NovelToon NovelToon
Top 1%

Top 1%

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:550
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Nexus Academy bukan sekolah biasa. Hanya 1% siswa terbaik yang berhasil diterima setiap tahun. Dari lebih dari 120.000 pendaftar, hanya 600 siswa yang lolos melewati serangkaian tes yang hampir mustahil: tes logika ekstrem, simulasi kepemimpinan, wawancara psikologi, ujian ketahanan mental, hingga permainan strategi yang membuat ribuan peserta menyerah sebelum mencapai gerbang sekolah.
Mereka yang diterima disebut sebagai Elite One.
Namun tidak semua yang masuk mampu bertahan.
Setiap semester, siswa dengan nilai, etika, atau mental terburuk akan dikeluarkan tanpa kesempatan kedua. Di sekolah ini, tidak ada teman yang benar-benar bisa dipercaya. Tidak ada kemenangan tanpa pengorbanan dan tidak semua siswa jenius adalah orang baik. Sebuah rahasia yang membuat beberapa alumni menghilang tanpa jejak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: Peserta Nomor 417

Setelah tekanan wawancara psikologi mereda, para peserta diberikan waktu tiga puluh menit di ruang istirahat terbuka Lantai 3. Di saat peserta lain memanfaatkan waktu untuk menenangkan saraf atau mengonsumsi suplemen nutrisi, Nareswara Adrian Kusumah memilih menyendiri di sudut ruangan, dekat terminal pengisian daya dinding.

Di pangkuannya, sebuah jam tangan digital pintar yang layarnya telah dimodifikasi menampilkan baris-baris matriks hijau. Menggunakan protokol transfer data nirkabel jarak pendek yang ia suntikkan saat berada di dalam pod siber sebelumnya, Nareswara berhasil menyalin sebagian log aktivitas jaringan lokal milik panitia seleksi.

Jarinya bergerak cepat di atas permukaan kaca jam tangan, menyaring tumpukan data mentah yang berhasil ia amankan.

"Logika eliminasi, beres. Indeks neuro-respons, beres," gumam Nareswara sangat lirih, matanya melacak baris-baris parameter sistem.

Namun, ketika ia masuk ke sub-direktori, gerakan jarinya mendadak terkunci. Dahinya berkerut dalam. Ada anomali yang sangat tidak masuk akal dalam pembagian beban soal dan respons enkripsi sensor pada beberapa peserta.

Sistem seleksi Nexus Academy mendistribusikan tingkat kesulitan soal berdasarkan kecepatan adaptasi otak peserta secara otomatis itu aturan resminya. Namun di dalam log data tersebut, Nareswara menemukan bahwa ada satu faksi kecil yang terdiri dari lima peserta yang mendapatkan perlakuan yang sepenuhnya berbeda.

Beban algoritma pada pod siber mereka di tahap ketiga sengaja diturunkan hingga tiga puluh persen di bawah standar minimum, sementara sensor biometrik mereka dikunci pada status Optimal secara permanen, tidak peduli seberapa tinggi fluktuasi detak jantung mereka yang sebenarnya. Dengan kata lain, sistem sedang melindungi mereka agar tidak tereliminasi.

Nareswara menggulir data tersebut lebih dalam untuk mencari nomor kartu peserta dari faksi istimewa ini.

000-112. 000-245. 000-302. 000-399.

Dan yang terakhir, berada di baris paling atas dengan tanda enkripsi merah khusus: 000-417.

"Peserta Nomor 417," bisik Nareswara. Ia mencoba mencocokkan nomor itu dengan manifes nama peserta di papan skor publik. Sialnya, nomor urut 417 di papan skor digital aula luar sengaja disamarkan di balik status Anonymous by Foundation Request.

Siapa pun peserta nomor 417 ini, dia adalah anak emas yayasan yang sedang disusupkan ke dalam sistem seleksi tanpa harus merasakan siksaan mental yang sesungguhnya.

"Apa yang kamu temukan, Nares?"

Suara Gavin yang tiba-tiba muncul di belakangnya membuat Nareswara refleks menutup layar jam tangannya dengan telapak tangan. Gavin berdiri dengan botol air mineral di tangan, matanya yang tajam menatap curiga pada gerak-gerik sahabatnya.

"Gavin, tempat ini curang," Nareswara menarik Gavin mendekat, suaranya berbisik penuh penekanan. "Ini bukan kompetisi yang adil. Ada penyusup dari yayasan yang dilingkupi sistem keamanan tingkat tinggi. Peserta nomor 417 ini mendapatkan perlakuan khusus agar tetap lolos ke babak utama."

Gavin tidak tampak terkejut. Wajahnya tetap sedingin es. "Aku sudah bilang sejak awal, Nexus tidak sedang mencari keadilan. Mereka mencari hasil yang menguntungkan mereka. Jangan cari masalah dengan sistem mereka, Nares. Fokus saja pada skormu sendiri."

"Tapi ini tidak masuk akal secara matematis! Jika mereka mau memasukkan orang dalam, kenapa harus lewat jalur seleksi nasional yang transparan seperti ini?" Nareswara kembali membuka layar jam tangannya, berniat mengunduh alamat protokol IP asal dari Peserta 417 untuk melacak identitas aslinya.

Namun, sebelum jemari Nareswara sempat menyentuh baris perintah eksekusi, layar jam tangannya mendadak berkedip putih intens.

PING.

Sebuah baris teks baru muncul di layarnya, ditulis dalam kode merah.

"Sial!" umpat Nareswara.

Ia mencoba menekan tombol batalkan secara manual, namun algoritma penghancur data milik Nexus bergerak seribu kali lebih cepat dari jemarinya. Di depan matanya sendiri, baris-baris log data yang ia kumpulkan dengan susah payah sejak siang tadi mulai terhapus satu demi satu, berubah menjadi untaian huruf yang kosong. Hanya dalam waktu tiga detik, seluruh data mentah di dalam jam tangannya bersih total, menyisakan sistem operasi standar jam tangan digital biasa.

Nareswara menatap layarnya dengan tangan bergetar karena frustrasi. Firewall milik Nexus tidak hanya mendeteksi keberadaannya, tapi juga telah melakukan penghapusan siber secara presisi tanpa merusak perangkat fisiknya sebuah peringatan halus bahwa yayasan sedang mengawasinya.

Dari balik pilar yang tak jauh dari posisi mereka, Atharva berdiri memperhatikan ekspresi panik Nareswara. Meskipun ia tidak bisa melihat apa yang ada di layar jam tangan itu, Atharva tahu dari kode kepanikan Nareswara bahwa ahli komputer itu baru saja membentur dinding pertahanan yang sama yang ia temukan di lembar soal babak pertama.

Sistem Nexus Academy mulai menutup diri, menghapus setiap jejak yang bisa menuntun para peserta pada kebenaran tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi di balik tirai seleksi ini.

...****************...

Nareswara menghempaskan punggungnya ke pilar beton, mengacak-acak rambutnya dengan gusar. "Sialan. Bersih total. Mereka bahkan tidak meninggalkan satu bita log pun untuk kujadikan sampel," bisiknya dengan nada jengkel yang tertahan.

Gavin hanya melirik jam tangan Nareswara yang kini kembali menampilkan penunjuk waktu standar, lalu beralih menatap koridor. "Sudah kubilang. Kamu meremehkan infrastruktur siber mereka. Jika mereka bisa memanipulasi gelombang otak di dalam pod tadi, mematikan perangkat sekunder seperti jam tanganmu adalah perkara sepele."

"Bukan itu masalahnya, Gav," Nareswara menegakkan tubuhnya, matanya menatap tajam ke arah langit-langit, tempat kamera pengawas fraktal Nexus bergerak lambat memindai area istirahat. "Sistem tadi tidak melakukan enkripsi otomatis. Itu adalah counter-attack manual. Seseorang di ruang kendali melihat apa yang kubuka, lalu menekan tombol hapus tepat saat aku mencoba melacak Nomor 417. Mereka tahu aku tahu."

Di sudut lain, Atharva perlahan memalingkan wajahnya dari Nareswara. Ia tidak berniat mendekati ahli komputer itu untuk berbagi informasi. Di arena di mana semua orang adalah rival, aliansi yang terlalu dini hanya akan meningkatkan risiko eliminasi. Namun, satu detail baru telah tersimpan di kepala Atharva: Peserta Nomor 417.

Jika yayasan menaruh perhatian dan perlindungan khusus pada nomor tersebut, maka pemilik nomor itu kemungkinan besar adalah kunci atau perpanjangan tangan langsung dari Veritas Lux Fortuna di dalam barisan peserta.

Suara bel mekanis bernada rendah memutus waktu istirahat. Dinding transisi di ujung ruangan bergeser ke samping, memperlihatkan sebuah aula baru yang lebih masif dengan pencahayaan putih yang benderang. Di tengah-tengah aula, seratus delapan puluh meja melingkar telah disusun dalam formasi melingkar, mengelilingi sebuah podium tengah yang kosong.

“Seluruh peserta tahap empat, silakan menempati posisi berdasarkan nomor faksi yang tertera pada kartu perak kalian,” suara asisten virtual bergema. “Tahap Empat: Kelompok Akademik Antarpeserta akan dimulai dalam dua menit.”

Keisya berjalan melewati Atharva, matanya menangkap ketegangan di wajah Nareswara yang berjalan beberapa meter di depan mereka. Sebagai orang yang peka terhadap dinamika sekitar, Keisya tahu ada sesuatu yang baru saja terjadi selama waktu istirahat singkat tadi.

"Ada yang tidak beres dengan sistem mereka lagi?" tanya Keisya lirih, hampir tidak menggerakkan bibirnya saat berjalan beriringan dengan Atharva menuju meja faksi utama.

"Sistemnya bekerja persis seperti yang diinginkan pembuatnya," jawab Atharva tanpa menoleh, langkah kakinya tetap konstan dan tenang. "Kitalah yang terus mencoba mencari jawaban di tempat yang salah."

Keisya menahan langkahnya sejenak, mencerna kalimat Atharva sebelum akhirnya melangkah menuju meja nomor 2. Di sana, ia melihat papan nama digital di atas meja telah aktif, memunculkan nama-nama anggota kelompoknya. Di baris ketiga, nama yang tertera membuat Keisya langsung menajamkan pandangannya: Leonard Arkana Hartono – Pemantau Faksi Utama.

Sistem tidak hanya mempertemukan para peserta, tetapi kini mulai memasukkan elemen dari dewan siswa senior untuk mendikte jalannya kompetisi. Pertempuran akademik yang sesungguhnya telah dimulai, dan kali ini, kesalahan sekecil apa pun akan langsung terlihat oleh mata yayasan yang mengawasi dari atas podium.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!