendra atau Bratadikara yang menginjakkan kaki di sana tanpa izin lo."
Aura mengangguk, merasa sebuah beban berat sedikit terangkat dari pundaknya.
Kapal cepat itu terus melaju menembus kegelapan laut malam, membawa mereka kembali menuju dermaga aman di pusat kota. Di dalam kabin yang temaram itu, sebuah garis demarkasi baru telah dibuat. Mereka mungkin memulai segalanya sebagai musuh di perpustakaan kampus, namun malam ini, di bawah dentum badai Distrik Utara, sebuah ikatan baru yang rumit dan berbahaya telah resmi terikat di antara sang bad boy mafia dan si good girl akademis.