Hanya karena latar belakangnya yang miskin, Naya selalu menjadi keset kaki di rumah suaminya, Reza. Puncaknya, Ningsih—sang ibu mertua—menuduh Naya mencuri uang puluhan juta rupiah. Tanpa mau mendengarkan penjelasan, Reza yang telanjur murka menurunkan Naya begitu saja di pinggir jalan tol yang sepi dan gelap.
Mereka tidak tahu bahwa Naya bukanlah wanita lemah tanpa kuasa. Di balik penampilannya yang sederhana, Naya adalah pewaris tunggal konglomerat yang sedang menyamar.
Langkah demi langkah, Naya mulai membalas. Mulai dari membekukan rekening, memecat Reza dari posisinya di perusahaan, menyita mobil, hingga mengusir mertuanya dari rumah mewah yang ternyata dibeli dengan uangnya. Di saat Reza dan Ibunya jatuh miskin dan mengemis di jalanan, sebuah kebenaran pahit terungkap: pencuri asli uang Ningsih adalah bukan Naya Saat penyesalan datang, pintu maaf Naya sudah tertutup rapat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amarah yang Membakar di Pelataran Marmer
Rumah kontrakan sempit di pinggiran Jakarta itu terasa begitu mencekik. Bau kayu lapuk yang lembap dan sisa asap knalpot dari jalanan sempit di luar merayap masuk melalui celah pintu yang renggang. Di dalam ruangan persegi yang pengap itu, Ningsih menatap tumpukan kardus bekas berisi barang-barang pribadi Reza yang tergeletak di lantai bagai rongsokan tak berharga.
"Dipecat?! Bagaimana bisa kamu dipecat oleh perempuan jalang itu, Reza?!"
Lengkingan suara Ningsih memecah kesunyian yang rapuh, bergetar di antara dinding batako tanpa plester yang dingin. Napasnya memburu, dadanya yang dihiasi kalung manik-manik imitasi—pengganti kalung emasnya yang kini mendekam di laci pegadaian—naik turun dengan tidak teratur.
Reza duduk di sudut ruangan, memeluk lututnya sendiri dengan pandangan kosong. Rambutnya yang biasanya klimis tertata rapi kini kusut masai, menyembunyikan wajahnya yang pucat dan dipenuhi gumpalan rasa malu yang teramat sangat. "Dia bukan Naya yang dulu, Ibu... Dia Anindya Naya Atmadja. Dia pemilik perusahaan tempatku bekerja. Dia memegang seluruh hidup kita di dalam kepalan tangannya."
"Persetan dengan Atmadja!" Ningsih meludah ke lantai, matanya menyala oleh api angkara murka yang menolak untuk padam. Kepongahan yang telah mendarah daging selama puluhan tahun menolak untuk menerima kenyataan bahwa menantu yang selama ini ia injak-injak kini berdiri di atas kepalanya. "Dia hanya perempuan udik! Dia pasti menggunakan sihir atau tubuhnya untuk merayu para direktur tua di pusat! Aku tidak akan membiarkan ini terjadi! Kehormatan keluarga kita tidak bisa diinjak-injak oleh tikus selokan seperti dia!"
Dengan kemarahan yang meluap hingga membutakan akal sehatnya, Ningsih menyambar tas tangan kulit imitasi miliknya. Ia tidak peduli pada rintihan Reza yang memintanya untuk diam. Di dalam kepala Ningsih, hanya ada satu takdir yang harus ia luruskan: ia harus menyeret Naya kembali ke tanah, mempermalukannya di depan semua orang, dan menuntut kembali apa yang ia yakini sebagai hak keluarganya.
Lobi utama PT Sinar Surya pagi itu berkilau seperti biasa. Cahaya matahari menembus dinding kaca temper yang megah, memantulkan kemewahan di atas lantai marmer yang mengilat tanpa cela. Keheningan yang berkelas itu tiba-tiba koyak oleh suara gaduh dari arah pintu masuk berputar.
"Lepaskan aku! Kalian tidak tahu siapa aku, hah?! Aku adalah mertua dari CEO kalian!"
Ningsih merangsek masuk melewati batas penjagaan. Rambutnya yang disasak tinggi kini mulai sedikit longgar dan berantakan tertiup angin jalanan, mengesankan sosok wanita paruh baya yang setengah waras. Ia mengenakan gaun brokat merah menyala yang terlalu mencolok untuk suasana kantor, dipadukan dengan riasan wajah tebal yang mulai luntur oleh keringat dingin kemarahan.
Dua petugas keamanan dengan sigap menghadang langkahnya di dekat meja resepsionis, namun Ningsih terus meronta, tas tangannya diayunkan dengan liar untuk menghalau siapa saja yang mendekat.
"Panggil Naya! Suruh perempuan tidak tahu diri itu turun menemui ibunya!" teriak Ningsih, suaranya yang melengking tinggi memantul di langit-langit lobi yang tinggi, menarik perhatian puluhan staf dan tamu penting yang sedang melintas. "Dia telah mencuri pekerjaan anakku! Dia menghancurkan keluargaku setelah semua kebaikan yang kami berikan padanya! Naya! Keluar kamu, dasar perempuan pencuri!"
Bisik-bisik riuh langsung menjalar di antara para karyawan. Beberapa orang mengeluarkan ponsel mereka diam-diam, merekam drama pagi hari yang memalukan tersebut.
Tiba-tiba, denting lift khusus eksekutif terdengar lembut namun sanggup membungkam sebagian kegaduhan.
Pintu lift terbuka perlahan. Naya melangkah keluar dengan keanggunan yang mutlak. Pagi ini, ia mengenakan setelan blazer sutra berwarna abu-abu arang yang memeluk tubuh tegaknya dengan sempurna. Rambut hitamnya dibiarkan jatuh bergelombang di bahunya, membingkai wajahnya yang tenang tanpa riasan berlebih. Baskara berjalan satu langkah di belakangnya, membawa aura wibawa yang dingin dan menekan.
Melihat kehadiran Naya, Ningsih seolah mendapatkan kembali kekuatannya. Ia menyentakkan tubuhnya dari pegangan petugas keamanan dan melangkah cepat ke arah Naya, menunjuk wajah menantunya dengan jari yang gemetar oleh kebencian.
"Naya! Berani-beraninya kamu menampakkan wajahmu setelah apa yang kamu lakukan pada Reza!" pekik Ningsih, dadanya membusung kencang di hadapan kerumunan. "Kamu perempuan tidak tahu diuntung! Tiga tahun kami memberimu makan, menampung mu di rumah kami yang mewah, dan ini balasanmu?! Kamu memecat suamimu sendiri? Kamu menggunakan kekuasaan barumu untuk membalas dendam pribadi?!"
Naya menghentikan langkahnya tepat lima langkah di hadapan Ningsih. Ia tidak mundur setapak pun. Sorot matanya yang sedingin kristal es menatap Ningsih dari ujung kepala hingga ujung kaki, sebuah tatapan yang tidak mengandung amarah, melainkan kehampaan yang begitu merendahkan.
"Ibu Ningsih," suara Naya mengalun rendah, begitu tenang hingga terdengar sangat kontras dengan teriakan histeris ibu mertuanya. "Saya rasa Anda salah alamat jika ingin mencari simpati di gedung ini."
"Jangan panggil aku Ibu! Aku tidak sudi memiliki menantu ular seperti kamu!" Ningsih melangkah satu tapak lebih dekat, mencoba mengintimidasi dengan kedekatan fisiknya. "Dengar semuanya! Perempuan yang kalian sebut CEO ini adalah seorang pencuri! Dia mencuri uang arisanku sebesar lima puluh juta rupiah! Dia membalas dendam karena kedok pencuriannya terbongkar! Dia tidak layak memimpin perusahaan ini!"
Mendengar tuduhan keji itu, kerumunan staf di lobi saling berpandangan. Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang berani bersuara. Atmosfer di sekitar Naya terasa begitu menekan, seolah ada dinding tak kasat mata yang melindungi sang ratu dari cipratan lumpur Ningsih.
Naya tersenyum tipis. Sebuah senyuman dingin yang membuat bulu kuduk Baskara sekalipun meremas.
"Uang lima puluh juta rupiah, Ibu Ningsih?" Naya melipat kedua tangannya di depan dada, kepalanya sedikit miring menatap wanita yang sedang mengamuk itu. "Jumlah yang sangat kecil untuk membuat Anda kehilangan akal sehat di tempat umum seperti ini. Apakah Anda ingin tahu, di mana sebenarnya uang-uang yang selama ini Anda belanjakan untuk membeli berlian palsu dan membayar arisan sosialita Anda?"
Naya melirik Baskara, memberikan isyarat tanpa suara.
Baskara segera membuka sebuah map hitam tebal yang dibawanya. Dengan suara yang lantang dan jelas, yang dirancang agar terdengar oleh setiap pasang mata di lobi tersebut, Baskara mulai membacakan dokumen di tangannya.
"Atas nama hukum dan legalitas keuangan Atmadja Group. Dalam tiga tahun terakhir, Yayasan Dharma Atmadja telah menggelontorkan dana hibah sebesar dua koma empat miliar rupiah ke rekening bersama atas nama Reza Adijaya dan Ningsih. Seluruh biaya makan, tagihan listrik, cicilan mobil Mercedes-Benz, hingga biaya arisan bulanan Ibu Ningsih... sepenuhnya dibayar oleh dana pribadi milik Nona Muda Anindya Naya Atmadja."
Setiap kata yang dibacakan Baskara bagai hantaman gada besi yang meruntuhkan panggung sandiwara Ningsih.
"Dengan kata lain," Naya menyambung, suaranya bergaung dingin di lobi yang kini sunyi senyap, "Ibu Ningsih, Anda tidak pernah memiliki uang lima puluh juta rupiah dari keringat Anda sendiri. Anda hidup dari belas kasihan seorang wanita yang Anda sebut 'tikus selokan' ini. Dan mengenai tuduhan pencurian..."
Naya melangkah satu kali maju, mempersempit jarak hingga Ningsih bisa melihat bekas luka kecil di sudut bibir Naya yang kini telah tertutup riasan tipis—bekas dari kebrutalan anak laki-lakinya.
"...jika saya ingin mencuri dari Anda, saya tidak perlu menunggu tiga tahun untuk mengambil recehan lima puluh juta dari laci meja rias Anda yang berdebu. Saya bisa membeli seluruh hidup Anda beserta anak laki-laki Anda yang tidak berguna itu hanya dengan sekali jentikan jari."
Wajah Ningsih mendadak berubah dari merah padam menjadi pucat pasi bagai kertas tisu yang basah. Bibirnya bergetar, mencoba merapal kata-kata bantahan, namun tenggorokannya mendadak terkunci oleh kebenaran yang begitu telanjang dipamerkan di depan ratusan karyawan yang kini menatapnya dengan pandangan jijik dan muak.
"K-Kamu... kamu berbohong... Reza yang memberiku uang! Reza anakku yang sukses!" ratap Ningsih, suaranya mulai kehilangan daya ledaknya, berubah menjadi desis keputusasaan yang menyedihkan.
"Seret dia keluar," perintah Naya dingin, tanpa sekali pun mengalihkan pandangannya dari mata Ningsih yang mulai digenangi air mata ketakutan. "Dan pastikan wajah wanita ini beserta seluruh keluarganya terdaftar di sistem keamanan sebagai orang luar yang dilarang keras mendekati area gedung dalam radius seratus meter."
"Baik, Nona Muda," jawab kepala sekuriti dengan tegas.
Empat petugas keamanan berbadan tegap langsung maju. Mereka mencengkeram lengan Ningsih yang kini lemas tanpa tenaga. Ningsih tidak lagi meronta; ia membiarkan tubuhnya diseret melewati lantai marmer yang mengilat, meninggalkan bunyi decitan sepatu yang terdengar memilukan.
Brak!
Ningsih dihempaskan di atas anak tangga marmer pelataran luar gedung, tepat di samping jalan raya yang bising dan berdebu. Tas tangannya terlempar, isinya yang berupa beberapa lipstik murah dan cermin retak berserakan di atas beton yang panas.
Di balik dinding kaca yang gelap di atas sana, Ningsih bisa melihat bayangan dirinya sendiri—seorang wanita tua dengan gaun merah mencolok yang kusut, rambut yang berantakan, terduduk di tangga luar bagai seorang pengemis yang baru saja diusir dari istana.
Matahari siang Jakarta membakar kulitnya tanpa ampun, menguapkan sisa-sisa bedak tebal dan kesombongan terakhir yang ia miliki, menyisakan puing-puing kehancuran sosial yang kini harus ia tanggung seumur hidupnya.