Alma setelah kematiannya mengetahui bahwa sebenarnya dia hanyalah salah satu karakter sampingan di novel yang semua takdir kehidupannya sudah di tentukan oleh penulis.
Penderita yang telah dia lalui sebenarnya tidak lain dan tidak bukan hanyalah kata-kata yang tertulis untuk mempromosikan plot tentang protagonis wanita di novel.
Dia marah, dan kecewa tidak menerima semua takdir itu, dia ingin membalas rasa sakit yang dia terima dari orang-orang yang telah menyakitinya.
Dan kesempatan itu muncul, dia di hidupkan kembali , hari di mana semua penderitaannya belum terjadi.
Dan dia bersumpah akan membalas setiap inci perbuatan mereka padanya menghancurkan mereka secara perlahan.
Alma ingin mereka membayarnya dengan lunas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bearbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7
Langkah Terresa menapak pelan di antara semak-semak dan akar pohon yang menjulur liar, menyusuri jalan setapak dalam hutan yang nyaris tertelan gelapnya malam. Helaan napasnya teratur, seakan menghitung setiap pijakan. Satu... dua... tiga... Dia berjalan bukan dengan tergesa, tapi juga bukan dengan lamban. Seolah waktu tak berani menyentuhnya.
Cahaya bulan malam ini bahkan tertelan oleh gelapnya malam di sela-sela rindangnya pepohonan. Namun tidak ada rasa takut di wajahnya. Tidak ada keraguan. Bahkan ada ketenangan yang aneh, semacam keyakinan bahwa ia sudah terlalu sering melewati tempat ini. Bahwa pepohonan tua, bau tanah lembab, dan lolongan anjing liar di kejauhan bukan lagi hal asing baginya.
Lalu suara itu datang.
Krek.
Ranting patah di bawah injakan kaki yang bukan miliknya. Terresa menghentikan langkah, tubuhnya menegang. Dari balik kabut tipis dan barisan pohon, muncullah sesosok gadis seusianya. Tubuhnya terbungkus gaun putih sederhana yang sudah ternoda lumpur dan tanah, helaiannya robek di beberapa bagian.
Namun ada sesuatu yang membuat napas Terresa terhenti.
Wajah itu terlalu tenang. Senyum yang melengkung di bibirnya terlalu damai. Tapi justru itulah yang membuatnya menyeramkan. Seolah gadis itu bukanlah manusia biasa, melainkan sesuatu yang lebih gelap, lebih dingin, lebih berbahaya.
"Serahkan bukti itu padaku. Sekarang," nada suara Terresa terdengar tegas, tapi nada itu mengandung ketegangan. Matanya menatap lurus ke arah gadis di depannya, berusaha menunjukkan dominasi, walau jantungnya berdetak tak karuan.
Namun, alih-alih menjawab, gadis itu hanya menyeringai. Senyum itu terlalu lebar, terlalu tidak wajar. Dengan gerakan lambat, ia mengangkat tangan dan melempar sesuatu ke tanah.
Sebuah chip memori.
Tanpa pikir panjang, Terresa berlutut dan meraihnya. Jari-jarinya gemetar saat menggenggam benda kecil itu. Seketika, matanya berbinar. Di sana, semua bukti ada. Video yang bisa menghancurkannya, video yang memperlihatkan hubungan gelapnya dengan pria paruh baya yang juga...
gurunya sendiri.
Tapi kebahagiaan itu hanya berlangsung sesaat.
Sret!
Sebuah rasa sakit yang menyayat menyergap betis kanannya. Terresa terjerembap ke tanah, menggigit bibir menahan teriakan. Darah mengalir deras dari lukanya, membasahi tanah hutan yang dingin.
"Kau..." bisiknya terputus-putus. Ia mendongak, dan pandangannya langsung bertemu dengan sosok gadis itu, yang kini berdiri hanya beberapa langkah di depannya, memandangi belati kecil di tangannya yang basah oleh darah. Belati itu ia usap perlahan, seperti merawat sesuatu yang berharga, bukan alat untuk menyakiti.
Senyum gadis itu tetap terukir, tapi kini disertai dengan tatapan kosong yang justru lebih menakutkan dari kemarahan.
"Terresa... apa kau ingin bertemu guru kesayanganmu?" bisiknya, selembut malaikat, namun dingin seperti kematian.
Tangis mulai turun dari pelupuk mata Terresa. Dia tidak datang untuk mati. Dia hanya ingin mengambil chip itu-menyimpannya, menghancurkannya, dan berpura-pura semuanya tak pernah terjadi. Tapi yang ia dapatkan adalah jebakan.
Gadis itu tidak berniat melepaskannya.
"Mari kita hitung..." Gadis itu melangkah perlahan ke arahnya. "...berapa banyak dosa yang sudah kau lakukan?"
Terresa panik. Ia mencoba menyeret tubuhnya menjauh, tangan dan lututnya mengais tanah dan dedaunan kering. Tapi tubuhnya mulai kehilangan kekuatan. Rasa sakit di kakinya begitu menyiksa. Kakinya tak bisa diajak kompromi. Otaknya memerintahkan untuk lari, tapi tubuhnya... membeku dalam ketakutan.
Setiap langkah sang gadis semakin mendekat.
Terresa ingin berteriak, tapi suaranya tercekat. Yang terdengar hanyalah isakan dan deru napas terputus-putus. Ia mulai melihat sesuatu di kejauhan. Seperti gundukan tanah merah yang belum kering, dikelilingi batu kecil, dan... sebilah kayu melintang di atasnya. Seolah-olah...
Kuburannya telah disiapkan.
🥀🥀🥀
Hari Minggu adalah hari yang selalu ditandai oleh rutinitas yang hangat bagi Alma. Pagi itu, seperti biasanya, dia menghabiskan waktunya di panti asuhan. Mengajar, bermain, dan tertawa bersama anak-anak kecil yang sudah mengenalnya dengan baik. Dari pagi hingga menjelang makan siang, suara tawa mereka menjadi simfoni yang tak pernah membuatnya bosan.
Setelah seluruh kegiatan usai, Alma tidak langsung pulang. Dia meminta supirnya untuk menurunkannya di pusat kota. "Aku ingin jalan-jalan sebentar," katanya, sambil memandangi keluar jendela mobil. Hari ini adalah hari terakhir liburan semester. Besok, sekolah akan dimulai kembali.
Ia berjalan menyusuri trotoar kawasan komersial. Melewati kafe modern dengan lampu hias yang menggoda mata, restoran yang penuh dengan aroma sedap, dan butik-butik pakaian yang menampilkan koleksi musim terbaru di balik kaca beningnya. Tapi tak satu pun membuat langkahnya berhenti.
Hingga matanya tertuju pada sebuah toko buku di ujung jalan. Bangunannya tampak klasik, dengan arsitektur Eropa lama yang memancarkan nuansa nostalgia. Jendela kacanya dipenuhi debu tipis, namun tetap memancarkan daya tarik tersendiri.
Tanpa ragu, Alma melangkah masuk.
Begitu pintu berderit terbuka, aroma khas kertas dan tinta menyambutnya. Suasana di dalam begitu tenang. Rak-rak tinggi menjulang penuh dengan buku-buku tua dan baru yang tertata rapi. Toko itu hampir kosong. Hanya ada tiga orang termasuk dirinya. Seorang pria tua duduk malas di balik meja kasir, tampak mengantuk sambil memainkan ujung pena di jarinya. Dan satu lagi, seorang pria muda yang sedang berbaring di sofa pojok dengan wajah tertutup buku. Tak ada suara lain selain detik jam tua yang menggantung di dinding.
Alma mulai menyusuri lorong-lorong rak dengan langkah tenang. Sesekali tangannya menyentuh punggung buku, mengambil salah satu, membaca sinopsisnya, lalu meletakkannya kembali. Ia menyukai tempat seperti ini. Sunyi, damai, dan jauh dari keramaian dunia luar.
"Masih belum ada yang menarik..." gumamnya pelan. Ia melangkah ke rak yang berisi fiksi. Matanya tertumbuk pada sebuah judul di rak paling atas. Judulnya mencuri perhatian, tampak seperti genre kesukaannya.
Tapi sayang, buku itu berada di tempat yang terlalu tinggi.
Alma mendongak. Tubuhnya yang mungil tak memungkinkan untuk menggapai buku itu. Ia melihat ke sekitar. Tak ada tangga kecil, tak ada petugas. Hanya dirinya dan deretan buku-buku yang seolah menyeringai mengejeknya dari atas sana.
"Ish... ayolah, aku tidak sependek itu..." gumamnya kesal, berjinjit semampunya. Ujung jarinya hampir menyentuh sampul buku itu.
sedikit lagi...
Tiba-tiba, tangan lain muncul dari belakangnya. Lengan panjang dan tegap itu mengambil buku tersebut dengan mudah.
Alma terkejut dan spontan berbalik.
Seorang pria berdiri di belakangnya. Tinggi, berwajah rupawan, dengan mata tajam namun teduh. Dia menyodorkan buku yang barusan ia ambil.
"Ini yang kau cari?" tanyanya ramah.
Alma menatapnya sebentar sebelum mengambil buku itu dengan kedua tangannya. "Terima kasih," ucapnya dengan senyum lembut.
Senyuman itu, bukan senyum manis menggoda, bukan senyum malu-malu seperti yang biasa Leon terima dari gadis-gadis di sekitarnya. Tapi tenang. Hangat. Dan entah mengapa... terasa nyata.
"Pengunjung baru?" tanyanya lagi. "Aku belum pernah lihatmu di sini sebelumnya."
Alma mengangguk pelan. "Baru pertama kali masuk ke toko ini."
Leon mengangguk mengerti. "Tak banyak yang datang ke sini. Toko ini sudah cukup tua dan mungkin tak menarik bagi banyak orang. Tapi aku suka suasananya. Sepi, dan buku-bukunya masih punya aroma khas yang sulit ditemukan di tempat lain."
"Mm... aku juga suka. Tempat seperti ini terasa hidup, meski tenang."
Jawaban itu membuat Leon sedikit terdiam. Lagi-lagi bukan jawaban basa-basi. Gadis ini tak mencoba membuat kesan, tak sedang berusaha tampak menarik. Tapi justru karena itu, dia tampak menarik di matanya.
Leon mengulurkan tangan. "Leon"
Alma memandang tangan yang terulur itu beberapa detik, lalu menjabatnya perlahan. "Aku tahu."
Leon mengernyit. "Tahu?"
"Siapa yang tidak mengenal Leon Esmith Radcliffe di Athena?" katanya dengan nada ringan namun tak terdengar menggoda. "Namaku Alma."
Leon terkejut sejenak. Tak ada rasa gugup di wajah gadis itu. Tak ada ekspresi 'terpukau' seperti yang biasa ia lihat saat orang-orang menyadari identitasnya. Sebaliknya, gadis ini berbicara seolah mereka hanya dua siswa biasa yang bertemu di toko buku tua.
"Kau juga siswa Athena?" Leon bertanya, kini mulai lebih tertarik.
Alma mengangguk. "Tahun Kedua Arcturus"
Leon mengamati Alma lebih seksama kali ini. Wajah gadis itu polos namun tak bodoh, kalem namun tak pemalu. Ada ketenangan dalam dirinya yang jarang ia temui, apalagi di kalangan anak-anak elite yang biasanya sibuk berlomba menjadi pusat perhatian.
Lucu, pikir Leon. Niat awalnya hanya ingin menggoda gadis asing yang terlihat polos. Tapi sekarang, dia malah tertarik ingin mengenalnya lebih jauh.
🥀🥀🥀
Setelah membayar bukunya dan mengucapkan terima kasih pada kasir, Alma berjalan ringan keluar dari toko. Ia tak menyangka langkahnya akan dihentikan oleh suara yang sejak tadi ia hindari.
"Sudah selesai belanjanya?" tanya Leon sambil menyender santai di dinding luar toko, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Matanya menatap Alma dengan penuh rasa ingin tahu.
Alma hanya menoleh singkat, lalu mengangguk sopan. "Sudah," jawabnya singkat.
"Kalau begitu, kau ada waktu sebentar?" Leon menunjuk ke arah kafe kecil di seberang jalan. "Aku traktir kopi. Sebagai ganti karena aku rasa tadi sikapku sedikit menyebalkan."
Alma menatap Leon dalam diam. Ajakan itu cukup mendadak. Ia sempat ragu dan hendak menolak. Namun, melihat wajah pemuda itu yang tampak lebih tenang dan tidak lagi menggoda seorang seperti di dalam toko tadi, ia akhirnya mengangguk kecil.
"Baiklah, tapi hanya sebentar."
Keduanya pun berjalan menyeberangi jalan, langkah mereka sejajar. Kafe mungil bergaya industrial dengan jendela besar itu menyambut mereka dengan hangat. Aroma kopi yang pekat berpadu dengan wangi kayu manis dan karamel menggantung di udara.
Mereka memilih tempat duduk dekat jendela, cukup jauh dari pengunjung lain.
"Macchiato?" tanya Leon sambil melirik pesanan Alma setelah pelayan datang.
Alma mengangguk. "Dengan satu tetes sirup hazelnut."
Leon tersenyum dan memesan americano untuk dirinya. Setelah pelayan berlalu, keheningan sempat melingkupi mereka. Suara musik lembut dari pengeras suara kafe mengalun pelan, menciptakan suasana tenang di antara dua orang asing yang tengah mencoba mengenal.
"Kau bilang tadi kau siswa Athena juga?" Leon akhirnya memulai percakapan, memecah diam yang terlalu lama. "Tapi... aku tidak pernah melihat wajahmu sebelumnya."
Alma mengaduk macchiato-nya perlahan. Uap hangat dari cangkirnya mengepul, menyelimuti wajahnya yang tampak kalem. "Aku sudah mengatakan tadi. Aku Arcturus" jawabnya pelan, suaranya lembut namun tegas. "Jadi, wajar kalau kau tidak tahu."
Nada lirih di akhir kalimatnya membuat Leon sedikit terdiam. Ada ketegasan sekaligus jarak dalam kata-kata itu, seperti tembok halus yang Alma sengaja bangun.
Namun mendengar kata Arcturus, mata Leon menyipit, seperti menemukan sebuah potongan teka-teki. "Ah, begitu rupanya... Arcturus, ya?" Ia menyandarkan punggung ke kursi dengan posisi lebih santai. "Tapi aku salah satu dewan sekolah. Biasanya, aku cukup mengenal wajah dan nama-nama dari setiap kelas, bahkan dari kelas bawah sekalipun."
Ia menatap Alma lebih lama, penuh rasa ingin tahu. "Siapa nama lengkapmu?"
Alma menatapnya balik, diam sejenak. Ada keraguan di sana, seolah tengah menimbang sesuatu. Akhirnya ia menjawab dengan tenang, "Alma Romilly."
Tanpa embel-embel nama keluarga. Tanpa 'Morrison'.
Leon mengulang nama itu pelan, seperti tengah mengukirnya dalam memorinya. "Alma Romilly..."
Alma tak menjawab. Ia kembali menyesap minumannya.
Setelah itu, pembicaraan mereka mengalir lebih ringan. Leon mulai membahas buku yang tadi dibeli Alma, dan keduanya larut dalam diskusi singkat soal genre, alur, bahkan tokoh favorit.
Leon mulai menyadari satu hal: gadis di hadapannya ini bukan gadis biasa. Cara Alma berbicara, memilih kata, bahkan cara ia menyimpan emosi di balik mata tenangnya, semuanya terasa berbeda dari gadis manapun yang pernah ia temui.
Bukan hanya menarik. Tapi juga... misterius.
Dan di balik senyum tipis yang mengulas di bibir Alma saat mendengarkan Leon bicara, ada sesuatu yang ia sembunyikan rapat-rapat. Nama, latar belakang.
Namun, untuk kali ini, Leon memilih untuk tidak menekan. Ia hanya duduk, menikmati waktu langka bersama seorang gadis yang namanya akan terus terngiang bahkan setelah cangkir kopi mereka kosong.
atau alma dengan kesadaran penuh yang bunuh orang2 sebelumnya?